
Sebenarnya Hanna sudah malas masuk kerja, tapi dia tidak punya pilihan. Tinggal bulan depan, dan kontrak kerjanya juga sudah habis. Dia akan kembali ke dunianya yang sebenarnya. Menjadi mahasiswa.
Sejak tadi batu yang ada di tepi jalan yang dianggap menghalangi langkahnya menjadi sasaran kekesalan Hanna. Kakinya tak henti menendang batu-batu itu, hingga pada batu dengan ukuran sedang, yang dia kira ringan ternyata berhasil membuat kakinya kesakitan.
"Au... bego banget sih, Han!" umpatnya pada dirinya sendiri, menunduk memegangi kakinya.
"Dasar bego. Gak butuh lagi sama kaki mu?" suara pria dari belakangnya membuat menoleh dan mendengus kesal melihat wajah pemilik suara itu. "Sini aku lihat."
Sigap Hanna langsung menepis tangan Davlin. "Biar aku lihat dulu." Davlin tetap bersikukuh ingin melihat keadaan gadis itu. Tenaga Davlin tentu saja lebih kuat, hingga Hanna mengalah, membiarkan melihat sakit di kakinya.
"Sini." Tanpa diduga, Davlin sudah mengangkat tubuh Hanna ala bridal dan beranjak menuju mobilnya. Protes gadis itu tidak dihiraukannya terus berjalan dan memasukkan gadis itu ke dalam mobil. Hanna akan keluar saat Davlin sudah akan menutup pintu mobil, namun segera terdiam karena hardikan pria itu.
"Jangan berpikir untuk keluar dari sana!"
Tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Pandangan Hanna selalu menatap ke luar, gadis itu juga sudah memasang earphone dan memejamkan mata. Hal itu cukup jelas tanda dia tidak ingin diajak bicara dengan pria yang ada di sampingnya itu.
"Aku tahu, kau saat ini sedang marah padaku, tapi aku mohon percaya lah padaku. Tidak semua yang aku katakan padamu itu adalah bohong. Aku akan menjelaskan padamu suatu hari nanti. Berikan aku waktu sebentar lagi," ucap Davlin tanpa menoleh. Dia tahu gadis itu hanya pura-pura tidur dan bisa mendengarnya.
***
Begitu mobil di parkiran berhenti, Hanna segera membuka pintu dan segera keluar dari mobil. Perasaan sakit masih menyapanya, tapi demi menghindari Davlin, dia tetap memaksakan dirinya untuk berjalan masuk ke dalam kantor.
Davlin sudah putus asa karena didiami gadis itu. Dia juga sedih melihat wajah murung Hanna, tapi keadaan benar-benar membuatnya tidak berdaya.
Bergegas mengejar langkah Hanna hingga tiba di depan lobi, Hanna yang mendapati Iris ada di sana, menyapa dirinya membuatnya tidak enak hati kalau sampai mengabaikan sapaan gadis itu.
"Pagi.. kaki mu baik-baik saja?" tanya Iris yang melihat Hanna berjalan terseok.
__ADS_1
"Makasih, Mbak. Aku baik aja kok, cuma keseleo tadi," sahutnya tersenyum kecut. Davlin yang tepat berjalan di belakangnya, juga ikut berhenti.
"Kalian datang bersama?" tanya Iris, wajahnya penuh tanya melihat keduanya datang bersama. Terlebih saat kemarin mabuk, Davlin juga yang mengantar Hanna pulang.
"Kami hanya kebetulan bertemu di jalan, Mbak. Pak Davlin tidak tega melihat ku berjalan dengan kesusahan hingga memberi tumpangan padamu," sambar Hanna. Dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman.
Iris gadis yang baik, dan dia adalah kekasih Davlin, wajar dia tidak suka kekasihnya berdekatan dengan wanita lain. Sumpah demi apapun Hanna tidak ingin jadi wanita penggoda kekasih orang.
