
Trip goes to Bogor itu akhirnya berakhir. Walau tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik sesuai agenda, tapi semua karyawan tampak gembira dan tidak ada satu pun yang membenci Hanna karena menjadi penyebab terhentinya kegiatan untuk beberapa jam. Semua rasa kesal mereka digantikan dengan masuknya dana yang ditransfer oleh perusahaan atas perintah Davlin.
Bonus dadakan itu mereka gunakan untuk membeli oleh-oleh dan barang-barang yang mereka suka khas dari daerah Bogor.
"Aku antar pulang, ya" Aril mendekati Hanna yang baru saja turun dari bus. Hanna hanya mengangguk, dia masih sedih atas apa yang dia dengar dari Davlin.
"Mau kemana?" tanya Davlin yang menghadang langkah mereka menuju parkiran.
"Mau ke parkiran, Pak," sahut Aril menunjuk sepeda motornya yang berbaris di sana selama mereka pergi ke Bogor.
"Maksud aku, dia." Dengan tatapannya pria itu minta penjelasan dari Hanna. Tapi Davlin tampaknya kurang beruntung, karena Hanna tidak ingin menjelaskan apa pun terlebih pada pria itu.
"Oh, aku akan mengantar Hanna pulang, dia.."
"Tidak usah. Biar saya aja yang mengantar. Lagi pula kami tetanggaan," tukasnya menatap tajam pada wajah Hanna hingga gadis itu yang awalnya ingin membantah kembali mengatupkan mulutnya.
"Kau kenapa? lidahmu dicuri orang, ya?" 10 menit berjalan, akhirnya Davlin buka suara memecah keheningan. Saat belum mengenal gadis itu, Davlin adalah sosok yang paling tidak peduli apapun yang ada dalam pikiran orang lain, tapi untuk gadis ini, dia sangat ingin tahu.
"Han, ada apa? kakimu sakit lagi?" ulang Davlin membujuk Hanna untuk mau bicara dengannya. Tapi Hanna tidak peduli, dia memutuskan untuk memejamkan mata, hingga tiba di rumah.
Begitu mobil berhenti di depan rumah, Hanna turun dan tanpa mengucapkan terima kasih berlalu. Baru tiba di depan pintu rumah, dia kembali berbalik. Tas nya tinggal di mobil pria itu.
"Ini." Davlin sudah berdiri di belakangnya, menyodorkan tas ranselnya. Sekali lagi tanpa bicara Hanna menyambar tas itu dan segera masuk ke dalam rumah.
***
Malam itu dalam tidurnya, Hanna memimpikan seorang gadis yang tampilannya mirip sekali dengan dirinya. Bahkan mereka seperti kembar identik. "Hanna, kalau kau mencintainya, apa pun rintangannya kau harus bisa menaklukkan hati Davlin. Kalau pun suatu hari nanti ada wanita yang akan menggodanya, kau harus berjuang mendapatkan yang memang ditakdirkan menjadi milikmu, jangan seperti aku," ucap wanita itu tersenyum sedih.
__ADS_1
"Tapi mungkin saja dia memang tidak cinta padaku, seberapa kuat pun aku berusaha untuk menarik perhatiannya," ucap Hanna merasakan kesedihan yang sama. Ia melayani wanita itu bicara padahal jelas-jelas tidak mengenal sosok itu.
"Hanna, aku tahu kau mencintainya. Aku mohon wujudkan cintaku, persatukan kami. Mungkin saat ini sosok Alex yang terkunci dalam sosok Davlin saat ini tidak mengingat mu, tapi percayalah, bahwa cintanya begitu besar padamu. Berjanjilah kau akan mendapatkan cintamu!"
Saat itu juga Hanna terbangun. Keringat mengucur deras di keningnya. Mimpinya terasa nyata. Dia tidak mengerti, kenapa wanita itu bisa muncul dalam mimpinya.
Malam itu, pikiran Hanna tersita dengan mimpinya yang baru saja dialaminya. Benar perasaannya pada Davlin sangat besar. Tapi apa dia bisa mendapatkan cinta pria itu?
