
Tampaknya fatamorgana nya belum berakhir. Sekali lagi Hanna mengerjap dan sosok itu masih ada di sana. Berdiri menjulang dengan gagahnya, dan melipat tangan di dada seperti mandor yang marah ketika kuli nya bukan bekerja, tapi malah asyik tidur.
Dengan kesadaran yang masih setengah, Hanna menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur, lalu mengucek matanya, tapi sosok itu masih tetap di sana, memandangi dirinya dengan tatapan membunuh.
Hembusan angin siang yang masuk mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan. "Dav.. lin.." pekiknya mengembalikan kesadarannya penuh. Sekali lagi mengucek matanya, memastikan memang sosok pria itu nyata. Namun, hatinya mendebat, ini.masih hari ke tiga, jadi seharusnya Davlin masih ada di London saat ini.
"Hei kau, pergi saja halusinasi. Kepala ku terasa berat. Jangan menggangguku!" pekiknya melempar bantal berbentuk unicorn nya ke arah Davlin. Baru lah setelah bantal itu kembali padanya setelah dilemparkan oleh Davlin, Hanna tersadar penuh.
"Kau nyata? jadi kau benar-benar Davlin?" Hanna menapaki lantai dan bergegas menuju pria itu. Menusuk-nusuk dada bidang Davlin dengan telunjuknya. "Hah? jadi benar kau udah pulang? bukannya seminggu?" tanya Hanna masih tidak percaya. Namun, riak wajahnya kini berubah gembira. Senyumnya mengembang sempurna, dan merealisasikan dengan merentangkan tangan untuk memeluk Davlin. Namun, tubuh tinggi Davlin menghindar, mendorong jidat Hanna dengan tangan kanannya.
"Dih! Apaan sih? gak boleh meluk?" protesnya berkacak pinggang.
"Untuk apa kau memeluk ku?"
"Pertanyaan apa itu? tentu saja karena aku rindu."
"Rindu? apa aku ini penting bagimu?"
"Dih! ini om-om maksudnya apa sih! Penting lah!"
"Lalu apa kau menganggap ku? apa kau menghargai keberadaan ku?"
"Ini maksudnya apa sih? datang-datang malah marah-marah! Kau masuk dari mana sih?" Hanna menoleh ke arah balkon, pintu itu tengah terbuka dan terjawab lah pertanyaannya.
"Kau masih tanya apa maksud ku? Aku seperti orang gila kembali ke sini, bahkan untuk mandi dan makan pun tidak sempat. Apa kau tahu betapa takutnya aku, aku takut kau akan dicelakai orang??!"
"Aku kenapa?" tanya Hanna pelan. Perlahan mundur dan mengingat kesalahan apa yang dia perbuat hingga prianya itu datang buru-buru dari London. Dari kalimatnya dipastikan bahwa urusan pria itu belum selesai.
"Kau masih sanggup bertanya? hapus mimik wajah tidak bersalah mu itu!" Suara Davlin memang tidak keras, tapi dinginnya terasa menusuk kalbu. Akhirnya ingatan Hanna ketemu. Sontak dia menjadi gugup, dan menggigit bibirnya.
__ADS_1
Masa iya, si tuan dingin dan kaku ini tahu mengenai masalah di klub? Jangan bilang, dia juga tahu kalau aku sempat kerja di sana!
"Tampak nya kau mengingat sesuatu!"
"Hah? aku.. tidak.. aku..."
Kepalan tangan Davlin semakin mengerat. Gadis bodohnya itu masih saja mencoba untuk berbohong padanya. Sejak kabar mengenai Hanna yang bekerja di klub dikabarkan oleh intel nya, Davlin sudah tidak tenang. Ingin meminta Haris menanganinya, tapi saat itu Haris juga ada bersamanya. Jadi Davlin tidak punya pilihan lain, selain pulang ke Indonesia saat itu juga.
"Kau urus di sini. Kalau ada masalah, kabari aku," perintah Davlin pada Jim sebelum terbang ke negaranya.
"Apa kau sebodoh itu dan tidak tahu malunya hingga harus bekerja di klub itu? apa yang kau pikirkan? kau mau jual diri? sebutkan harga mu!"
