
"Jangan menangis. Aku ada di sini," bisik Davlin yang berhasil menarik Hanna naik ke atas. Gadis itu masih tampak ketakutan. Terisak pilu.
Namun, tangis Hanna terhenti kalau jemari Davlin menghapus air mata di pipinya. "Jangan nangis lagi, Han. Please," bisiknya saling berhadapan menatap di satu garis lurus. Sunyi, hanya terdengar suara burung yang berkicau.
Sayup-sayup terdengar suara beberapa orang yang memanggil namanya lagi. Menyadarkan keduanya kembali ke dunia nyata. "Naik," ucap Davlin jongkok di hadapan Hanna.
"Dav..." desisnya menatap ragu. Tidak mungkin dia berani naik ke punggung Davlin.
"Ayo, Han. Kau mau terus di sini? Naik!"
Hanna tersihir tatapan itu. Menurut para pun yang diperintahkan Davlin padanya. Sakit dipergelangan kakinya justru tidak diingatnya lagi karena begitu gemetar menyentuh punggung lebar itu.
"Bagaimana kau bisa jatuh ke sana? apa kau menyimpan matamu, hingga tidak bisa melihat?" tanya Davlin terus berjalan menggendong Hanna di punggungnya. Hanya pria itu saja yang tahu bagaimana dirinya begitu khawatir mengenai keberadaan gadis itu. Selama hidupnya, Davlin tidak pernah setakut itu akan sesuatu.
"Hei, jawab. Jangan bilang kau keenakan digendong hingga tertidur!"
Baru saja akan tersentuh oleh tindakan Hero pria itu, kini justru ingin menggeplak kepala pria itu yang bicara seenak udelnya!
"Aku dengar. Aku juga tahu kenapa jatuh. Aku pikir tadi itu jalan rata, tidak tahunya lobang hingga aku tergelincir," terang Hanna memberikan penjelasan.
"Auw," keluhnya saat rasa nyeri itu datang kembali.
"Kau baik-baik saja?" kembali suara Davlin melembut, sama seperti kala pertama kali menemukan Hanna tadi.
"Baik. Hanya sedikit sakit di pergelangan kakiku," jawabnya pelan. Sisa perjalanan keduanya memilih diam. Davlin tampak mempercepat langkahnya, hingga tiba di Villa.
Pemuda itu mendudukkan Hanna di kursi yang tadi ditempati Davlin. "Panggilkan dokter, sekarang juga!" Perintah Davlin tegas pada penjaga Vila nya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Kalau terkilir begini, bukan dokter tapi kang urut, Pak," ucap Sari memberi saran.
"Iya, benar, Pak." Timpal karyawan yang lain. Davlin melihat ke arah kang Maman, lalu kembali melihat ke arah Sari. Menimbang pendapat sekretarisnya.
"Carikan kang urut. Sekarang!" perintahnya tegas pada penjaga vila. Rasa takut kang Maman membuatnya segera berlari mencari orang yang dibutuhkan Hanna saat ini.
Tidak lama, Aril, Haris dan juga beberapa pria yang tadi ikut mencari keberadaan Hanna pun kembali. "Han, kau baik-baik saja?" tanya Aril yang langsung bersujud di dekat gadis itu.
"Aku gak papa, Bang. Cuma keseleo," sahut Hanna. Davlin mengarahkan tatapan marah pada Aril yang sudah berani memegang kaki Hanna. Ingin melerai, namun kedatangan Tari dan temannya yang lain membuat Davlin mengatupkan kembali mulutnya.
"Lo baik-baik aja, Han?" tanya Tari yang mencoba melihat pergelangan kaki Hanna yang memang tampak memerah dan bengkak.
"Kau tidak bisa lihat, kakinya sakit, dia tidak sedang dalam keadaan baik-baik aja!" hardik Davlin tegas. Seketika semua orang diam, tidak ada yang berani mendekati. Kekesalannya pada tindakan sok romantis Aril dilampiaskan pada Tari.
Dokter dan juga kang pijit itu datang bersamaan. Jadilah Hanna seperti orang sedang sakit akut, hingga harus dikerahkan dua orang sekaligus untuk mengobatinya, baik dari segi medis atau pun tradisional.
