
Hanna bersama keluarga sedang ada di Jogja, di rumah pamannya. Setidaknya itulah informasi yang disampaikan oleh Dika padanya.
Seberapa lama mereka akan tinggal di sana, Dika juga tidak bisa memastikan. Tapi yang jelas, Dika sudah menempatkan anak buahnya untuk mengintai gerak gerik keluarga itu, dan setiap saat melaporkan pada Davlin.
Tapi bukan Davlin namanya jika bisa diam berpangku tangan. Dia bingung harus apa. Ke kantor pun dia tidak bersemangat, hingga muncul ide gila untuk masuk ke kamar Hanna.
"Mama istirahat dulu. Tidur, jangan mikirin apa pun. Percaya sama aku, Hanna pasti kembali jadi mantu mama," ucap Davlin menyelimuti tubuh Reta yang baru tiba di rumah setelah dijemput Davlin pagi tadi.
Janji Davlin nyatanya menjadi obat yang manjur buat Reta. Wanita itu sudah kembali bersemangat. Dia juga ingin membantu putranya mendapatkan Hanna kembali.
"Lalu kau mau ngapain?"
"Ada yang harus aku kerjakan, Ma. Udah, mama tidur ya. Jangan rewel. Nurut apa kata anak," ucapnya mengedipkan matanya sebelah kiri.
Reta tersenyum lembut, mengangguk patuh. Davlin mungkin tempramen, mudah marah, tapi pada dasarnya dia adalah pria yang penyayang, terlebih pada wanita yang dia cintai.
Tidak susah bagi pria itu untuk menerobos masuk ke kamar Hanna. Dia tahu caranya dan juga jalannya. Dia memandang kamar yang tampak rapi itu. Matanya terhenti pada kaos yang ada di atas ranjang. Itu miliknya, yang dipakai Hanna semalam di malam mereka bertengkar.
Satu hal yang diakui Davlin, Kai saja yang tahu kalau Hanna tidak mencintainya bahkan menolak ikut dengan pria itu, masih mengharapkan Hanna untuknya sampai merendahkan diri memohon pada Davlin untuk menyerahkan Hanna untuk nya. Lalu, kenapa Davlin yang jelas-jelas menjadi pria yang di cintai Hanna, justru menyia-nyiakan gadis itu?
Davlin memungut baju itu, membawanya ke wajahnya untuk bisa dia cium. Masih ada wangi vanila yang berasal dari tubuh Hanna. Oh Tuhan, dia sangat merindukan wanita itu. Kapan kesengsaraannya akan berakhir?
Davlin memutuskan untuk tidur di ranjang itu. Setidaknya itu bisa membuat rasa rindu akan gadis itu berkurang.
Pada Dika, dia sudah sempat mengatakan akan menyusul ke Jogja, tapi sahabatnya itu memberi saran, agar Davlin menunggu. Menyiapkan rencana yang bisa dia lakukan untuk mengambil hati Hanna.
***
Tiga hari berikutnya, ketika suara mobil masuki halaman rumah keluarga Jhonson, Davlin yang sedang berada di ruang kerjanya diberitahukan oleh Bi Sum, yang diminta menjadi sindikat mata-matanya, bahwa Hanna dan keluarga sudah tiba.
Davlin buru-buru keluar dan tepat di pintu masuk rumah keluarga Jhonson, Davlin memanggil nama Hanna. Gadis itu tidak menoleh sama sekali, justru meneruskan langkahnya hingga Davlin memutuskan semakin mendekat. Belum sampai di pintu masuk, Stuart yang tadi tengah berada di dalam rumah, keluar untuk menanggapi keributan yang diperbuat Davlin.
__ADS_1
"Mau apa kau?" hardik Stuart penuh kebencian. Dialah yang tahu, betapa hancur perasaannya sebagai ayah, saat melihat sang putri menangis sesunggukan di tengah malam, sendirian.
"Maaf, Om.. Pa.." buru-buru Davlin meralat ucapannya. Dia belum terbiasa bersikap lembut apalagi memanggil Stuart dengan panggilan 'Papa'. "Aku ingin bertemu dengan Hanna."
"Dia tidak mau bertemu denganmu."
"Tapi, Om eh, Pa.. ada yang ingin aku bicarakan dengannya," ucap Davlin memelas agar diberi izin bertemu.
"Bicara saja dengan pengacara keluarga kami." Stuart sudah akan melangkah masuk, namun Davlin buru-buru menahan dengan memasukkan satu tangannya diambang batas pintu.
"Pengacara apa maksudnya Om, eh Pa?"
Sialan banget sih mulut gue dari tadi manggil Om terus!