Dorongan besar muncul begitu saja. Hanna semakin percaya diri dan tanpa disadarinya, kakinya bergerak turun dari tempat tidur menuju cermin di meja riasnya. Menatap lekat wajahnya. Ucapan wanita dalam mimpinya itu, siapa pun dia, entah itu memang nenek buyut atau itu adalah kata hatinya, Hanna kini merasa punya kepercayaan diri. Tersenyum, menatap wajahnya di cermin.
"Benar, kalau dulu aku tidak percaya diri karena tubuh gendut ku, lalu sekarang apa yang harus dikhawatirkan? kalau pun seandainya aku gendut, tidak jadi alasan bagiku untuk minder, yang terpenting itu cantik tidak hanya dari tampilan luar, tapi juga dari dalam hatinya!" ucapnya pada dirinya sendiri.
***
"Pagi," Sapa Hanna ceria. Ema, Stuart dan Cathy yang sudah ada dimeja makan, tersenyum dan sedikit heran melihat raut wajah gembira Hanna. Sudah lama tidak melihat wajah berseri gadis itu.
"Hah? Tidak ada papa. Memangnya kenapa, Pa?" kali ini Hanna yang bertanya, sedikit merona karena ketiganya terus saja menatap dirinya.
"Mama, apa sih?" ucap Hanna kala Ema semakin terang-terangan menunggu jawabannya dengan ekspresi berharap.
"Kau tidak mau cerita pada, Mama mu ini?"
"Tidak ada yang ingin aku ceritakan, Ma. Aku cuma ingin menjalani hari-hari ku dengan gembira, apa lagi dua bulan lagi aku akan mulai kuliah lagi. Cathy, apa kau jadi mendaftar di kampus ku? aku bisa menemanimu," ucap Hanna mengalihkan pembicaraan. Dia juga ingin berubah menjadi kakak yang peduli pada adik satu-satunya itu.
"Jadi, Kak. Pastinya aku memang ingin mendaftar ulang dengan mu," sambut Cathy. Sisanya mereka bercerita mengenai rencana liburan bersama yang sudah lama tidak mereka lakukan lagi.
"Aku harus berangkat, " ucapnya berdiri ingin menyimpan mug hello Kitty nya, namun tidak sengaja sikunya menyenggol tas Hanna hingga jatuh ke lantai. Tas yang tidak terkunci itu membuat barang-barangnya berhamburan.
__ADS_1
"Sorry, Kak," ujar Cathy merasa bersalah.
"Santai, Cat.." Hanna tertegun melihat satu gelang dari bahan titanium terjatuh. Hanna memungut dan melihat ada inisial namanya dan ada potongan hati yang menjadi mainan gelang itu. "Ini punya siapa?" gumamnya. Memikirkan milik siapa dan bagaimana bisa masuk ke dalam tas.
Satu persatu teman yang menemaninya di perjalanan coba dia ingat, kemungkinan milik mereka yang tidak sengaja masuk ke dalam tasnya.
"Punya siapa, Kak? cantik banget," ucap Cathy mengambil gelang itu tangannya serta ikut mengamati benda tersebut.
"Gak tahu. Mungkin punya Ane," sahutnya terdengar tidak yakin.
"Ane? jelas-jelas ini inisial namamu, H," ucap Cathy membuat Hanna tersadar lagi. "Mungkin aja ini diselipkan seseorang untuk mu."
Bola mata Hanna membulat, ucapan Cathy seolah membuka pikirannya. Benar juga, mengapa dia tidak berpikir ke sana? Hanna mengurut, siapa saja yang memegang, tiba-tiba jantung berdebar, Aril lah sejak kembali dari beli oleh-oleh yang memegang tasnya karena tidak ingin memberatkan Hanna yang sedang kesusahan berjalan.
"Apa iya, ini bang Aril yang ngasih?" gumamnya pelan, namun masih bisa didengar Cathy.
"Siapa Bang Aril? cie.. yang udah punya gebetan," ucap goda Cathy yang membuat wajah Hanna memerah.
"Benarkah bang Aril memberikannya gelang ini? tapi kenapa tidak langsung saja memberikannya langsung padaku? tapi apa maksudnya?" gumamnya dalam hati.
"Sudah, siapa pun yang memberikannya padamu, mama hanya ingin dia bisa membahagiakan mu," ucap Ema mencium kening Hanna.
***
Hai mampir yuk
__ADS_1