
Malam itu menjadi malam yang panjang dalam sejarah hidup Hanna. Kesedihan dan juga kecewa berbalut menjadi satu. Dia paham mungkin karena kalut, Davlin yang memang tempramental menampar wajahnya. Pria itu tidak sempat meminta maaf, karena Hanna sudah lebih dulu berlari meninggalkan dirinya yang masih termangu menatap telapak tangan yang tadi dia gunakan untuk memukul Hanna.
Dari tempatnya, Davlin yang sudah kalap itu hanya bisa melihat kepergian Hanna yang berlari meninggalkannya.
Tersadar atas apa yang telah dia lakukan, Davlin hanya bisa menyesali perbuatannya, memukul batang pohon yang ada di sana.
Dorongan untuk mengejarnya ada namun, kembali ponsel Davlin berdering, kali ini dari Reta.
"Ada apa, Ma?"
"Kamu dimana? cepat ke rumah sakit!"
***
Iris berbaring lemah. Dokter bilang, kanker itu sudah menjalar di seluruh tubuhnya. Tidak akan ada gunanya lagi, kalau pun dilakukan tindakan operasi.
Purnomo, ayah Iris duduk dengan lemah, memegangi tangan putrinya yang belum sadarkan diri. Melihat kedatangan Davlin, Purnomo berdiri, memeluk Davlin penuh kesedihan. "Iris pingsan, Dav. Apa yang harus kita lakukan?" ucapnya dengan suara tercekat.
"Kita tunggu dulu keterangan dari dokter, Om." Davlin berkata lirih. Dia menenangkan orang lain sementara hatinya saat ini juga sedang dalam keadaan tidak baik. Hati dan pikirannya terus tertuju pada Hanna, menyesali perbuatannya yang sudah melukai pipi gadis itu. Pantaskah dia disebut pria? cinta yang terlalu menekan pasti tidak akan baik ujungnya.
Harusnya dia tidak melakukan perbuatan terkutuk itu. Harusnya dia bisa membujuk Hanna, bukan malah menekan dengan sikap arogansinya. Selama ini memang dia bertindak semaunya. Tidak ada yang tidak didapat dengan kuasanya.
Dokter yang menangani Iris keluar saat Davlin menenangkan Purnomo. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"
"Pasien sedang tertidur. Pernafasan sudah stabil. Untuk sementara dia harus di rawat di rumah sakit."
"Baik dokter. Saya mohon, lakukan apa pun yang bisa menolong anak saya." Purnomo menyatukan kedua telapak tangan di dada. Dokter sudah pamit, bersamaan Reta datang.
"Aku turun bersedih, atas apa yang menimpa putrimu, Mo," ucap Reta mengelus lengan pria paruh baya itu. Keduanya adalah teman lama yang sudah seperti saudara sendiri.
__ADS_1
Sejak kecil tinggal dilingkungan yang sama hingga berpisah saat merantau mencari pekerjaan hingga menjalani kehidupan masing-masing.
"Reta, bagaimana masalah yang kita bicarakan tadi?" Purnomo mendongak, menatap wajah Reta yang menjulang tinggi dari tempat duduknya.
"Itu, aku tidak bisa mengambil keputusan. Semuanya aku serahkan pada Davlin. Apa pun keputusannya, aku hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik. Itu lah tugas orang tua, kan?"
"Ada apa mama? Om?" tanya Davlin bingung.
Purnomo memandang Reta, meminta persetujuan untuk mengatakan yang telah mereka diskusikan sebelumnya. Davlin yang merasakan ada sesuatu yang berhubungan dengannya, menaikkan satu alisnya. Menunggu penjelasan dari keduanya.
"Davlin, kemarin om Purnomo meminta izin dari mama. Beliau meminta kau mau menikahi Iris."
"Apa?"
"Iya, Dav. Kau tahu sendiri bagaimana keadaan Iris, dan kalian juga adalah sepasang kekasih, kenapa tidak sekalian aja kalian menikah?"
"Tapi hanya dengan mu Iris bisa bahagia. Aku mohon, Dav!"
"Maaf, Om. Aku gak bisa. Aku mencintai gadis lain, dan aku tidak ingin menyakiti hatinya lebih banyak lagi!"
