
Ada rasa khawatir dan ingin tahu di hatinya. Dia jelas tidak ingin pria breng*seknya itu kenapa-napa. Itulah alasannya Hanna turun. Kalau untuk menghindari, bisa saja dirinya tetap di sana. Itulah cinta, bibir mungkin berkata tidak tapi hati berkata lain.
"Han, kita bicara ya. Aku mohon," ucap Davlin sendu. Tatapannya memelas, namun Hanna masih ingat bagaimana pria itu bersikap kasar padanya malam itu. Mengingat hal itu, Hanna tentu tidak ingin ikut dengan Davlin, tapi dia juga ingin tahu kenapa pria itu mengalami luka di keningnya. Duh, rasa khawatir itu lebih kuat ternyata.
"Han, kau baik-baik saja?" suara pria dari belakang mereka terdengar sangat familiar. Davlin menoleh, menyiapkan amarah dan pandangan tidak suka pada pria, yang tidak lain adalah Kai.
"Kai... iya, aku baik-baik aja. Gak papa..." sahut Hanna gelisah. Bagaimanapun dia tidak ingin ada keributan.
Cuih! pria brengsek! pake acara sok jadi pahlawan!
"Apa dia memaksamu?" Kai masih ingin mencari tahu, kalau sampai Davlin berbuat kasar pada Hanna, dia siap maju paling depan. Hanna mungkin menolak cintanya, tapi dia tetap akan berusaha menjaga gadis itu.
"Ngapain lo ke sini? ini urusan gue sama istri gue. Lo siapa? orang luar sana, lo!"
"Kalau gue gak mau, lo mau apa?" tantang Kai maju ke hadapan Davlin.
Tanpa berkata apa pun, Davlin menggulung lengan kemejanya, membuka satu kancing di bawah lehernya. Hanna tahu apa artinya itu, dan dia mulai panik. Belum lagi, beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat dan mendengar perdebatan mereka kini berhenti, ikut melihat apa yang tengah terjadi. Semakin lama, semakin banyak yang berhenti di sana, membentuk lingkaran seolah menunggu pertarungan antar dua pria yang memperebutkan satu wanita.
"Gue tebak, cowok yang paling cakep itu yang menang," bisik salah satu gadis menunjuk Davlin. Hanna yang ada didekat gerombolan itu sedikit berbangga karena suaminya dipuji. Eh, gimana? suami?
"Iya, cakep banget. Lagian, ngapain sih pake acara merebutkan satu cewek, sama gue aja." Kali ini Lusi yang angkat bicara. Dia memang sejak awal sudah suka sama sosok Davlin yang dia tahu kekasih Hanna.
Cewek lain bahkan terang-terangan main mata ke arah Davlin yang buat Hanna ingin menjambak wanita itu.
Hanna tidak ingin mendengar ucapan para gadis yang begitu ganas menatap Davlin, Hanna maju, menarik tangan Davlin dan menyeret pria itu pergi dari sana.
__ADS_1
"Han...!" seru Kai menatap kepergian keduanya.
"Gue duluan, Kai..."
Davlin patuh, melangkah mengikuti kaki Hanna yang berjalan di depannya dengan masih setia memegang pergelangan tangannya. Dia tersenyum, ini saja sudah membuat hati Davlin gembira. Permulaan yang baik tentu saja.
Hanna membawa Davlin ke sebuah taman di belakang kampusnya. Tempat sepi dan jarang dilalui oleh siapapun, kecuali anak fakultas teknik yang akan praktek.
Mereka duduk di bangku taman, yang dibentuk dari bata yang disemen membentuk kursi memanjang. Diam... suasana berubah kaku. Keduanya bak dua orang asing yang terpaksa harus bicara.
"Mau... mau bicara apa?" Hanna memulai percakapan, tidak tahan hanya duduk, berdiam seperti orang kurang kerjaan. Suara Hanna tidak sedingin tadi, walau masih tidak bersahabat, tapi setidaknya nyali Davlin mulai muncul. Dia tahu dia salah, jadi kali ini dia tidak akan bersikap kasar dan hanya menurut apa kata Hanna, asal gadis itu tidak meninggalkannya.
"Sayang...." pelototan mata Hanna membuat mulut Davlin terkunci lagi. "Han..." ucapnya kemudian. Dia tahu batasannya. Saat ini Hanna sedang marah padanya, jadi lebih baik jangan memanggil dengan kata sayang dulu, walau Davlin ingin sekali mencium bibir Hanna yang tampak menggemaskan seperti itu.
