
Hanna tahu saat ini, ia pasti sangat pucat. Telinganya berdengung dan tangannya sedingin es. Ia akan pingsan kalau bertahan di sini, tapi kalau pergi, ia akan menciptakan kehebohan yang akan menjadi rumor selama bertahun-tahun.
Hanna mencoba meyakinkan diri, bagaimanapun, Alex telah memutuskan hubungan dengan Irish untuk mengejar Hanna. Tetapi itu dulu, sekarang Alex membenci dan merendahkan Hanna.
Dan tidak lama lagi, bahkan jika Alex kembali ke Claymore, tubuh Hanna akan terlihat jelek dan bengkak akibat mengandung.
Hanna sungguh-sungguh berharap dirinya mati saja. Ia sangat menderita sampai tidak tahu kapan tepatnya Alex menggenggam tangannya yang dingin dan lembap, yang kemudian diselipkan di lekukan lengan pria itu. Bahkan Hanna juga tidak bisa lagi merasakan kala Alex meremas jemari Hanna dengan ringan untuk coba menenangkannya.
Setidaknya, sekarang Hanna bisa bernapas. Tetapi hanya sebentar, karena Irish Lancaster menerima tepuk tangan bergemuruh dengan anggukan samar, mata biru wanita itu menatap mata Alex dan arus listrik terpercik di antara mereka berdua, sehingga membuat Hanna sakit hati.
Tidak lama kemudian, rumah pesta dibuka untuk acara dansa. Selama setengah jam berikutnya, Alex tidak meninggalkan Hanna, tetapi juga tidak berbicara ataupun menatapnya.
Masih bingung harus bersikap bagaimana, Alex menariknya, menuntun ke lantai dansa dan memeluknya, yang Hanna tebak adalah alibi pria itu agar tamu undangan menganggapnya masih peduli pada istrinya.
"Di mana cincin pertunanganmu?" tanya Alex marah sementara ia memutar Hanna pada waktu yang tepat untuk berdansa waltz.
"Lambang cintamu?" Hanna balik bertanya dengan dagu terangkat tinggi. Wajah pucat Hanna terlihat rapuh dan cantik. "Cincin pertunangan itu kah maksudmu?"
"Kau tahu benar cincin yang mana."
"Karena itu lambang cinta yang tidak ada lagi ku dapatkan darimu, aku merasa munafik jika memakainya." Hanna menahan napas dan menunggu Alex mengatakan bahwa cinta pria itu padanya belum mati.
"Lakukan saja sesukamu," ujar Alex tidak peduli. "Kau selalu begitu."
Ketika dansa berakhir, mereka tetap bersama, masing-masing bersandiwara dengan meyakinkan saat diajak mengobrol ringan oleh belasan tamu yang mengelilingi mereka. Tetapi tidak lama kemudian, ketegangan sepertinya semakin terasa dalam kelompok itu. Tawa mereka tiba-tiba terdengar terlalu keras dan dipaksakan ketika mereka melirik melewati bahu kanan Hanna.
Hanna gugup dan waspada, menyadari perubahan suasana itu, lalu menoleh untuk melihat apa penyebabnya. Hanna melirik, lalu segera memalingkan wajah, tetapi terlambat untuk melakukan apa pun selain menguatkan diri.
__ADS_1
Peter Pattigrew bersama Irish yang menggandeng pria itu, sedang menghampiri mereka dari belakang.
"Claymore!" suara Peter yang mengejek menyela keriangan yang dipaksakan kelompok itu bak pisau panas menusuk mentega, meleleh hingga cair. "Aku yakin, tidak perlu memperkenalkan kalian berdua."
Semua pasang mata berputar ke arah mereka sementara Alex refleks berbalik mendengar namanya disebut, dan mendapati dirinya berhadapan dengan pria paling menyebalkan, Peter Pattigrew yang tersenyum lebar, dan juga mantan wanita simpanannya.
Hanna tidak punya pilihan lain selain ikut berbalik, mendengar suara panik dan desah terkesiap, tawa tertahan dan merasakan banyak tatapan penasaran terpaku pada mereka.
Tidak diragukan lagi, semua orang yang hadir di ruang pesta besar itu kini mengetahui apa yang sedang terjadi... semua orang, kecuali Alex dan Irish, yang sepertinya merasa situasi itu agak menggelikan.
Sambil tersenyum malas, Alex mendekatkan tangan Irish ke bibirnya untuk dicium singkat. "Saya lihat, Madam, anda hanya perlu memasuki ruangan untuk membuat semua pria bertekuk lutut di hadapan Anda."
Kilatan mengerti terpancar dari mata biru Irish sementara wanita itu mengangguk dengan anggun saat menerima pujian sopan Alex. "Tidak semua pria," ujar Irish penuh arti. "Tapi saya pasti sangat terkejut jika Anda juga bertekuk lutut, Your Grace."
Hanna mendengar obrolan ringan ini dengan marah, sakit hati dan malu. Bertanya-tanya apakah Alex akan memperkenalkan istrinya kepada wanita simpanannya, tapi Hanna yakin Alex, demi kesopanan.
