My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 140 (MCL)


__ADS_3

Ketika Hanna terbangun, Alex tidak ada dan selama sesaat yang mengerikan, Hanna mengira ia hanya bermimpi Alex ada bersamanya semalam. Hanna berguling telentang, semangatnya hancur, lalu ia melihat Alex.


Pria itu duduk di dekat jendela, beberapa langkah dari tempat tidur, mengenakan jubah tidur merah tua yang dibawakan oleh pelayan bersama nampan kopi perak yang ada di meja di hadapan Alex.


Tirai berat itu terbuka sedikit, menampilkan langit biru cerah tidak berawan, tetapi berlawanan dengan pagi bulan Juli yang ceria. Wajah tampan Alex terlihat sangat serius, seakan pikiran pria itu melayang jauh. Dengan resah, Hanna bertanya-tanya apa penyebabnya padahal Alex begitu hangat dan berg*airah beberapa jam lalu.


Hanna mengenakan jubah sutra biru yang dikenakannya semalam, lalu berjalan melintasi karpet oriental, berhenti di samping kursi Alex. Pria itu begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tersentak ketika Hanna menyentuh bahunya. "Saat kau tidak ada di tempat tidur ketika aku bangun, sejenak kukira aku hanya bermimpi kau ada di sini semalam."


Ekspresi Alex melembut dan ia mengulurkan tangan, meraih lengan Hanna dan menarik wanita itu dengan lembut namun tegas ke pangkuannya. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Alex seraya merangkul pinggang Hanna.


"Aku merasa sangat sehat untuk ukuran wanita dengan kondisiku," gurau Hanna, mencoba meringankan suasana hati Alex. "Walaupun aku tidak mendapat perhatian selama selama beberapa saat, aku selalu ingin tidur."


Seraya merentangkan jemarinya di perut Hanna, Alex bertanya lembut, "Bagaimana keadaan sang bayi?"


"Kami berdua sangat baik, karena kau sudah ada di sini bersama kami," Hanna menegaskan.


Alex mengangguk puas, tetapi ekspresinya kembali serius. "Aku duduk di sini, berpikir.." Alex mulai menjelaskan.


"Aku benci kalau kau melakukannya," goda Hanna sambil mengulurkan tangan dan membelai kerutan di kening Alex.


"Kau benci kalau aku melakukan apa?"


"Kalau kau memikirkan hal yang membuatmu memberengut."


"Maafkan, aku," sambar Alex.


"Baiklah, aku akan memaafkan mu kali ini, tapi kau tidak boleh berpikir lagi."


Alex tersenyum mendengar gurauan Hanna tetapi mengabaikan usaha Hanna untuk bersikap seolah semua persoalan telah diselesaikan, dan keadaan mereka sudah normal berkat tadi malam. "Aku sadar ketika kau terbangun tadi bahwa aku belum meminta maaf atas sikap burukku dan juga belum menjelaskan alasan di balik sikapku. Aku harus melakukan kedua hal itu."


Hanna berubah serius, lalu mengangguk dan membiarkan Alex memulai.

__ADS_1


"Seperti yang sudah kau ketahui, ketika kau menyuruhku ke kamar tidurmu untuk mengambil surat ayahmu, aku menemukan surat lain, surat yang menjelaskan bahwa kau sedang hamil."


"Bagaimana kau tahu bahwa aku sudah tahu kalau kau sudah menemukan surat itu?"


"Beberapa hari lalu, aku mengabaikan harga diriku, dan bertanya pada Julia yang kebetulan bertemu di rumah viscount Clifton. Aku membujuk, lebih tepatnya mengancamnya untuk memberitahuku dimana kau berada."


"Julia yang malang. Dia tidak bisa memberitahumu karena aku tidak memberitahunya ke mana aku pergi."


"Begitulah katanya, dan aku percaya padanya. Dan pada akhirnya dia juga memberitahuku apa yang diketahuinya. Mengenai permasalahan rumah tangganya dengan Malory, dan juga surat itu kau tulis mewakilinya untuk memberitahukan pada si brengsek Malory mengenai kehamilan istrinya, dan itu termasuk kenyataan bahwa kau sadar aku menemukan surat yang kau tulis itu di meja tulismu."


Hanna mengangguk. "Beberapa hari setelah kau menemukannya, aku sadar kau sudah melihatnya dan surat itulah yang menjadi alasan kenapa kau memperlakukan aku seperti itu."


"Kalau begitu kenapa kau tidak membahas masalah surat itu denganku dan menghindarkan kita berdua dari penderitaan ini?"


"Seharusnya aku mengajukan pertanyaan yang sama itu kepadamu," ucap Hanna membalas tatapan serius suaminya. "Kenapa kau tidak membahasnya denganku begitu kau menemukannya?"


Alex menerima serangan Hanna sambil tersenyum setengah hati. "Aku mengerti maksudmu."


"Bagus," kata Hanna lebih lembut. "Karena itulah yang ingin kutegaskan ketika kau pergi dari rumah. Alex, kau sudah dua kali mencurigaiku melakukan sesuatu yang sangat salah. Dan dua kali pula kau menolak memberitahuku kejahatan apa yang kau yakini telah kulakukan agar aku bisa mencoba menjelaskan. Aku menerima permintaan maafmu, tapi aku ingin kau mengabulkan permintaanku."


"Apa saja?" goda Hanna mencoba meringankan suasana hati suaminya. "Asalkan masuk akal?"


Alex menempelkan dagu di puncak kepala Hanna. "Apa saja," sahut Alex penuh kelembutan. Sejak semalam, Alex sudah memutuskan akan menuruti permintaan Hanna, apa pun itu. Dia hanya akan memberikan kebahagiaan pada gadis itu.