Plak! Tangan Hanna spontan mendarat di pipi pria itu. Harusnya Davlin yang kesakitan karena sudah ditampar, tapi nyatanya, justru tangannya yang terasa kebas.
Ucapan Davlin jelas disimak Hanna. Membelah hatinya hingga koyak berdarah. Pria itu tega menuduhnya menjual diri? apa dia tidak tahu alasan Hanna melakukan itu? Untuk melamar ke sana saja Hanna harus berperang dengan hati dan juga harus berbohong pada orang tuanya.
Sementara pria ini datang, lalu serta-merta menuduhnya dengan perkataan yang sangat menyakitkan.
"Harusnya aku yang marah!" kali ini nada suara Davlin sedikit naik.
"Aku tidak peduli kau mau marah atau tidak. Yang aku tahu, saat ini aku membencimu, dan aku ingin kau pergi dari sini!"
"Aku masih punya hak, aku ini pacarmu!" Adu mulut itu tampaknya belum berakhir. Keduanya tidak ada yang mau meredam amarah justru ingin memuntahkan lava di hati mereka.
"Oh, begitu. Mulai sekarang, kita putus. Aku tidak punya hubungan lagi dengan mu!" Hanna membuka paksa gelang yang ada di pergelangan tangannya, dan melempar ke arah Davlin, mengenai dada pria itu lalu terjatuh di lantai, berdenting memecah kesunyian.
Davlin menatap tajam, tidak percaya apa yang baru saja di ucapkan oleh Hanna. Mata gadis itu sudah menjelaskan amarah dan harga dirinya, yang terluka. Namun, dia pun memiliki kekecewaannya sendiri.
Dipungutnya gelang itu, dan tanpa mengatakan apapun lagi, Davlin pergi dari sana. Sampai di kamarnya, Davlin memukul dinding tiga kali hingga tangannya berdarah.
__ADS_1
"Dasar gadis bodoh, dia pikir siapa dirinya? aku juga tidak butuh pacar seperti mu! Apa kau pikir aku akan mati kalau berpisah dengan mu?!" umpat Davlin penuh amarah. Rahangnya tampak tegas dengan gigi menggeretak.
Itu hanya persekian menit, setelah menarik nafas panjang, memikirkan tentang Hanna kembali, nyatanya dia merasakan ketakutan kehilangan gadis itu yang coba dia tepis.
***
Lengkap sudah penderitaan Hanna. Saat dunianya sedang jungkir balik, satu-satunya orang yang dianggap bagian dari dirinya justru kini membuatnya kecewa.
Tangisan Hanna begitu menyayat. Davlin yang berdiri di balkon kamar, berdebat apa ingin kembali ke sana atau tidak bisa mendengar jelas tangisan itu.
Setelah mempertimbangkan segalanya, Davlin membatalkan niatnya. Membiarkan gadis itu mengeluarkan kesedihan dan memberi waktu sampai dia tenang, baru lah nanti akan mengajaknya bicara.
***
"Ris, lo cari tahu, kenapa dia sampai kerja di klub itu!" perintah Davlin melalui ponselnya.
Kini dia sudah lebih tenang. Dia marah karena merasa takut akan keselamatan Hanna. Saat itu dia jauh darinya, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Hanna l, dia tidak akan memaafkan dirinya.
Davlin tidak pernah setakut ini dalam hidupnya. Membayangkan Hanna terluka membuat emosinya tersulut.
Suara tangis itu sudah tidak terdengar lagi. Mungkin karena kelelahan gadis itu sudah tertidur.
Dering ponsel Davlin membuat lamunan panjangnya menguap. "Bos, itu adalah hari pertama Hanna kerja. Mungkin ini ada hubungannya dengan papanya yang terlilit hutang," ucap Haris di seberang sana mulai memberi laporan.
"Hutang apa?"
Haris membeberkan semua masalah yang kini membelenggu Stuart Jhonson dan bagaimana anak buah lintah darat itu menghajarnya. Bermula dengan ditipu oleh sahabatnya sendiri, hingga pria itu harus meminjam uang dari lintah darat.
"Pergi ke galery nya, beli beberapa lukisan atau apa pun itu!"
__ADS_1
Davlin tahu, kalau dia memberikan cuma-cuma, Stuart akan menolak begitu pun Hanna. Dia akan melindungi keluarga Stuart, karena Hanna sangat berarti baginya.