My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 142 (MCL)


__ADS_3

Alex seakan terpaku di karpet. Ia harus melegakan tenggorokan sebelum menjawab, "Bagaimana keadaan istriku?"


"Keadaannya sangat baik."


Alex berjalan keluar dari ruangan dan menahan desakan aneh untuk memeluk dokter hebat itu.


Ketika Alex pergi menemui Hanna, Hugh mendekati botol brendi dan mengeluarkan saputangan untuk mengelap alis.


Sanga dowager duchess mendekati Hugh dan menyentuh lengan sang dokter. "Bagaimana keadaan Hanna?" tanya dowager duchess lirih.


"Dia membuatku takut, My Lady. Dia kehilangan banyak darah, tapi dia baik-baik saja. Bahkan sebelum pendarahan terjadi, paling tidak aku tidak berniat meninggalkan tempat ini sampai besok. Kau tahu itu."


"Tentu saja aku tahu," kata dowager duchess sambil tersenyum lemah, lalu menyerah pada desakan yang tadi diabaikan Alex, yakni memeluk dokter itu erat-erat. "Terima kasih, Hugh," bisik wanita itu. "Aku sangat takut." Sang dowager duchess menambhakan, memandang ke sekeliling dengan tatapan kosong. "Aku hampir tidak bisa membuka mataku. Kurasa aku akan beristirahat." Lanjutnya lebih ke pada Ema.


"Anda benar, My Lady. Aku yakin, aku akan melakukan hal yang sama," kata Ema.


Stuart bangkit dengan sopan dan ketika menunduk untuk mendaratkan ciuman di pipi istrinya, ia melihat genangan air mata kelegaan berkilau di mata wanita itu. "Nah, Sayangku, sudah kubilang tidak ada yang perlu dicemaskan. Bukankah begitu?" kata Stuart sambil tertawa kecil. Padahal dirinya lah yang sebenarnya ingin ditenangkannya.


"Ya, Kau benar," jawab Ema sambil tersenyum malu.


Stuart mencondongkan tubuh melewati istrinya dan melirik Stephen, yang terlihat lima belas tahun lebih muda dari pada beberapa menit lalu. "Lihat saja Stephen. Dia tidak cemas. Kalian para wanita terlalu khawatir. Persalinan adalah hal yang paling alami di dunia, bukan begitu Stephen?"


"Ya, tentu saja," Stephen menegaskan, tersenyum pada Lord dan Lady Jhonson. Ia berdiri badan berjalan ke arah botol minuman. "Kurasa aku akan minum sebelum aku tidur... untuk merayakan peristiwa ini."


"Itu gagasan yang bagus," Stuart setuju dan langsung bergabung dengan Stephen di meja samping. Ia melihat istrinya keluar dari ruangan, lalu memandang ke sekeliling mencari sang dokter.


***


Tiga hari setelah Arthur Claymore lahir ke dunia, Hanna duduk tegak di ranjang, disangga oleh setumpuk bantal, bertanya-tanya kenapa suami dan ibu mertuanya tidak datang menjenguk pagi tadi.


Alex datang ketika jam menunjukkan pukul tiga sore. "Kemana kau seharian ini?" tanya Hanna setelah membalas ciuman Alex.


"Aku harus pergi ke Claymore," sahut Alex sambil duduk di sebelah kiri Hanna. "Bagaimana perasaanmu?"


"Bahagia dan baik-baik saja."


"Bagus sekali. Bagaimana keadaan putraku?"

__ADS_1


"Lapar dan menyatakannya dengan jelas," Hanna tertawa. "Mery memaksa membawa Arthur ke kamar bayi sehingga aku bisa beristirahat, tapi aku tidak mengantuk."


"Bagus, karena aku membawa hadiah dari Claymore untukmu."


"Kau jauh-jauh pergi ke Claymore hanya untuk membawakan hadiah untukku?" ucap Hanna. "Aku lebih suka kau di sini, menemaniku."


Aku sangat tersanjung mendengarnya," sambar Alex sambil tersenyum lebar. "Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan, dan ternyata aku dan ibu membutuhkan waktu beberapa jam lebih lama daripada yang kami duga untuk menemukan apa yang kami cari."


Hanna baru akan meminta penjelasan lebih lanjut ketika ibu Alex muncul diambang pintu diikuti kepala pelayan yang membawa benda berat yang tertutup kain beledu merah.


