My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 143 (MCL)


__ADS_3

"Hanna, apakah kau akan muak kalau aku mengatakan aku sangat mencintaimu? Tapi itu benar, aku sangat mencintaimu," ucap Alex yang sedang memangku Hanna, duduk di sofa menghadap perapian, di kala sore senja.


10 tahun berlalu sejak Arthur lahir, tidak ada yang berubah, keduanya bahkan semakin romantis dan tidak pernah malu menunjukkan perasaan satu sama lain di depan siapa saja.


Walau sudah memiliki dua orang putra dan satu orang putri, Alex masih sama menggebu dan berga*irahnya setiap melihat Hanna. Baginya Hanna adalah atmosfernya hingga tidak bisa jauh dari wanita itu.


"Aku bahkan aku sedih jika kau sehari saja kau tidak mengucapkan kata cinta padaku," bisik Hanna di atas hidung pria itu. Tidak ada kata yang keluar, Alex hanya membalas dengan luma*tan lembut di bibir Hanna, ciuman yang lama dan panjang.


Sementara ketiga anak mereka sedang berkunjung ke rumah bibi Catherine mereka yang kini sudah menjadi duchess of York, dan memiliki dua orang lucu, pasangan suami-istri itu kini punya banyak waktu untuk berdua.


"Apakah masih ada yang kau ingin kan dalam hidup ini, Cintaku?" bisik Alex setelah melepas ciuman mereka.


"Aku?" Lama Hanna terdiam, berpikir sesaat, lalu kembali menjatuhkan pandangannya pada bola mata abu-abu milik suaminya yang selalu berhasil membuatnya terpesona. "Tidak ada lagi. Hidupku sudah sangat sempurna dengan adanya kau di sampingku, bersama kedua putra dan putri cantik kita."


"Kau benar. Harusnya tidak ada lagi yang aku harapkan, tidak ada lagi permohonan yang seolah membuatku menginginkan takdir yang lebih baik dari ini. Tapi jika masih diberikan kesempatan memohon, aku hanya ingin membuat satu permohonan saja," ucap Alex, membelai pipi lembut Hanna dengan jemarinya. Rasanya tidak pernah bosan untuk menyentuh wanita itu. Oh Tuhan, Alex benar-benar sangat mencintai wanita ini. Sangat!


"Apa itu?" tanya Hanna penasaran. Alex bukan lah jenis pria yang tidak mau puas. Lalu munculnya permohonannya kali ini, apakah ada hal yang tidak puas dan tidak didapatnya? Pertanyaan itu bergulir begitu saja dalam pikiran Hanna.


"Akan mau tahu?" senyum Alex yang selalu membuat hati Hanna meleleh menghiasi wajah tampan pria itu.


"Tentu saja. Apakah... dalam permohonanmu yang kau anggap sangat 'penting' ini, aku ada menjadi bagian di dalamnya?"


"Tentu saja, kau ada." Alex menangkup dagu Hanna dan mendaratkan satu ciuman lembut di bibir gadis itu. "Justru karena aku sangat ingin bersamamu selamanya, aku memohon agar kita selalu berjodoh."


"Maksudnya?"


"Apa kau pernah dengan reinkarnasi? apakah kau percaya akan hal itu?"


Samar Hanna menggeleng, walau sekilas kata reinkarnasi itu terbit dalam pikirannya.


"Aku baru mendapatkan buku yang diberikan kenalan lamaku yang dia bawa dari negeri timur. Aku membacanya, dan aku terkesima. Ada yang disebut dengan reinkarnasi, dilahirkan kembali pada kehidupan berikutnya. Entah itu sebagai Duke, atau bukan, dan mereka mempercayai hal itu terjadi."


"Lalu?" susul Hanna yang mulai tertarik walau pun sebenarnya dia juga tidak mengerti sepenuhnya.

__ADS_1


"Permohonanku adalah, aku ingin di kehidupan berikutnya, aku dipertemukan kembali denganmu. Mencintaimu, dan menjadikanmu istriku, milikku.." ucap Alex menatap Hanna lekat, penuh cinta yang membara dalam netra pria itu. Bulu kuduk Hanna meremang, merinding dan terharu, sebesar itu cinta pria itu, bahkan di kehidupan berikutnya dia masih menginginkan dirinya.


"Bersediakah kau mengulang kisah cinta kita di kehidupan mendatang?"


Hanna tidak menjawab, air matanya menetes. Rangkulan tangannya di leher Alex semakin mengencang, membalas tatapan sendu pria itu, lalu Hanna memutuskan untuk mencium bibir Alex lama dan penuh rasa cinta yang sangat besar.


"Aku mau. Entah itu ada kehidupan berikutnya, aku ingin kau lah pria yang aku cintai, bisik Hanna.


"Aku mencintaimu, jangan pernah berhenti mencintaiku, hingga habis masa kita di sini, hingga di penghujung waktu.."


"Aku mencintaimu.."


***


Saat ini..


Pada masa sekarang..


"Akhirnya aku menemukanmu. Aku memang sengaja mencarimu," ucap pria yang tanpa dipersilakan duduk pun sudah mengambil tempat tepat di hadapan Davlin yang sudah diambang ketidaksadarannya.


"Kau? siapa kau? enyah kau dari sini!" hardik menatap sekilas ke arah Kai dan kembali menatap isi gelasnya yang tinggal setengah.


"Kau pria tidak tahu bersyukur. Kau di sini, minum sampai mabuk, dan meninggalkan pengantinmu sendiri? di malam pengantin? kau menyedihkan!"


