My Crazy Lady

My Crazy Lady
Perkenalkan


__ADS_3

Izin promo ya..


novel terbaru


“Bergegaslah, kita akan kedatangan tamu besar hari ini!” Ibu Santi memberi perintah diambang pintu sambil menepuk-nepuk tangannya.


Dari depan cermin Rosalin bisa melihat dandanan wakil pemilik panti itu hari ini terlalu menor, tidak seperti biasanya. Mungkin karena tamu yang diumumkan tadi malam oleh ibu panti, akan datang hari ini. Elin berpikir sejenak, sepenting apa tamu itu hingga harus bersiap seperti ini? Bukankah setiap hari banyak juga tamu, baik relawan, donatur atau pun yang ingin mengadopsi anak panti yang datang ke sini, lalu seberapa spesial yang akan datang ini?


“Rosalin, segera selesaikan rambut ikal mu itu!” Perintah ibu Santi yang tidak sabar melihat tindakan Elin yang hanya menyisir rambutnya dengan malas.


“Please, Lin, jangan di bantah,” bisik Siera, gadis yang berhati lembut itu. Elin menurut, itu karena Siera yang minta, kalau orang lain, Elin pasti akan mendatangi dan menarik bajunya.


Semua anak sudah berkumpul di aula. Semua anak yang tersisa di panti ini berjumlah 120 orang dengan usia yang paling tua 15 tahun.


Sesuai aba-aba dari ibu panti, bahwa mereka semua harus bersikap ramah, sopan dan santun. Keluarga yang akan datang ini adalah salah satu donatur terbesar yang dimiliki panti asuhan Bina Kasih ini.


Elin memicingkan mata, melihat banyaknya pria berjas hitam, lengkap dengan dasi dan sepatu hitam berkilat.


“Sepertinya mereka keluarga terpandang ya, Lin?” Siera memanjangkan lehernya ingin segera melihat rombongan itu. Bahkan untuk menyambut kedatangan mereka, ibu panti menolak permintaan orang yang ingin berkunjung ke panti hari ini.


“Lin, apa kau tidak mendengarku?” ulang Siera.


“Aku dengar,” sahut Elin malas. Kalau semua orang sedang antusias menyambut keluarga kaya raya itu, Elin justru mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan Juna. Anak itu tidak ada.


Kemarin malam, Juna dibawa kepala lingkungan ini karena kedapatan mencuri di bengkel motor yang ada di ujung gang ini. Dengan wajah babak belur, Juna diseret oleh pemuda setempat kembali ke panti.


Oleh ibu panti, Juna kembali di hukum, dipukul dan di kurung, dan tentu saja tanpa makanan.


“Mereka tiba, Lin. Lihat...,” bisik Siera tertahan saat melihat seorang pria yang berumur kurang lebih 15 tahun, berjalan bersama seorang wanita paruh baya yang ditebak Siera adalah nenek anak itu. Di sisi kiri dan kanannya ada sepasang suami istri yang wajah mereka mirip dengan anak lelaki itu.


Bukan melihat ke arah yang ditunjuk sahabat, Elin justru menunduk menatap meja kayu yang begitu banyak corat-coret maha karya anak-anak panti.


Satu jam ke depan, acara itu di isi dengan perkenalan keluarga kaya yang ternyata sejak ada panti ini sudah menjadi donatur terbesar. Lalu ada sesi pemberian hadiah, dan juga permainan, bagi yang bisa menjawab akan di berikan hadiah ekstra.

__ADS_1


Muak dengan segala rangkaian rentetan acara, Elin menyelinap keluar. Dia ingin mencari keberadaan Juna. Dugaannya tepat, anak itu di kurung di ruang bawah, tempat gudang barang bekas panti.


Kesal tidak bisa masuk, Elin memilih untuk menghirup udara siang itu. Pohon mangga rindang tempat biasa Juna dan dirinya beristirahat menjadi pilihannya. Di batang pohon itu, Juna juga mengukir nama mereka sebagai pengikat kalau mereka akan selalu bersama.


Tidak peduli dengan gaun putihnya yang pagi tadi diberikan Bu Santi untuk dipakainya akan kotor, Elin duduk di tumpukan rumput kering, bersandar di batang pohon dan memejamkan mata.


Lima menit berlalu, belaian angin siang itu membuatnya tertidur, hingga tidak menyadari seseorang tengah menatapnya dari jarak dekat.