"Akulah yang harus disalahkan atas kepergian Alex," sahut sang dowager duchess sambil tersenyum jail. "Aku tidak ingat di mana aku menyimpan ini, jadi Alex harus mencarinya."


Margaretha menatap pelayan dan memberikan isyarat agar pria itu meletakkan benda itu di atas tempat tidur, di sisi kanan Hanna.


"Apa itu?" tanya Hanna, memandang Alex dan ibu mertuanya bergantian.


"Ini tradisi yang paling indah di antara semua tradisi dalam keluarga, dan benda ini selalu diberikan kepada duchess of Claymore saat beristirahat setelah melahirkan ahli waris."


Sambil berbicara, sang dowager duchess membungkuk dan dengan hati-hati menyibakkan kain beledu merah itu sehingga menampilkan peti kayu indah dengan kaitan emas dan bertakhtakan mutiara. Kotak itu tampak berumur ratusan tahun.


"Memang, tapi dengan satu perbedaan. Setelah kau melihat harta apa yang tersimpan di dalamnya, kau harus menambahkan harta milikmu sendiri, lalu kau harus memasukkan potretmu sendiri ke dalamnya. Kau harus tetap bersama peti itu sementara beristirahat di tempat tidur, dan setelah itu petinya akan di simpan sampai duchess of Claymore berikutnya beristirahat di ranjang bersama ahli waris yang baru."


"Tidak biasanya ibu mertuaku bersikap aneh dan misterius," gumam Hanna dalam hati. Takut dirinya tidak bisa berperan baik untuk menjaga agar tradisi itu tetap hidup, Hanna hanya mengangguk lemah. "Harta? potretku sendiri?" tanya Hanna bingung.


"Ketika kami datang untuk berlibur, aku tidak mengharapkan ini terjadi. Aku tidak pernah tahu tentang tradisi apa pun."


"Tentu saja tidak," sang dowager memenangkan Hanna sambil menepuk pipi wanita itu dengan sayang. "Tapi berbulan-bulan lalu aku memastikan Alex mengetahuinya, dan dia sudah membawa potretmu yang bisa kau masukkan ke dalam peti."


"Tapi bagaimana aku menambahkan harta yang mirip dengan harta di dalamnya?"


"Buka petinya dan lihat hartanya," kata sang dowager duchess. "Aku dan Alex akan meninggalkanmu untuk melihatnya."


Dengan kebingungan dan sangat penasaran, Hanna mengangkat kaitan emas, kemudian membuka tutupnya yang berat. Kegembiraan menjalari Hanna dan matanya berbinar memandang lukisan diri ibu mertuanya yang sedang tersenyum." Surat!" seru Hanna. "Surat dan lukisan diri! Oh, lihat ada kipas dari gading... dan ada pita. Ini pasti sangat istimewa bagi seseorang karena alasan tertentu." Hanna begitu gembira hingga bicara pada diri sendiri, tanpa sadar suami dan ibu mertuanya sudah pergi meninggalkan kamar, kemudian menutup pintu.


Dengan sangat hati-hati, Hanna mengeluarkan benda dari peti dan mengaturnya di ranjang di samping tubuh.


Ada delapan pucuk surat, sebagian besar sudah menguning dan nyaris hancur dimakan usia, yang menjelaskan mengapa peti itu hanya boleh dibuka selama beberapa hari sebelum disimpan kembali untuk dua puluh tahun lagi.

__ADS_1


Salah satu surat ditulis di atas perkamen dan digulung tebal. Hanna menduga surat itu pasti yang paling tua, lalu ia membuka gulungan dengan perlahan dan menyadari dugaannya benar.


Surat itu ditulis pada tanggal enam Januari 1490, dengan tulisan tangan indah dan terpelajar Duchess of Claymore yang pertama.


'Namaku Alicia Gladys Claymore, Duchess of Claymore, istri Arthur Griffindor Claymore, dan ibu dari Harry, yang lahir tanggal tiga Januari. Salam sayang untuk kalian..'


