My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 148 (MCL)


__ADS_3

Sudah seminggu mendekati hati Stuart, tapi belum juga berhasil. Bahkan pagi ini, Davlin dikejutkan oleh datangnya amplop coklat yang baru saja diantar sekretarisnya.


"Apa ini?" tanya Davlin menerimanya. Dahi Davlin berkerut, namun penuh semangat membuka amplop itu tepat saat Dika masuk ke dalam ruangannya.


"Apa itu?" tanya pria itu ingin tahu, menarik kursi di depan Davlin dan duduk dengan penuh rasa ingin tahu.


Bola mata Davlin hampir saja keluar saat membaca surat dokumen resmi nan rahasia itu. Dokumen gugatan cerai dari Hanna. Amarahnya naik, mencuat ke atas hingga hampir membuat kepalanya meledak.


Dia tahu, ini bukan ulang Hanna, melainkan Stuart yang menginginkan Davlin dan Hanna segera berpisah.


Hanna meremas surat itu, lalu membuang surat ke tong sampah. "Jangan pernah berharap aku akan mundur." Cicitnya mengeram, lalu bangkit berdiri.


"Mau ke mana lo?" tanya Dika ikut berdiri.


"Menjalankan misi dengan menggunakan senjata terakhir."


"Gue ikut?"


"Gak usah. Lo bawa sial!" ucap Davlin menghempaskan pintu ruangannya.


Tujuan Davlin tentu saja menjemput bidadarinya. Bergegas menemui gadis itu, untuk mengabarkan apa yang baru saja dia terima berupa sovenir dari Stuart.


"Dav..." Hanna buru-buru mendatangai Davlin, yang sudah gelisah mondar-mandir di depan jurusannya. Terpaksa Hanna bolos mata kuliahnya kali ini. Beruntung, dia jago di mata kuliah ini hingga yakin bisa mengejarnya nanti.


"Lama banget sih, Yang," Davlin langsung mengaitkan jemarinya pada jemari Hanna, dan bergegas membawa gadis itu ke parkiran.


"Kita mau kemana, Dav?"


"Buat anak!"


Hanna yang merasa kesal menanggapi ucapan Davlin berhenti berjalan, guna meminta perhatian pria itu. "Ayo," ucap Davlin.


"Gak lucu ya, Bercandanya." Hardik Hanna.


"Yang bilang lucu siapa? Aku serius. Udah nanti aku jelaskan."


Otak Davlin yang biasanya tangkas dan tenang dalam menghadapi masalah, sepertinya sudah membeku. Dia dihadapkan dalam masalah pelik yang tidak bisa dia hindari. Yang tidak dia sangka, mertuanya bahkan sudah bergerak cepat beberapa langkah di depannya.


Hanya kurang satu jam, mobil Davlin sudah berhenti di depan apartemen mewah. Buru-buru dia membuka sabuk pengamannya, lalu memandang ke arah samping dan tertegun karena Hanna tidak melakukan seperti yang dia lakukan.


"Ayo turun, Yang." Davlin membantu membuka sabuk pengaman yang membelenggu tubuh Hanna.


"Kita mau ke mana? ini tempat apa?" tanya Hanna mengerutkan kening.


"Ini apartemen kita. Ayo, turun Hanna."


"Kita mau ngapain di sini. Jangan gila ya, Dav. Aku tahu kalau sekarang kita punya masalah dengan restu papa dan mama, tapi gak juga gini." Hanna memberengut, wajahnya tampak kesal.

__ADS_1


"Ayo dong, Sayang. Kita bicara. Turun dulu ya, aku gak akan macam-macam."


"Ngomongnya di sini aja."


"Han..." wajah memelas bahkan tidak berdaya Davlin membuat Hanna merasa tidak enak hati.


***


"Siapa yang tinggal di sini?"


"Harusnya kita, sehabis nikah. Tapi ini mau aku renovasi dulu, buat kita tinggalin biar lebih nyaman." Davlin memeluk pinggang mungil Hanna yang tengah berdiri menatap keluar dari balkon kamar.