Bocah itu bahkan sudah berjongkok di hadapannya. Menatap gadis itu sembari mengulum senyum.


Entah apa yang dipikirkan anak itu. Dia hanya izin keluar untuk menghirup udara segar karena sesak di dalam sana. Melihat gadis kecil tertidur di pohon itu membuatnya tertarik untuk melihat.


Ada yang aneh dengan gadis itu. Melihat wajahnya membuat hatinya tenang. Wajah polos itu mengandung banyak cerita yang bisa dilihat dari guratan di keningnya, bahkan saat tidur pun dia gelisah.


Semakin lama wajah itu tampak tertekan, kegelisahan terus tergambar di wajahnya. Bocah laki-laki itu tebak, gadis itu tengah bermimpi buruk.


“Hei..., bangun. Kau baik-baik saja?”


“Siapa kau?” tanyanya menarik kedua kakinya yang tadi berselonjor bebas di atas rumput.


“Aku Auriga. Namamu siapa?”


“Ada urusan apa kau di sini? Apa kau bersama rombongan keluarga kaya itu?” tanya Elin menyelidik. Pakaian rapi Auri menandakan tebakan Elin benar.


“Iya. Aku...”


Kalimat Auri mengambang diawan, tak kala melihat Elin sudah bangkit berdiri, tanpa mengatakan apa pun, pergi meninggalkannya.


“Tunggu, boleh aku tahu namamu?” Auri coba mengejar langkah Elin.


“Kau tidak perlu tahu namaku. Lagi pula aku tidak ingin memberitahukannya. Jangan mengejarku,” hardik penuh kesal.


***

__ADS_1


Kedatangan keluarga itu ternyata membawa keuntungan besar buat panti asuhan Bina Kasih .


Berulang kali ibu panti memuji Siera, karena berkat gadis cantik itu anak-anak panti kini bisa bersekolah di yayasan La Lumiere yang berada tidak jauh dari panti asuhan itu.


“Berterima kasihlah pada Siera. Kalau bukan karena dia, kalian tidak akan bisa menikmati bangku sekolah,” ucap ibu panti berulang-ulang.


Sejak saat itu, semua anak yang sudah berusia cukup untuk sekolah memulai mengenyam pendidikan.


Waktu berjalan cepat, hari-hari Elin selalu dipenuhi dengan kegiatan sekolah. Namun gadis itu hanya menjalaninya dengan setengah hati karena Juna tidak ada bersama mereka.


Juna yang memang sudah terlambat masuk sekolah, tidak di daftarkan oleh ibu panti. Dia malah diminta untuk membantu pak Sugeng, penjaga panti yang juga tinggal di sana, bekerja menjadi buruh bangunan bersama beberapa anak lainnya.


“Ayolah, Lin, kita harus masuk” bujuk Siera. Namun Elin yang saat itu sudah masuk kelas satu SMA memilih untuk tidak mengikuti kelas. Baru dua hari dia memakai seragam putih abu-abunya.


“kau aja yang masuk ya, Ra. Aku mau cari Juna,” ucapnya tanpa menunggu jawaban Siera, Elin sudah bergegas pergi.


Sudah dua hari Juna mendiaminya. Pria itu marah karena Elin sejak sekolah lebih banyak menghabiskan waktu dengan Siera dan berteman dengan teman-teman di sekolahnya.


“Untuk apa kau kemari?” hardik Juna yang juga melarikan diri dari tempat bekerjanya.


“Aku ingin menemuimu. Juna, aku mohon jangan marah lagi padaku. Aku tidak akan berteman dengan mereka lagi,” ucapnya memelas.


“Ini...” Elin menyerahkan selembar uang 50 ribuan pada Juna.


“Dari mana ini?”


“Aku dapat, upah mengerjakan tugas teman sekolah”


Juna menerima uang itu, sekaligus menarik tangan Elin, pergi dari sana. Bersama mereka tertawa, bergembira seolah dunia ini akan indah dengan selalu berdua.


Kenyang mengisi perut, mereka berjalan menuju taman yang banyak ditanami bunga liar yang indah. Juna duduk bersandar di bawah pohon rindang, menjulurkan kakinya. Dengan senyum mengembang, Elin akan merebahkan kepalanya di paha pria itu.


Tidak ada kata, keduanya diam menutup mata. Jari tangan yang saling bertautan cukup menjelaskan kepemilikan mereka satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2