
Semua mata tertuju pada Hanna. Menjadi Bintang pada acara itu, bukan keinginannya, namun, itu lah yang terjadi saat ini.
Banyak orang yang baru pertama kali ini Hanna temui di sana, mereka berlomba untuk menyapanya. Baik pria atau pun wanita.
Masyarakat London ternyata lebih terbuka dan tentu saja punya sikap lebih liberal. Buktinya, banyak pada gadis yang mendatanginya, meminta mengajarinya cara berdandan hingga bisa begitu cantik. Sangat berbeda dengan gadis-gadis di desanya yang justru menghinanya.
"Apa kau suka pestanya?" tanya Alex yang sudah berdiri di belakang Hanna yang tengah menatap taman bunga Lady Abigail yang begitu indah. Di sana juga ada ayunan, yang menarik perhatian Hanna hingga datang ke taman itu.
"Tentu saja, My Lord," sahut Hanna tidak bersahabat. Dia tidak mengerti kenapa pria itu menjauh dari kerumunan, malah justru mendatanginya.
"Bagus lah kalau begitu." Suasana berubah kikuk. Keduanya saling diam melepas pandangan jauh ke sana.
"Pastinya sudah banyak orang yang mengatakan kalau kau sangat... cantik hari ini." Alex kembali memecah keheningan saat itu setelah beberapa menit hanya diam.
"Anda benar, saya memang mendapatkan pengakuan itu," ucapnya mencoba tersenyum walau sedikit terpaksa.
"Dan kau pasti mengharapkannya," sambar Alex memprovokasi lagi.
"Tidak sampai anda yang mengatakannya."
Alex tersenyum, hanya gadis itu saja yang mampu mematahkan omongannya di setiap saat.
"Aku tidak menyangka kau mengharapkan pujian dariku, kalau saja aku tahu pasti sejak tadi aku akan mendatangi mu, berlutut di hadapan mu, memuji mu, mengatakan kau wanita yang paling cantik yang pernah aku temui."
Hanna kini memutar tubuhnya, berhadapan dengan Alex tanpa gentar. Hanna tidak habis pikir mengapa pria itu begitu menikmati saat-saat membuatnya kesal.
"Anda terlalu berlebihan. Saya tidak berharap sebanyak itu, your Majesty. Saya tahu tempat saya. Mungkin pujian itu lebih tepat untuk Miss Lancaster." Tidak ada ketakutan dari nada suara Hanna, malah kini matanya membulat sempurna.
Terbakar oleh tatapan Hanna, Alex menarik paksa gadis itu untuk menyelinap di dekat bangunan berbentuk istana kecil bagi anak-anak. Menyandarkan punggung Hanna ke tembok, mengungkung tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Harusnya aku tidak pernah bertemu dengan mu lagi. Kau satu-satunya wanita luar biasa yang pernah ku temui. Kau mampu membuatku jatuh cinta padamu, sekaligus mematahkan hatiku di saat yang bersamaan,"
Hanna tertunduk. Mendengar kata cinta dari bibir Alex membuat pertahanan hancur. Bahkan kalau menuruti keinginan hatinya, dia ingin melemparkan dirinya dalam pelukan pria itu. Namun, di kejauhan, dia melihat siluet Iris Lancaster yang baru saja masuk ke dalam rumah, mungkin gadis itu mencari Alex.
"Lepaskan aku. Kau terluka atas penolakan itu, atau justru sangat menantikan putusnya hubungan mu dengan keluarga Jhonson?" tantang Hanna mengingat kalau setelah selesai pemutusan status pertunangan itu, Alex justru keliling dunia dengan kekasihnya.
"Tutup mulutmu, kau tahu betul aku terluka akan sikapmu. Kau pikir aku pergi bukan karena semua masyarakat di holy mengatakan kau hanya mempermainkan ku, aku yang begitu bodoh menyatakan cinta padamu, padahal kau mencintai si bodoh Malory itu!"
"Will?" Hanna hampir saja melupakan pria itu. Tunggu dulu sudah berhari-hari mereka di London, mengapa tidak sedetik pun Hanna mengingatnya? Bahkan Hanna tidak merasakan rindu pada pria itu!
"Ya, William Malory! Karena itu kan kau menolak ku?!"
Tidak mungkin menjelaskannya lagi pada pria itu, bahwa setelah ciuman terakhir mereka pada malam debutnya, dia sudah tidak merasakan apa pun pada Will. Bahkan saat itu pula dia yakin kalau hatinya sudah mulai menyukai Alex, namun demi janjinya pada Catherine, dia harus menjaga jarak dan bersikap dingin pada Alex, sialnya justru berujung pemutusan pertunangan.