******* nafas Davlin yang terasa berat, menandakan pria itu sedang punya beban berat, dan Hanna tahu itu kenapa. Kini Hanna mungkin berkhianat, dia berada di pihak Davlin. Papanya keterlaluan, karena tidak menanggapi niat baik Davlin.


Bahkan setelah ditolak beberapa kali di rumah, dia juga menemui ayahnya di Galerinya, tapi ternyata gak berhasil juga. Hati ayah Hanna sudah membatu.


"Katanya tadi mau bicara," ucap Hanna membalikkan tubuhnya. Kini keduanya saling berhadapan, gemas Hanna menangkup wajah Davlin yang masih saja terlihat murung.


"Hari ini papamu mengirimiku dokumen gugatan cerai atas namamu." Ada luka dan kecewa di nada suara itu.


Hanna tersentak, kaget. Tidak menyangka ayahnya sudah mengatur semuanya di belakangnya, tanpa mengatakan apapun padanya. Seolah dia hanya boneka yang tidak perlu dipertanyakan pendapatnya.


Walaupun saat di rumah Om nya, Hanna sudah mengatakan kalau dia bersedia mengikuti semua keinginan orang tuanya, tapi tidak seperti ini juga.


"Aku akan bicara sama papa. Nanti kau datang, kita berdua akan menghadapi baik itu amarah atau ego papa."


Hanna tersipu, dan itu sangat manis menurut Davlin, hingga pria itu tidak tahan untuk tidak mengecup bibir Hanna.


"Gimana kalau kita mulai buat anaknya?" goda Davlin yang membuat Hanna harus memberikan cubitan kecil di perut Davlin.


"Aku serius. Aku udah pengen banget sayang, cuma aku tahu batasan ku. Aku masih punya salah, jadi belum punya hak untuk minta hal itu." Davlin menyapukan bibirnya pada bibir Hanna.


"Kau punya hak kok, aku kan istrimu." Suara Hanna bahkan nyaris tidak terdengar. Namun, jangan harap Davlin tidak mendengarnya. Jelas dia dengar.


"Jadi, kalau aku minta, boleh?" tanya Davlin tidak munafik. Anggukan gadis itu lebih indah dari pada tender yang dia menangkan kemarin.


***


Tidak pernah terbayangkan kalau begini rasanya. Tubuh Hanna yang sudah terlepas dari helai kain di tubuhnya, membuatnya merasakan malu yang sangat besar. Namun, kilat di mata suaminya membuatnya merasa bangga. Dia juga ingat, gema suara Davlin yang terus berbisik kalau dia cantik, sempurna dan betapa pria itu sangat mencintai dirinya.


"Sayang... Aku sungguh-sungguh tergila-gila padamu," bisik Davlin setelah melepas ciuman mereka. Kini menelusuri leher jenjang milik Hanna yang begitu wangi vanila.


"Dav..." rintih Hanna kala suaminya sudah mulai turun kebawah mengecup ujung milik Hanna yang kenyal, yang tampak kemerahan. Menggoda dengan lidahnya yang terasa panas di kulit Hanna.


Wanita itu terbuai. Dia melayang hingga langit ke tujuh. Tubuhnya bergetar, menggigil oleh cumbuan nikmat yang diberikan Davlin padanya.


Kepala Hanna tersentak, tertarik hingga melengkungkan tubuhnya secara sempurna kala Davlin memasukan dan meng*hisap salah satu milik kentalnya. Terasa nikmat dan membuatnya ingin berteriak. Davlin benar-benar menghancurkan tubuhnya.

__ADS_1


Luma*tan di bibir Hanna belum berakhir, bahkan kini semakin panas. Davlin tidak berhenti mencumbunya, dengan nafas yang memburu. Pria itu mencercap setiap jengkal kulit mulus gadis itu. "Dav..." rintih Hanna menggigit bibir bawahnya. Pria-nya itu kini tengah asyik bermain dengan miliknya, mengecup dan membuai manja hingga dirinya basah.


"Dav... Kau mohon.." bisiknya, padahal dia sendiri tidak tahu apa yang dia mohonkan.


"Ada yang ingin keluar dari bawah, dari milikku," rintihnya tertahan.


