
Hanna pulang ke rumah setelah enam hari dirawat di rumah sakit. Tidak ada lagi yang sama bagi Hanna. Seolah gairah hidupnya tidak ada lagi. Hari-hari yang dilaluinya hanya berdiam diri di kamar, termenung menatap ke luar jendela. Berbagai cara dilakukan anggota keluarga untuk mengembalikan keceriaan gadis itu, namun tetap saja, Hanna masih lebih suka menyendiri, diam tidak banyak bicara.
Sebulan berlalu. Melalui ayahnya, Hanna meminta untuk mengurus surat cutinya. Dia masih belum siap untuk kembali ke aktivitasnya.
Mungkin tubuh gadis itu sudah ada di sini, namun jiwa, hati dan senyumnya justru berada jauh di alam novel. Ia kadang menghabiskan berjam-jam waktunya untuk menangisi Alex. Dia begitu merindukan pria itu.
Kadang kala, Hanna akan berbaring di tempat tidurnya, menggenggam novel itu dan berharap saat terbangun, dia sudah kembali berada di Holy Ville, tapi harapan tinggal harapan.
Keadaan yang menyiksa itu membuat bobot tubuhnya drastis berkurang. Tidak ada gairah untuk makan, hanya menangis dan melamun. Mungkin jika Hanna yang dulu, Ema pasti memberikan selamat karena kini Hanna sudah bukan gajah bunting lagi seperti yang sering diejek Cathy.
Namun, perubahan Hanna bukan serta-merta menjadi kegembiraan bagi Ema. Dia memilih tetap memiliki Hanna nya yang tambun, asal tetap ceria seperti dulu.
"Kau bengong lagi?" tegur Ema membawakan satu piring bolu yang sudah di potong persegi.
"Mama..."
"Cobain..," ucap Ema menyuapi satu potong ke mulut Hanna. Belum sampai di batas bibirnya gadis itu menggeleng.
"Aku gak mau, Ma."
"Kau bisa mati, kalau gak mau makan. Lihat badan mu udah kurus kering begitu."
"Harusnya mama senang dong. Kan itu yang mama inginkan," sahutnya lemah. Semua tampak menyedihkan bagi Hanna. Dia tidak bermaksud menyinggung mamanya, kalimat itu muncul begitu saja. Saat dia memohon agar masuk ke dunia novel, karena kala itu keluarganya tidak bisa menerima keadaannya. Jadi kalau sekarang dia sudah kurus, harusnya mamanya tidak perlu mempersoalkan dia makan atau tidak.
"Maafkan mama, Han. Sikap mama dulu begitu buruk terhadapmu. Harusnya mama bisa lebih bijak, kau cantik apa adanya. Kau putri mama, kesayangan mama," ucap Ema memeluk Hanna. Keduanya larut dalam kesedihan yang melegakan.
"Ada apa nih? pada ngumpul di sini? mana pake acara nangis-nangis an lagi," celetuk Cathy yang baru pulang sekolah. Gadis itu merasa heran, rumah tampak kosong dengan pintu tidak dikunci. Ternyata penghuni yang tersisa sedang berada di sini, berpelukan kayak Teletubbies.
"Kue dari mana, Ma?" Cathy mencomot satu dan melahapnya cepat. "Gila, enak banget," ucap Cathy mengambil satu potong lagi.
"Lihat tuh, adikmu aja suka. Makan dong, Han." Ema kembali mencoba menyuapi, tapi Hanna kembali menolak. Lidahnya pahit hingga tidak punya keinginan membuka mulutnya.
"Iya, Ma. Nanti aku makan," sahutnya pendek.
"Emang dari mana sih, Ma? beli dimana mama?" satu suapan lagi mendarat di mulut Cathy.
"Tetangga baru kita, baik banget. Ajak kakakmu makan kue nya, lihat badan kakakmu udah kering begitu," kembali lagi Ema mengucapkan kegelisahan tentang kondisi putrinya.
__ADS_1
"Benar kata mama. Kakak udah terlalu kurus. Gak semok lagi. Makan dong kak," ucap Cathy menangkup pipi Hanna dengan tangannya agar keduanya saling tatap. "Jangan bersedih lagi, kakak harus bangkit. Kami sayang sama kakak. Masa depan kakak masih panjang. Aku yakin, kakak pasti bisa bahagia." ujar Cathy diakhiri kecupan di kening Hanna.
Dia tidak mau lagi bersikap jutek pada Hanna. Melihat kakaknya tidak sadarkan diri kemarin membuat Cathy ketakutan setengah mati. Dia tidak mau kehilangan satu-satunya kakak yang dia punya.
Malamnya, giliran Stuart yang datang ke kamarnya. Membawa nampan berisi nasi dan air minum, serta segelas susu.
"Kata mamamu kau belum makan dari pagi dan malam ini kau pun tidak bergabung bersama kami. Sayang, papa mohon jangan siksa dirimu. Berulang kali papa minta kau menjelaskan masalah yang tengah kau hadapi, tapi hingga saat ini kau tidak mengatakan apa pun. Ada apa, Sayang?"
Ditanya seperti itu, tentu saja Hanna tidak tahu apa jawaban yang harus dia berikan. Tidak mungkin dia menjelaskan kalau dirinya terlempar ke dalam kisah novel yang dia baca dan bertemu dengan pria yang mencintainya, bahkan mereka sudah menikah.
