
Dari tempatnya berada, Hanna masih bisa mendengar suara hiruk pikuk di luar sana. Suara musik, tawa orang dan juga suara sahut menyahut. Pesta masih belum usai, dan Alex tertahan menemani para undangan penting dari kalangan kerajaan dan bangsawan yang dihormati di Inggris.
Hanna menunggu dengan jantung berdebar. Kamar itu sudah dihias sedemikian rupa, begitu indah, banyak bertabur bunga hingga hidungnya bisa mencium wangi yang memikat dari berbagai jenis bunga itu.
Gugup, pasti. Ini malam pertamanya. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan. Dia sering nonton film dan baca novel roman, tentu saja dia mengerti.
Tiba-tiba dia teringat pada Ema, Stuart dan juga Cathy. Walau di sini dia punya keluarga dengan wajah yang mirip, tapi Hanna rindu pada orang tua kandungnya, dan juga adik juteknya.
"Mama, papa, Cathy... aku merindukan kalian. Aku berharap bisa bertemu kalian lagi," gumamnya melipat tangan di pahanya.
Demi membuang rasa bosannya, Hanna mengintip dari jendela kamar, dari sana dia bisa dengan jelas melihat terangnya langit malam. Saat ingin menarik kursi untuk duduk, matanya menatap koper yang datang bersama Mery kemarin. Koper besar yang berisi barang-barangnya.
Iseng dibukanya, dan di sudut koper itu, terselip di antara gaunnya, muncul dua lembar kertas yang dia kenali adalah isi dari novel yang dia baca. Novel yang membawanya masuk ke dalam cerita, menjadikannya tokoh utaman dalam novel itu. Seingatnya, saat dia terlempar ke dunia novel ini, kertas itu ikut bersamanya, berada di antara tangannya saat dia terbangun. Namun masih kosong, hanya setengah yang terisi, lalu kenapa saat ini kertas itu tampak berisi tulisan.
Pencahayaan yang kurang dalam kamar itu membuat Hanna tidak bisa membaca dengan baik isi tulisan itu. Bergegas dia bangkit, membiarkan kopernya terbuka begitu saja, lalu duduk di tepi ranjang.
Hanna masih tidak bisa membaca, sehingga memutuskan untuk berbaring agar lebih dekat pada cahaya lampu yang diletakkan di atas meja di sebelah ranjang.
Samar tulisan itu mulai terbaca. Ada namanya di sana, lalu ada nama Alex, dan...
***
"Bangun, Hanna. Sampai kapan kau akan tidur?" suara itu jelas begitu akrab di telinga Hanna. Tanpa membuka mata pun dia tahu itu teriak ibunya.
Mama?
Eh, nanti dulu, itu suara mama?
Hanna berperang dengan pikirannya sendiri. Dia jelas masih ada dikamar Alex, ini malam pertama mereka.
Apakah aku ketiduran hingga malam pertamaku berlalu? oh, Tuhan, jangan sampai Alex menyesal menikahi ku!
"Hanna, sekali lagi mama bilang, bangun! Anak gadis kenapa pemalas banget sih!" seru Ema membuka gorden kamarnya, membiarkan sinar mentari pagi masuk menyapa wajah cantiknya.
__ADS_1
Perlahan, Hanna membuka mata. Jujur di takut sekali. Hal pertama yang dia lihat setelah membuka bola mata dengan sempurna adalah dream catcher yang dia gantung di langit-langit kamarnya.
Ini kamar ku!
Kesadarannya kembali, seperti tubuhnya baru kena setrum aliran listrik yang besar. Hanna menatap sekelilingnya. Benar ini kamarnya. Alex, di mana Alex nya? apa yang terjadi pada malam pertamanya.
Dengan tampang bodoh, Hanna meraba miliknya, tidak nyeri, tidak ada rasa sakit, dan tidak ada darah.
"Ada apa? jangan bilang kau mimpi jorok, hingga celana d*lam mu basah!" seru Ema berkacak pinggang menatap Hanna yang masih bengong.
Gadis itu masih belum menemukan dimana kunci gembok mulutnya, masih diam tidak tahu harus berkata apa.
"Han, Hanna...," ucap Ema mulai ketakutan. Putrinya tidak bereaksi terhadap apa pun perkataannya. Wanita itu takut kalau Hanna kesambet jin pagi ini.
"Hanna, sayang... kau tidak apa? kau kenapa, Nak?" ucap Ema kini duduk di samping gadis itu.
Tidak ada jawaban. Hanna masih diam, dengan pupil yang semakin membesar. Ema semakin panik, hingga tanpa sadar, menampar pipi kiri Hanna.
"Akhirnya kau sadar. Kau kenapa, membuat mama takut saja. Mama pikir kau sudah kerasukan setan!"
"Mama, aku di sini? aku kembali berada di kamarku?"