"Apa sekarang penting? tidak lagi. Kau lebih baik dengan Miss Lancaster!" umpatnya kesal. Mengingat betapa beruntungnya gadis itu bisa menikmati kebersamaan dengan Alex sekian lamanya.
"Sama sekali tidak. Kalau pun Will tidak jadi melamar ku, aku pasti akan mendapatkan calon suami, sebelum usia menikah ku berakhir."
"Kau tidak cemburu, tapi wajah mu memerah," pancing Alex tersenyum mengejek.
"Dasar brengsek! Sudah aku bilang, aku tidak cemburu!" Hanan berusaha mendorong dada Alex agar diberi jarak. Dia harus menyelamatkan jantungnya, kan?
"Kau mau tahu bagaimana aku menyentuh nya?"
"Hentikan, dasar pria brengsek, aku membencimu!" Bola mata Hanna sudah mengabur, sebentar lagi dia akan menangis. Bagaimana mungkin dia menyebut tentang perbuatan mesum mereka di hadapannya.
Alex melihat tatapan sendu bahkan hampir menangis itu, dia kalah. Mata indah itu selalu bisa menyihirnya. Alex menangkup wajah Hanna dengan kedua tangannya, menatap dalam pada netra gadis itu.
"Tidak ada pernah wanita semenarik mu saat ku sentuh, tidak ada wanita yang bisa membuat ku tergila-gila selain dirimu, tidak ada sentuhan yang paling ku inginkan selain sentuhan mu," bisik Alex mengakhiri kalimatnya dengan menyatukan bibir mereka. Ciuman yang dalam, menggoda dan saling mencecap.
__ADS_1
Tubuh Alex terbakar, merasakan panas saat telapak tangan gadis itu melekat di dadanya. Hanya seperti itu saja sudah cukup bagi Alex yang terpenting gadis itu adalah Hanna. Lidah Alex mendesak masuk, menyapu langit-langit mulut Hanna hingga gadis itu menggeliat.
Merasakan getaran luar biasa nikmat, Hanna juga ingin membaginya dengan Alex hingga tanpa malu, gadis itu pun melakukannya pada Alex. Merayu, mengecup, menggigit dan mengh*sap, memainkan lidahnya menyapu langit-langit mulut Alex.
Efeknya begitu nyata, tubuh Alex bergetar menarik tubuh Elin lebih mendekat hingga melekat di tubuhnya. Bahkan tidak kuat menahan getaran yang sudah membakar jiwa, keduanya merosot dengan saling berbagi*tan hingga bersandar di dinding.
Nafas keduanya masih terengah-engah kala Alex melepas ciuman panas mereka. Menenangkan debar jantung dan juga menstabilkan saluran pernapasan mereka yang mulai tercekat.
Hanna menatap sekilas, pandangan mereka bertemu lalu gadis itu menunduk karena malu. Alex yang melihat gadis nya malu, hanya mengulum senyum. Menarik tubuh Hanna untuk bersandar di dadanya. Gadis itu tidak menolak, dia butuh tempat untuk bersandar, tenaganya sudah terkuras habis, tulang nya bahkan terasa linu.
Ciuman dengan Alex selalu menguras tenaganya, namun, anehnya walau lelah dia masih menginginkannya lagi.
"Aku menginginkanmu. Tidak bisakah kita bersama?" tanya Alex mengurai pelukan mereka, menyatukan kening mereka hingga Hanna bisa merasakan wangi mint dari hembusan nafas pria itu.
"Terlalu banyak penghalang diantara kita. Kau hanya menyukai ku sesaat, itu bukan cinta, sementara aku ingin dicintai."
"Dasar bodoh, harus dengan apa lagi aku mengatakan kalau aku mencintaimu?"
"My Lord,"
"Alex," ralat Alex meminta Hanna untuk memanggil namanya saja tanpa embel-embel gelar kebangsawanan.
"Aku tidak ingin disebut perebutan kekasih orang lain. Saat ini kau sedang bersama Miss Lancaster, begitu pun aku saat ini masih berstatus kekasih Will. Walau aku tidak yakin orang tuanya akan menyetujui hubungan kamu, tapi tetap saja aku harus menghargai Will hingga kejelasan itu," terang Hanna berharap pria itu akan mengerti.
"Dengan kita berciuman begini, apakah itu caramu menghargai Malory?"
"Dasar sialan, kau yang memulainya. Kau memancing diriku, remember?"
"Tapi kau menikmatinya, my Lady!"
__ADS_1