"Hanna, kau tahu betapa pentingnya kau buat papa. Kau adalah putri yang paling papa sayang. Papa mohon, lupakan kesedihanmu. Kembalilah jadi putri ceria papa lagi seperti dulu." Tanpa sadar Stuart sudah meneteskan air matanya. Hanna menjadi merasa bersalah. Menyusahkan keluarganya hanya karena kepedihan hatinya. Mungkin benar, ini semua hanya mimpinya. Alex tidak nyata, pernikahan itu pun tidak ada. Hanya ada dalam imajinasi alam bawah sadarnya.
Seketika jiwa Hanna kembali. Dia merangkul ayahnya menangis bersama. "Papa... maafkan aku..."
Sejak malam itu, Hanna berjanji, membungkus cerita itu di dasar hatinya terdalam. Dia akan kembali menjadi Hanna Jhonson, hidup di masa ini mencari kebahagiaan, dan mungkin jika beruntung, dia juga akan menemukan pangeran dalam dunia nyata ini. Well, walaupun mungkin tidak setampan Alex!
"Papa, boleh kah setelah lulus kuliah nanti, Aku ke Inggris?" tanya Hanna yang sudah bergabung di meja makan. Karena sudah mengurus berkas cuti satu semester, sisa waktu hingga semester depan, dia ingin melakukan apa pun yang dia suka. Rencana di mulai, dengan mendaftar di kelas Gym. Dia ingin memperbaiki bentuk tubuhnya.
Lalu Hanna, akan mencari pekerjaan, terserah menjadi apa. Tukang bersih-bersih, atau pun pelayan di restoran. Ia ingin mengumpulkan uangnya, agar suatu hari bisa ke Inggris. Dia ingin mengunjungi Holy Ville.
"Kau boleh kemana saja, asal kau bahagia," jawab Stuart tersenyum.
"Agar bisa bersama Edo?" tanya Hanna memicingkan mata.
"Kakak. Jangan sebut nama itu. Kau benar, dia pria brengsek," sahutnya tampak kesal.
"Sudah, kalian selesaikan dulu pendidikannya, baru ngomongin cowok," potong Ema. "Mama mau ke pasar dulu."
Ingat akan sesuatu, Hanna menawarkan diri untuk menemani Hanna ke pasar. Dia ingin mencari rempah-rempah yang akan diolahnya menjadi ramuan yang dia pelajari saat di London. Dia ingat apa saja, bahkan sempat mencatat.
"Untuk apa kau membeli semua itu?" tanya Ema heran, melihat putrinya yang begitu bersemangat membeli bahan-bahan itu.
"Mau buat obat herbal pelangsing dan pengencang kulit," ucapnya sembari tertawa.
***
Hanna menikmati waktu yang berlalu. Sedikit demi sedikit kesedihannya sirna. Dia sudah mulai kembali menjadi Hanna yang dulu, ceria dan keras kepala.
__ADS_1
"Hai, Ma," sapanya saat melewati taman bunga milik Ema. Ibunya begitu semangat mengurus bunga-bunga yang cantik itu. Sayangnya, tidak satu pun dari putrinya yang memiliki hobi yang sama dengannya. Setelah dekat dengan Ema, memberikan kecupan pada pipi sang ibu yang tengah disita perhatiannya oleh kembang warna-warni.
"Ih, bau kecut. Basah semua. Emang di sana gak sempat mandi, Han?" tanya Ema mengalihkan pandangannya dari bunga ke putri sulungnya.
"Malas, Ma. Aku pulang juga jalan," jawabnya nyengir.
"Kan lumayan jauh, Han."
"Gak papa, Ma. Sekalian bakar kalori. Lumayan ongkosnya buat ditabung," sahutnya.
Jarak tempat gym dengan rumah mereka sebenarnya tidak lah jauh, hanya saja jika ditempuh dengan berjalan kaki bisa memakan waktu setengah jam.
"Wah, kue lagi nih. Dikasih orang samping lagi, Ma?" tanya Hanna. Selama ini demi menjaga pola makannya, Hanna tidak pernah mencicipi kue pemberian tetangga itu. Ini kali pertama, dan ketepatan dia sangat lapar.
Satu suapan... "Mmmm, Enak banget, Ma," ucap nya susah payah karena mulut yang penuh.
"Dari kemari, kemana aja! Udah dibilang enak," sambar Cathy yang baru keluar dari rumah.
"Besok kalian temani mama. Besok kita buat masakan buat diantar sebagai balasan."
Dua jam berkutat di dapur, akhirnya nastar keju dan juga rainbow cake jadi juga. "Emang kalau kita bertiga bersatu, kue di toko...wuih, lewat," ucap Cathy mencicipi rasa kue yang baru saja matang.
"Siapa nih, yang ngantar ke sebelah?" tanya Ema menyusun nastar di wadah cantik, dan potongan rainbow cake di atas piring cantik.
"Kakak aja deh, Ma. Aku mau mandi, gerah banget."
Tiba lah Hanna berdiri di depan pintu rumah yang besar dan mewah yang tepat ada di samping rumahnya. Bahkan balkon kamar mereka dengan kamar Hanna tampak menyatu.
Ting tong.. Ting tong... Dua kali sudah menekan bel, tapi tidak ada yang buka.
Ting.. tong...
Ada orang gak, sih?
Click...
Terdengar suara handel pintu diputar dan daun pintu didorong. "Maaf, menganggu. Saya tinggal di sebelah. Mama suruh ngantar ini," ucap Hanna begitu daun pintu terbuka. Dirinya bahkan belum melihat wajah si pemilik rumah, dan tepat saat mengangkat wajahnya, jantungnya berdetak empat kali lebih cepat dari biasanya, bola mata terbuka sempurna, menatap lekat wajah di depannya.
__ADS_1
"Alex...!"