
Hanna mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah tidak karuan bersimbah air mata. Mata bengkak tidak berhenti menangis. Dia tertegun melihat kehadiran Davlin yang kini berdiri menjulang tinggi dihadapannya. "Dav..."
"Dasar gadis bodoh!" Davlin memapah gadis itu untuk bangkit dari duduknya. Satu jam sudah dia menjauh dari ruangan ayahnya di rawat, duduk seorang diri di tangga darurat rumah sakit.
Penuh kasih Davlin menghapus air matanya, bukan berhenti menangis, Hanna justru semakin terisak. Davlin membawa gadis itu masuk dalam pelukannya, menghapus punggung gadis itu agar lebih tenang.
"Aku mohon, jangan menanggungnya sendiri. Aku ada bersamamu. Kita akan hadapi bersama. Jangan menangis lagi, om Stuart akan baik-baik saja. Jangan takut, aku bersamamu," bisiknya membelai Hanna.
Begitu tiba di rumah sakit, Davlin bertemu dengan Ema dan Cathy di depan ruangan Stuart. Sepintas Ema menerangkan keadaan Stuart. Tanpa menunggu, Davlin berbicara dengan direktur rumah sakit, menyatakan pasien adalah keluarganya dan agar memberikan pelayanan khusus untuk kesembuhan Stuart.
"Terima kasih, Dav. Tante gak tahu harus bilang apa. Ini lah susahnya tidak ada anak pria, jadi bingung pada saat keadaan seperti ini," ucap Ema. Davlin hanya mengangguk lalu pamit mencari Hanna.
"Aku takut, Dav. Takut banget kehilangan papa."
"Om akan baik-baik saja. Sudah, aku akan marah kalau kau masih tetap saja menangis," ucap Davlin melerai pelukan mereka. Dihapusnya jejak air mata di pipi gadis itu, namun Hanna kembali masuk dalam pelukannya. Davlin tidak lagi melerai, justru menghapus punggungnya.
Ada damai, dan perasaan tenang. Hanna percaya, semua akan baik-baik saja seperti yang sudah diucapkan Davlin.
"Kita ke tempat Tante Ema, ya? kasihan Tante mencari mu," ucap Davlin yang diangguk Hanna.
***
Berkat mandat Davlin, pihak rumah sakit yang mengenalnya mendatangkan dokter terbaik untuk merawat Stuart. Pria itu sudah sadar. Serangan jantung yang dialami pria itu sudah ditangani dengan baik.
"Maafkan papa sudah menyusahkan kalian. Membuat kalian khawatir," ucap Stuart susah payah.
"Papa gak usah ngomong begitu. Yang penting papa harus cepat pulang," ucap Cathy menggenggam tangan ayahnya.
__ADS_1
Stuart melayangkan pandangan mencari sosok yang dirindukannya. Gadis itu ada di sana. Di sudut ruangan. "Sayang, mau kah kau menyapaku?"
Genggaman tangan Hanna pada tangan Davlin semakin kencang. Tubuh terguncang menahan tangis dan perasaan emosionalnya. Davlin membantu langkahnya maju mendekati ranjang Stuart. Pria itu mengulurkan tangannya, agar dipegang anak gadisnya.
"Hanna..."
Tidak ada kata yang keluar, Hanna hanya menangis terisak. Sebenarnya dia sudah lelah menangis, bahkan kepalanya juga terasa sakit. Tapi tetap saja air matanya turun.
Belakangan ini permasalahan dalam hidupnya datang bertubi-tubi. Masalah di kampusnya belum selesai, sudah ditambah masalah papanya yang tiba-tiba jatuh sakit.
Ema hanya menjelaskan sekilas, kalau Stuart mendapat serangan jantung karena sudah ditipu. Seseorang memesan lukisan mahal tahun 1820, ayahnya sudah membeli, dan bersiap bertransaksi dengan si pembeli kedua, tapi nyatanya uang yang dijanjikan untuk pelunasan itu tidak juga ditransfer.
Salahnya juga karena terlalu percaya pada temannya. Sahabatnya itu sudah biasa membeli barang darinya. Hingga saat mengatakan niatnya membeli lukisan itu dan membayar setelah dari harganya, Stuart percaya saja.
"Papa jangan pikirkan masalah lukisan itu lagi. Kalau memang rejeki kita, akan kembali pada kita lagi," ucap Hanna membelai kening Stuart. Tampak wajah pria itu sangat lelah dan gusar menyimpan beban.