"Dasar gadis bodoh! Apa kau pikir kau sudah dia dunia lain? kau pasti tidur sampai larut karena membaca novel roman picisan mu ini!" seru Ema meletakkan novel yang dia pungut dari lantai di atas pangkuan Hanna. Bola mata Hanna menatap novel itu. Tepat terbuka, saat bagian Malam pernikahan Hanna White Jhonson dengan Alexander Davlin Claymore.
Penuh semangat dia membalik lembarnya, namun masih tidak ada lagi, hanya detil bagaimana para tamu di jamu, dan juga hebohnya acara pernikahan itu.
Hanna ingat, dia menggenggam robekan kertas dari novel itu, masih ada ditangannya. Dan benar saja, ada tulisan di sana, yang mengatakan Hanna menunggu suaminya untuk masuk ke kamar pengantin.
Tiba-tiba air mata Hanna terjatuh membasahi kertas yang sudah tampak menguning itu.
"Kau menangis? apa ceritanya begitu menyedihkan sampai kau menangis?" tanya Ema memeluk Hanna. Dia memang terkesan galak pada putri sulungnya, namun kasih sayang seorang ibu tidak akan hilang pada putrinya.
"Mama...," ucap Hanna di sela Isak tangisnya. Dia bukan tidak ingin kembali, dia gembira bisa bertemu lagi dengan wanita yang sudah melahirkannya, tapi bagaimana dengan Alex? selamanya dia tidak akan bertemu lagi dengan pria itu.
__ADS_1
Cinta pertamanya, bahkan ciuman pria itu masih bisa dia rasakan. Dia bukan bermimpi, dia memang masuk dalam dunia novel itu. Tapi siapa pun tidak akan ada yang mengerti, bahkan justru menganggapnya gila.
Mengapa takdir begitu kejam padanya. Dia sudah menerima takdirnya yang terlempar di dunia lain, menjalani hidupnya menjadi Hanna White, kenapa saat sudah bertemu dengan pria yang dia cintai dan juga mencintainya justru dia ditarik kembali?
"Alex... Alex..," teriaknya disela tangisnya yang semakin kencang. Ema sendiri sampai bingung menenangkan putrinya itu.
"Alex? siapa Alex? tanya Ema semakin bingung. Tangis Hanna masih terus berlanjut, hingga tidak bisa menampung kesedihan itu lagi dan gadis itu jatuh pingsan.
Keluarga Jhonson harus melarikan Hanna ke rumah sakit. Dokter sendiri pun bingung mendiagnosa penyakit yang dialami Hanna, karena tubuhnya tampak sehat, namun gadis itu seolah tidak ingin bangun.
Ada sesuatu menariknya di alam lain. Dia ingin terpejam, seolah mencari terowongan yang dihiasi cahaya yang bisa menuntunnya kembali pada Alex nya.
Dua hari dalam kondisi seperti itu, keluarga Jhonson tidak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa berdoa dan berharap Hanna kembali pada mereka.
Pada hari kelima, Hanna masih betah bertahan di alam bawah sadarnya. Ema dan Stuart sudah putus asa. Cathy yang selama ini bersikap jahat padanya justru menangis memohon kesembuhan untuk kakaknya.
"Tuhan, jika kakak ku sembuh, aku janji akan menjadi adik yang baik, akan menyayanginya. Kembalikan Hanna pada kami..."
Keluarga Jhonson serentak bangkit kala tim dokter masuk untuk memeriksa Hanna hari itu. Ema mengangguk lemah atas sapaan salah satu dokter yang sudah dia kenal, namun baru kali ini bergabung memeriksa Hanna.
"Suntikkan ini pada pasien," ucap dokter itu memberikan secarik kertas yang sudah dia tulis sesuatu di sana pada salah satu dokter jaga yang ikut dalam tim untuk merawat Hanna. Dokter itu mengangguk seraya membaca tulisan itu dan segera menyerahkan pada salah satu perawat dan memerintahkan untuk membawanya.
Semua tim dokter yang berjumlah empat orang itu keluar, berganti perawat yang akan menyuntikkan obat ke dalam infus Hanna.
Keesokan paginya, Ema berlutut sujud karena mendapati Hanna sudah siuman, dan memanggil namanya.
"Mama.."
"Ya, Tuhan... kau sudah siuman, Nak," pekik Ema dengan keras hingga membuat Stuart dan Cathy yang masih tertidur di ruangan itu terlonjak kaget, ikut mendekat.
"Aku dimana?" Kepala Hanna terasa berat, matanya berkunang-kunang dan kepala sangat pusing.
"Kau di rumah sakit. Pingsan selama lima hari. Mama mohon, jangan tinggalkan kami lagi, sayang," isak Ema memeluk Hanna. Cathy pun tidak mau ketinggalan, ikut memeluk kakaknya itu. Keluarga itu saling berpelukan dengan air mata di pipi.
__ADS_1