
"Bangun, Sayang. Sudah sampai," ucap Davlin mengelus pipi Hanna yang tertidur pulas. Gadis itu hanya melenguh, kesal karena tidurnya terganggu.
Gemas melihat bibir wanita itu yang mengerucut, Davlin mencium bibirnya. Bola matanya akhirnya terbuka, dan kedua saling memandang. Sudut bibir Davlin muncul, hingga membuat Hanna malu dan mendorong dada pria itu.
Tapi Davlin yang sudah terpancing tidak ingin mundur. Dia menarik tengkuk Hanna agar mendekat dan bisa dia cium dengan leluasa. Hanna menolak, darahnya berdesir hingga membuat tubuhnya bergetar.
Tangannya ditahan Davlin, dibawa ke dadanya agar bisa disentuh. Hanna bisa merasakan panas kulit Davlin yang terasa terbakar. Keduanya larut. Hanna menyerah dengan segala kenikmatan yang ditawarkan oleh Davlin.
"Sayang, aku mencintaimu," ucap Davlin yang entah untuk keberapa kali dalam satu hari ini. Ia meletakkan dagunya di atas kepala Hanna. Mengambil sedikit waktu untuk menenangkan debaran jantungnya.
"Janji gak akan menyakiti hati ku lagi? aku sangat sedih, saat melihat kau dekat dengan mbak Iris." Hanna bermain dengan kancing kemeja pria itu. Akhirnya dia bisa kembali bersama Davlin setelah pertengkaran waktu itu.
"Aku janji. Besok kita pergi mengunjungi Iris. Dia ingin bertemu dengan mu katanya," ucapnya menyatukan ujung hidung mereka.
***
Minggu pagi, hari dimana tidak pergi ke kampus atau pun bekerja, Hanna akan memilih untuk tidur hingga siang hari. Kali ini pukul delapan pagi, dia sudah bangun, mandi dan bersiap berkunjung ke samping.
"Wah, ada Hanna datang. Pagi sayang, lama Tante gak lihat kamu kemari," sapa Reta yang mempersiapkan sarapan pagi. Banyak makanan lezat tampak terhidang di meja makan. Tante Reta memang hobi sekali memasak, mencoba berbagai resep masakan yang dia lihat di sosial medianya.
"Iya, nih Tante. Agak sedikit sibuk," ucapnya tersenyum malu-malu. Matanya menyusuri ruangan hingga naik ke atas tangga.
"Cari Davlin?" tanya Reta yang menangkap basah dirinya yang mencari pemuda itu.
"Hehehe, gak kok tan. Eh, tapi Davlin belum bangun?"
"Jam segini dia sudah pergi lari pagi. Habis itu fitnes deh."
__ADS_1
"Oh... " ada nada kecewa dalam nada suara Hanna. Akhirnya gadis itu kembali ceria karena Reta menunjuknya mencicipi semua hidangan yang dia buat.
"Pagi, Tante Reta..." sapa seseorang dari arah depan dan tidak lama muncul di dekat mereka. Hanna kembali terkesiap, seperti pertama kali bertemu dengan pria itu.
"Kau ada di sini?" Sapa nya melihat keberadaan Hanna. Dia tahu gadis itu tinggal di samping rumah ini, tetapi tidak menyangka pagi ini akan bertemu lagi. Dua kali mengunjungi rumah ini, baru kali ini dia bertemu dengan Hanna.
"Kalian saling kenal?" tanya Reta menyambut Jim, mencium pipi pemuda tampan itu.
"Kan aku udah pernah cerita Tante, pas kemari nona ini yang mengantarkan ku, menunjukkan rumah ini," jawab Jim tidak melepas pandangnya pada Hanna.
" Eduard Jimmy York," ucap pria itu menyodorkan tangannya ke hadapan Hanna. Senyum tulusnya menular hingga Hanna menyambut uluran tangan itu.
"Hanna Jhonson. Kau benar-benar mirip dengannya," gumamnya tanpa sadar.
"Maaf?"
"Eh, bukan. Senang bisa bertemu dengan mu... lagi," ucapnya buru-buru meralat omongannya.
Tante Reta juga ikut berbincang bersama, hingga menerima telepon dari rumah sakit. Meninggalkan keduanya larut dalam pembicaraan yang menarik. Jimmy ternyata memiliki hobi yang sama dengan Hanna, suka membaca kisah romantis.