"Han, kau pulang lah dengan Davlin. Malam ini biar mama dan Cathy yang jaga papa. Kau pulang periksa rumah, nyalakan semua lampu dan besok kemari membawa pakaian mama dan juga adikmu," ucap Ema saat Davlin ingin pamit pulang.
Sebenarnya dia sudah memutuskan untuk bermalam di rumah sakit, menemani Hanna setiap waktu, tapi Hanna memaksanya untuk pulang. Akhirnya Ema memutuskan mengirim mereka berdua pulang ke rumah. Lagi pula, berkat Davlin, Stuart sudah ditempatkan di ruangan VIP, yang di lengkapi sofa dan bed untuk keluarga pasien yang menjaga pasiennya.
Mungkin sudah kebiasaan Hanna, setiap berkendara dengan Davlin, dia akan tertidur di mobil pria itu. "Bangun, Sayang. Kita sudah sampai." Bisik Davlin membelai pipi Hanna. Gadis itu terlihat lelah dan mengantuk hingga dibangunkan pun sudah tidak mendengar lagi.
Perlahan Davlin membuka pintu mobil, memutari depan mobil lalu membuka pintu bagian Hanna. Hati-hati membopong tubuh gadis itu, dan membawa ke dalam rumah.
Mungkin terburu-buru ke rumah sakit, keluarga Jhonson bahkan tidak mengunci pintu. Setengah sadar digendong, Hanna melingkarkan tangannya di leher pria itu.
Davlin sudah membaringkan tubuh Hanna, gadis itu masih memejamkan mata. Dibelainya rambut panjang Hanna penuh sayang. "Kau mau tidur, atau mandi dulu?" bisiknya lembut. Dia tahu Hanna mendengar suaranya.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu."
"Baik lah, aku akan mengisi bak dengan air hangat dan meneteskan sedikit essentials oil, agar kau merasa nyaman dan lebih segar," ucapnya mencium puncak kepala Hanna dan bangkit berdiri.
Selagi Hanna mandi, Davlin membuatkan susu hangat untuk gadis itu di dapur. Tepat saat dia kembali, Hanna sudah mengenakan piyama tidurnya. "Minum, Sayang."
"Terima kasih," jawabnya sesaat setelah meneguk susu hangat itu. "Maaf, sudah merepotkan mu mengurusku. Padahal kau pun baru pulang dari kantor, pasti lelah," ucapnya menatap mata Davlin.
Beribu ucapan syukur dia panjatkan karena memiliki kekasih sebaik Davlin. Minum lah," ucapnya menyodorkan gelas susu itu pada Davlin.
"Aku gak suka susu, Han. Kau saja yang menghabiskan," tolak Davlin. Tapi Hanna yang saat ini sedang dalam suasana hati yang tidak baik, memaksa Davlin untuk ikut minum. Tidak hanya dirinya saja yang perlu minum susu, Davlin yang juga sudah lelah harus tetap menjaga kondisinya.
Tidak bisa menolak, Davlin meneguk susu itu. Sejak umur lima tahun, dia sudah alergi susu sapi, tapi demi Hanna dia pun melanggar pantangannya. "Kau istirahat lah. Besok aku akan menemanimu ke rumah sakit," ucap Davlin mengambil gelas yang sudah kosong itu dari tangan Hanna.
"Kau tidak bekerja?"
"Tidak ada kerjaan di kantor yang harus aku urus besok," jawab Davlin berbohong. Nyatanya di kantor saat ini, sangat banyak kerjaan yang harus segera dia selesaikan. Bahkan kepergiaannya ke Inggris lagi-lagi harus dia tunda. Jim sudah berkotek-kotek, memintanya untuk segera datang karena dia sendiri belum mahir menangani bisnis sebesar ini.
Bagi Davlin, tidak ada yang lebih penting dari Hanna. Dia tidak mungkin meninggalkan gadis itu dalam keadaan terpuruk seperti saat ini.
***
Davlin pulang ke rumahnya, meninggalkan Hanna yang sudah berbaring di tempat tidur. Jujur tubuhnya lelah dan dia harus segera mandi.
Berendam setengah jam membuat tubuhnya kini terasa rileks dan wangi. Dengan menggunakan selembar handuk yang melilit di pinggul seksinya, Davlin melangkah keluar dari kamar mandi.
"Kau...?"
__ADS_1
"Hai... kita ketemu lagi.."