My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 110 (MCL)


__ADS_3

Efek dari pertemuan tidak terduga dengan Kai, Ara sepanjang sisa hari itu terus saja membahas Kai. Sebenarnya Hanna tidak terlalu heran, Ara selalu cepat untuk menyukai pria tampan, dan ya, Kai masuk dalam kategori tampan, bahkan sangat tampan malah. Eh..


"Hai..."


"Lo lagi, ngapain di sini? parkiran fakultas lo kan di sana? pintu gerbang keluar juga lebih dekat ke sana," tunjuk Hanna ke arah bagian timur kampus.


"Eits, memang kenapa kalau gue mau lewat sini? ada larangan?" tanyanya menggoda Hanna.


"Well, terserah lo sih, ya, udah, gue duluan, ya." Hanna sudah berlalu, menjauh dari Kai yang tidak menduga kalau gadis itu akan bersikap cuek padanya.


"Eits, tunggu dulu. Kok lo malah pergi, sih?"


"Terus? Memang gue mau pulang kan? gue mau ke tempat gym. Duluan, ya." Hanna melanjutkan perjalanannya. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi memang dia sudah sangat buru-buru. Kelas nya sudah mau mulai setengah jam lagi.


"Oke, gini aja. Lo gue antar, ya?" tawar Kai yang kekeh tidak ingin di tolak.


"Gak usah deh, Kai. Gue sendiri aja,"


"Biar lo gak telat. Kalau gak, ntar malam gue ke rumah lo," ancam Kai. Hanna kini menatap serius wajah Kai. Menimbang akan lebih bermasalah jika Kai ke rumah, jadi Hanna mengikuti tawaran pria itu.


"Ya, udah, ayo jalan."


Jalan ibukota sore itu macet. Satu sisi hatinya membenarkan pilihannya untuk diantar Kai. 15 menit sebelum kelas gym mulai, dan mereka masih ada di jalan.


Kai memilih jalan lain. Pastinya dia akan merasa bersalah kalau pada akhirnya Hanna terlambat juga. "Ga usah ngebut, Kai. Udah mau nyampe kok. Tinggal belok kiri udah sampai," ujar Hanna lebih mendekatkan wajahnya agar bisa didengar oleh Kai.


Pria itu menurut. Dia melambat, Kai tidak ingin Hanna ketakutan di boncengannya. "Iya, ini gue udah lambat dan.."


"Awas, Kai!" Pekik Hanna bersamaan dengan menggantungnya kalimat Kai.

__ADS_1


"Ada apa Kai? kok rem mendadak?" tanya Hanna masih menyisakan keterkejutannya.


Kai mematung. Hanya menatap lurus mobil mewah yang melaju dihadapannya, memutar masuk ke hotel yang tidak jauh dari pengamatannya.


Helm yang dia gunakan membantunya menutupi amarah yang menyala di matanya. Tanpa pikir dua kali, Kai membelokkan motornya menuju hotel yang sudah dimasuki mobil sedan hitam itu.


"Kai, kita kenapa ke sini?" tanya Hanna heran. Kalau untuk mengambil jalan pintas untuk apa? toh satu belokan lagi di ujung sana, tempat fitnesnya sudah sampai.


Tidak ada jawaban, dan tampaknya Kai juga enggan menjawab, fokusnya hanya ingin bertemu si pemilik mobil.


Merasa tidak dipedulikan, Hanna menepuk pundak Kai, mengulang pertanyaannya yang tidak digubris pria itu. "Kita ngapain ke sini?" tanyanya memandang sekelilingnya. Hanna sempat berpikir kalau Kai merencanakan sesuatu yang buruk.


"Nih, gue gak mau ngikutin tingkah gila, lo!" Hanna menyerahkan helm yang dia pakai, meletakkan begitu saja di atas jok motor dan bergegas pergi. Kai masih membuka helmnya, untuk saat ini dia tidak memusingkan apa pun yang dikatakan atau di lakukan Hanna.


Dia sendiri meletakkan begitu saja helm yang dia pakai di kaca spion motornya lalu, setelah berlari menuju lobi hotel.