Kepala Davlin yang sejak tadi menunduk, kini perlahan terangkat, menatap tajam ke arah lawan. Ingatannya mendeteksi wajah Kai sebagai musuhnya.


"Pergi kau dari sini, kalau tidak ingin ku habisi!"


"Kenapa? apa ucapanku semua benar? Tuan Davlin yang terhormat, kau mungkin punya segalanya, hanya hati yang kau tidak punya. Hanna tidak pantas bersamamu. Dia tidak akan bahagia. Aku mohon, lepaskan dia. Biarkan dia bersamaku. Aku akan menghargai dan membahagiakan dirinya, lebih dari yang bisa kau lakukan!" suara Kai meninggi. Dia sudah memperhitungkan semuanya.


Dua jam lalu, Kai nekat menghubungi Hanna. Suara gadis itu terdengar parau, kaku dan Kai bisa menebak kalau dia baru saja menangis. Kai bukan tidak tahu diri, sebut saja dia memang tidak tahu diri, menghubungi Hanna pada malam pernikahannya.


Kai yang merasa putus asa, mendatangi rumah Hanna. Dia awalnya tidak bermaksud apa-apa. Tetapi saat mobilnya berpapasan dengan mobil Davlin, dan melihat pria itu mengendarai seperti kesetanan, Kau memutuskan menghubungi Hanna.

__ADS_1


Berulang kali menghubungi gadis itu, tapi tidak mau mengangkat. Rasa khawatir Kai begitu besar, dia takut Davlin melakukan tindakan buruk terhadap Hanna malam ini. Dia bahkan berniat menerobos masuk ke rumah gadis itu, karena teleponnya tidak diangkat, namun, ketika panggilan ke tujuh, Hanna mengangkat teleponnya.


"Kau.. Kau baik-baik saja?" tanya Kai menahan napasnya. Perasaan Kai tidak karuan karena Hanna tidak menjawab, hanya embusan napasnya saja yang terdengar di telinga Kai.


"Han.. kau baik-baik saja? aku sangat mengkhawatirkanmu. Jawab Aku Han, kalau tidak, aku akan naik. Aku tahu kau di rumah."


"Aku baik-baik aja, Kai." Akhirnya Hanna mau menjawab ucapannya. Ada perasaan lega yang hinggap di hatinya.


"Han.. aku.."


"Kai, aku mohon. Jangan hubungi aku lagi. Aku mohon. Keadaan tidak sama lagi, aku.. aku sudah menikah.." terdengar suara lemah yang penuh kesedihan.


"Han, ikutlah denganku, kalau kau sudah tidak tahan lagi bersamanya. Aku janji akan membahagiakanmu, membuat tersenyum bahagia," bujuk Kai.


"Maaf Kai. Aku tidak bisa menerima niat baikmu. Aku mencintai suamiku, hanya dia. Aku tutup dulu." Hanna sudah menutup teleponnya, sebelum dia jatuh tertidur dalam mimpi yang panjang.


Kai berpikir, mungkin Hanna tidak mau menerimanya karena masih berstatus istri Davlin. Melihat pria itu yang meninggalkan Hanna malam ini, Kai menyimpulkan kalau Davlin juga tidak menginginkan pernikahan ini. Kau memutuskan mencari keberadaan Davlin.


Tidak sulit mencari pria itu. Jejak digital Davlin yang dicari tahu Kai, membuatnya mudah menemukan pria itu.


"Kau menyukai? Kai menginginkannya? kenapa tidak mendatanginya? dia ada di rumah. Terserah kalian mau apa! Aku tida peduli!" ucap Davlin datar. Ada lubang kecewa di hatinya.


"Mendengar ucapanmu ini membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkan Hanna. Tapi dia tidak mau ikut bersamaku. Aku sudah menghubunginya, dia mengatakan kalau dia tidak mencintaiku, tidak bisa menerimaku, karena di hatinya hanya ada kau. Aku tidak keberatan, aku bisa menerima Hanna walau saat ini dalam hatinya masih ada kau. Aku percaya lambat laun, dia pasti akan melupakanmu. Asal kau mau menceraikan dirinya."


"Kau menginginkan Hanna? walau dia tidak mencintaimu?" Davlin tersenyum mengejek. "Kau ingin aku menceraikannya?"


Yang tidak disangka Kai, setelah menunduk sekian lama, Davlin mengangkat kepalanya. Pria itu menangis. Ada genangan di matanya yang menjadi jawaban dari apa yang ingin dia katakan sebenarnya.


"Apa aku sanggup melepaskan gadis itu? apa aku sanggup hidup tanpa dia?!"


Kai hanya diam, menatap CEO sukses yang lebur dengan luka, kesedihan dan penyesalannya yang jelas terlihat menghujam hingga ke ulu hatinya. Sejak awal mencercap minuman yang membakar tenggorokannya itu, Davlin sudah mengutuk dirinya yang sudah bersikap pengecut meninggalkan Hanna. Seharusnya perasaannya tidak serapuh ini. Harusnya dia percaya dan mendengarkan penjelasan Hanna. Setiap orang pernah buat salah, tidak ada yang sempurna. Dia pun begitu, punya salah terhadap Hanna. Lantas, apa haknya menghakimi Hanna seperti ini?


"Kemana lo? gue belum selesai bicara," ucap Kai ingin menahan Davlin, namun pria itu menyentak tangannya, melepaskan pegangan Kai dan berlalu dari sana. Ada hal yang harus dia lakukan sebelum semua terlambat.

__ADS_1


__ADS_2