My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 51 ( MCL)


__ADS_3

"Sore, Mbak.. Rajin banget, saya perhatikan suka bunga, ya?" suara lembut dari belakang tubuhnya membuat Ema berbalik dan mendapati senyum seorang wanita cantik.


"Oh, mbak Reta. Baru pulang?" tanya Ema melihat penampilan Reta yang masih rapi dan menenteng tas.


"Iya, nih. Banyak kerjaan di rumah sakit, jadi pulangnya sorean," ucapnya seraya tersenyum.


"Mampir dulu, Mbak. Kita ngeteh, yuk," ucap Ema meletakan gunting bunganya, lalu membuka gerbang lebih lebar lagi. Reta masuk dan mengambil tempat disalah satu kursi yang ada di dekat pintu masuk.


"Bentar ya Mbak." Ema masuk dan tidak lama keluar membawa nampan di tangannya. Asap mengepul dari cangkir cantik yang terbuat dari porselen itu.


"Ini?" tanya Reta mengamati kue yang ada di toples.


"Oh, ini nastar yang sama kayak yang kemarin di antar sama putriku, Mbak. Suka ga, Mbak?"


"Diantar kemarin ke rumah?"


"Iya, sama anak gadis saya, Mbak," ucap Ema sedikit mengerutkan kening. Dia jadi ikut-ikutan bingung melihat ekspresi Reta.


"Tapi kemarin Cathy gak ada ke rumah," ucap Reta mencomot satu dan menikmati rasanya yang pecah di mulut.


"Bukan Cathy, Mbak. Tapi si sulung, Hanna.


Untuk sesaat Reta diam. Dia mengurut kejadian, dan segera mengambil kesimpulan kalau yang dimaksud adalah gadis yang pingsan di depan rumahnya kemarin.


"Jadi, gadis yang pingsan kemarin itu putri mbak juga?" tanya Reta terbelalak. Kue itu masih di dalam kulkas, tidak berani untuk di makan Reta walau sangat menggugah selera. Davlin sudah mengatakan semuanya, hingga sampai masa dimana Hanna tiba-tiba sudah menghilang begitu saja.


"Pingsan? Hanna pingsan di rumah, Mbak? pantesan lama. Aku pikir asik ngobrol sama Mbak." Kening Ema berkerut. Wajahnya kini diserang rasa takut kalau Hanna kembali jatuh sakit seperti dulu, pingsan hingga tidak siuman hampir seminggu.


Belum sempat buka mulut lagi, orang yang dibahas muncul. Berjalan bersama Cathy yang baru pulang dari sekolah. "Itu orangnya mbak, panjang umur dia," ucap Ema seraya melambai.


Hanna memicing matanya. Mengapa wajah wanita yang tengah duduk bersama ibunya itu begitu familiar di matanya?

__ADS_1


"Salim sama Tante Reta," ucap Ema yang diikuti patuh oleh kedua putrinya.


"Han, kata tante Reta kau kemarin pingsan di rumahnya waktu ngantar kue?"


"Hah?" Hanna menatap sesaat pada Ema lalu kembali menoleh pada Reta. "Tante, yang tinggal di sebelah? mamanya Alex?" tanya Hanna bersemangat. Wajahnya sumringah bertemu dengan wanita itu.


"Alex? Oh maksud kamu, Davlin?"


"Namanya Davlin?" susul Hanna semakin penasaran. Mungkin saja memang orang yang berbeda hanya kebetulan memiliki wajah yang sama.


"Iya. Davlin More. Hanya dulu memang nama Alex sempat disematkan oleh kakeknya, namun saat buat akte lahir, kelupaan hingga sekarang nama itu tidak digunakan lagi," terang Reta menatap Hanna takjub. Dalam pikirannya menebak apakah Hanna memiliki indra ke-6 hingga tahu mengenai masa kecil Davlin. "Dari mana kamu tahu nama lain Davlin adalah Alex?"


"More? Claymore? apa suatu kebetulan lagi? Oh, Tuhan.. apa rencana Mu untukku?" gumam Hanna dalam hati.


"Oh, aku yang salah orang Tante. Aku pikir dia orang yang aku kenal," sahut Hanna tidak ingin dianggap aneh oleh Reta.


"Tante, maaf ya, kalau kemarin udah buat Tante panik. Kepalaku terasa berat hingga jatuh pingsan. Mmm, bolehkah aku ke rumah Tante untuk mengucapkan terima kasih langsung pada Alex? maksud ku Davlin?" tanya Hanna penuh semangat. Entah itu Alex atau Davlin namanya, dia tidak peduli. Dia sudah memutuskan tujuan nya saat ini adalah mendapatkan perhatian dan cinta Davlin.


"Boleh dong. Tante justru senang, punya teman kalau kamu rajin ke rumah. Gak papa ya, Mbak kalau sesekali Hanna tidur di rumah?" tanya Reta mulai menyukai Hanna yang penuh semangat dan ceria. Tidak seperti putranya yang sangat membosankan, sesekalinya di rumah hanya diam, berkutat dengan pekerjaannya hingga membuat Reta merasa hampa. Sejak dulu juga dia sangat menginginkan seorang putri, ini mungkin jawaban Tuhan untuknya.


