My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 106 (MCL)


__ADS_3

Kalau lah tidak takut dianggap anak durhaka, Hanna pasti sudah menyumbat mulut ibunya dengan tisu yang tergeletak di atas meja.


"Kai, kenalkan, nyokap gue." Semu merah di pipi Hanna masih belum pudar. Malu sampai ke ubun-ubun. Apa yang dipikirkan Ema hingga mengambil kesimpulan bahwa Kai adalah pacarnya. Dia juga bawa-bawa nama Davlin.


"Sore Tante..." sapa Kai berdiri dan menyalami nyonya rumah.


"Sebentar ya, Tante ambilkan minum," ucap Ema tersenyum. Dia sengaja memotong niat Hanna yang sudah bersiap ke dapur.


Ada yang aneh dengan sikap ibunya saat ini. Wanita itu begitu gembira, sejak tadi senyum tidak lekang dari wajahnya. Apa mungkin dia sudah lelah setelah selama seminggu dipusingkan dengan masalah papanya. Namun, begini justru lebih baik. Kalau sampai mama nya stres dan jatuh sakit, bukan kah akan lebih susah lagi bagi mereka?


"Mm.. Kai gue naik bentar, ganti baju," ujar Hanna kembali berdiri. Ia masih setia meremat tangannya bentuk rasa gugup yang sejak tadi berkembang menjadi sikap canggung pada Kai.


"Gak usah dandan lagi. Gini aja lo udah cantik, kok," sahut Kai mengerlingkan mata kanannya.


Apa-apaan sih Kai, apa dia gak tahu perbuatannya barusan sudah membuat jantung Hanna berdebar? semakin gugup dan wajahnya bertambah panas.


Ingin menyelamatkan jantungnya, Hanna buru-buru naik. Sengaja lama mengusap wajahnya yang baru dipakaikan facial wash. Menatap wajahnya yang baru dipuji Kai.


Apaan sih!


Mematahkan pikiran Kai yang mungkin menganggapnya berdandan dan berganti pakaian yang lebih wah, Hanna justru turun dengan kaos oblong kedodoran dan celana pendek berbahan katun Jepang.


"Sorry lama," ucap Hanna kembali duduk di seberang Hanna. Kalau ada yang bisa membuat wajah Hanna memerah seharian ini pasti Kai orangnya. Lagi-lagi tatapan pria itu menggetarkan hatinya. Anehnya dia tidak suka dengan keadaan ini.


"Gue suka gaya lo yang santai." Kembali Hanna menuai pujian. Kalau sejak bertemu dulu Hanna mulai menghitung, mungkin sudah puluhan pujian yang dilontarkan pria itu padanya.

__ADS_1


"Apaan sih!" balasnya malas, memutar matanya, dan menarik sudut bibirnya. Di atas meja sudah terhidang minuman dan juga cemilan yang Hanna tebak dibuat oleh ibunya. Kembali keningnya berkerut. Seminggu sudah ibunya menghentikan hobinya memasak ini dan itu yang biasa dia lakukan setiap harinya.


"Kita harus berhemat!" ucapnya kala Cathy menanyakan menu rainbow cake yang biasa dibuat ibunya untuk cemilan sore hari. Dan kini, tidak hanya cake tapi juga ada pisang goreng kipas.


"Ayo, dimakan," ucapnya menghilangkan groginya. Nanti saja lah dia tanyakan pada Ema.


Kai hanya mengangguk. Masih betah memperhatikan foto keluarga yang begitu besar di hadapannya. "Kalian hanya berempat? itu adik atau kakak mu?"


"Oh, adik. Namanya Cathy, dia juga kuliah di tempat ku," sahut Hanna mencomot satu buah pisang kipas yang tidak pernah berhasil dicuekin nya.


"Terus, kalau Davlin? siapa?"


Hanna sukses tersedak pisang goreng yang baru masuk ke dalam mulutnya. "Minum nih.." satu gelas berisi teh disodorkan ke tangan Hanna yang bergegas dipindahkan gadis itu ke dalam perutnya.


"Pelan-pelan makannya." Kai menatap geli melihat ekspresi wajah Hanna. Dia bukan pria bodoh, dia tahu benar siapa Davlin yang dia tanyakan. Bukan kah tadi Ema sudah sempat membuka perihal pria itu? Kai hanya ingin mendengar langsung dari Hanna. Untuk apa? Entah lah, hanya Kai yang tahu.


