
Hidup Hanna kembali tenang. Bahkan bisa dibilang kalau dia dan keluarganya lebih bahagia saat ini. Hanna terlihat sangat bahagia menjalani rutinitasnya, yang sudah mulai akur dengan Catherine, walau tidak seorang pun tahu kalau sebenarnya ada lubang kerinduan bersarang di hatinya untuk seorang pria yang kini keberadaan tidak ada yang tahu.
Enam bulan sejak tragedi malam itu, Alex seolah menghilang di telan bumi. Suatu hari saat Hanna sedang berkunjung ke rumah Julia, gadis itu mendengar kalau Alex saat ini sedang berada di Prancis, menikmati kebersamaannya dengan kekasih hatinya Iris Lancaster.
Harusnya Hanna tidak perduli, lagi pula itu yang terbaik bagi semuanya, tapi mengapa hatinya merasakan sakit?
"Kau melamun, lagi," sapa William menyentuh tangannya. Rencana lamaran yang dijanjikan Will padanya saat itu terpaksa ditunda. Ibunya ingin Will lebih dulu fokus mengurus bisnis ayahnya baru memikirkan pernikahan. Tapi Hanna tebak, itu hanya alasan Lady Kate karena sudah mendengar reputasi Hanna yang sudah terlanjur buruk.
"Oh, tidak. Aku hanya mengamati anak kecil itu," dusta nya menunjuk anak pelayan di rumah Julia yang tengah bermain dengan kakaknya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Will setelah Julia datang menghampiri mereka seusai bersiap-siap.
Hari itu, ketiganya berencana untuk pergi ke rumah buku. Tapi entah mengapa, semangat Hanna hilang.
"Will, aku minta maaf. Tiba-tiba kepalaku pening. Bisakah kau pergi dengan Julia?"
"Kalau kau sakit, biar aku antar pulang," saran Will beranjak dari kursinya. Berjongkok di samping kursi gadis itu.
"Will benar. Kita batalkan saja rencana hari ini," sambar Julia setuju.
"Hah? jangan. Tidak usah. Kalian pergi saja. Aku mohon, jangan karena aku kalian tidak jadi pergi. Aku hanya butuh tidur saja," ujar Hanna memaksa keduanya untuk pergi.
Keputusan Hanna sudah bulat. Dia akan pulang diantar oleh pelayan Julia, sementara Julia dan Will pergi ke perbatasan desa.
"Kakak, kemana perginya Tom?" tanya Julia menghampiri Sebastian yang tengah berbincang dengan Andrew di ruang baca.
"Pergi mengantar ibu, ada apa?"
"Aku ingin dia mengantar Hanna. Kepalanya sakit dan ingin segera pulang."
"Kemana perginya Malory?"
__ADS_1
"Kami akan pergi ke rumah buku. Hanna ingin pulang, kami sudah menyarankan untuk mengantarnya, tapi dia bersikeras meminta kami tetap pergi ke rumah buku."
"Biar aku saja yang mengantarkannya," tawar Sebastian berdiri.
"Lalu aku?" Andrew mengernyit dahinya.
"Kau tunggu aku di sini, atau kau bisa pulang," ucapnya mengulum senyum, berlalu tanpa menunggu makian dari Andrew.
"Terima kasih karena sudah mengantarku, Tian," ucap Hanna dengan wajah sendu.
"Tidak masalah. Jangan sungkan. Apa kau baik-baik saja? maksud ku, kau pasti sekarang bisa hidup dengan tenang sejak Alex tidak pernah datang lagi ke sini," ucap nya melirik wajah Hanna, ingin melihat reaksi gadis itu.
"Haruskah aku sedih? tentu saja aku baik-baik saja. Dia tidak ada hubungannya dengan ku, lantas kenapa aku sedih? terserah dia mau pergi kemana dan dengan siapa. Aku tidak perduli!"
Sebastian mengulum senyum. Tanpa gadis itu sadari dia sudah membuat pengakuan tentang perasaannya sendiri. Sebastian tidak mengarahkan pada Alex, tapi tiba-tiba terpancing memuntahkan kekesalan pada Alex terlebih dengan keberadaan Alex saat ini. Sebastian tebak, pasti Hanna sudah mendengar pembicaraannya tadi saat bersama Andrew.
"Kenapa kau tersenyum? aku serius. Aku tidak peduli saat ini dia dimana dan bersama siapa!" Hanna semakin terpojok dengan senyum mengejek Sebastian.
