My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 46 (MCL)


__ADS_3

Mereka sudah berada di puncak bukit hijau nan indah itu. Pemandangan sekitar masih terawat karena memang selalu ada yang akan membersihkan tempat itu. "Kenapa kita tidak melakukannya sekarang? Maksudku melihat pemandangan di bawah sana," Hanna menyarankan dengan tegas namun memohon.


"Karena aku ingin mencium mu," sahut Alex jujur. Hanna berbalik dalam ketidakpercayaan yang melegakan. "Kau hanya ingin mencium ku? maksud ku tidak akan lebih dari itu kan?"


Walau sangat penasaran bagaimana rasanya, Hanna justru tidak ingin melakukannya sebelum mereka menikah. Dia tidak semurahan itu!


"Oh, sayang, kemarilah,"Alex tertawa lembut, melihat wajah Hanna yang memerah. "Hanya itu yang akan aku lakukan."


Seraya Mendes*h senang dan lega, Hanna menghampiri Alex. Hanna hendak duduk di samping Alex, namun pria itu memegang lengan Hanna dan menarik wanita itu ke pangkuannya. "Pemandangan akan lebih bagus jika kau lebih tinggi," gurau Alex.


Sambil merangkul Hanna, Alex mendekap gadis itu lebih dekat. Tanpa didesak, Hanna menunduk untuk dicium. Alex menyapukan bibir di pelipis, mencium kening mulus Hanan dan tidak lupa pipi gadis itu. Dia memejamkan mata Hanna dengan bibirnya. Alex merasakan tangan Hanna meluncur menyentuh dadanya dan merangkul lehernya. Bentar saja, jantung Alex mulai berdebar keras.


Mulai terpancing, bibir Hanna mulai terbuka dibawah bibirnya. Gairah mulai membuat darah Alex bergolak, dan lidah Hanna menyelinap masuk dengan malu-malu ke dalam mulut Alex.


Sentakan menghujam sekujur tubuh Alex, meledakkan kendali dirinya. Alex mencium Hanna dalam-dalam, mulut pria itu bergerak setengah liar, membuat gadis itu mer*ntih nikmat membalas ciuman kekasihnya itu dengan gairah dan nafsu yang bergelora.


Alex semakin terbakar. Darahnya mendidih, menyiksa Hanna dengan lidahnya, lalu menarik diri. Tangan Alex bergerak reflek, membuka jaket yang dipakai Hanna, untuk bisa dengan leluasa menangkup pay*dara gadis itu yang terasa keras, ibu jarinya membelai puncak pay*dara yang semakin mengeras.


Er*ngan nikmat Hanna yang lembut berdenyut di tubuh Alex. Masih setengah sadar, dengan bersusah payah memaksa tangannya untuk menjauh dari kulit mulus itu, namun yang ada justru tangan meluncur ke bawah, dengan ringan membelai perut rata Hanna. Dia hampir gila karena menginginkan wanita itu.


"Alex..." er*ng Hanna memejamkan mata. Dadanya sesak, kehabisan nafas seolah tidak ada lagi udara yang di peruntukan baginya.


Kalau tidak karena Hanna yang tersentak kembali ke alam sadar dan menjauhkan dirinya, Alex pasti saat ini sudah membuka celana berkuda gadis itu, dan segera membaringkan tubuhnya mereka di rumput kering itu.

__ADS_1


Dengan kendali diri yang terakhir yang dimilikinya, Alex menjauhkan tubuh mereka. Nafasnya masih tersengal, aliran darahnya bergemuruh liar di pembuluh darahnya.


Alex mendekap Hanna di dada, agar wanita itu tidak terkejut kala merasakan bukti gairahnya dan Alex menatap wajah sendu gadis itu yang sudah memerah karena ikut terbakar oleh gairah.


Pria itu sudah tidak sabar ingin menumpahkan hidupnya ke dalam diri gadis itu, supaya dia bisa setiap saat memandang gadis itu dengan benih yang sudah ada di dalam diri Hanna, melihat tubuh ramping gadis itu mulai membesar karena mengandung anaknya.


"Cantik, kalau kau tidak ingin aku jadi gila, sebaiknya kita pergi dari sini. Kau membuatku frustrasi karena begitu menginginkan mu!"


