
Kabar mengenai kemampuan Hanna membuat gaun yang indah serta merias wajah lebih cantik dari para perias mana pun tersebar hingga ke London.
Siang itu, sebuah surat yang dibawa oleh urusan dari kerajaan datang ke kediaman keluarga Jhonson. Stuart yang saat itu tengah memeriksa pengeluaran bulanan di ruang kerjanya, menerima pesan itu, dan seketika itu juga langsung memukul pelan keningnya.
"Kenapa tidak biarkan kami hidup tenang," gumamnya pada dirinya sendiri. Sekali lagi membaca pesan itu, yang berasal dari Lady Abigail, duchess of Cambridge, sekaligus ipar dari raja, dan juga Tante dari Alex Claymore!
"Hai, papa. Kenapa wajahmu begitu menyeramkan?" sapa Hanna yang baru tiba bersama Ema dari rumah keluarga Eubank. Hanna yang sudah lulus sekolah diminta menjadi guru privat putri kecilnya Caroline.
Demi bertahan dari musim paceklik ini, anggota keluarga Jhonson harus saling bahu membahu saling menopang dengan bekerja menjadi apa saja yang bisa menghasilkan uang.
Selain martabat, nama baik keluarga dan darah bangsawan yang dalam tubuh mereka yang di wariskan leluhur keluarga Jhonson, sebenarnya mereka tidak memili harta apa pun juga.
"Ya, My Lord, apa yang kau pegang itu?"
"Ini, surat dari Lady Abigail," sahut Stuart menyerahkan kertas itu pada Ema. Seketika wajah Ema sumringah, bersinar tidak seperti tadi saat menjemput Hanna ke rumah lady Eubank. Alasan menjemput Hanna dibuat untuk menyembunyikan tujuan awalnya yaitu meminjam sejumlah uang. Para menyewa lahan mereka terpaksa menunggak karena tidak ada hasil panen musim ini.
"Ada apa ibu? kenapa begitu gembira?" Hanna sedikit khawatir, karena kalau reaksi ibunya seperti itu hanya satu hal yang bisa membuatnya bahagia, yaitu uang dan uang.
"Lady Abigail memintamu datang ke London, untuk mengikuti pesta minum teh nya, sekaligus mempraktekkan cara tata mu dalam merias, sekaligus menjahit gaun indah milikmu," ucap Ema memeluk Hanna gembira.
"Ada apa ini? apa yang aku lewatkan?" kata Catherine yang juga baru tiba dari sekolahnya.
"Kakakmu, dia diminta Lady Abigail untuk datang ke pesta teh nya di London," pekik ibunya mengulang berita menggembirakan itu.
"Benarkah? kau hebat kak, aku bangga padamu," ucap Catherine melompat memeluk tubuh ramping Hanna.
__ADS_1
Hanya Stuart dan Hanna saja yang justru terganggu dengan datangnya berita itu. Mereka merasa angin ****** beliung akan segera datang menghantam kebahagiaan mereka yang hanya bertahan enam bulan ini.
"Kalian jangan bersorak dulu. Tanya kan pendapat Hanna, dia mau pergi atau tidak!" tegas Stuart geleng-geleng kepala melihat istri dan putri bungsu.
"Hanna pasti mau. Selain dia akan mendapat kehormatan sebagai tamu terhormat Lady Abigail, Hanna juga pasti mendapatkan bayaran dari her Ladyship. Kau mau kan, my dear?"
Kalau sudah begitu, apa yang bisa Hanna katakan, dia tidak mungkin mengecewakan mereka, merenggut kebahagiaan di wajah ibu dan adiknya. Benar kata ibunya, mereka perlu uang untuk bertahan hingga keuangan mereka membaik.
"Aku akan berangkat papa. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja," ucapnya menenangkan kekhawatiran papanya. Hanya dia yang mengerti apa yang ada dalam pikiran pria itu.
***
Keesokan harinya, Hanna berangkat. Beruntung, Julia bersedia menemaninya selama di London, dan Sebastian dengan niat terselubungnya menawarkan bantuan untuk mengantar mereka.
