
"Harus kemana aku cari uang sebanyak itu?" Hanna memukul meja belajarnya. Dirinya lelah berpikir, kemana dia harus mencari uang segitu banyak. Sekali lagi dia membuka layar ponsel, membuka aplikasi M-banking untuk mengecek sekali lagi saldonya, dan melempar hapenya begitu saja sesudahnya.
Dibawah sana masih terdengar suara pertengkaran orang tuanya. Dan ini sudah pukul sepuluh malam. Mengurangi kesesakan di dadanya, Hanna melangkah ke luar, membuka pintu, membiarkan angin malam itu membelai wajahnya. Berharap kesejukan yang ditawarkan sedikit banyak bisa mengurangi kekusutan pikirannya.
Hanna menoleh ke samping. Kamar itu tampak gelap, tidak ada sedikit pun cahaya yang berasal dari sana. Pemilik nya sedang tidak ada di sana. Pukul 10 pagi, Davlin datang menemuinya di kampus, sesaat sebelum pria itu bertolak ke bandara.
"Hanya seminggu. Aku tahu, ini mendadak, harusnya aku memberitahu mu jauh hari sebelumnya," ucap Davlin yang menunggunya di gerbang utama dekat jurusannya.
"Tidak apa. Pergi lah...," ucap Hanna merasakan kesedihan di sudut hatinya. Entah mengapa hari ini dia tampak sangat Melo. Ini hanya perjalanan bisnis, lagi pula hanya seminggu. Dia memang kekasih Davlin, tapi bukan jadi alasan kalau dirinya berhak membatasi ruang gerak Davlin, apa lagi dia adalah pengusaha besar.
Kesedihannya akan kepergian Davlin ternyata jadi awal kepedihan panjang, siang jam dua kurang, ibunya menghubunginya yang ternyata mengenai keadaan ayahnya.
Kenapa belakangan ini begitu berat cobaan yang terjadi pada keluarganya?
Tenggang waktu yang diberikan lintah darat itu hanya sampai akhir bulan ini. Dia sudah bilang pada kedua orang tuanya untuk menjual rumah mereka saja, tapi Stuart dengan tegas menolak. Dia tidak ingin satu-satunya peninggalan ibunya ini dijual.
***
"Pagi..." sapa Hanna duduk di meja makan. Tampaknya mendung di keluarga mereka akan semakin lama, tidak ada yang berniat menjawab sapaan nya. Sebenarnya dia juga setengah hati, namun mencoba memberi semangat pada kedua orang tuanya.
"Han, kita bareng ya, berangkat ke kampus," ujar Cathy pelan. Menoleh sekilas ke samping, lalu kembali menyelesaikan sarapannya.
"Papa, Mama, jangan terlalu dipikirkan. Kita akan cari solusinya. Kalau memang di detik terakhir kita tidak punya jalan keluar, aku mohon papa mengikuti saran mama untuk menjual rumah ini."
Kali ini pun Stuart bergeming, hanya Ema yang menatapnya dan mengangguk setuju. Tatapan dan sentuhan tangannya seolah mengatakan 'Terima kasih karena sudah mengerti'.
Sepanjang jalan, Hanna terus berpikir harus mendapatkan uang secepat mungkin. Tabungan ayahnya nanya ada 400 juta, sementara di tabungannya, Hanna hanya tersisa 15 juta sisa hasil kerjanya saat menjadi OB di PT HolyWings.
Mata kuliah pertama sudah usai, dan sukses dilalui Hanna tanpa ada satu materi pun yang nyangkut di kepalanya. "Gue ke toilet dulu, ya," ucapnya menepuk lengan Ara yang asyik membaca status orang yang dia kenal di Facebook.
Di pintu masuk toilet wanita, Hanna melihat sebuah selebaran yang tergeletak di dekat wastafel, membaca dan merasa tertarik akan isinya. Lama dia membaca lalu pandangannya tertuju ke depan cermin, memperhatikan wajahnya, seolah ingin memantapkan isi pikirannya.
"Lo mau kemana lagi?" tanya Ara yang heran melihat Hanna masuk ke ruangan, mengambil tas dan bersiap pergi.
"Mmm.. Sorry, Ra. Gue ada urusan." Hanna hanya menepuk pundak Ara, tidak menunggu komentar gadis itu, lalu pergi dari sana. Di kepalanya terus berputar isi dari brosur tadi.
__ADS_1
***
"Saya mau melamar kerja di sini," ucapnya menunjukkan kertas yang dia dapat di toilet tadi. Resepsionis itu tampak menatap penuh selidik ke arah Hanna.