Kemudian suasana mendadak sepi. Tidak ada dari keduanya yang berbicara. "Han, apa kau benar-benar mencintai Alex?"
"Hah? tidak..sama sekali tidak. Kau sangat tidak sopan menanyakan hal itu, My Lord," ucap Hanna menatap tajam ke arah Sebastian lalu membuang muka ke luar jendela. Kurang 10 menit lagi, mereka akan sampai di rumah.
Sisa perjalanan itu mereka habiskan dengan diam tanpa kata. "Terima kasih sudah mengantarku, My Lord." Hanna menekuk lututnya setelah dibantu Sebastian turun dari kereta.
"Maaf, atas kelancangan ku, tapi aku tidak akan menawarkan secangkir teh pada anda, permisi," lanjut Hanna berbalik menghadap Sebastian.
"Baik lah, tidak masalah kalau kau tidak ingin menjamuku. Tapi aku anggap ini janji. Suatu hari aku akan menagih janji untuk menemaniku minum teh di perbatasan desa ini," ucap Sebastian mengerlingkan matanya.
Sebastian sedang tidak ingin mengerjai Hanna. Sejak dari dulu, Sebastian memang menyukai Hanna. Dia suka sifat unik gadis itu, pendiam namun cerdas. Sebastian suka sikap lembut Hanna white, namun sejak kemunculannya setelah kata orang bangkit dari mati suri, Hanna semakin menarik perhatian Sebastian.
Hanya karena menghargai Alex lah makanya Sebastian mengunci ruang di hatinya untuk Hanna. Namun, kini setelah Alex pergi melupakan perasaannya pada Hanna, Sebastian berniat mendekati Hanna lagi.
__ADS_1
***
Ini adalah hari paling bahagia buat Julia. Pertama kali dia bisa jalan berdua dengan Will walau hanya sebatas ke rumah buku.
"Apa buku pesanan Hanna sudah dapat?" tanya Will muncul di
balik rak buku. Hampir saja buku yang tengah dipegang Julia terlempar karena kaget.
"Kau mengagetkanku," pekik Julia memukul Will dengan buku di tangannya sembari mengulum senyum.
"Maaf kan aku, My Lady," goda Will tersenyum.
Cuaca sore itu sangat indah dan cerah. Terlalu dini untuk pulang ke holy Ville. "Kau ingin minum teh?" tawar Will menunjukkan kedai teh di seberang Rumah buku tempat mereka kini berdiri.
"Boleh," sambut Julia gembira. Dua jam penuh mereka bercerita, penuh gelak tawa dan kegembiraan.
"Terima kasih sudah mengantarku, Will. Hari ini aku bahagia sekali," ucap Julia tersenyum manis dalam kereta saat perjalanan pulang ke rumah. Hati Julia berbunga-bunga kini. Dia berharap kalau perjalanan itu bisa lebih lama lagi, jika perlu mereka kesasar hingga Berjam lamanya baru tiba di rumah. Julia tersenyum, mengutuk ketidakmaluan nya atas pemikirannya itu.
"Kenapa kau tersenyum? apa yang lucu?" tanya Will mendekatkan wajahnya, ingin tahu apa yang menyebabkan gadis nya senyum-senyum sendiri, hingga begitu dekat dengan wajah Julia. Tanpa sadar senyum di bibir keduanya menghilang, saling tatap dalam diam.
Larut dalam tatapan mata masing-masing, keduanya terhanyut dalam kedekatan yang tidak bisa mereka tahan. Entah siapa yang lebih dulu memulai, yang jelas kini bibir keduanya bertautan. Saling mencecap rasa manis dari masing-masing milik mereka.
Ciuman pertama bagi keduanya, pengalaman pertama yang tanpa mereka sadari akan mengikat mereka. Membawa dalam duka dan juga air mata, siapa yang bisa menebak ujung akhirnya kisah mereka?
Tidak ada dari keduanya yang ingin mengakhiri ciuman yang awalnya hanya tipis dan malu-malu itu berubah ganas dan panas. Menuntut lebih dan ingin merasakan lagi.
Tubuh berguncang karena jalan yang tidak rata yang dilalui kereta pun tidak jadi penghalang bagi mereka merengkuh kenikmatan yang luar biasa. Nafas memburu menjadi penanda kalau kenikmatan itu akan berlangsung lama lagi hingga tiba di tempat tujuan.
***
Mampir gaes
__ADS_1