"Kalau begitu, aku mandi dulu ya, Tante. Bau keringat baru siap olahraga. Tante ngobrol dulu bareng mama, sembari nunggu aku siap," ucap Hanna tersenyum memohon menunjukkan barisan gigi putihnya yang rapi.


"Jangan bilang kakak mau pedekate sama bang Davlin," ucap Cathy menghentikan langkah mereka dengan menarik tangan Hanna.


"Hah? iya. Jangan bilang kalau kau juga suka sama dia?!" Tiba-tiba Hanna teringat kisah dalam novel, Catherine yang juga adiknya menyukai Alex. Jadi bisa saja kalau di saat ini Cathy juga suka padanya.


"Memang. Gebetan gue itu!"


"Astaga dek, serius?" wajah Hanna seketika layu. Terduduk di salah satu kursi makan yang ada di dekat mereka.


"Tapi tenang saja, udah aku cancel! Dia bukan tipe aku. Cueknya minta ampun. Mana kalau lihat orang udah kayak lihat kecoa lagi, dianggap menjijikkan di matanya," terang Cathy tanpa sadar mengeluarkan unek-uneknya selama ini. Awalnya dia jatuh hati, begitu terpesona dan ingin mencoba mendekati, namun reaksi Davlin padanya yang dingin, membuat Cathy membuang niatnya ke kali Ciliwung.

__ADS_1


"Ah, syukur lah, Dek. Aku pikir kalau kita akan saingan lagi," ucapnya mengelus dada.


"Lagi? memangnya kita pernah memperebutkan cowok yang sama?" tanya Cathy mengingat teman cowoknya yang mungkin disukai Hanna.


"Lupakan. Aku mau mandi, dan bersiap ke rumah Babang tamvan," sahutnya menaiki tangga kamar.


Kalau Hanna punya waktu lebih lama, dia akan memilih berendam terlebih dahulu dengan esensial oil sebelum menyelesaikan mandinya, agar kulitnya lembut, kenyal dan wangi. Dia kan harus memberikan kesan terdalam pada Alex- nya!


Tapi seperti janjinya pada Reta, kalau dirinya hanya mandi sebentar, jadi Hanna memutuskan memakai satu liter parfum saja untuk membuatnya jadi ratu bunga yang wangi.


"Aku sudah siap..," ucapnya sudah berdiri di hadapan kedua wanita paruh baya yang terlihat mulai sangat kompak.


"Ok deh. Kami ke rumah dulu, ya, Mbak. Pinjam anak gadismu. Kalau bisa sih selamanya buatku, jadi putri angkatku aja," celoteh Reta riang.


"Hah? putri angkat? jangan dong Tante. Aku ini putri kesayangannya papa dan mama, gak boleh dong...," sambar nya sembari nyengir yang dilanjutkan terdengar tawa Ema dan Reta berbarengan.


Rumah itu begitu indah. Kemarin kerena buru-buru ingin pergi dari sana, Hanna tidak terlalu memperhatikan interiornya. Kini dia bisa menikmati keindahan isi rumah itu. Di dinding banyak tertempel foto Davlin juga kedua orang tuanya. Sama halnya dengan Alex, ternyata Davlin juga anak tunggal, yang sudah tidak mempunyai ayah.


"Sekarang gantian. Kamu duduk yang manis, nonton di sini sambil ngemil, Tante mandi dulu. Kalau Davlin pulang nya selalu dia atas jam tujuh malam. Jadi, sabar ya, cantik," ucap Reta mencubit gemas pipi Hanna.


Penampilan gadis itu tampak berlebihan sebenarnya kalau hanya untuk berkunjung ke rumah tetangga, apa lagi tetangga samping rumah, dengan olesan lipstik di bibirnya. Namun, dengan gaun baby doll itu, Hanna terlihat menggemaskan, lucu dan imut.


Ini pun karena gaun Cathy yang dia pinjam paksa dari lemari pakaian adiknya. Baju Hanna yang dulu semuanya sangat mengerikan ukurannya. Ia belum sempat membeli gaun baru dengan ukuran tubuhnya yang kini sudah ramping.


Hanna memang kini sangat cantik dan langsing. Tidak akan ada yang menyangka gadis itu adalah putri Jhonson yang dulu menggunakan kawat gigi dan juga kaca mata dengan lemak melekat berjamaah di tubuhnya.


Wajah Davlin yang begitu tampan di foto telah mampu membuat jantungnya berdetak kencang. "Ganteng banget sih suamiku. Jadi malu, nih. Kita udah nikah, loh. Aku panggil kamu dengan panggilan suamiku, ya?"


Ceklek...


"Kau? sedang apa kau di sini? kau mau merampok, ya? katakan siapa yang mengirim mu?" hardik Davlin yang terkejut melihat kehadiran Hanna di rumahnya lagi. Kali ini dia yakin kalau gadis itu adalah salah satu sindikat perampok yang mencoba membobol rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2