
Setibanya di rumah, Hanna kembali menjadi bulan-bulanan seperti dugaannya. Ema tidak henti-henti mengatakan dirinya sudah gila karena melepas Will dengan gelar Earl nya.
"Mama, sekali saja mengerti, aku tidak bisa menikah dengan Will. Aku tidak mencintainya" sahut Hanna mengusap wajahnya frustrasi.
"Lantas, kalau begitu, kenapa kau menerima lamarannya? ini sudah kali kedua kau menolak lamaran pria terhormat. Yang pertama kau menolak Duke, dan sekarang kau menolak Earl! Kau mau yang bagaimana? Raja?" pekik Ema menatap tajam, menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti dengan tingkah anaknya. Walau dia tidak menyukai sifat Hanna yang dulu, yang ini juga tidak lepas membuat kepalanya sakit.
"Aku tidak mau dengan Raja. Mama, aku mohon coba lah mengerti situasi ku. Aku tidak mencintai Will."
"Lalu jawab kenapa kau mau menerima lamarannya? kau tahu sendiri kalau kita tidak punya uang lagi. Pernikahan mu dengan bangsawan itu adalah satu-satunya cara agar nama keluarga kita bisa kembali terangkat" ulang Ema.
"Itu lah kesalahanku. Mama.." Hanna mendekat sama pada Ema, memeluk tubuh wanita yang masih merasa kesal itu. Dipeluk putrinya yang sudah membuatnya kesal, Ema mencoba menyingkirkan tangan gadis itu. Tapi Hanna berusaha keras, tetap memeluk tubuh Ibunya, yang akhirnya dibiarkan saja oleh Ema.
"Mama, aku lelah. Aku juga tidak ingin membuatmu kecewa. Tapi aku benar-benar tidak bisa menikahi Will." Hanna semakin mengeratkan pelukannya.
"Julia mencintai Will, sejak lama. Dan aku sangat menyayangi Julia dan Will. Aku ingin mereka bisa bersama. Bayangkan mama, kalau aku menikahi Will, sementara hari dan pikiran ku untuk orang lain, itu akan menjadi pernikahan mengerikan," ucap Hanna meneteskan air mata di pundak Ema.
Kedekatan mereka membuat Ema bisa merasakan kesedihan yang dialami putrinya itu. Jauh di lubuk hatinya, dia menginginkan dan berdoa untuk kebahagiaan Hanna. "Lantas, siapa yang kau cintai?" bisik Ema dengan lembut. Lelah berperang dengan putrinya yang keras kepala itu.
"Kau mengenalnya mama. Pria yang kini baru ku sadari kalau aku sudah jatuh cinta padanya. Mengapa takdir mempermainkan ku, mama? Dulu aku kehilangan dia, demi kebahagiaan Catherine, dan kali ini aku kehilangan dia karena akan dinikahkan dengan gadis lain. Di sini sakit, Ma..," Hanna meremas gaun di dadanya. Menunjukkan letak rasa sakit itu.
Terisak hingga jatuh berlutut di lantai. Hanna kembali mengingat pengumuman perjodohan Alex dengan Ophelia yang disampaikan Lady Abigail. Selamanya dia tidak akan bisa bersatu dengan Alex.
__ADS_1
"Sudah sayang, jangan menangis lagi," ucap Ema ikut menangis tersedu. Keduanya berpelukan menangis bersama tetapi beda hal yang ditangisi oleh keduanya.
***
Will masih tidak terima keputusan sepihak Hanna. Dia ingin marah, memaki gadis itu, tapi tidak sampai hati. Perasaan sayangnya lebih besar dari kebencian dan kekecewaannya. Will masih berharap bisa membujuk Hanna.
Siang itu dia datang ke rumah Julia. Dia ingin minta pertolongan gadis itu untuk membujuk Hanna.
"Will, kau di sini?" sambut Julia gembira. Gadis itu bergegas bangkit dari duduknya kala melihat sosok Will masuk ke dalam ruang tamu.
"Maaf, kalau aku mengganggumu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucapnya serius.
"A-ada apa?" tanya Julia berubah gugup. Dari raut wajah sedih Will, dia sudah bisa menebak kalau ini pasti ada hubungannya dengan Hanna. Jantung Julia berdebar, ketakutan melanda dirinya kini.
"Aku... Will, aku..." Julia bingung harus mengatakan apa. Dia ketakutan setengah mati. Berarti Hanna tidak menceritakan perihal isi diary nya.
"Apa Julia? katakan padaku. Kau pasti tahu kenapa Hanna membatalkan pernikahan kami. Aku bisa gila, kalau begini!" serunya setengah berteriak. Ketakutan melihat amarah Will, air mata Julia menetes, ketakutan hingga tubuhnya bergetar.
"Maaf kan aku Will. Aku yang salah. Ini semua karena salahku," ucapnya memberanikan diri.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Kemarin, Hanna melihat isi diary ku, ini.." ucap Julia mengambil diary yang ada di kursi, yang sejak tadi dia pegang. Dengan keberanian yang tersisa, Julia memberikan buku itu pada Will.
Bola mata Will terbuka sempurna, saat membaca semua isi Diary Julia lengkap dengan balasan dari Hanna. Kini wajah pria itu pucat pasi.
"Ini... Hanna membacanya? Julia kenapa kau begitu bodoh? kenapa harus menulis pada buku ini mengenai kejadian itu?" bentak Will kalut.
"Kau memarahiku, Will? apa salahku menulis di diary ku sendiri? Buku itu berisi privasi ku. Harusnya kau salah kan Hanna yang sudah lancang membaca diary ku," sahut Julia masih dengan tangisnya. Keberaniannya kini muncul. Tidak terima dirinya dipersalahkan sendiri.
"Maafkan aku, Julia. Harusnya aku tidak membentak mu," ucap Will merangkul Julia. Kalau dipikir-pikir dia juga salah, karena sudah mencium Julia. Dia juga sudah mengkhianati Hanna. Ada rasa malu muncul dalam hatinya kini.
"Aku akan menjelaskan semua ini pada Hanna. Kita bilang ini hanya salah paham. Dia pasti akan mendengarkan ucapan ku," ucap Julia berhenti menangis. Dengan punggung tangannya menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Hanna menyambut kedua sahabatnya itu dengan penuh suka cita, seolah tidak terjadi apa pun diantara mereka.
"Hanna, aku minta maaf atas apa yang sudah aku tulis di diary ini. Aku bersumpah, itu hanya kekhilafan kami. Aku mohon, tolong maafkan Will," ucap Julia mengutarakan maksudnya.
Hanna tersenyum lembut. Dia mengangguk lemah sebelum menjawab.
"Pertama, aku memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahanku dan Will, bukan karena isi diary ini, tapi karena hati ku tidak menyimpan rasa cinta pada Will. Kedua, aku ingin kau tidak menjadi munafik Julia, bersikap beranilah, katakan pada Will, kalau selama ini kau mencintai pria itu!"
***
__ADS_1
Hai, mampir yuk