"Aku akan menjagamu selama di sana. Aku tahu banyak tempat yang indah, aku akan mengajak mu berkeliling," bisik Sebastian gara Julia yang sedang tertidur tidak mendengar ucapannya.
"Tentu saja, aku melakukannya untukmu," Sebastian mengedipkan sebelah matanya menggoda, dah hal itu justru berhasil meledakkan tawa Hanna hingga Julia terbangun.
"Ada apa? apa ada yang aku lewatkan?" gadis itu mengucek-ucek matanya. Menegakkan tubuh dan melihat keluar jendela kereta. "Apa masih jauh?"
"Tidak, adik kecilku, satu jam lagi kita sampai" Wajah Hanna bersemu merah menahan tawa melihat Sebastian yang salah tingkah. Tentu saja dia ingin tetap mempertahankan karakter kakak yang baik dihadapan Julia.
Langit sudah hampir gelap saat mereka tiba di sana. Sesuai instruksi lady Abigail, mereka dibawa ke rumah wanita itu, bukan rumah utama, hanya mansion megah yang selalu dijadikan tempat kala sang duchess ingin mengadakan pesta.
Mereka disambut oleh seorang pelayan, mengatakan kalau His lady sedang tidak ada ditempat dan akan datang besok. Kamar mereka sudah disiapkan sesuai dengan pengaturan dari lady Abigail. Hanna, sebagai tamu khusus tinggal di kamar atas, kamar yang paling besar setelah milik tuan rumah tentunya. Lalu disampingnya baru lah kamar lady Julia.
__ADS_1
Sedangkan Sebastian menginap ditempat kenalannya, teman satu sekolahnya di sekolah hukum.
"Rumah ini begitu luas, Han. Seperti rumah keluarga Claymore. OPS, sorry, Han," ucap Julia yang tidak menyadari kalimatnya. Merasa tidak enak hati pada Hanna karena sudah mengungkit nama Claymore.
"It's ok, Jul. Hapus wajahmu yang pucat itu, seperti baru melihat hantu saja," ucap Hanna. Dia hanya mencoba tidak terusik dengan mendengar nama itu.
Hanna membuang pandangannya ke sekitar ruangan. Dia hanya tidak ingin Julia melihat wajah sedihnya.
Malam itu mereka menyantap makan malam hanya berdua. Menghabiskan waktu bercerita malam itu sekitar satu jam hingga mata mengantuk keduanya memutuskan untuk pergi tidur.
Mungkin karena perjalanan yang cukup melelahkan, baru saja merebahkan tubuhnya di kasur dengan bantal empuk dari bulu angsa, Hanna jatuh terbuai mimpi.
Dinginkan udara kota London membuat tidur Hanna semakin nyenyak. Dia bahkan masuk ke dalam selimut tebal, menutup seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia terbangun kala dadanya terasa sesak, seperti ada beban besar yang menimpa tubuhnya.
Susah payah Hanna bergerak, dia harus keluar dari selimut itu untuk bisa mendapatkan udara, kalau tidak dia pasti mati lima menit kemudian.
Sekuat tenaga yang tersisa dari tubuhnya, Hanna mendorong kuat beban yang saat ini menimpa tubuhnya agar dia bisa keluar dari kesesakan itu. Lagi pula dia ingin melihat benda apa yang membuatnya sesak seperti ini.
Sedikit demi sedikit Hanna bisa bergeser, menyampingkan beban itu hingga dia bisa keluar. Hal pertama yang dia lakukan adalah menarik nafas panjang, bersyukur dia tidak jadi mati.
Betapa terkejutnya Hanna, saat menyadari kalau seorang pria lah yang menjadi beban menimpa tubuhnya tadi. Dan hal yang lebih gila lagi, Hanna mengenali pria itu sebagai Alexander Davlin Claymore!
"Dasar pria gila, sedang apa dia sini? di kamar ini? dan sebagian tubuhnya menimpa tubuhku?" racuh Hanna panik dan penuh kesal.
***
__ADS_1
Mampir gaes 🙏😘