
Tin... tin...
Hanna sudah bisa menebak klakson mobil siapa itu, tanpa harus melihat pengendaranya. Senyum Hanna terbit. Dia memang bukan sengaja menunggu Davlin, tapi berharap bisa bertemu pria itu.
"Pagi, Bos," sapa nya ramah. Tersenyum lebar hingga barisan gigi putihnya terlihat.
"Kesambet, Lo? tumben nyapa gue!"
"Nah, kan. Ramah salah, jutek salah. Serba salah deh Barbie di mata Ken," ucap mengerucutkan bibirnya, namun setelahnya tersenyum lebar sambil mengedip- edipkan matanya.
"Dasar aneh, masuk lo!" ucap Davlin dengan wajah memerah. Entah jin apa yang masuk ke dalam diri gadis itu hari ini, tapi Hanna terlihat lebih ceria, lebih bersemangat.
"Apa?" Tanya Hanna menoleh ke arah Davlin yang sejak tadi melirik ke arahnya sejak tadi. Pria itu melirik tajam ke arah tangannya, lalu menatap lurus lagi ke depan, fokus ke jalan.
Tidak ada jawaban dari pria itu. Dia hanya diam fokus pada jalanan. "Makasih, Bos," ucap Hanna tersenyum, keluar dari mobil. Davlin tidak menggubris, hanya diam dengan menekuk wajahnya.
"Hanna," Panggil Aril yang baru memarkirkan motornya. "Bareng." Davlin hanya bisa melihat dengan geram keduanya melangkah masuk ke kantor.
***
"Wajah lo kenapa sih? ditekuk begitu?"
"Diam, Lo! gue lagi kesal!"
"Kesal kenapa? alah, paling juga karena Hanna cuekin lo kan?"
Jawaban yang di dapat justru berupa lemparan berkas yang baru di tandatangani nya. Mood Davlin semakin buruk hingga menjelang pulang kerja. Bahkan dia tidak ingin pulang bersama Hanna. Satu jam sebelum jam pulang kerja, Davlin sudah pulang.
Seperti belum cukup kekesalan yang menderanya hari ini, ban mobilnya pecah, tepat di jalan yang sepi di lalui kendaraan. Sampai di situ, tentu saja tidak, urusan mengganti ban belum selesai, hujan deras tiba-tiba mengguyur Davlin sore itu.
***
Hanna menoleh ke belakang untuk kesekian kalinya, tapi mobil yang tunggu tak juga muncul. Ia melirik sekilas pada jam dipergelangan tangannya. Sudah hampir pukul delapan malam. Hanna terpaksa memilih naik ojek online.
"Ada apa kau kemari?" tanya Sari yang melihat Hanna mendekat ke ruangan Davlin. Di tangannya dia memegang Tote bag tempat bekal yang sudah sejak subuh dia siapkan. Pagi itu, Hanna berencana membuat bekal untuk Davlin sebagai bentuk perdamaian mereka.
"Mmm... Mbak Sari, apa pak Davlin ada?" tanya Hanna malu-malu. Dia sengaja datang sebelum tepat jam makan siang, agar bisa ketemu pria itu sebelum keluar makan siang.
__ADS_1
"Pak Davlin gak masuk," ucap Sari ketus. Dia kesal pada Hanna karena merebut perhatian Aril.
Mengerti kalau Sari tidak suka, membuat Hanna mundur perlahan. "Kenapa pria kekar itu tidak masuk kerja?" gumamnya masuk ke dalam lift menuju ke pantry.
Penuh semangat, Hanna meletakkan tasnya, lalu masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri secepat mungkin. Memilih gaun santai namun sangat membuatnya menawan.
"Apa yang kau cari?"
"Ma, gak ada buah apa gitu? kue atau apa buat jadi buah tangan?" tanya Hanna sibuk membongkar isi kulkas.
"Buat siapa?"
"Davlin. Dia gak masuk kerja. Aku takutnya dia sakit, kan ga enak menjenguk orang sakit ga bawa apa-apa," ucap nya berdiri berkaca pinggang. Tidak ada satu pun yang bisa dijadikan oleh-oleh. Lalu matanya menangkap apel Fuji yang besar di atas meja makan, lalu menyambar dengan cepat dan segera berlari ke luar rumah.
***
"Eh, non Hanna. Masuk, Non," sapa bi Nah yang kali ini mengurus rumah keluarga More.