"Pengacara apa maksudnya, Om?" Davlin sama sekali tidak paham. Kenapa ingin bicara dengan Hanna saja, harus melalui pengacara. Ada apa ini?
"Tentu saja pengacara yang mengurus perceraian kalian. Bukankah itu yang kau mau?" suara Stuart begitu tajam dan penuh penekanan.
Wajah Davlin memucat. Berita yang baru saja disampaikan Stuart, lebih mengerikan dari pada bertemu setan.
"Dasar plin-plan! Kau pastikan dulu, kau mau memanggil Om atau papa? pusing saya dengarnya!"
"Papa... iya... papa..."
"Pulanglah. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Stuart sudah akan menutup pintu, tapi kembali membukanya, bukan karena Davlin memaksa ikut masuk, karena ingin mengatakan sesuatu pada Davlin. "Ingat, jangan buat ribut di depan rumah saya, dan jangan temui anak saya lewat balkon!"
Blam!
Pintu rumah di tutup tepat di depan hidung Davlin. Lima menit berdiri, menatap daun pintu itu, Davlin memutuskan untuk pulang. Dia belum kalah.
"Ingin aku dan Hanna berpisah? jangan harap!" cicitnya berlalu pergi.
__ADS_1
***
Sebenarnya Davlin masih tidak ingin pergi kerja, masalah dengan Hanna belum selesai. Tapi kliennya menuntut minta dilangsungkan meeting mengenai laporan dari perusahan Davlin, mengenai pertanggungjawaban kerjasama mereka.
"Bagus lo kemari aja dulu. Selesaikan kerjaan lo dulu. Paling dua jam doang kelar. Nanti minta si Andre aja ngikutin Hanna. Kalau dia udah keluar, baru Lo Pepet. Kalau nungguin di rumah, gak bakal ketemu kalian," saran Dika pagi ini hingga membuat Davlin dengan berat hati berangkat ke kantor.
Dia mengakui, ucapan Dika benar. Tidak mungkin selamanya Hanna mengurung diri di rumah. Dia pasti ke kampus, jadi saat itu lah dia akan mengajak Hanna bicara.
Langkah pertama dan yang paling utama yang harus dia lakukan adalah mengambil hati dan kepercayaan Hanna lagi, baru setelahnya mendekati keluarga gadis itu.
Tepat saat rapat dimulai, Andre memberi laporan kalau Hanna keluar rumah dan saat ini sedang diikutinya menuju kampus. Sebuah senyum terukir di wajah pria itu. Dia gembira karena akan bertemu dengan gadis itu lagi.
Setelah pertengkaran konyol itu, Davlin sangat menyesal. Ucapan Kai menyadarkannya bahwa dia sebenarnya sangat mencintai gadis itu. Egonya lah yang sudah menghancurkan segalanya.
"Fokus Lo, ntar aja lo senyum-senyum. Pihak sana lagi persentase itu," bisik Dika sembari menyikut pelan lengan Davlin.
***
"Han, Hanna... dengarkan aku... aku mohon sayang, aku sangat mencintaimu... aku menyesal, Han," ucap Davlin mengejar Hanna yang sesaat lalu baru turun dari lantai dua jurusannya. Ketika melihat pria itu, Hanna buru-buru berpaling dan memilih jalan lain.
"Han.... "Davlin menarik tangan Hanna hingga gadis itu tidak bisa lari lagi.
"Lepaskan...." Hanna menarik tegas tangannya, namun tenaga Davlin lebih kuat hingga perlawanan Hanna sia-sia saja.
"Ayo sayang, kita harus bicara."
"Gak ada yang perlu aku bicarakan denganmu. Bukankah kau ingin kita bercerai? ya udah, cerai aja."
Davlin mati kamus lagi. Ucapannya jadi boomerang buatnya sendiri. Bagaimana dia harus menjelaskan pada Hanna kalau itu hanya ucapan amarah? ucapan pria yang sedang diliputi rasa cemburu.
"Aku gak mau cerai, sayang. Aku sadar, aku salah. Aku gak bisa jauh darimu, Han."
__ADS_1
Gadis itu mematung. Dia ingin menyanggah ucapan Davlin lagi, namun decikan rasa sakit yang diucapkan Davlin membuat rasa khawatir Hanna muncul.
Sejak dia melihat Davlin berdiri di depan fakultasnya tadi, jantung Hanna berdegup kencang. Dia sudah menebak, kalau pria itu pasti akan mendatanginya ke kampus. Dia juga sudah menyiapkan makian dan sumpah- serapah. Tapi Tatapannya terkunci pada perban di pelipis Davlin.