Di mata Hanna, semuanya sama saja dengan Peter Pattigrew. Termasuk suami Hanna yang sopan dan berpikiran maju itu. Seolah hinaan untuk Hanna belum cukup, Peter Pattigrew dengan lagak lugunya memperkenalkan Hanna pada mantan wanita simpanan Alex.
Dikuatkan oleh amarah, Hanna menatap mata Irish yang diam-diam menilai Hanna dengan tenang. Dengan anggun, dan dalam bahasa Prancis tanpa cela, Hanna berkata, "Merci de partager ta belle voix avec moi. Je suis heureuse d'écouter ta voix."
(Terima kasih karena telah berbagi suara indah anda dengan saya, Mademoiselle. Senang sekali bisa mendengarkan suara Anda.)
Dengan keanggunan yang sama, Iris menjawab, "Sebagian besar pujian tentang kecantikan dan pesona wanita terlalu dilebih-lebihkan. Tapi bisa saya lihat, pujian atas diri Anda tidak berlebihan."
Seulas senyum pelan dan sensual tersungging di bibir Irish, seraya melirik ke arah Alex, dengan berani wanita itu menambahkan. "Dan harus saya akui, saya kecewa mengetahuinya."
Setelah itu, ia mengangguk anggun kepada mereka berdua, menggandeng lengan Peter Pattigrew, dan berjalan pergi untuk menyenangkan diri dengan mendengarkan dari tiga ratus pria di ruangan itu.
__ADS_1
Sejenak Hanna dilingkupi kehangatan dari kepuasan Alex pada cara Hanna menghadapi konfrontasi itu. Hanna juga tahu, ketika satu jam kemudian Alex dan Irish meninggalkan ruangan melalui pintu terpisah menuju teras.
Hanna melihat tatapan diam-diam yang diarahkan Irish kepada Alex dari seberang ruang pesta, dan paling menyakitkan dari semua itu, Hanna juga melihat anggukan diam-diam Alex sebagai jawaban.
Seraya tersenyum, di bawah sinar bulan musim panas, Irish mengulurkan tangan untuk digenggam Alex yang kuat dan hangat. "Senang sekali melihatmu, Alex. Peter Pattigrew pasti sangat membencimu karena sengaja memanipulasi pertemuan singkat kita di dalam sana."
Alex menunduk dan tersenyum lebar pada wanita itu. "Peter Pattigrew baji*ngan bodoh, seperti yang bisa kau simpulkan sendiri, Irish." Alex melihat sinar bulan mengubah rambut Irish menjadi keperakan, sementara Alex menikmati kecantikan dan kecerdasan mata Irish yang berwarna biru keunguan.
Irish tidak tersinggung mendengar kesimpulan terang-terangan Alex tentang Peter. Irish pintar menilai karakter seseorang, sama seperti Alex dan mereka berdua tahu akan hal itu.
"Perkawinan tidak cocok untuk mu, My Lord?" Irish mengucapkannya dalam bentuk pertanyaan, tetapi itu sebenarnya pernyataan.
Alex sedikit tegang. Ia mengingatkan diri bahwa masyarakat London akan sangat terguncang jika Alex kembali menjadikan Irish Lancaster sebagai wanita simpanan.
Mereka berdua sangat terkenal, sehingga rumor yang terjadi akibat hubungan baru mereka pasti tidak akan berakhir, dan rasa malu yang diterima Hanna akan sangat besar.
Tidak dapat dipungkiri, Alex berpendapat, kalau Irish adalah pasangan tidur yang menggairahkan yang sangat sempurna untuk Alex. Dan mungkin tepat untuk memuaskan hasratnya dan membantu Alex untuk melupakan Hanna. Dia jamin, Irish akan dengan senang hati menerima maksudnya untuk kembali menjalin hubungan.
Tiba-tiba dia teringat wajah cantik dan rapuh Hanna. "Dasar wanita sialan! Berani-beraninya dia melepaskan cincin pertunangan! Wanita itu licik, pembohong dan penipu." umpatnya dalam hati, begitu kesal karena ternyata sangat susah untuk melupakan wanita itu walau sedetik saja, bahkan saat dia berada di sisi wanita secantik Irish Lancaster!
Hanna memang brengsek, tetapi wanita itu juga istrinya. Dan saat ini, Hanna mengandung anaknya. Dia mengutuk dirinya karena tidak bisa menawarkan yang sama dengan isi hati Irish pada gadis cantik itu. Dan semua itu hanya karena tidak ingin Hanna lebih tersakiti.
Dia akan mencari wanita lain, yang tidak akan menimbulkan gosip saat menjalin hubungan dengan Alex.
"Perkawinan sepertinya juga tidak sesuai dengan istrimu," ujar Irish lirih. Pernyataan yang menggiring Alex untuk segera menyambut maksudnya, kembali menjadikannya kekasih.
"Perkawinan sangat sesuai bagi kami. Dan kami sangat bahagia."
__ADS_1