
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Davlin lagi. Setelah mengatakan apa yang ingin dia sampaikan, Davlin pun berlalu masuk kembali ke dalam mobilnya. Hingga mobil itu menghilang, Hanna fan Kai masih setia menatap ke arah rumah itu.
Glek! Semakin parah saja keadaan ini. Hanna menghela nafas, bahkan untuk menelan liur nya saja terasa berat.
"Itu..." kalimat Kai mengambang di udara.
"Davlin.." jawabnya lemah. Menunduk dan berkutat dengan pikirannya sendiri. Dunianya hancur, kini dengan kejadian ini, Hanna tebak mereka akan semakin jauh.
Kai pun kini mengerti, sejauh mana peran pria itu di hati Hanna. Dia hanya mengangguk lemah dan menghidupkan mesin motornya. Hanna masih terus berdiri di sana, menatap ujung jarinya. Harusnya setelah tamu pulang dia masuk ke rumah, tapi entah mengapa kakinya sudah menyatu dengan tanah, dia lupa ingatan dimana sebenarnya rumahnya, karena hati dan kini matanya hanya menoleh ke arah rumah yang kini terlihat sepi.
Hatinya sudah meronta ingin ke sana, dia rindu, ingin disapa, dipeluk, bahkan bila perlu dimarahi, dari pada didiami, hatinya sakit. Kaki kanannya sudah mulai memutar arah, bersiap untuk melangkah ke sana.
"Ngapain di sini, Han?" Tepukan di bahunya menyadarkan Hanna.
"Papa? udah pulang?" tanya nya gugup. Merapikan rambutnya yang baru saja tertiup angin.
***
"Kenapa makananmu gak dihabiskan? apa gak suka? mama bisa masak yang lain," ujar Ema yang sejak tadi memperhatikan putri sulungnya yang hanya mengaduk nasi dan kuah sayur.
"Hah? oh, gak usah, Ma." Seketika Hanna ingat, mamanya justru menawarkan ingin membuat masakan lain, bukankah mereka saat ini sedang kesulitan uang? bukankah harusnya berhemat?
"Papa, masalah hutang itu..."
"Kau gak usah khawatir, semua sudah beres," sambar Ema penuh senyum. Benar saja wajahnya kini sangat berbeda dengan kemarin, kemarin lagi dan hari sebelumnya.
"Beres?" Hanna menatap kedua orangtuanya bergantian. Cathy tidak peduli dengan apa yang tengah dibahas anggota keluarganya, baginya udang saos Padang ini lebih enak dari pada sekedar menguping pembicaraan mereka.
"Benar, kemarin seseorang membeli beberapa lukisan dan juga jam dan trophy kuno dari galeri kita, dan semua Cash!" terang Stuart menepuk punggung tangan Hanna yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
Sedikit menarik rasa ingin tahu Hanna. Siapa orang yang tiba-tiba datang membeli lukisan dan barang lainnya dan semua itu di satu hari yang sama, dan tunai? Biasanya seseorang yang akan membeli akan menyita waktu beberapa hari sebelum transaksi selesai, baru melakukan pembayaran.
"Kok bisa, Pa? siapa yang beli? bukannya butuh proses? kok udah diterima duit?" cerca Hanna semakin penasaran.
"Papa juga gak tahu. Jujur sedikit heran akan pembeli itu. Papa udah bilang akan persiapan surat dan sertifikat nya dulu, baru setelah ya melakukan pembayaran, tapi dia bilang, sebaiknya dia bayar dulu, kalau barang, menyusul juga tidak jadi masalah."
Dan semakin penasaran lah Hanna. Kemarin? kenapa waktunya sangat tepat dengan kepulangan Davlin?
"Davlin?" pekiknya tertahan, buru-buru bangkit dari kursi dan berlari menuju pintu depan.
"Mau kemana?" teriak Ema menggelengkan kepala, semakin hari putrinya itu semakin bertingkah aneh.
"Sebentar, ke samping, Ma."
"Biarin, Ma. Namanya anak muda," sahut Stuart.
***
Masih tidak ada yang membuka. "Ini udah jam berapa, sih? bibi kemana sih? eh, apa udah pulang ya?"
Tok.. tok... tok...