"Davlin ada, Mbak?" tanya Hanna bersemangat.
"Ada, Non. Tuan lagi demam. Dari tadi tidur terus di kamar."
"Oh, ibu lagi ke Singapura, Non."
"Kalau begitu, aku izin ya, Bi. Aku lihat bentar." Hanan sudah naik ke atas berdiri tegak di depan pintu kamar pria itu. Menenangkan debar jantungnya yang juga mulai bertalu.
Kenapa sih, jantung ku selalu berdebar saat akan berhadapan dengan Davlin!
Tok... tok.. tok...
Tidak ada jawaban. "Mungkin dia sedang tidur," cicitnya, memutuskan untuk masuk saja ke dalam. Pria itu memang ada di sana, berbaring telentang di tempat tidurnya.
"Bos, Pak Davlin. Davlin...," cicitnya mendekat, tapi pria itu seperti mayat tidak ada reaksi.
"Davlin...," bisik nya menundukkan tubuhnya mendekat ke wajah Davlin yang masih tertidur.
"Tampan banget sih, ini manusia apa dewa Yunani, sih? kok sempurna banget," cicitnya terus mengamati dengan jantung berdebar.
__ADS_1
"Kau tampak terpesona dengan wajah ku, ya?" desah pria itu dengan mata setengah terbuka.
"Hah? kau sudah bangun? katanya kau sakit? aku datang mencarimu, tapi Mbak Sari bilang kau gak masuk," ucap Hanna berdiri dengan kikuk. Pria itu kembali menutup matanya, namun Hanna tahu Davlin tidak tidur.
"Kau keringatan, hingga bajumu basah," ucap Hanna mengambil tisu, ingin menyeka keringat di kening Davlin, namun saat tangannya menyentuh kulit pria itu, Hanna tersentak.
"Demam mu, tinggi sekali. Kau harus ke dokter," ucapnya mendekat.
"Bantu aku mengganti bajuku," ucapnya masih dengan nada bossy nya. Namun, Hanna tidak ingin mendebat. Dia langsung mengerjakan perintah pria itu.
"Buka matamu. Jangan bilang kau belum pernah melihat dada ku, ini sudah kali ke berapa," hardik Davlin dengan suara parau.
"Iya, tapi tetap aja aku malu."
"Kau tahu aku sedang sakit, begini caramu merawat orang sakit? ambilkan bajuku," perintahnya menunjuk lemari itu. Hanna pun membantu mengenakan pakaiannya. "Aku haus."
"Ini sudah tidak hangat, sebentar aku ambil dari dapur," ucap Hanna turun dan mengambil minum untuk Davlin.
Air hangat itu tampaknya mampu menawar dahaga Davlin. Satu gelas air putih itu ludes seketika. Dengan santai menyodorkan gelas itu pada Hanna.
"Dih," ucapnya kesal, melihat tajam ke arah Davlin, karena selalu memerintah nya dengan gaya penguasa pria itu, mengambil gelas itu dan meletakkan di atas nakas. Matanya tertegun kala melihat benda yang sangat familiar baginya. Diambilnya benda itu, diamati dengan penuh minat.
"Ini?" tanyanya dengan wajah terkejut, menatap ke arah Davlin. Namun, pria itu hanya melirik sekilas, lalu memejamkan mata.
"Ini punya mu?" tanya Hanna tidak peduli dengan sikap yang mungkin kurang pantas. Duduk di tepi tempat tidur dan menunjukkan gelang itu tepat di wajah Davlin.
"Jawab, Dav. Ini punyamu?" Davlin yang ditarik wajahnya untuk mengamati benda itu hanya menyeringai, lalu menyambar gelang itu dari tangan Hanna dan melemparkan ke Semarang tempat.
Masih belum pulih dari rasa terkejutnya, Hanna bangkit dan memungut benda itu. ,"Jadi kau yang memberikannya padaku?"
"Apa itu begitu penting sekarang? kau tidak menyukainya kan? buang saja!" Davlin kembali menyambar gelang itu, namun ditahan Hanna. "Jangan dibuang."
"Tidak ada gunanya!" Keduanya saling menarik, hingga hanya terseret jatuh menimpa tubuh Davlin, tepat bibir keduanya menyatu.
***
Mampir kak 🙏
__ADS_1