Udara siang itu begitu sejuk, menyapu lembut wajah keduanya yang mulai berjalan menuju rumah. "Apa hingga ke sana masih wilayah mu?"


"Semuanya, bahkan lebih luas dari Holy Ville," ucap Alex santai, namun berhasil membuat Hanna hampir pingsan.


***


Menanggapi surat Hanna, Julia dan juga Ema serta Jhonson sudah tiba di London. Hanna meminta mereka untuk segera datang membantu persiapan pernikahan.


"Aku juga merasa akan tersesat jika berkeliaran di rumah ini," jawab Hanna terpekik. Sementara ibunya sudah sibuk mengurus segala pernak pernik persiapan pernikahan dengan Lady Margaret dan juga lady Abigail. Ketiga wanita itu tampak sangat antusias hingga menganggap hanya mereka bertiga lah yang ada di buka bumi ini.


"Kalau gadis-gadis di holy Ville tahu seberapa kaya Duke of Claymore, mereka pasti gemetaran," ucap Julia yang membuat mereka cekikikan.


"Kau sangat beruntung sekali," lanjut Julia.


"Kau juga beruntung. Cinta lah yang terpenting dari semuanya. Aku juga berharap kau akan menemukan cinta sejati mu, Catherine," ucap Hanna menggenggam tangan adiknya itu.

__ADS_1


"Aku... aku... mungkin tidak seberuntung kalian. Tidak mungkin ada pria yang akan melirikku," ucap Catherine menunduk malu.


"Jangan katakan seperti itu. Kau gadis yang cantik, pasti ada pria yang akan menyukai mu," ucap Hanna memeluk Catherine.


Malam harinya, keluarga Claymore mengadakan perjamuan makan malam. Hanya beberapa orang saja yang diundang, karena acara itu memang hanya untuk kalangan keluarga dan juga anggota kerajaan.


Satu persatu undangan sudah berdatangan, walau acaranya masih dua jam lagi. Semua orang di rumah itu pun disibukkan, tidak terkecuali dengan ketiga gadis muda itu. Mereka harus bersiap-siap.


"Aduh, aku lupa, kalung mama ada di tasku," ucap Catherine saat menunggui Hanna selesai berganti gaun. Gadis itu lah yang menjadi terakhir berdandan setelah merias kedua gadis itu.


"Oh, kalau begitu pergi lah ke kamar mama. Dia pasti sedang mencarinya," ucap Hanna segera menyelesaikan riasannya.


Bergegas Catherine mencari Ema. Namun, karena tergesa-gesa, tanpa sengaja dia menubruk tubuh bidang nan wangi.


"Maaf tuan, aku tidak sengaja. Aku buru-buru hingga tidak melihat Anda di depan," ucapnya penuh ketakutan. Hanya Alex lah pria yang paling berani dia dekati, itupun karena alasan perjodohan antar keluarga. Catherine mengangkat wajahnya, melihat ke arah pria itu yang juga tengah menatapnya.


"Tidak apa-apa. Santai saja. Aku tahu kau punya alasan khusus hingga terburu-buru," sahut pria itu begitu lembut bak bisikan angin.


Sedetik kemudian, Catherine terpelongo. Berdiri bergeming menatap ketampanan pria itu. Tubuh ramping namun dada bidang serta rahang tegas yang menunjukkan jati diri kebangsawanannya.


"Nona? Halo... Anda baik-baik saja?" ucap pria itu menjentikkan jarinya di depan wajah Catherine.


"Hah? Oh, maaf My Lord, aku permisi dulu." Catherine melesat cepat. Jantungnya yang berdegup kencang hampir saja membuatnya pingsan di depan pria tampan itu.

__ADS_1


Ya, Tuhan, aku begitu memalukan. Tanpa sadar bertingkah konyol di depan pria itu...


Bahkan sampai makan malam pun, Catherine masih belum tenang. Duduk di samping Hanna berharap dia bisa tenggelam dengan pikirannya sendiri, namun justru salah. Dari tempat duduknya, dia justru bertatapan langsung dengan pria yang sudah membuatnya terpesona, dan parahnya, pria itu tersenyum lembut padanya.


__ADS_2