
Acara pernikahan Julia dan Will berlangsung meriah. Tidak hanya orang tua dan keluarga mempelai saja yang bergembira, tapi juga semua tamu undangan, terlebih dua orang yang saat ini menepi dari keramaian.
"Kenapa kita tidak bergabung dengan mereka?" tanya Hanna yang duduk di depan Alex. Keduanya memilih duduk di atas rumput bersandar pada sebatang pohon tidak jauh dari gedung yang kini terdengar begitu riuh.
"Karena aku ingin memiliki waktu mu untuk ku sendiri. Aku egois, tidak ingin membagi dirimu dengan yang lain, walau sekedar untuk menyapa orang lain," ucapnya memeluk tubuh Hanna dari belakang. Mengukur setiap senti kulit di tengkuk gadis itu.
Hanna hanya tersenyum. Memejamkan matanya menikmati sentuhan Alex. Seluruh bulu kuduknya berinding, bahkan gadis itu harus meremas gaunnya untuk bertahan hingga tidak berteriak.
"My Lord," desisnya menahan rintihan yang tertahan.
"Apa tidak enak? Apa kau tidak menyukainya?" goda Alex meneruskan penjelajahannya di kulit Hanna. Meninggalkan jejak di lehernya, menimbulkan rasa sakit namun sangat nikmat. Dia pasti sudah gila karena menginginkannya lagi.
"Oh, My Lord," bisiknya tertahan, semakin merapatkan kakinya, menahan sesuatu dibawah sana yang ingin keluar.
"Panggil namaku, Sayang.."
Gadis itu mendengar, namun pikirannya sudah terpecah, mengatasi gemetar dan setrum yang dia rasakan hingga tidak mampu menjawab.
"Panggil namaku, Hanna. Aku ingin kau memanggil namaku," ucap Alex di tengah aksinya.
"Alex... Alex.."
"Katakan kau mencintaiku, katakan kau ingin menikah dengan ku," bisiknya Alex sembari menghembuskan nafasnya di telinga gadis itu.
"Aku mencintaimu..."
"Dan...?" lanjut Alex menagih janjinya. Dia tidak akan melepaskan Hanna lagi. secepatnya akan melamar gadis itu, dan kali ini harus berhasil.
"Dan?" Hanna sudah tidak bisa berpikir.
__ADS_1
"Aku.. aku.. ,"
"Katakan sayang, katakan.."
"A-ku ingin menikah dengan mu," ucapnya terengah-engah. Alex memutar tubuh Hanna, tersenyum tipis, lalu menangkup wajah Hanna, membawa gadis itu menuju nirwana.
***
Ucapan Alex terbukti bukan hanya isapan jempol. Keesokan harinya, pria itu tidak hanya membawa ibunya, Lady Margaret, tapi juga bibinya dan Abigail.
Lagi-lagi Ema hampir kena serangan jantung Tanpa aba-aba atau pun kabar dari keluarga Claymore, mereka sudah tiba di kediaman Jhonson pagi itu.
"Maafkan kami, My Lady, your Highness. Kami tidak tahu kalau anda akan datang berkunjung," ucap Ema gugup.
"Sudahlah, Madam Jhonson. Tidak jadi masalah. Kami juga yang salah karena tidak memberi kabar sebelumnya," ucap Lady Margaret.
Tidak satupun kata keluar dari mulut Alex. Matanya terus menatap ke arah tangga, berharap gadis pujaannya turun. Dia sudah seperti orang gila, dimabuk cinta. Dia sudah menjelma menjadi budak cinta Hanna.
"Jaga matamu. Jangan mempermalukan diri mu dengan bersikap konyol seperti itu. Kau seorang duke!" bisik Abigail tersenyum geli melihat tingkah keponakannya.
"Jadi, kami langsung saja. Tujuan kami datang ke rumah ini, ingin melamar putri sulung keluarga Jhonson untuk menjadi menantu keluarga Claymore. Sudah seharusnya kita wujudkan janji para leluhur keluarga kita. Hal lalu yang tidak mengenakkan, mari lah kita sama-sama melupakan," terang Lady Margaret.
