
Bab 3
Dengan nafas tersengal-sengal, Elin terus berlari menyusuri jalan setapak seusai diminta Bu panti untuk membeli detergen ke warung. Di sana Elin bertemu dengan Tia, anak panti lainnya yang mengatakan kalau Siera akan segera pergi.
Hos..hosss.. deru nafas Elin terdengar kencang. Dia sudah sampai di halaman rumah. Benar di sana Siera sudah diapit sepasang suami istri. Elin juga melihat tasnya di ujung kakinya, tergeletak di tanah.
Perlahan, Elin menyeret langkahnya mendekat. Belum berkat apa pun, Siera justru berlari, menghambur dalam pelukan Elin yang jauh lebih tinggi darinya.
“Kau pergi?” suara bergetar dari Elin menandakan dia berusaha untuk menahan air matanya. Dia tahu apa artinya ini. Perpisahan.
“Aku ingin membawamu juga, Lin. Ikutlah denganku,” pinta Siera disela tangisnya.
Secara paksa Elin melepas lengan Siera di lehernya. “Pergilah, kau tahu aku tidak mungkin bisa ikut denganmu. Ibu panti tidak akan mengizinkannya”
Siera berbalik, menatap orang tua angkatnya. “Ayah, ibu, aku boleh ajak Elin ikut bersama kita?”
“Siera, jaga sikapmu. Tuan dan nyonya Clif tidak ada waktu melayani leluconmu,” bisik Bu panti memainkan mata, tanda tidak senang.
“Pergilah, Ra. Lagi pula aku tidak bisa meninggalkan Juna,” ucap Elin tidak ingin menyulitkan posisi Siera.
Hingga mobil berlalu di tikungan yang ada di bawah sana, Elin masih terus berdiri menatap dengan tatapan mengabur.
Tidak akan ada satu keluarga mana pun yang akan mengadopsiku. Mungkin hingga mati, aku akan di sini. Tidak ditakdirkan merasakan kebahagiaan punya keluarga..
“Masuk, kau gadis nakal!” seruan Bu Santi mengagetkannya. Lengannya juga terasa sakit karena cubitan yang diberikan wanita itu.
Padahal memar di lengan dan lebam di pinggangnya belum hilang atas hukuman dari Bu Santi dan Pak Sugeng tadi malam.
__ADS_1
Kedua manusia itu, menghajarnya. Memukul, menampar, menjambak bahkan menunjang tubuhnya sebagai hukuman karena pergi dengan Juna.
Nasib remaja itu bahkan tidak kalah menyedihkan dengan yang dialami Elin. Juna bahkan dipukuli hingga wajahnya tidak berwujud lagi oleh Sugeng, dan kini di kurung lagi di ruangan bawah.
Seminggu kemudian, saat Elin tertidur seorang diri, karena semenjak Siera pergi kamar itu belum memiliki penghuni baru, kalau kamar lain di huni 10 orang, kamar sekatan tempat sapu dan alat pembersih lainnya di bawah tangga belakang itu hanya ditempati Elin dan Siera, seseorang mendatanginya dengan mengendap-endap.
Dengan tatapan buas, menatap dengan liar tubuh Elin. Penuh keberanian menarik gaun tidur Elin yang terbuat dari bekas karung tepung ke atas hingga memperlihatkan pakaian dalamnya.
Senyum menyeringai muncul di wajah Sugeng, pria bejat yang punya niat jahat pada Elin. Tangan kasarnya mulai meraba paha putih Elin hingga berhasil membangunkan gadis itu.
Seketika Elin menarik diri mundur kebelakang, dengan berat menelan salivanya. “Apa yang bapak lakukan di kamarku?” tatap Elin tajam walau di hati penuh rasa takut.
“Tutup mulutmu, dan lakukan apa pun yang aku minta!” Sugeng sudah menarik tangan Elin lagi, membekap mulut gadis itu dengan tangannya. Kakinya bahkan sudah menahan kakinya yang masih sakit.
Kedua tangan Elin di ikat dan mengaitkan pada besi yang ada dalam ruangan itu. Mulutnya juga sudah di sumpel dengan kain sarung tipis yang menjadi selimutnya kala tidur.