"Kalau begitu, aku memintamu berjanji kau tidak akan pernah menolak memberiku kesempatan menjawab tuduhan atas tindakan buruk apa pun yang mungkin kau yakini telah kulakukan di masa mendatang."


Alex mengangkat kepala, menatap Hanna sementara wanita itu duduk di pangkuannya. Semangat dan keberanian Hanna terlihat jelas dari bahu ramping dan dagunya yang terangkat, sementara kelembutan wanita itu bersinar di mata hijau jernih dan senyum lembut itu.


Hanna telah memberikan dunia yang penuh kebahagiaan kepada Alex dan sekarang dia akan memberikan keturunan kepada pria itu.


Alex berharap Hanna meminta sesuatu yang lebih besar atau menyuruh Alex melakukan sesuatu yang mustahil, sehingga dia mendapatkan pengampunan Hanna.

__ADS_1


Tetapi yang Hanna inginkan hanyalah satu janji sederhana. Karena yang diinginkan Hanna hanya diri pria itu. Kesadaran itu membanjiri Alex dalam emosi yang membuat suara pria itu parau sementara dengan rendah hati dan sungguh-sungguh, Alex berkata, "Aku berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi.


"Terima kasih," sahut Hanna.


Alex mendongakkan wajah Hanna dan mengikat janji itu dalam ciuman. Sangat puas akan hasil diskusi ini, apalagi dengan ciuman mesra Alex. Hanna menyandarkan pipinya ke dada Alex, merasa sangat gembira.


Hanna sudah bersiap melupakan tentang surat mengerikan itu dan juga kesedihan yang ditimbulkannya.


Tetapi Alex tampaknya belum siap mengakhiri diskusi. "Tentang surat yang ku temukan di mejamu," ucap Alex, tetapi Hanna mengabaikan topik itu dengan mengibaskan jari. "Kita tidak perlu membahas surat itu lagi. Aku sudah memaafkanmu, Sayang dan semuanya sudah selesai, terlupakan."


Alex terkekeh melihat sikap pemaaf Hanna. "Aku menghargai kebaikanmu, Sekali lagi terima kasih, karena sudah memaafkan aku, dan masih memberiku kesempatan."


***


Mendengar suara riang dan sapaan yang memanggilnya dari berbagai ruangan di lantai bawah, Alex menganggap para kerabat sedang bergembira dan bersemangat.


Alex menemukan ibunya di ruang makan, duduk di kepala meja untuk sarapan dan ketika sang dowager duchess melihat ekspresi gembira Hanna, wanita itu pun tersenyum. Tetapi senyuman itu tidak bertahan lama, langsung memudar ketika Alex mendaratkan ciuman singkat di pipi sang ibu dan berkata pelan, "Aku ingin berbicara denganmu, secara pribadi, sebelum aku dan Hanna duduk untuk sarapan."


"Baiklah," ujar Margaretha seraya berdiri dan berpamitan kepada para tamu. Walaupun bahu Margaretha ditegakkan dan kepala terangkat tinggi ketika membawa Alex ke ruang penghubung kecil yang diterangi sinar matahari dan menghadap kebun di belakang rumah.


Margaretha merasa seperti anak nakal yang menerima omelan dari pengasuhnya. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri sehingga belum sadar Hanna mengikuti Alex dari belakang sampai Margaretha berbalik untuk menutup pintu ruangan kecil itu agar dia dan putranya mendapatkan privasi.


Saat itu, dia tidak hanya telah melupakan kecemasan konyolnya, tetapi wanita itu merasa jengkel sendiri. Bagaimanapun, ia tidak melakukan kejahatan apa pun. Sebaliknya Margaretha hanya menawarkan perlindungan kepada menantunya sendiri!


Margaretha berpegang pada prinsip itu, sementara ia berbalik menghadap putranya. "Mengingat sapaan dinginmu kepadaku tadi malam, kurasa kau jengkel padaku karena aku menahan Hanna di sini. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan sampai membuat Hanna merasa tidak bisa tinggal di rumahmu karena dia istri yang terlalu setia untuk membahas masalah kalian, bahkan denganku. Tetapi aku sangat yakin, apa pun yang kau lakukan sampai mendorongnya pergi dari rumahmu pastilah sangat buruk! Mengingat itu, kalau aku menolak permintaan Hanna untuk tinggal di rumahku, itu sangat keterlaluan, tidak adil.. dan tidak manusiawi."


Alex tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya. Padahal Alex meminta waktu bertemu secara pribadi supaya ia bisa memberitahu ibunya bahwa impian terbesar sang ibu akan segera terwujud, bahwa sang ibu akan menjadi seorang nenek. Karena Alex memutuskan untuk tidak memarahi ibunya atas keterlibatan wanita itu dan menyembunyikan Hanna dari Alex.


Alex kaget sekaligus geli mendapati dirinya menerima omelan dari sang ibu. Terlebih lagi, sepanjang usia dewasa Alex, ia tidak ingat pernah melihat ibunya bersikap defensif tapi juga gelagapan. Seraya menahan senyum, Alex berkata muram, "Aku mengerti maksudmu."


"Kau mengerti?" ucap Margaretha tidak percaya. Dia pikir pagi ini akan diawali dengan mendapatkan amukan putranya.

__ADS_1


"Benar."


Sang dowager duchess begitu terkejut sampai melupakan sikap pura-pura jengkel itu. "Oh, itu.. sangat bagus," ucapnya terperangah lalu mengangguk. Baginya ini sangat mudah, tidak ada amarah Alex, jadi dia bisa bernapas lega sekarang." Tadinya aku kira akan ada bantahan."


__ADS_2