"Kami merasa terhormat. Setelah beberapa peristiwa yang membuat batalnya janji itu, kita berkumpul kembali untuk membicarakan hal ini. Tapi my lady, saya bukan menolak, hanya saja kali ini saya hanya akan mengikuti keinginan putri kami," sahut Stuart.
Sudah berapa kali keluarga bangsawan ini mempermainkan keluarga mereka. Diawali lamaran keluarga Claymore, lalu di batalkan, dilamar keluarga Malory, dan kini pun batal. Dan sekarang, keluarga Claymore datang lagi menyampaikan lamaran mereka.
Seandainya punya kedudukan yang sama, pasti Stuart dengan tegas akan menolak lamaran itu. Dia tidak sudi dipermainkan seperti ini.
"Baik lah kalau begitu. Sebaiknya kita tidak banyak adu argumen, kita dengarkan saja pendapat Miss Jhonson," sambar Abigail.
__ADS_1
Demi menebus kesalahan pada Alex, Abigail janji akan membantu menyatukan sepasang kekasih itu.
Mery membawa Hanna turun. Wajahnya tertunduk malu. Walau tidak melihat pun, dia tahu kalau saat ini semua mata tertuju padanya, terlebih Alex.
"Halo, Miss Jhonson, senang bertemu dengan mu kembali," sapa lady Abigail.
"Terima kasih atas kesediaan anda mengunjungi kami, My Lady," sahutnya menekuk kaki.
"Kami datang untuk melamar mu. Aku tahu kau dan keponakan ku saling mencintai, jadi langsung saja, apa kau menerima lamaran ini?"
Pertanyaan to the points itu membuat Hanna semakin dirundung malu. Tidak berani menatap mata semua yang hadir di sana, Hanna hanya mengangguk lemah, tepat saat itu Alex bisa tersenyum lega.
***
Masyarakat Holy Ville menyambut gembira kabar pernikahan Akbar yang akan digelar di desa mereka. Belum seminggu setelah pernikahan Malory, kini Duke of Claymore akan melepas lajang. Banyak wanita yang patah hati, bukan hanya yang gadis saja, namun, para wanita yang masih berstatus istri pria lain pun ikut sedih. Pasalnya mereka masih berharap, bisa merasakan keperkasaan Alex yang sudah tersohor.
Mengetahui calon istri Alex yang berasal dari keluarga biasa saja, membuat para gadis bangsawan yang juga mengincar Alex merasa terhina dan tidak terima. Salah satunya Lady Brigitta. Keponakan raja itu benar-benar murka.
Gadis pirang itu sudah jatuh cinta pada Alex bahkan sebelum menginjak usia 12 tahun. Alex yang juga keponakan Lady Abigail, sering keluar masuk istana, berteman dengan keluarga kerajaan, bahkan Alex ikut bersekolah dengan para anak bangsawan yang masih dekat dengan kerajaan.
Ayahnya juga sempat menjabat jadi penasehat bahkan perdana menteri pada masa pemerintahan Raja Jhon. Itulah alasannya mengapa Alex memiliki hak prerogatif hingga kini.
"Lady Brigitta, apakah anda sudah mendengar kabar mengenai rencana pernikahan Duke of Claymore?" tanya Karen, salah satu teman Brigitta.
"Aku dengar. Pagi ini paman ku mengatakannya pada raja. Aku ingin melihat wanita seperti apa yang bisa merebut Alex dari ku. Segera utus orang untuk meminta Miss Jhonson datang ke istana!" perintah Brigitta penuh emosi.
Undangan untuk menemui Brigitta sudah diterima Hanna. Keningnya berkerut, dia sama sekali tidak mengenal Brigitta, lagi pula, mengapa gadis itu mengundangnya.
"Pergilah. Mungkin Lady of Bolton. Pergi lah," ucap Ema yang sudah membayangkan keluarganya semakin dikenal masyarakat London, bahkan keluarga kerajaan.
__ADS_1
"Aku malas, Mama. Lagi pula, aku tidak mengenalnya!"
"Justru itu. Kau akan menikah dengan Duke of Claymore, yang notabene adalah masih anggota keluarga kerajaan, jadi sudah pasti lady Boston ingin menyambut mu, berteman dengan mu. Pergilah," bujuk Ema. Demi membuat ibunya gembira, Hanna pun menyetujui menemui lady Brigitta ditemani oleh adik ya Catherine.