Tawa meledak diantar mereka, hingga tidak sadar seorang pria dengan sorot mata tajam sedang menatap mereka penuh amarah. Davlin selalu kehilangan kontrol saat melihat seorang pria berada di dekat Hanna-nya!
"Tampaknya kalian sudah sangat akrab!" ucap Davlin menyentak kesadaran keduanya. Awalnya Davlin ingin diam, hingga mereka menyadari keberadaannya, namun hingga menit berlalu, baik Hanna atau Jim seolah berada di space yang hanya ada mereka berdua saja.
"Davlin..." seru Hanna gembira. Berdiri dan menyongsong ke hadapan pria itu. "Kau sudah pulang?"
"Apa kau mengharapkan aku untuk tidak pulang?" tanya nya sinis. Sifat mudah marahnya muncul. Tapi Hanna tidak tersinggung, sudah memahami tabiat kekasihnya.
__ADS_1
"Untuk apa lo kemari?" Davlin mengalihkan calon korbannya.
"Mengunjungi Tante Reta tentu saja. Dan guess what, aku beruntung bisa bertemu Hanna di sini."
Kalau tidak memikirkan ibunya akan jatuh pingsan karena kala melihat wajah Jim babak belum, percayalah, Davlin pasti sudah menonjok wajah parlente itu.
"Apa yang gue pesankan ada yang lo ga pahami? gue udah bilang, jangan muncul di rumah gue lagi!" hardik Davlin melempar dengan kasar tas olah raga yang tadi dia tenteng.
"Davlin, gak boleh begitu. Dia kan sepupu mu," ucap Hanna. Dia merasa heran, hubungan keduanya baik di novel atau di dunia ini tetap saja tidak akur. Hanna ingat bagaimana marahnya Alex saat melihatnya bersama Eduardo James York kala itu.
"Biarin. Kau juga, jangan sampai aku lihat berdekatan dengan dia lagi!"
"Kok gitu? kita cuma cerita aja kok, ngobrol biasa," sahut Hanna tidak terima dengan sikap diktator pria itu. Rasa cemburunya melebihi berat badannya.
"Aku gak mau tahu. Kau jauhi penjahat k*lamin ini. Jauhi radius lima meter!" perintah Davlin tegas. Hanna belum sempat buka mulut, tangan pria itu sudah menarik Hanna bersamanya naik ke atas.
Hanna hanya bisa menuruti keinginan pria itu. Tidak ingin membuat orang yang dia cintai itu semakin marah.
"Jangan cemberut. Aku gak mau melihat pria mana pun ada di dekatmu. Ketahuilah, Nona, aku adalah pria pencemburu, dan kau hanya milik ku," ucapnya mencubit hidung Hanna. Gadis itu yang saat ini duduk di tepi ranjang hanya diam memandang Davlin.
Walau kesal, dalam hatinya timbul perasaan hangat. Dia begitu bahagia dicintai sebesar itu oleh pria berkuasa itu.
"Tapi kami hanya bicara. Kalau kau memasang wajah galak seperti itu, marah-marah gak jelas, artinya kau tidak percaya padaku," ucap Hanna memelas. Dia ingin Davlin yakin, bahwa cinta yang dia rasakan untuk pria itu begitu kokoh, tidak akan ada pria mana pun yang bisa menggantikan Davlin di hatinya.
"Aku percaya padamu, aku hanya tidak percaya padanya. Maaf, Hanna aku tidak mau ambil resiko." sahutnya mengingat masa lalu mereka. "Lagi pula, sama halnya denganku, apa kau akan nyaman kalau aku dekat dengan gadis lain?"
Hanna terdiam. Apa yang dikatakan pria itu benar. Dia tidak mungkin bisa menerima kalau Davlin yang perfeksionis yang digilai banyak gadis di dekati gadis lainnya. Dia bisa sedih tidak berujung kalau sampai berpisah dengan pria itu.
__ADS_1
"Sorry." Hanna menunduk. Dia ingin serius dalam hubungan ini. Dia trauma dengan perpisahan mereka kemarin, jadi dia akan menjaga hubungan mereka dengan baik.
"Aku juga minta maaf jika caraku salah. Aku hanya tidak mau kehilanganmu."