
Hanna setengah bangkit dari kursi, ia menyuruh Alex pergi ke meja kerjanya dan meminta pria itu mencarikan surat dari ayahnya. "Dan kau menemukan ini," desah Hanna keras, seakan Alex ada di ruangan ini.
"Ya Tuhan, kau menemukan ini, Lex?!" Tangan Hanna gemetar dan otaknya berkecamuk saat mencoba berkonsentrasi pada apa yang mungkin dipikirkan Alex tentang surat yang dibaca pria itu. Hanna memaksa diri melihat surat itu seolah dia yang menemukannya, bukan yang menulisnya.
"Jadi ini alasan kau meragukan anak ini? jadi kau pikir aku menerima lamaranmu karena ingin punya alibi masih berhubungan dengan Will? dasar bodoh! Alex bodoh! Sialan!" pekiknya roboh di lantai. Menangis sesunggukkan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Alex menyiksa Hanna begini karena pria itu sakit hati dan karena Alex marah sebab Hanna mungkin berpaling kepada pria lain.. Alex sakit hati, dan dia juga cemburu!
"Dasar bodoh!" ulang Hanna di dalam ruangan sepi itu. Ia begitu lega dan bahagia sampai bisa merentangkan lengan dan berputar-putar.
Ternyata perilaku laknat pria itu bukan karena tidak menginginkan bayi mereka! Walaupun Hanna merasa lemas karena lega, ia akan dengan senang hati membunuh Alex.
Alex melakukannya lagi. Dalam benak pria itu, ia menuduh, mengadili, menghakimi dan menghukum Hanna, tanpa memberi Hanna kesempatan untuk menjelaskan. Dan sekarang.. Alex benar-benar yakin bisa menyingkirkan Hanna begitu saja, pindah ke sayap lain rumah itu, dan berpura-pura perkawinan mereka sudah hancur dan tidak pernah terjadi.
Hanna gemetar karena lega dan penuh tekad. Ini terakhir kalinya amarah Alex dilampiaskan kepada Hanna sebelum dirinya diberi penjelasan tentang penyebabnya.
Dan kalau Alex mengira ia bisa mencintai Hanna sedalam yang diketahui Hanna, tetapi berbalik menunggui Hanna, dan berjalan pergi tanpa perasaan, Well, Alex akan tahu yang sebenarnya.
Bagaimana mungkin Alex bisa begitu bijak, begitu cerdas, namun ketika murka mengira dirinya bisa sungguh-sungguh menyingkirkan Hanna, tidak peduli apa pun yang Hanna lakukan atau yang dikiranya Hanna lakukan.
Entah bagaimana dan dengan cara apa, Hanna akan membuat Alex menjelaskan kenapa pria itu bersikap seperti ini. Ia tidak peduli bagaimana itu akan terjadi atau bagaimana Alex akan melakukannya.
Alex bisa menuding Hanna sesuka hati. Bahkan, pikir Hanna seraya tersenyum sedih, pasti itulah yang akan terjadi, karena Hanna tidak akan memohon kepada Alex untuk menjelaskan. Karena itulah, Hanna tidak punya pilihan lain selain memaksa Alex, membuat pria itu cukup marah dan cemburu hingga kehilangan kendali dan menghadapi Hanna dengan apa yang dikira Alex dilakukan Hanna.
Dan jika Alex melakukannya, Hanna akan menjelaskan dengan ketus soal surat itu. Ia akan membuat Alex, mengemis-ngemis di kakinya dan memohon maaf. Seulas senyum cerah tersungging di bibirnya.
Oh, omong kosong! Ia tidak akan sanggup melakukannya. Ia akan menjelaskan secepat mungkin lalu menghambur ke pelukan Alex, lalu pingsan karena sangat bahagia dan merindu ketika tangan kuat Alex merangkulnya.
Tetapi untuk saat ini, Hanna berusaha tidak terlihat lemah dan sedih. Ia akan bersikap riang dan menawan hingga Alex sangat merindukan apa yang pernah mereka miliki bersama, sehingga Alex tidak tahan lagi.
__ADS_1
Pada awalnya, Hanna akan memancing Alex dengan lembut, dan jika hal itu tidak berhasil, ia bisa memaksa Alex dengan membuat pria itu benar-benar marah.
Suami istri Cliffton akan mengadakan pesta besar malam ini. Hanna tidak yakin apakah Alex ingin pergi. Tapi Hanna mau.
***
Hanna mengamati penampilan dengan saksama, dalam balutan gaun hijau zamrud yang di pesan di Paris saat bulan madu mereka. Gaun itu, gaun paling terbuka yang pernah dikenakannya, dan ia tersenyum seraya mengenakan kalung zamrud dan berlian, serta gelang dan anting-anting senada. "Bagaimana penampilanku?" tanya Hanna pada Mery sambil berputar.
"Tela*njang seperti ketika kau lahir," sahut Mery sambil menatap bagian depan gaun Hanna dengan tidak senang.
"Gaun ini sedikit lebih terbuka dibanding gaun yang biasa kupakai," Hanna membenarkan dengan kilatan samar di mata. "Tetapi kurasa, suamiku tidak akan membiarkanku pergi ke mana pun dalam balutan gaun ini, bukan?"
Diiringi bunyi berdesir gaun sutra zamrud, Hanna masuk ke ruang duduk. Alex sedang menuang minuman untuk diri sendiri di bufet. Tubuhnya yang jangkung atletis tampak luar biasa dalam balutan jaket dan celana panjang biru gelap. Kontras dengan warna biru gelap yang indah itu, kemeja dan syal Alex berwarna putih.
Alex tampak sangat tampan. Ia juga tampak sangat marah ketika tatapan lancangnya menelusuri gaun hujan Hanna yang berkilau, dan terpaku pada bagian atas depan gaun Hanna yang terbuka.