"Anda tidak apa-apa. Hanya keseleo dan ini resep obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak di kaki," ucap Dokter itu memberi resep pada Davlin karena hanya dia yang ada di dalam ruangan itu.
Hanna yang melihat banyaknya orang disusahkan karena dia, membuat gadis itu merasa tidak enak hati.
"Kang Maman... Kang!" pekiknya tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Tergopoh-gopoh kang Maman mendekat dengan sedikit membungkuk.
"Mana kang pijitnya?"
"Sebentar, Den." Kang Maman segera berjalan ke luar kamar memanggil Bu Tati, kang urut terkenal di daerah ini.
"Maaf ya, Bu. Gara-gara aku, ibu jadi repot," ujar Hanna mengajak ngobrol Bu Yati. Hanna melirik sekilas ke arah Davlin. Pria itu masih ada di sudut ruangan, menatap ke arahnya seolah berpatroli ingin mengawasi apa yang dilakukan Bu Yati pada gadis itu.
__ADS_1
"Gak papa, Neng. Ini kan kerjaan ibu. Punten, Neng. Aden yang itu pacar nya, Neng ya?" ucap Bu Tati tertahan. Takut kalau sampai didengar Davlin. Siapa yang tidak takut melihat sorot mata tajam itu.
"Eh, bukan, Bu. Dia bos saya di kantor," terang Hanna melirik dengan ekor matanya. "Ibu takut, ya lihat dia? seram, ya. Gak ada yang berani dengan dia," cicit Hanna mendekatkan tubuhnya ke arah Bu Tati.
"Matanya udah kayak mata singa ya, Neng. Siap menerkam mangsa," balas Bu Tati yang membuat Hanna tertawa. Tawa yang mengundang keingintahuan Davlin penyebabnya.
"Makasih, ya Bu Tati," ucap Hanna setelah selesai diurut, ingin bangkit, namun segera didorong Davlin hingga Hanna kembali terduduk di sofa. "Aku mau ngantar Bu Tati," ujar Hanna menatap dengan cemberut ke arah Davlin.
"Gak perlu. Kau tetap di sini." Satu teriakan dari Davlin mendatangkan kang Maman segera, meminta mengantar Bu Tati pulang setelah memberikan lima lembar uang merah.
"Kenapa banyak sekali, Den?"
"Sekalian bonus lo udah bisa buat Hanna tertawa hingga tidak merasakan kesakitan ya lagi!" Tentu saja itu hanya diucapkan Davlin dalam hatinya. "Sudah, terima saja, Bu," ucapnya dengan nada yang tentu saja tidak ramah!
"Ris, Harus!" teriaknya lagi. Mendekati pintu kamar, namun tidak ada orang. Semua karyawan yang ikut tengah bersuka ria di halaman rumah, bernyanyi dan menikmati sajian yang ada. Harusnya agenda hari ini mereka akan mengelilingi kota Bogor dengan semua tempat wisatanya.
"Mau apa lagi, Dav. Pak Haris kan tadi kau suruh ke apotik," ucap Hanna tiba-tiba berani. Dia tidak ingin pria itu menyusahkan orang lain hanya untuknya.
"Aku ingin memintanya mengambilkan kau makanan."
"Aku tidak lapar, dan berhenti lah membuat semua orang repot dan susah hanya karena ku," ucap Hanna menatap tajam.
Davlin diam, keduanya kembali terkunci dalam satu sudut pandang. Menatap dalam diam. "Kau harus makan," kembali lagi suara lembut Davlin menyapanya. Kadang Hanna berpikir mungkin pria itu punya kepribadian ganda. Kadang berlaku kejam, namun acap kali bisa berujar lembut yang membuat hati terasa meleleh.
Dada Hanna kini tercekat. Pria itu sudah duduk dihadapannya. Menatap wajahnya lekat. "Kau tahu, aku begitu ketakutan saat teman mu mengatakan kalau kau sudah tergelincir hingga masuk ke dalam kubangan lumpur. Aku begitu ketakutan, dan semakin kalut saat mendapatimu menangis seperti tadi. Aku mohon, tetap lah di sisiku," bisik Davlin menyentuh pipi Hanna lembut.
***
__ADS_1
Hai semua, mampir yuk