
Hanna baru saja berpikir ingin memutar Buckbeak dan melesat ke tempat yang tidak terjamah, ketika dengan suara mengerikan yang sama Alex berkata, "Jangan mencobanya, ku peringatkan kepadamu."
Karena terkejut dan marah, Hanna merasa pipinya memanas dan tangannya bergetar. Ia menelan ludah dan mengulurkan tangan ke arah Alex dengan sikap yang tidak disadari Hanna terlihat kekanak-kanakan. "Kalau begitu apakah kau mau membantuku turun?"
Alex menggendong Hanna turun dengan kasar dari pelana samping. "Berani-beraninya kau menentangku," desis Alex, jemarinya mencengkeram lengan Hanna selagi membawa wanita itu menjauh dari para pengurus kuda dan pengurus istal yang penasaran.
Hanna menunggu sampai mereka berada di luar jarak dengar dari istal dan menghampiri pintu belakang rumah sebelum menyentakkan tangan dan berbalik menghadap Alex. "Menentangku?!" ulang Hanna seraya mengentakkan kaki. "Apakah kau benar-benar mengingatkanku akan sumpahku? Astaga, di antara semua, apakah kau ingin aku mengingatkanmu pada sumpahmu, My Lord?"
"Aku akan memberimu peringatan. Hanya satu kali," Alex menegaskan dengan kejam. "Sebut saja itu saran, kalau kau mau."
"Kalau aku menginginkan saran," balas Hanna, mata hijaunya berkilat marah, "Kaulah orang terakhir di dunia yang akan kumintai saran!" Hanna membuka mulut untuk berbicara lagi, lalu berubah pikiran melihat perubahan ekspresi Alex akibat amarahnya yang mendidih.
"Kalau kau menentangku satu kali lagi, hanya satu kali lagi, aku akan menguncimu di kamar tidur sampai anak haram itu lahir!"
"Aku yakin kau lebih suka begitu!" Bentak Hanna, membenci Alex karena menyebut bayinya anak haram.
"Kau jahat, kejam... kau penipu dan pembohong! Berani-beraninya kau berkata kau mencintaiku lalu memperlakukan aku seperti ini! Dan satu hal lagi, My Lord Duke," tambah Hanna dengan amarah yang mencekat suaranya, "Yang aku yakin akan membuatmu sangat terkejut, kebetulan saja bercinta bisa menghasilkan bayi!"
Alex sangat tercengang mendengar 'informasi mengejutkan' Hanna yang konyol sampai tidak menyadari tamparan yang menyusul.
Hanna menampar pipi Alex, lalu melangkah mundur, tampak bagai dewi yang menggoda dengan segenap amarah itu.
__ADS_1
"Ayo, balas pukul aku," ujar Hanna marah. "Kau ingin menyakitiku. Ada apa? Apakah kau sudah tidak ingin menyiksaku?" pancing Hanna mengabaikan denyut nadi yang menyentak di pelipis.
"Bagus sekali, karena aku cukup marah untuk melakukannya lagi!" Hanna mengayunkan tangan, lalu terkesiap kesakitan ketika pergelangan tangannya dicengkeram kuat sesaat sebelum mengenai wajah Alex.
"Kau wanita ja*lang pembohong," ucap Alex marah. "Tapi untuk satu kali saja dalam kehidupan kita bersama yang terkutuk ini, katakan padaku satu kebenaran kecil. Hanya satu pengakuan jujur. Aku bersumpah, entah jawabannya 'aku tidak tahu' atau 'ya', aku tidak peduli."
"Kau bersumpah padaku?" Hanna balas menyerang. "Seperti ketika kau bersumpah saat upacara pernikahan kita? Seperti kau bersumpah di rumah ini bahwa kau tidak akan pernah menyakitiku? Kata-kata mu tidak berharga..."
"Apakah itu anakku?" tukas Alex sambil mempererat cengkeraman di pergelangan tangan Hanna.
Mata Hanna melebar sampai sebesar bola hijau besar. Bibirnya yang lembut terbuka karena terkejut dan tidak percaya yang begitu meyakinkan sampai Alex sejenak bertanya-tanya apakah ia salah mengenai semua hal ini.
Air mata amarah merebak di mata Hanna. "Apakah ini anakmu? anakmu?" suara Hanna meninggi, lalu tiba-tiba saja dia mengempaskan diri ke arah Alex. Bahu Hanna berguncang hebat karena tangisnya.