"Kau kira, kau mau pergi ke mana?" tanya Alex dalam suara rendah mengancam.
Alex mengambil sebotol anggur dari rak di dalam lemari. "Sayang sekali, karena kita tidak akan pergi ke rumah suami-istri Cliffton."
"Oh?" Kata Hanna seraya menghampiri Alex untuk mengambil gelas. "Sayang sekali, karena kau akan melewatkan pesat luar biasa. Aku selalu merasa pesta suami-istri Cliffton paling menyenangkan di.."
Alex berputar pelan dan menyandarkan pinggul di lemari di sampingnya, sebelah kaki Alex berayun santai, berat tubuh pria itu ditopang oleh kaki yang lain. "Aku tidak akan pergi ke rumah suami-istri Cliffton," ujar Alex pada Hanna dengan ketus. "Dan kau tidak akan pergi ke mana-mana malam ini. Apakah itu cukup jelas, Hanna?"
"Kata-katanya sangat jelas," sahut Hanna. Ia berbalik, membawa gelas, dan berjalan anggun ke ruang makan, diikuti gaun sutra zamrudnya. Hanna sedih. Alex tidak akan mengajak Hanna ke pesta suami-istri Cliffton dan Alex tidak membiarkan wanita itu pergi sendirian.
Di ruang makan yang diterangi lilin, acara makan berlangsung dalam keheningan. Hanna diam-diam mengamati Alex sepanjang makan malam. Acara makan malam hampir selesai ketika tatapan Hanna mendarat di tangan Alex. Jarinya tidak mengenakan cincin batu delima yang diberikannya kepada pria itu pada malam pengantin mereka.
Jantung Hanna berdegup kencang ketika menatap bekas samar di jari Alex. Sejak Hanna memasangkan cincin itu di jari Alex pada malam mereka, Alex tidak pernah melepaskannya.
__ADS_1
Hanna mendongak dan mendapati Alex melihat reaksi Hanna yang terluka dengan senyum sini. Dan walaupun merasa sakit hati, Hanna lebih merasakan amarah.
"Aku akan pergi ke pesat itu," batin Hanna seraya mengangkat dagu. Meskipun harus berjalan kaki, ia akan pergi bersama Alex.
Sebelum hidangan penutup disajikan, Hanna berdiri dan berkata," Aku akan pergi ke kamarku. Selamat malam."
Ia pergi ke kamar karena tidak ingin membuat Alex menyadari rencananya untuk pergi ke pesta itu, dan mengambil risiko Alex melarang kusir mereka mengantar Hanna ke mana-mana.
***
Saat itu sudah lewat pukul satu pagi, tetapi bagi klub permainan pria eksklusif tempat Alex menjadi anggota, waktu bukanlah hal penting. Alex duduk bersandar di kursi, tidak terlalu memperhatikan obrolan di sekitarnya ataupun kartu yang dipegangnya.
Tidak peduli berapa banyak minuman yang diteguknya malam ini, atau betapa keras usahanya, Alex tidak mampu berkonsentrasi pada permainan ataupun pada obrolan khas pria teman dan kenalannya.
Alex menikahi penyihir yang mengganggunya bagai duri dalam daging. Rasanya sangat menyakitkan menyadari keberadaan Hanna, dan rasanya sakit jika harus melepaskan wanita itu.
Otak Alex terus terpaku pada penampilan Hanna malam ini, dalam balutan gaun hijau terkutuk dengan pesona yang dipamerkan dengan cantik tapi memalukan.
Tangan pria itu benar-benar nyeri ingin merasakan kulit halus mulus itu di telapak tangannya, dan gairah Alex nyaris tidak tertahankan. Ga*irah, bukan cinta. Yang dirasakannya untuk Hanna hanyalah sentakan gai*rah sesekali. Tapi mengapa rasanya dia ingin sekali berada di dekat wanita itu.
Berani-beraninya Hanna berpikir ingin keluar dalam gaun itu sendiri! Dan apa maksud Hanna dengan bertingkah seakan Alex melarang Hanna berkuda untuk menyiksa wanita itu? Alex memberi perintah itu di istal beberapa hari lalu ketika menduga Hanna hamil dan mengira Hanna tidak menyadari kehamilan itu.
Bukannya Alex peduli pada pembohong kecil itu. Alex tidak perlu memberikan penjelasan atas tindakannya. Hanna harus melakukan seperti yang diperintahkan. Dan itu, pikir Alex seraya melempar kepingan ke atas tumpukan di tengah meja, tidak bisa dibantah lagi!"
"Senang melihat mu, Claymore," Sapa Lord Dustwin dengan ramah sambil duduk di kursi kosong di meja dengan enam kursi di hadapan Alex. "Meski aku kaget melihatmu."
"Kenapa?" Tanya Alex tidak terlalu peduli.
"Karena aku baru saja melihat istrimu di pesta Cliffton. Kukira kau juga ada di sana," ucap Lord Dustwin menjelaskan, sibuk menumpuk kepingan, bersiap bergabung dalam permainan seru yang sedang berlangsung.
__ADS_1
"Ia terlihat sangat cantik, aku juga mengatakan hal itu padanya." Ucapan jujur itu membuat Lord Dustwin mendapatkan tatapan tidak percaya dari sang duke hingga Lord Dustwin bergegas menegaskan, " Istrimu selalu terlihat cantik. Aku selalu mengatakan hal itu padanya."
"Kau benar, Lord Dustwin, karena aku juga pernah melihat duchess of Claymore dari dekat, kala menemui William Malory di Oasis!" suara Peter Pattigrew dari belakang meja di sudut ruangan mengagetkan semua orang.