My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 62 (MCL)


__ADS_3

"Jujur sama gue, kok bisa lo datangnya barengan sama lord Dajjal?" Tari yang duduk satu bangku dengan Hanna, mulai mengorek informasi. Dendam Tari pada Davlin tentu saja belum pudar, jadi dia tidak ingin, Hanna yang sudah dianggap sebagai teman, justru masuk menjadi pasukan Davlin.


"Kan udah dengar tadi, kebetulan aja, Tar. Ojek gue mogok, jadi nebeng pas pak Davlin lewat." Hanna masih tidak menyangka kalau Davlin menyelamatkannya dari amukan karyawan. Mereka pasti tidak terima, dia yang masih anak baru, bahkan hanya seorang tukang bersih-bersih justru berhasil duduk di sebelah Davlin dalam mobil pria itu.


"Awas, lo ya, kalau sampai gue tahu lo satu kubu dengan si monster, gue gak mau temenan sama lo lagi!"


Tari bukan lah gadis yang jahat. Justru sebaliknya, naif dan mudah dimanfaatkan. Dari Siska, Hanna mendengar kronologi mengenai dipecatnya pacar Tari yang dulu kerja di PT HolyWings.


Sebenarnya, bukti sudah jelas, kalau pacar Tari melakukan kesalahan, menyelewengkan bahan produksi di pabrik, tapi tetap saja Tari menganggap Davlin yang jahat, memecat sepihak.


***


Tujuan mereka adalah vila yan memiliki tanah luas yang dijadikan tempat berkemah. Dari Sari, Hanna tahu kalau itu adalah tanah milik keluarga Davlin.


Karyawan pria sudah mulai membuat tenda, hari juga sudah mulai gelap. Vila hanya diperuntukkan untuk tempat mandi dan juga buang air. Tidur dan masak serta segala jenis kegiatan dilakukan di luar villa.


"Jangan pada ngeluh, ya, ini kan dilakukan demi mempererat hubungan kekeluargaan sesama Karyawan, jadi semua hal harus di kerjakan bersama, anggap kita anak Pramuka di alam luas," ujar Pak Surya, yang di tunjuk sebagai kordinator lapangan dalam kegiatan kali ini.


Malam itu mereka berkumpul bersama. Masak bersama dan menikmati hasilnya bersama. Api unggun sudah dinyalakan, dan semua karyawan yang ikut mengelilingi sambil bernyanyi. Mata Hanna sebenarnya sudah mengantuk, ingin segera tidur, tapi dia segan untuk kembali ke tenda lebih dulu.


Dinginnya udara malam membuatnya menarik kakinya hingga menyatu dengan dada, sedikit lebih hangat. Suasana dan letih di tubuhnya membuatnya meletakkan wajahnya di atas dengkulnya, melempar pandangan ke kanan, hingga belaian angin malam membuatnya terpejam.


Dari tempatnya, Davlin yang sejak tadi mencuri pandang, melihat wajah Hanna yang sudah tertidur. Satu senyum samar membingkai bibirnya.


"Ris, udah malam, suruh semua bubar. Acara dilanjutkan besok, mulai pagi."


"Hah? tapi masih satu jam kita hidupkan api unggun. Masa langsung tidur?"


"Gue udah ngantuk."


"Ya, udah lo aja duluan tidur sana. Masa iya, harus gue keloni," ucap Haris kembali menatap api unggun di depan sana. Dia baru sadar, Neta, anak personalia ternyata cantik juga dan berniat untuk mengejarnya.


Merasa omongannya dibantah, Davlin menendang kaki Haris hingga pria itu kembali menyerahkan perhatiannya. Kalau dia tidak membubarkan karyawan, Hanna pasti tidak akan berani masuk tenda lebih dulu.


"Lo mau gue pecat atau gimana?"

__ADS_1


"Siap, laksanakan." Haris segera berdiri, mengambil megaphone toa, lalu mulai bicara.


"Karena ini sudah malam, dan kita juga baru sampai hari ini, sebaiknya kita beristirahat, mengumpulkan tenaga, dan mulai rangkaian kegiatan kita besok pagi."


"Tapi ini masih jam pendek, Pak. Masih jam 10, malam, sebentar lagi dong, Pak," ucap salah satu karyawan pria yang ditimpali yang lain.


"Iya, Pak. Kita masih belum ngantuk nih," sambung yang lain.