Dengan takjub Hanna membaca kisah Duke dan Duchess of Claymore yang pertama, diceritakan dengan detail oleh Alicia Gladys Claymore. Ia menulis tentang pertandingan tembok, turnamen dan peperangan yang dialami suaminya yang sedang berjaya, yang disebut 'Black Tiger', tetapi bukannya berkonsentrasi pada detail yang akan menarik minat pria, sang duchess menjelaskan tentang fakta kehidupan sang duchess kepada para wanita yang suatu hari nanti akan meneruskan jejak sebagai Duchess of Claymore.


Sang duchess mengakhiri suratnya dengan menjelaskan bahwa ia memasukkan lukisan diri ke dalam peti bersama perkamen sehingga calon menantunya bisa melihat wajah sang duchess.


'Ketika aku mengatakan pada suamiku bahwa aku membutuhkan lukisan diriku dalam ukuran kecil dan memberitahu rencanaku supaya peti ini diwariskan kepada generasi berikutnya, dia membayar seorang pelukis dan memberikan lukisan diri ini kepadaku. Lukisan ini sangat indah. Mataku tidak sebesar itu, wajahku juga tidak sehalus itu, tetapi suamiku bersumpah lukisan itu sangat mirip dengan diriku. Dia juga memutuskan namaku harus diukir di bagian belakang bingkai sehingga apabila harapanku akan peti ini menjadi kenyataan, maka kau bisa mencari wajahku diantara sekian banyak lukisan diri Duchess of Claymore yang terdapat di dalam peti. Aku berharap suami kalian akan melakukan seperti yang dilakukan suamiku. Aku hanya berharap aku tahu wajah kalian.'


Pandangan Hanna mengabur karena air mata. Hanna menatap lukisan diri yang buram yang tergeletak di sampingnya, di atas selimut. Ia memungut lukisan dengan bingkai emas yang sepertinya merupakan benda paling tua di antara semuanya, dan membalikkan untuk melihat apa yang ada dibalik bingkai dan tersenyum seraya terisak.


Sang Duke yang terkenal kejam, yang disebut Black Tiger itu tidak hanya mengukir inisial istrinya di bingkai. Pria itu juga mengukir inisial sendiri yang bertautan dengan inisial sang istri, lalu mengakhirinya dengan gambar hati.


Hanna mendekatkan lukisan kecil itu ke dada lalu setelahnya meletakkannya di samping dengan enggan.


Keesokan siangnya, Hanna telah membaca dan membaca ulang setiap pucuk surat dan memahami sentimentilitas di balik setiap benda kenangan di dalam peti.


Sore itu, setelah Arthur dibawa ke kamar bayi untuk tidur, Hanna menyuruh pelayan mengambilkan kertas lalu meraih pena bulu. Ia menuliskan tanggal di bagian atas surat, lalu mulai menulis..


Namaku Hanna White Claymore, Duchess of Claymore kesembilan, Istri Alex Davlin Claymore, ibu Arthur yang lahir pada tanggal 25 Desember..


Demi menjaga tradisi surat-surat itu, Hanna mencantumkan detail mengenai upaya Alex mendekatinya, dan tentang pernikahan mereka. Ketika menyelesaikan surat keesokan sorenya, Hanna menatap Alex yang sedang membaca buku di depan perapian di kamar tidur mereka.


"Aku sudah menyelesaikan suratku," ujar Hanna.


"Menurut tradisi, sekarang aku harus memasukkan gambar diriku sendiri dengan nama dibalik bingkai ke dalam peti. Gambar yang kau pilih karena menurutmu itu yang paling mirip denganku. Kau bilang, kau membawa gambarkan dari Claymore. Apakah kau punya waktu untuk mengambilkannya untukku?"


Alex langsung meletakkan bukunya dan berjalan ke tempat tidur. "Untukmu aku punya seluruh waktu di dunia," sahut Alex, lalu mencium bibir Hanna dan mengejutkan istrinya dengan duduk di samping wanita itu.


"Di mana gambarnya?" tanya Hanna, penasaran ingin tahu gambar yang mana yang dianggap Alex cocok dan apa yang diukir Alex di bagian belakang.


Sebagai jawaban, Alex membuka laci teratas di nakas dan seraya tersenyum lembut. Alex menyerahkan lukisan kecil Hanna pada hari pernikahan mereka.


Lukisan itu berbingkai emas. Di bagian belakang bingkai terdapat kata-kata dari Alex yang berbunyi, "Hanna - istriku dan cintaku."

__ADS_1


__ADS_2