Hanna sempat menoleh, dan melihat pria itu bukan mengejarnya, deru langkah yang Hanna dengar justru menjauh. "Ada apa ini? ngapain Kai ke dalam?" cicitnya.


Lama memikirkan, rasa penasarannya berubah menjadi gulungan salju ingin tahu. Hanna pun ikut masuk ke lobi hotel. Kai tidak. ada di sana. Tidak tahu apa yang kini harus dia perbuat, Hanna hanya berdiri di dekat meja resepsionis sambil celingak-celinguk ke arah dalam hotel.


Sosok Kai muncul, yang Hanna tebak seperti sedang mengikuti seseorang. Tapi siapa? Hanna bergegas mendekat, namun, pria itu buru-buru masuk lift berikutnya setelah seseorang yang lagi-lagi Hanna tebak sedang diintai Kai.


Langkah kecil Hanna sempat melihat lantai yang ditekan Kai, dan bergegas masuk ke dalam lift yang ada disebelahnya.


Begitu pintu lift terbuka, Hanna kembali melihat koridor, dan tepat menoleh sebelah kiri, dia melihat jaket Kai yang mengikuti sepasang umat manusia yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya bersiap untuk masuk.


Hanna sempat mengamati, pria itu jauh lebih tua untuk menjadi suami wanita yang bahkan lebih muda dari Hanna.


Gedebuk!

__ADS_1


Pria yang sempat terkejut karena Jasnya ditarik paksa oleh Kai sudah jatuh tersungkur di karpet koridor hotel. Satu pukulan kuat sudah dihadiahi Kai pada bagian perut pria itu.


"Aaakh.."pekik wanita yang menjadi pasangan si bapak tua itu.


"Berdiri!" umpat Kai menarik tubuh pria itu. Keduanya saling menatap penuh kebencian.


"Dasar anak kurang ajar! Kau berani memukul ayahmu?" maki si bapak. Tidak hanya wanita muda teman kencannya yang kaget, Hanna juga sama kagetnya.


Perbedaannya adalah, kalau gadis itu kaget karena malu sudah ketahuan jalan dan menjadi teman check in si bapak tua oleh anggota keluarga yang baru saja mengikrarkan dirinya sebagai ayah Kai, Hanna kaget karena tidak menyangka Kai berasal dari keluarga seperti ini.


Di mata Hanna selama ini, Kai adalah pria riang, baik, dan juga tampak bahagia, jauh dari kata kesedihan dan masalah prahara rumah tangga. Tapi kini Hanna lihat sendiri kenyataannya.


Satu penilaian bertambah untuk Kai dari Hanna. Pria itu mampu mengemas lukanya dengan senyum gembira yang selalu hadir di wajahnya.


"Lantas kau mau apa? apa kau pantas disebut ayah? apa kau tidak punya malu? dia bahkan pantas jadi putrimu!" makinya, lalu mengarahkan pandangan jijik pada gadis itu, yang kini sudah tertunduk malu.


"Kau, wanita murahan, apa sedikit saja kau tidak punya harga diri? kau mau ditiduri oleh pria yang pantas jadi ayahmu? kau tahu, karena hubungan gelap kalian, berulang kali ibuku masuk rumah sakit?"


Cih! Kai meludah jijik di lantai, memandangi kedua manusia berperilaku hina itu bergantian.


"Itu bukan urusanmu! Kau pergi dari sini, atau kau mau aku jebloskan ke penjara?!"


"Lakukan saja. Aku juga sudah muak, malu menjadi anakmu. Orang di luar sana menganggap kau suci, pria baik yang mengayomi keluarga, tapi kenyataannya, kau pria hidung belang, yang ada dipikiran mu hanya sebatas sela*ngkangan!"


Beberapa orang yang menginap di sebelah kamar itu keluar, begitu pun para tamu yang baru keluar dari lift ikut terpaku menonton drama keluarga itu.


Cih! Sekali lagi Kau meludah, masih melayangkan pandangannya pada ayahnya, lalu berbalik pergi.


"Kai.." cicit Hanna yang sudah hampir menangis, saat pria itu melewatinya.

__ADS_1


Kai yang begitu terluka, kali ini tidak menggubris Hanna, melewati gadis itu, dan bergegas masuk ke dalam lift.


__ADS_2