Sesaat Haris menoleh ke Davlin, meminta pendapat apakah tetap ingin dibubarkan atau dibiarkan tetap lanjut. Sorot matanya yang menatap tajam Harus adalah jawaban yang pria itu butuhkan.


"Sudah diputuskan. Kita istirahat, dan mulai lagi besok. Jangan ada yang membantah!"


***


Tugas sudah dibagi oleh pengurus acara terpilih. Hanna dan Ane bertugas mencari kayu bakar di sekitar tempat itu.


"Kemari," panggil Davlin. Haris yang baru akan menyeruput kopinya terpaksa meletakkan kembali.


"Itu si cewek aneh dapat tugas apa?" tanyanya dengan suara pelan. Dia harus menjaga wibawanya, malu dong kalau sampai ada yah dengar dia bertanya soal Hanna.


"Menurut Lo?" Davlin kembali melempar pertanyaan.


"Oh, dia bertugas ngumpulin kayu bakar sekitar tempat ini."


"Kenapa gak ngasih tugas di sini aja, sih? ngulek sambar, rebus air, atau gak pijitin gue, atau apa lah. Awas aja kalau dia sampai kenapa-kenapa!" ucap Davlin mengunci tatapan Haris.


"Lo udah mulai jatuh cinta sama dia? protektif banget."


"Diem lo, Nyet. Gue cuma pegang janji gue sama nyokap nya buat jagain dia. Gak usah mikir yang aneh-aneh deh," ucap Davlin menenggak sedikit wine yang tadi disajikan Guntur, kepala Inventori untuk nya.


Haris hanya diam. Dia tahu sebaik apapun pria itu menyembunyikan perasaannya, lambat laun dia harus mengakui sebelum pria lain mendekati Hanna yang akan buat dia nanti gigit jari.


"Tenang aja, Hanna akan baik-baik aja. Lagian, dia pergi juga bareng temannya yang lain."


Sejak Hanna jauh dari pandangannya, Davlin tidak bisa berkonsentrasi. Obrolan ringan dengan Haris dan beberapa kepala divisi tidak lagi dia simak dengan baik.

__ADS_1


Melihat beberapa gadis berjalan sembari menenteng kayu di tangannya membuat Davlin spontan menegakkan tubuhnya. Matanya terus mendeteksi satu per satu gadis itu, tapi sensorik nya tidak menangkap Hanna ada di barisan itu.


"Hanna gak ada. Kemana dia?" bisik Davlin menendang kaki Haris yang tengah main game online di ponselnya.


"Paling benar lagi muncul. Sabar aja," ucap sembari Haris mengaduh kesakitan.


Tidak selang beberapa lama, gadis yang dikenal Davlin sebagai sahabat Hanna datang setengah berlari ke arah kerumunan orang-orang. "Tolong, Hanna kepeleset hingga jatuh ke kubangan lumpur," ucap Ane panik.


Perasaan Davlin tidak tenang. Dia belum mendengar apa yang disampaikan Ane, tapi perasaannya bilang ini pasti berhubungan dengan Hanna.


"Ada apa, Ris?" Davlin mulai menunjukkan kepanikan.


Belum sempat menjawab, Aril sudah setengah berlari menuju hutan, dan tepat saat melewati Davlin dan Haris, langkah Aril dihentikan oleh Davlin. "Ada apa?"


"Maaf, Pak. Saya harus mencari Hanna. Katanya dia jatuh tergelincir saat mencari kayu bakar," ucap Aril melanjutkan langkahnya.


Tanpa pikir dua kali, Davlin pun segera menyusul dibelakang. Mereka berpencar mencari keberadaan Hanna.


Sepanjang jalan, Davlin berharap Hanna akan baik-baik saja, dan dia lah orang pertama yang menemukan gadis itu. Kerongkongan tercekat hanya karena memikirkan gadis itu ketakutan di luar sana, menanti orang datang menyelamatkan nya.


"Hanna... Hanna..."


"Hanna..."


"Han..." banyak orang yang datang mencarinya. Semua memanggil nama gadis itu, tapi belum ada sahutan.


Davlin mengikuti jejak kaki seseorang hingg bisa melihat kubangan besar yang tertutupi semak dan rumput.


Di sana lah gadis itu. Memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di sana. "Hanna.." kali pertama Davlin memanggil namanya. Hanna menengadah dan saat melihat wajah Davlin di sana, gadis itu terus menangis hingga siapa pun yang mendengarnya ingin segera memeluk gadis itu agar tenang kembali.


****


Hai, mampir yuk


__ADS_1


__ADS_2