"Siapa?" Reta terlihat antusias. Baru kali ini anaknya itu mengakui dia tengah mencintai seorang gadis. Selama ini bagi Davlin, wanita hanya untuk bersenang-senang, bahkan dia tidak mengingat siapa saja yang jadi teman kencannya.
"Nanti aku cerita, Ma. Intinya, apa pun yang terjadi, aku gak bisa menikah dengan Iris!"
"Maaf, pasien sudah sadar. Keluarga sudah boleh menemuinya," potong salah satu perawat yang baru keluar dari ruangan Iris.
Mereka akhirnya menghentikan perdebatan itu, dan masuk ke dalam kamar rawat inap Iris. "Davlin," panggil Iris dengan suara lemah. Mengulurkan tangannya agar digenggam pria itu.
Davlin bergeming, namun kala melihat wajah sendu seorang ayah memohon padanya, tidak punya pilihan lain, Davlin pun menerima uluran tangan itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu? kenapa bisa jatuh pingsan?" tanya Davlin duduk di samping ranjang.
"Itu karena kau menjauhiku. Kau tahu aku bisa merasakan kalau kau menjaga jarak dengan ku."
Ada luka yang tersirat dari nada bicara Iris. Wajahnya pucat pasi, seperti seseorang yang kehilangan sumber kebahagiaannya.
"Kau harus kuat, Nak. Cepat sembuh. Jangan buat papa khawatir." Purnomo yang berdiri di depan tempat tidur menatap sendu putrinya. Suara bergetar saat berbicara menandakan kalau dirinya sedang berusaha untuk menahan laju air matanya.
"Maaf kan aku papa. Tante Reta terima kasih sudah menjagaku," ucap Iris tersenyum. Reta hanya mengangguk. Dia menyayangi Iris. Tapi dia juga tidak ingin ikut campur urusan Davlin. Kalau memang anaknya sudah punya pilihan sendiri, maka dia akan mendukung, pilihan anaknya itu, sekalipun harus mengecewakan Purnomo dan putrinya.
"Cepat sembuh, Iris. Kau harus tetap semangat," ujar Reta mengelus lengan gadis itu.
"Papa, Tante, bisakah tinggalkan kami berdua? ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Davlin."
Untuk sesaat Purnomo menimbang, apakah baik meninggalkan mereka berdua. Bukan apa, Purnomo hanya takut kalau Davlin dengan tegas menolak putrinya, saat Iris ingin mengatakan niatnya.
Sore itu, Purnomo yang kebetulan pulang cepat dari kantor, menemukan putrinya pingsan di lantai dekat ranjangnya. Satu gelang terbuat dari titanium berada di telapak tangannya yang membuktikan benda itu sempat dia genggam. Penasaran Purnomo yang sudah menggendong Iris ke atas tempat tidur, mengambil dan melihat bagian dalam gelang itu ada satu nama terukir, dan itu bukan nama putrinya. Purnomo berinisiatif menyimpan di nakas. Dia tebak, benda itu lah yang menjadi dasar dari dirinya pingsan.
Hanya tinggal mereka berdua yang ada dalam ruangan itu. Sepi, tanpa ada seorang pun yang mau buka suara. Kesepian itu hanya terpecahkan oleh bunyi dari monitor yang disambungkan ke tubuh Iris.
"Aku merindukanmu," gumam Iris. Sudah sejak tadi melepas genggaman tangannya pada Davlin. Gadis itu juga sudah meminta Purnomo memutar ranjang sebelum pria itu keluar tadi, agar punggungnya bisa sedikit tegak, dan membuatnya nyaman. Tubuh Davlin membeku, dia harus menyelesaikan ini secepatnya!
"Iris... aku ikut sedih atas apa yang menimpamu. Aku juga ingin kau cepat sembuh. Tapi aku..,"
"Aku menemukan gelang itu!" potong Iris.
"Hah?" Davlin menatap Iris. Dia pikir gadis itu tengah mengigau atau asal bicara.
"Gelang yang kau beli di Inggris." Sebuah senyumnya mengembang. "Sepasang gelang yang sengaja kau pesan di toko antik. Gelang yang bukan milikku. Gelang yang kau peruntukkan bukan untukku. Gelang yang di dalamnya ada sebuah nama. Hanna!" ucap Iris mengedipkan mata hingga air mata yang sudah sejak tadi dia tahan jatuh di pipinya. Semua tampak gelap, menyakitkan dan perlahan membunuhnya.
__ADS_1