Masih sana. Hanna menghentakkan kakinya kesal lalu memutuskan untuk pergi dari sana. Di jalan pulang, dia ingat jalan masuk yang menjadi jembatan bagi mereka berdua. "Kok gue bego banget, sih. Kan, ada jalan rahasia!"
"Loh, udah balik?"
"Hah? oh, iya, Pa. Cuma ke depan, apa kurir yang mau ngantar paket ku udah datang. Aku ke kamar dulu, ngantuk. Malam pa, ma, Cat.."
Ketiganya hanya menatap langkah Hanna yang buru-buru menaiki tangga. "Memangnya ada kurir ngantar pesanan online, Cat?" Cathy hanya menggeleng lemah, masih menatap ke arah kakak yang kini sudah menghilang.
__ADS_1
Tidak sabaran, Hanna langsung mengunci pintu kamarnya, mematikan lampu, lalu perlahan membuka pintu balkon. "Sial, tangganya juga udah di seberang, gimana, dong?" Hanna hampir menangis memikirkan cara untuk bertemu Davlin.
Tiba-tiba ide gila muncul di kepalanya. Saat terdesak semua jadi halal untuk dijalankan. Hanna kembali masuk, mengambil dua lembar seprai dari lemari, mengikat pada kedua ujungnya, setelahnya mengikat pada kursi belajar nya yang sudah dikasih pemberat berupa koper berisi penuh barang. Menggeser ke luar hingga mentok ke tembok.
Bagai akrobatik, Hanna mulai memanjat ke perbatasan. Begitu sampai di seberang, dia melompat dan tersenyum saat mendapati pintu balkon tidak terkunci.
Gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Hanna memutuskan menunggu sebentar dengan duduk di tepi ranjang.
Lima menit.. 10 menit berlalu, tidak ada juga tanda. Ingin turun, tapi dia takut kalau ketahuan Reta. Tidak sabar, Hanna memutuskan untuk membuka pintu sedikit, sepi. Dia yakin Davlin di rumah, mobilnya jelas-jelas ada di garasi.
Bak pencuri Hanna menjelajah rumah itu. Tepat berdiri di depan satu ruangan yang tertutup namun lampu dari dalam tampak menyala. Ruang kerja Davlin. Hanna berdiri tepat di depannya.
"Oke, Ris. Thanks. Barang itu bawa saja ke kantor. Letakkan di rumah istirahat gue. Ingat, gue gak mau dia sampai tahu bahwa gue yang udah beli semua itu."
Hanna tertegun. Meremas sisi bajunya. Benar dugaannya. Davlin dibalik semua ini. Matanya nanar menatap pintu mahoni hitam itu, seolah bisa tembus dan menatap Davlin.
Perasaannya kini campur aduk. Tidak bisa dilukiskan, yang pasti dia ingin menangis dan anehnya ingin dipeluk Davlin. Oh, Tuhan... dia sangat rindu pria itu.
Tersesat dalam lamunannya, Hanna baru sadar kalau dia sudah ada di ruang tamu. Tapi tidak ada kunci yang lengket di lobang kunci pintu. Panik takut ketahuan penghuni rumah, di bergegas naik lagi ke atas.
Tidak ada lagi yang harus dia kerjakan, dan semestinya dia bisa pulang, tapi justru memilih duduk lagi di kasur itu. Menatap lewat kegelapan yang hanya bermandi cahaya bulan yang indah. Hanna memuaskan memorinya, menatap ranjang itu mengingatkannya pada kemesraan mereka, menghabiskan malam dengan bercerita banyak hal hingga mengantuk dan akhirnya jatuh tertidur.
Satu bulir bening jatuh di pipinya. Dia menginginkannya. Ingin mengulang kembali, masih adakah kesempatan untuk itu. Hanna tidak kuasa menghalau rasa takutnya hingga menumpahkan tangisnya. Dia menangis merebahkan tubuhnya di pinggir ranjang.
"Hei, bangun..." sudah kali ke-4 perintah itu bergema di ruangan itu, tapi Hanna seolah dijaga malaikat mimpi, tidak membiarkannya terbangun. Wangi seprai beserta kenangan di atasnya seolah menjadi obat tidur yang buatnya terlelap.
"Bangun..." si pemilik kamar tampaknya mulai kesal, memencet sekuat mungkin hidung gadis itu hingga susah menghirup nafasnya.
Dukung novel aku terus ya♥️♥️
__ADS_1