"Davlin..."


"Oh, .." Sesaat Hanna ragu untuk bicara. Davlin siapa? bisakah dia mengatakan kalau Davlin adalah pacarnya? tapi apakah mereka masih berpacaran? bukan kah kemarin dia sudah minta putus dari pria itu? "Tetangga."


Kata itu yang dipilih Hanna. Ada rasa sakit di hatinya. Dia rindu pria itu. Sangat. Diliriknya ponselnya yang tiarap di atas meja, masih hitam, tidak ada pesan apalagi panggilan. Melihat raut wajah sedih Hanna, Kai tidak ingin membahas lagi. Bukan ranah nya saat ini mengorek hal yang mungkin tidak siap untuk diceritakan gadis itu.


Banyak obrolan yang muncul selama dua jam itu. Bahkan tidak terasa sudah jam enam sore. Hanna semakin kagum pada sosok Kai dan memiliki pengetahuan luas, dan cara bicara dan sikapnya membuat Hanna merasa sangat nyaman.


"Udah sore, aku pulang dulu," ucap Kai meneguk sisa teh dalam cangkirnya.

__ADS_1


"Iya, deh. Harusnya dari tadi, gue jadi gak tidur siang," imbuh Hanna yang membuat keduanya tertawa renyah. Tawa Hanna menguap kala tangan Kai mengelus rambutnya. "Dih, apaan, sih lo, Kai!"


"Sorry, habisnya lo menggemaskan. Yuk, antar gue ke luar."


Keduanya berjalan menuju pintu, tapi panggilan Ema dari ruang tengah menghentikan langkah mereka. "Ini dibawa pulang, dimakan, ya." Satu bungkusan berisi bolu diletakkan ditangan Kai. Hanna memutar bola matanya, jengah melihat sikap mamanya yang sok akrab pada Kai.


"Makasih banyak, Tante. Pasti saya habiskan."


"Makasih untuk jamuan dan bekal nya." Kai tersenyum sembari mengangkat bungkusan dari Ema. Lagi-lagi hati Hanna berdebar hanya karena melihat senyum Kai yang sangat tulus.


Coba Davlin sering senyum begini, aku pasti akan merasa nyaman sekali di dekatnya, bukan malah takut. Eh, aku kenapa sih, kok malah bandingin dengan Davlin?


"Pamit, ya, sampai ketemu besok," ucap Kai hendak memasang helm, tapi batal karena mendengar klakson mobil di belakang motornya. Kedua anak manusia itu sama kagetnya, apa lagi Hanna. Walau pemiliknya belum keluar dan dari tempatnya tidak bisa menembus kaca hitam mobil itu, dia tahu siapa yang ada di belakang kemudi. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat.


Astaga, hati ini dua pria itu sudah membuat jantungnya beroperasi tidak seperti biasanya. Bisa ditebak, Davlin keluar, lengkap dengan jas slim fit nya.


"Duh, cakep banget pacar ku. Eh, tapi kita udah putus, ya? Rindu banget pengen peluk," gumamnya dalam hati. Kesedihan jelas terpancar di matanya.


Kai menatap Davlin yang juga kini menatapnya tajam sembari mendekat ke arah mereka. Dari raut wajah bak pembunuh itu, Kai tahu pria itu tidak menyukainya, apa pun alasannya, hanya dia yang tahu.


"Ada apa ya, Mas?" tanya Kai sopan. Kini keduanya saling tatap di satu titik. Berada diantara kedua pria tinggi itu membuat Hanna tampak kerdil.


Usai mendeteksi wajah Kai, Davlin mengarahkan pandangannya ke sebelah. Tubuh Hanna seolah terbakar hanya karena ditatap Davlin tajam penuh amarah. Seandainya lah dia temenan sama nobita, pasti akan mudah meminjam pintu kemana saja milik Doraemon!


"Lo menghalangi jalan gue!" Suara tegas, berwibawa dan dingin. Tubuh Hanna saja sampai menggigil.

__ADS_1


**Dukung novel aku terus ya♥️♥️


__ADS_2