Gadis malang itu sudah ada dalam kungkungannya. Dengan buas, binatang berwujud manusia itu memulai menciumi leher hingga dada Elin, sementara gadis itu hanya bisa meronta tertahan dengan keterbatasan ruang geraknya.
Tolong, siapa pun tolong aku! Aku mohon...
Entah itu doa atau apa pun, Elin terus memohon dalam hatinya agar dilepaskan dari pria biadab itu.
Bruk!
Seketika tubuh Sugeng yang ada di atas tubuh Elin jatuh ke samping seiring satu pukulan menghantam kepala belakangnya.
“Mmmmphh..”Elin berusaha mengatakan sesuatu namun kain yang menyumbat mulutnya membuatnya susah.
__ADS_1
“Kau baik-baik saja?” Juna menarik kain pada mulut Elin, lalu bergegas melepas ikatan tangan gadis itu, membantu berdiri.
Untuk sesaat keduanya melihat tubuh Sugeng yang tergeletak. Tongkat bisbol yang di gunakan Juna untuk memukul kepala Sugeng membuat pria itu tidak sadarkan diri. Dari balik rambutnya keluar darah segar yang menganak sungai lantai.
“Apa dia mati, Jun?” tanya Elin panik masih tetap menatap ke arah Sugeng.
“Aku tidak tahu, dan aku tidak peduli. Dengar, aku akan meninggalkan tempat ini, kau mau ikut denganku?”
“Tapi kalau kita tertangkap, mereka akan menghukum kita lebih berat,” ucap Elin mengingat tiga hari lalu mereka mencoba kabur, namun Sugeng dan dua orang penjaga lainnya berhasil menangkap mereka dan seperti biasa menghajar keduanya habis-habisan. Bahkan Elin sudah tidak di perbolehkan sekolah lagi.
“Kita akan coba lagi, dan kali ini harus berhasil. Apa kau mau diperlakukan seperti binatang lagi? Ini bukan rumah yang pantas untuk anak-anak terlantar seperti kita, ini tempat distributor anak, kita hanya jadi barang dagangan mereka”
Ragu sesaat menggerogoti perasaan Elin. Ke mana mereka akan pergi nantinya? Bagaimana hidup di luar sana? Mereka yang selama ini tinggal di pedalaman hanya berusaha keluar dari perbatasan desa saja sudah tidak tahu harus menjalani hidup seperti apa.
“Percayalah padaku, aku akan menjagamu.” Juna mencoba meyakinkan Elin. Dia pasti akan tetap pergi dari sana malam itu, terlebih setelah kabur dari penjara ruang bawah dan telah memukul Sugeng begini, tapi dia tidak bisa meninggalkan Elin sendirian di sini.
Pengurus panti akan menyiksanya lebih keras lagi, dan Juna tidak sampai hati.
“Lin?”
Perlahan Elin mengangguk. Benar, kemanapun melangkah asal bersama Juna, dia tidak akan takut.
Suara langkah sebisa mungkin tidak terdengar, keduanya mengendap-endap penuh hati-hati. Hingga diambang pagar, Juna yang sudah mahir, memanjat terlebih dulu lalu di susul Elin.
Malam mencekat, rintik hujan yang sejak tadi turun kini berubah menjadi dawai hujan. Dalam gelap malam dan guyuran hujan kedua anak manusia itu pergi meninggalkan tempat mereka di besarkan sekaligus di siksa.
Jangan pernah menoleh ke belakang, Lin. Percaya saja, semua akan baik-baik saja. Ada Juna yang akan menjagamu. Lagi pula, hidup berdua dengan Juna adalah harapanmu..
__ADS_1
Dalam dingin, tangan keduanya saling terkait menyelusuri jalanan setelah satu jam berlari meninggalkan panti. Mereka yakin siapa pun belum sadar akan kepergian mereka.
Dengan menumpang truk penjual sayur, keduanya pergi ke perbatasan desa. Diam-diam naik ke truk barang yang membawa mereka ke kota terdekat, sebelum kembali menaiki mobil bak kosong menuju ibu kota.