
"Segera lah pulang!" kalimat ibunya terus saja menggema di telinganya. Kepanikan kini menjalari hati dan pikirannya. Dia sudah mendesak ibunya untuk mengatakan hal penting apa yang membuatnya harus segera pulang dan dikatakan dengan suara ketakutan seperti itu.
Tanpa pikir dua kali, Hanna izin pada Ara, menitipkan absennya, dan segera pulang. Saat itu masih pukul dia siang. Matahari sedang bersemangatnya memanggang siapa saja yang berkeliaran dijalan. Sialnya, Hanna ada di sana, berdiri menunggu angkutan umum yang lewat.
Sudah sejak 15 menit lalu memesan ojek online tapi hingga saat ini belum juga muncul. Terpaksa Hanna naik angkutan umum. Tidak beberapa lama, bus yang penuh sesak anak sekolah. Hanna naik, dan tentu saja tidak mendapatkan tempat duduk. Walau anak sekolah yang mendominasi, tapi masih ada juga beberapa orang penumpang umum.
Penuh sesak, dan bising. Kalau hanya itu yang menjadi hiasan yang ditawarkan di dalam, masih bisa ditolerir nya, tapi dengan adanya pria-pria sangar yang selalu mengintai tas penumpang, menjadi penolakan terkuat bagi Hanna untuk naik angkutan umum.
Hanna memegang erat salah satu sandaran kursi yang menjadi tumpuannya semenjak naik. Si empunya kursi entah sejak lama ada di bus itu, penumpang yang berjenis wanita dan sudah tua itu tengah terlelap dengan nyenyak nya, bahkan sampai mendengkur.
Dorongan dari belakang yang berlangsung tiba-tiba membuat Hanna tersentak menoleh kebelakang, salah satu kawanan preman itu sudah ada di belakangnya, yang Hanna sempat ketangkap basah ingin memasukkan tangannya ke dalam tas sandangnya.
Munculnya seorang pria yang berdiri tepat di belakangnya, membuat pria jahat itu terhalangi untuk melancarkan niatnya. Tangan pria itu juga memegang sandaran kursi, secara tidak langsung memeluk tubuh Hanna, caranya melindungi gadis itu. Terbukti pria itu mundur, karena postur tubuhnya juga menjadi bahan pertimbangan bagi si preman.
Bus berhenti, Seorang penumpang turun, dan sepertinya pria penolongnya juga sudah tiba di halte yang ditujunya. Entah dorongan dari mana, Hanna seperti terhipnotis, ikut turun bersama pria itu.
Berdiri di sampingnya, membuat Hanna terlihat semakin pendek. Sebenarnya dia sendiri bingung, entah mengapa dia mengikuti pria yang namanya saja dia tidak tahu.
"Habis lah aku. Dimana ini?" batinnya celingak-celinguk. Mengamati Medan yang jarang dia lewati ini. Kalau dia dijemput atau naik ojek online, dia pasti lewat dari arah yang lain.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" suara itu mengejutkan nya. Hanna sontak menoleh. Bimbang harus bersikap bagaimana.
"Eh.. iya, mau ke jalan Sudirman," sahutnya pelan. Tidak ada yang mampu dia katakan lagi.
"Harusnya kau berhenti di halte berikutnya, bukan di sini." Suara pria itu dingin, dan juga tegas. Bolehkah Hanna berpendapat kalau pria itu sangat tampan? karakter nya membuat Hanna membayangkan film mafia yang dia sering tonton.
"Kalau begitu, aku naik taksi online saja," sahut Hanan kemudian. Mengapa dia menjadi gemetar di dekat pria itu. Sebaiknya dia memang harus segera pergi dari sini.
Hanna memesan taksi yang beruntung diterima. Kurang dari 15 menit lagi, taksinya akan tiba. "Mmm.. Terima kasih ya, tadi sudah nolongin aku." Sepintas Hanna menatap wajah itu, tapi tajamnya mata elang itu, membuatnya segera menunduk kembali.
"Sama-sama. Kau sepertiganya belum pernah naik angkutan umum. Sekali lagi, perhatikan tasmu. Mereka menyukai dompet dan ponselmu!"
Taksi melaju, Hanna melirik lewat jendela taksi dengan ekor matanya. Pria itu masih di sana, menatap taksinya hingga batas tidak terlihat lalu beranjak pergi.
***
"Kenapa kau lama sekali? aku sangat takut, kak," ucap Cathy menyambut kedatangannya. Wajah panik, dan mata sembab menjadi jawaban kalau sejak tadi Cathy pasti menangis.
"Ada apa?" Hanna kini semakin panik. Ada apa lagi ini. Baru saja keluarganya mendapat musibah, kini perasaannya mengatakan kalau mereka dihadapkan dengan masalah lain lagi.
__ADS_1
Cathy tidak menjawab, sebaliknya menyeret Hanna menuju kamar orang tua mereka. "Papa..." pekiknya menutup mulut. Hampir saja Hanna tidak mengenali papanya. Wajah pria itu tampak lebam di beberapa tempat, dengan sudut bibir koyak dan juga mata yang sudah membiru di sekitarnya.
Ema yang duduk di samping Stuart, kembali menangis melihat wajah putri sulungnya yang begitu terluka melihat wajah Ayahnya.
"Sayang, papa mu," ucap Ema tidak sanggup meneruskan ucapannya. Kembali menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Siapa pelakunya, Pa? kenapa bisa sampai begini?"
"Ini semua karena rentenir yang dipinjami papamu. Pinjamannya sudah jatuh tempo, dan minta papamu untuk membayar. Kita sudah tidak punya uang, jadi mereka memukul papamu sebagai peringatan," terang Ema menahan desakan ingin menangis lagi.
Dia harus jadi penguat bagi suami dan kedua putrinya. Jika dia terus menangis, putrinya akan merasa sedih dan tertekan, menganggap keluarga ini tidak punya tiang sandaran.
Tubuh Hanna jatuh, terduduk lemas. Bersyukur karena ayahnya tidak terluka serius, tapi hancur mengetahui keadaan keluarga mereka saat ini sedang kacau. Meminjam uang dari rentenir adalah keputusan yang keliru.
Bunga pinjam akan jauh lebih besar dari pokoknya, dengan tenggang waktu yang sangat cepat hingga membelit leher. "Untuk apa papa pinjam uang?" tanya Hanna lemas. Tidak ingin menyalahkannya lebih jauh.
"Demi membeli lukisan itu, papa memberanikan diri meminjam uang dalam jumlah besar. Papa pikir, setelah teman papa mengirim sisa bayaran lukisan itu, akan papa pulangkan, tapi kenyataannya.."
Hanna bangkit dari sujud nya. Dia sebagai anak tertua harus pasangan badan. Mungkin duit di tabungannya bisa membantu. "Berapa banyak yang papa pinjam?"
__ADS_1
"700 juta, Han..."