"Hanna masih saudara jauhku, Ris. Jadi kami sudah seperti Abang adik," ujar Davlin. Wajah Hanna memerah marah mendengar ucapan Davlin yang tidak masuk akal!
Apa katanya? Abang adik dari Hongkong! Sejak kapan abang adik saling *******? ciuman bibir? ****** emang Davlin brengsek!
"Oh, benarkah? aku baru tahu kau punya sepupu kerja di sini. Kenapa kau membuat bekerja sebagai OB?" tanya Iris mendekat.
Iris tersenyum, membenarkan tindakannya selama ini. Tidak sia-sia dia bersikap baik pada Hanna, setelah menikah mereka akan menjadi keluarga dan Iris yakin kalau nanti Hanna akan berguna baginya.
"Gak papa, Mbak. Aku juga cuma kontrak sampai bulan depan, mau lanjut kuliah lagi. Aku permisi ke atas duluan ya, Mbak," ucapnya mengangguk hormat dan segera meninggalkan keduanya.
Kecupan Iris pada Davlin waktu itu adalah pertanda bagi Hanna, mimpi buruknya akan segera tiba.
"Bisa gak sih wajah lo gak usah murung gitu? gue makin benci, sama si iblis itu!" ucap Tari saat Hanna duduk di pantry dengan tatapan kosong!
"Aku juga gak mau sedih, tapi air mata ini terus saja mengalir. Aku udah muak, pengen berhenti, tapi rugi kan kalau harus berhenti sekarang?" ucapnya merebahkan kepalanya di pundak Tari.
***
"Hai, nona manis, lesu amat?" Aril menghempas tubuh nya duduk di samping Hanna yang hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa niat untuk menyantapnya walau pun sedikit.
__ADS_1
"Eh, bang Aril. Makan, Bang," sahut malas. Semua yang terjadi padanya membuatnya tidak bersemangat.
"Nasehati, Pak. Suruh lupakan Pak Davlin. Pria bejat itu gak pantas untuk ditangisi," ujar Tari santai. Dia tidak takut kalau Aril bisa saja melaporkannya pada Davlin.
"Benar apa kata Tari. Kau harus bisa melupakannya. Dia sudah milik Bu Iris. Hanna, pacaran lah dengan ku." Entah dari mana keberanian Aril hingga kalimat itu muncul. Tapi dia tahu, semakin lama dia memendam perasaannya, maka semakin susah menggapai gadis itu.
"Nah loh, benar itu, Han. Lebih baik Lo emang sama pak Aril aja," sambar Tari bersemangat.
"Apaan sih, lo Tar. Abang juga, jangan bercanda begitu dong." Hanna menunduk, tidak ingin memperpanjang percakapan yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Aku serius, Han. Kau mau, kan?"
"Aku... aku... tidak mau memikirkan apa pun saat ini, Bang. Aku hanya ingin sendirian aja dulu melalui hari-hari ku."
Kalimat itu cukup menegaskan keinginan Hanna untuk menghentikan pembahasan itu. Aril tidak ingin. memaksa, memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk mendekati Hanna lagi. Ini Hannya masalah waktu saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, karena saat ini Davlin tidak lagi menjadi penghalang baginya.
Hanna tidak lagi mendengar apapun cerita Tari dengan Aril. Pikirannya kosong. Bahkan tawa Tari yang mendengar perkataan Aril tidak menarik perhatian Hanna untuk mencari tahu.
Ketiga berjalan beriringan kembali ke kantor. Hanna hanya tersenyum kala Aril menanyakan pendapatnya.
"Ketemu lagi, apa kalian baru saja selesai makan siang?" tanya Iris ramah. Hanna mewakili mereka hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Sama dong, kami juga. Makan di depan," lanjutnya menunjuk restoran di depan kantor mereka.
"Enak dong, kami mah rakyat biasa cukup makan di kantin kantor aja," celetuk Tari memuaskan mulut berbisa nya.
***
__ADS_1
Mampir kak