Hanna mencengkeram kelepak baju Alex dengan kedua tangannya, bahu wanita itu terguncang, wajahnya dibenamkan di dada Alex, berkata berulang-ulang "Apakah ini anak mu?"
Alex menyentuh lengan Hanna, tidak dengan lembut, tetapi juga tidak kasar, dan menjauhkan wnaita itu darinya.
"Hanna sedang menangis," batinnya semakin merasa bersalah. Tangan Alex terkulai dan Hanna perlahan mendongak. Hanna tidak sedang menangis.... ia tertawa! Ia tertawa histeris. Hanna masih tertawa ketika menampar pipi Alex dengan tamparan yang sangat keras hingga kepala Alex tersentak, lalu Hanna berlari ke dalam rumah.
Dengan perlahan, seraya merenung, Alex mengikuti Hanna ke dalam rumah. Alex pergi ke ruang kerja, menutup pintu, dan menuang minuman dalam jumlah besar untuk diri sendiri. Sekarang ia tahu pasti, mengenai dua hal, tangan kanan Hanna sangat kuat, Dan bayi itu adalah miliknya!
__ADS_1
Apa pun kebohongan yang dikatakan Hanna, alasan wanita itu mau menerima lamaran Alex, dan tatapan benci wanita itu ketika Alex bertanya apakah itu anaknya, tatapan itu nyata.
Hanna tidak tidur dengan kekasihnya dalam perjalanan ke London. Tidak ada manusia bersalah yang bisa pura-pura menatap kaget dan marah seperti itu. Hanna tidak mengkhianati Alex dari awal pernikahan mereka. Anak itu anak Alex. Dia sangat yakin akan hal itu. Amarah Alex pun mereda.
Sayangnya, Hanna melakukan sebaliknya. Dari semua hal nista, vulgar dan menjijikkan yang dituduhkan padanya, Hanna justru membawa diam kebenaran itu bersamanya.
Gadis itu pasti akan gila kalau hidup bersama Alex lebih lama lagi. Dia sudah menyumpahi Hanna dengan berbagi julukan mengerikan beberapa menit lalu, dan menyakiti lengan Hanna dengan cengkeraman kuat pria itu.
Hanna mencoba menyingkirkan perasaan tersiksa yang muncul ketika tahu harus meninggalkan Alex, sementara dirinya mencoba memikirkan tempat yang bisa dituju.
Dia tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya. Itu akan sangat mempermalukan keluarganya, dan orang desa pasti akan mengolok-olok mereka. Terlebih ibunya tidak akan mempertahankan dirinya, jika suatu hari... jika, itu pun kalau Alex masih punya hati, dia akan menjemput Hanna kembali dan membawanya ke Claymore lagi, maka Ema pasti akan terdepan mendukung Alex membawa Hanna.
Hanna duduk di kursi meja kerja, menarik laci dan ketika meraih selembar kertas biru, ia melihat kertas biru yang diremas di bagian atas tumpukan yang rapi. Tanpa keingintahuan yang besar, Hanna membuka kertas itu, melihat tulisan tangan di sana, dan meluruskannya untuk melihat apakah itu sesuatu yang disimpan Hanna karena mungkin suatu hari akan dibutuhkan.
'Dear Will,.. Aku ingin kita bertemu. Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Aku hamil...'
Samar- samar Hanna ingat kalau ini adalah surat yang dia tulis untuk Will. Surat yang harusnya dia antarkan pada Will di Oasis, yang dia kira hilang karena terjatuh dari tas tangannya.
Tetapi sekarang kertas itu diremas dan berada di bagian atas tumpukan. Seseorang telah menemukannya, tetapi hanya Mery dan Corazon yang melayani Hanna di Claymore, dan mereka tidak pernah menggeledah meja kerja Hanna.
Rasanya memalukan berpikir ada orang yang membaca surat itu, dan Hanna mencoba membayangkan siapa yang mungkin mendekati meja kerjanya.
__ADS_1
Dua hari lalu, ketika Hanna dengan gembira menyelipkan pakaian bayi kecil di laci supaya ditemukan oleh Alex, laci itu rapi dan tidak ada orang, selain Alex yang pernah...
"Ya Tuhan!"