"Boleh lihat kartu tanda pengenal?"
Penuh semangat Hanna membuka tas lalu mencari dompetnya, dan memberikannya pada wanita dibalik meja itu.
"Ikut aku!"
Kalau diawal kedatangannya, Hanna tampak yakin, kini setelah mengikuti langkah wanita berambut merah menyala itu membuat nyalinya menciut.
"Bos, ada yang melamar, nih," ucapnya sebelum berlalu pergi. Ruangan itu temaram, cahaya yang mendominasi sebagai penerang adalah cahaya dari bola lampu berwarna merah.
"Duduk," perintahnya pada Hanna. Dia menurut, menarik kursi yang ada di depannya. "Kau benar-benar ingin bekerja?"
Hanna mengangguk. Suaranya tercekat. Dia tahu kalau sampai ibu nya tahu dia bekerja di tempat seperti ini, habis lah.
"Gaji 500 ribu satu malam. Dari jam lima sore hingga pukul 12 malam. Jika kau mengambil lembur, maka akan mendapat bonus. 50 ribu di setiap jam nya," terang pria bertubuh tambun itu. Ada perasaan senang kala melihat wajah dan bentuk tubuh Hanna.
"No, jangan panggil Pak, tapi Abang saja!"
Hanna kembali mengangguk. Hanya ini jalan satu-satunya untuk mengumpulkan uang. Mungkin dalam sebulan ini mereka tidak bisa membayar semuanya, namun akan lebih mudah mencari kekurangannya.
"Kau bisa mulai bekerja hari ini?"
"Bi- bisa.."
***
"Mama, ada tugas kelompok, bolehkan aku menginap di rumah Ara?" tanya Hanna siang itu. Dia sengaja pulang lebih cepat, agar bisa membujuk ibunya.
"Kenapa harus nginap? lagi pula besok hari libur, kau kan tidak kuliah?"
"Iya, tapi tugas ini harus segera diselesaikan."
__ADS_1
Pembicaraan terputus, Stuart yang baru pulang entah dari mana, masuk dan langsung duduk di meja makan.
"Papa tampak lelah, sampai keringat begini?" tanya Hanna mengamati kondisi ayahnya. Wajah pria itu masih tampak lebam, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Iya, papa harus jalan dari simpang sama."
"Jalan? kenapa? apa mobilnya masuk bengkel lagi?" tanya Hanna dan sepertinya itu juga yang ingin ditanyakan Ema.
"Bukan. Mobilnya papa jual.."
Kedua wanita yang ada di hadapannya kini saling menatap lalu kembali mengalihkan pandangan mereka pada Stuart. Tatapan yang menuntut penjelasan.
"Maaf, karena papa sudah bertindak sejauh itu. Tapi papa rasa hanya ini satu-satunya jalan. Nanti kalau kita sudah punya uang, kita akan beli lagi mobil yang baru. Tolong, kalian mengerti, ya," ucap Stuart, kedua tangannya terulur, menggenggam tangan Hanna dan Ema.
Tidak ada yang membantah. Lagi pula mereka tidak punya pilihan lain, dari pada rumah yang bilang, biarlah mobil yang mereka jual.
"Jadi, laku berapa mobil tua itu?" tanya Ema menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"260 juta. Tinggal sedikit lagi. Papa akan cari jalan keluar."
"Mama, seperti yang aku katakan tadi, aku izin menginap di rumah, Ara."
Ema yang sedang tidak ingin terlalu banyak berpikir hanya mengangguk. Hanna meremat sisi gaunnya, meminta maaf dalam hati karena sudah membohongi kedua orangtuanya.
***
Jam setengah lim kurang, Hanna sudah berada di tempat itu. Dalam hati berdoa, agar tidak seorang pun yang dia kenal bertemu di tempat ini.
"Ini seragam mu," ucap salah satu dari anggota LC di klub itu. Hanna menerima, dan mengamati pakaian itu, yang sama sekali tidak menutup bagian mana pun dari tubuhnya.
***
Hai, selamat malam semua, maaf aku up nya dikitπ mau curcol, bulan lalu benar2 banyak up tapi popnya dikit. Banyak yang baca hingga 6k sehari, tapi yang like, komen, dan kasih dukungan hanya sedikit. Jujur itu membuat ku merasa malas untuk melanjutkan novel ini lagiπππ
Maaf buat yang suka novel ini, bukan tidak menghargai dukungan kalian, hanya saja aku sedikit sedih pada yang baca tapi gak mau kasih dukungan π₯ buat yang selalu kasih support, aku ucapnya banyak terima kasih. ππππ
__ADS_1