"Iya, Sayang.." Davlin tahu apa yang dibutuhkan Hanna, hingga dirinya sudah bersiap, memposisikan tubuhnya di antara kaki gadis itu.


Pekikan kaget dan juga ada rasa takut terlihat jelas di mata Hanna. Begitu sulit, hingga Davlin harus mencium bibir gadis itu untuk menenangkannya sebelum kembali mencoba memasuki Hanna.


Setelah tenang, Davlin kembali mencoba untuk masuk dalam sekali hentakan dan akhirnya berhasil menjadikan Hanna menjadi miliknya. Ada air mata di sudut mata gadis itu, yang lalu dikecup Davlin. Setelah merasakan gadis nya sudah mulai tenang, Davlin kembali memompa dengan ritme semakin cepat.


"Dav... sayang.. aku mau meledak..." racuh Hanna menggoyangkan kepalanya di bantal ke kiri dan ke kanan.


"Iya, sayang. Kita bersama-sama ya," bisik Davlin terus memompa hingga semakin kencang seraya ledakan mulai menggulung dalam dirinya, keduanya kini hampir meraih puncak kenikmatan, dan akhirnya...


"Aaaach..." rintihan kenikmatan mengucur dari bibir Hanna. Puas. Itu yang tergambar dan Davlin mengecup bibir gadis itu dengan mesra dan lama.


"Apa tadi itu? kenapa begitu nikmat?"


"Kau menyukainya, Sayang?" ucap Davlin yang sudah berguling ke samping dan menarik tubuh Hanna ke pelukannya. Mengecup puncak kepala gadis itu penuh sayang.


"Apakah kita bisa mengulangnya lagi?" tanya Hanna tersenyum malu.


***


Kedua anak manusia itu tengah duduk di hadapan suami-istri Jhonson. Seperti duduk di pengadilan, keduanya ditatap tajam oleh kedua orang tua Hanna. Tapi gadis itu sudah bertekad ingin mendukung sang suami.


Mengaitkan jemari mereka untuk saling menggenggam. "Papa, aku kecewa sama papa. Kenapa papa kirim gugatan cerai pada Davlin? Papa bahkan melakukannya, tanpa mengatakan apapun padaku lebih dulu." ucap Hanna memecah keheningan.


"Kamu kan udah setuju kalau berpisah dengan dia." Stuart memasang wajah tidak senang.


"Aku mau menarik ucapanku, Pa. Aku mau bersama Davlin. Kami saling mencintai dan gak mau dipisahkan."


"Apa kau sudah gila?" bentak Ema.


"Pa, Ma... Izinkan aku bicara. Aku tahu, aku lah sumber dari masalah ini. Aku menyesal dan aku ingin berubah. Aku mohon Pa, Ma, izinkan aku membahagiakan Hanna. Izinkan aku bisa membuktikan ucapanku, berikan aku satu kesempatan, Pa, Ma.."


Stuart menatap Davlin lekat lalu beralih ke arah Hanan, dia memang melihat keseriusan pada wajah Davlin dan terlebih lagi, putrinya tampak sangat ingin mendapatkan restunya. Wajah Hanna kini berbeda, tampak lebih gembira bersama Davlin.


"Kau serius bisa membahagiakan putri ku?" tanya Stuart, yang mendapatkan sikutan dari Ema.


"Serius, Pa... sambar Davlin.


"Baiklah. Aku titipkan kebahagiaan putriku padaku, jaga dan sayangi dia. Jangan pernah kau menyakiti hatinya."


Hanna melepas genggaman tangannya, lalu berjalan memeluk papanya. "Terima kasih, Papa, Mama," ucapnya. Ema yang melihat air mata kebahagiaan putrinya, ikut menitikkan air mata haru.

__ADS_1


*** Hai semua, ini episode terakhir untuk kisah Hanna dan Davlin. Bab berikutnya mau perkenalkan novel baru ku ya. Makasih sudah mampir dan ngikutin kisah ini, terima kasih bagi yang sudah mendukung dan memberikan motivasi buat aku. Sarange 😘😘


__ADS_2