"Han, aku mau minta maaf. Aku sadari kalau aku salah. Harusnya aku mempercayai ucapanmu, bukan justru sebaliknya meragukanmu. Han, aku mohon, kasih aku satu kesempatan lagi. Aku ingin kita bersama lagi," ucap Davlin dengan kelembutan yang tulus dari hatinya, yang dia sendiri pun tidak menyangka kalau dia memilikinya.
Perubahan dalam diri Davlin bisa terjadi setiap berhadapan dengan Hanna. Dika tepat menyebut Hanna sebagai juru kunci, karena hanya wanita itu yang bisa membuat Davlin yang sombong, keras dan tidak peduli, menjadi sosok lembut dan penuh kasih, namun juga bisa berubah buas seketika jika ada yang ingin mengusik hidup dan miliknya.
"Kenapa kau menginginkan hal itu? Beberapa hari lalu kau menginginkan kita berpisah?"
"Itu adalah Davlin yang bego, yang tidak punya pikiran. Sekarang aku menyesal dan menyadari betapa berartinya kau dalam hidupku." Davlin memberanikan diri menggenggam tangan Hanna. Melihat tidak adanya perlawanan, barulah Davlin bisa bernapas lega.
"Han, Sayang, lihat aku..." Davlin menangkup wajah Hanna, membawa pandangan gadis itu hanya tertuju padanya saja. Hanna menurut. Dia luluh. Lagi pula dia memang sangat mencintai pria menjengkelkan itu sekaligus yang kini berstatus suaminya itu.
"Kita bersama lagi, ya. Aku mohon, Sayang... aku lemah tanpamu. Memikirkan kau didekati pria lain membuatku begitu marah, hingga mengandalkan egoku, tidak bisa berpikir benar. Sejak jauh darimu, aku sadar, bukan ini yang aku inginkan. Berada di sisimu, menjalani hidup bersamamu, itu yang aku mau, Sayang," bisik Davlin parah. Matanya sudah berkabut, ingin menangis tapi malu kalau-kalau ada orang yang lewat.
__ADS_1
"Tapi..."
"Kau mencintaiku? jawab aku, Han... Apakah di sini masih ada cinta untukku?" Davlin menyentuh dada Hanna, tempat dia yakini ada cinta untuknya. Gadis itu terenyuh memandang mata sayu penuh penyesalan itu. Dia mengangguk, tidak ingin membohongi pria itu. "Ya...."
"Kalau begitu, kita bersama lagi. Jangan berpisah lagi, Sayang. Aku mohon."
"Tapi, papa dan mamaku pasti tidak akan menyetujuinya. Mereka terlanjur tersinggung karena keinginanmu," ucap Hanna lemas.
"Aku tahu. Itu salahku. Aku akan menyelesaikan semuanya. Aku akan bertanggungjawab, aku akan meminta maaf, bahkan bila perlu sujud di kaki mereka, agar mengizinkan kita bersama lagi."
"Apa kau yakin papa akan mengizinkan kita? Aku sudah terlalu sering mengecewakan mereka, jadi saat di rumah paman, aku sudah berjanji akan mengikuti apa pun yang mereka katakan, termasuk berpisah denganmu."
"Hufffh... Aku tahu kali ini langkahku tidak mudah, tapi aku akan berusaha, tidak akan menyerah sama sekali. Kau percaya padaku, kan?"
Dengan penuh keyakinan Hanna mengangguk. Davlin menarik tubuh Hanna masuk ke dalam pelukannya. Hatinya damai dan tenang kini. Penuh perasaan, Davlin mencium puncak kepala Hanna. Berjanji hanya kebahagiaanlah yang akan dia berikan pada gadis itu.
***
Rencana sudah mereka susun. Keduanya akan bersikap biasanya saja, tidak menunjukkan kalau sudah berbaikan.
Malamnya, Davlin mulai mendatangi Stuart. Dia tidak diterima. Bahkan dia tidak diizinkan untuk masuk. Kalau tidak mengingat ini demi Hanna, Davlin pasti sudah membawa pergi saja dari kota ini. Tapi Davlin tahu, Hanna tidak akan bahagia bersamanya tanpa restu orang tuanya.
"Sabar, ya sayang. Maaf papaku menyulitkanmu," ucap Hanna membesarkan hati Davlin saat mereka melakukan panggilan video.
"Aku gak akan menyerah. Lagi pula ini salahku, jadi aku harus berjuang demi wanita yang aku cintai," ucapnya tersenyum gembira.
__ADS_1