My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 79 (MCL)


__ADS_3

'Aku merindukanmu. Liverpool tidak menarik tanpa mu.'


Sebaris pesan yang berhasil membuat Hanna tersenyum. Kemarin, Davlin bertolak ke Inggris, pamannya meninggal dan dimakamkan di sana.


Inggris. Hanna merenung sejenak. Tempat yang membawa cerita tersendiri baginya yang sudah berubah hidupnya. Hanna percaya, baik itu mimpi atau benar dia masuk ke dalam dunia novel itu, Sang Pencipta pasti punya rencana untuk hidupnya. Terbukti, beberapa tokoh dalam novel itu muncul di dunianya. Reta, Davlin, dan juga Iris. Oh, jangan lupakan kedua orang tuanya dan juga Cathy.


***


Aku mencari mu dari kemarin, tapi kau tidak masuk. Apa kau sakit?" tanya Iris mendatangi Hanna yang bersiap naik ke lantai tiga.


"Oh, aku memang izin tidak masuk. Ada sedikit masalah dengan kartu rencana studi ku, jadi aku harus ke kampus. Ada apa, Mbak?"


"Lupakan saja. Aku cuma mau kasih tahu besok aku akan ke Inggris, menyusul Davlin." Kegembiraan jelas terpancar di wajah Iris.


"Oh. Mmm.. apakah ada hal penting di sana?" tanya Hanna tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Hatinya bilang kalau gadis itu pergi ke sana karena dia ingin menyusul Davlin ke Inggris.


"Tentu saja ingin menyusul pacarku," ucapnya tersenyum. Barisan gigi putihnya terlihat jelas kalau gadis itu sering perawatan.


"Hanya untuk bertemu Pak Davlin?" Hanna sudah mulai kehilangan kontrol dirinya. Hatinya kini berdegup kencang menanti jawaban Iris.


"Well, alasan utama bertemu dengannya. Aku kangen banget padanya. Lalu memang kami ada urusan kerja di sana. Jadi sekalian deh," terangnya yang berhasil membakar hati Hanna.


Kadang ke naif-an hatinya berbuah sakit hati. Dia yang meminta Davlin tetap di sisi gadis itu, tapi kini dia juga yang tidak sanggup menanggung cemburu. Dia percaya pada Davlin, seutuhnya... mungkin tidak seluruhnya tapi setidaknya dia percaya.


***


Nyatanya hati Hanna tidak tenang. Hari ini kantor pun terasa sepi karena tidak adanya Davlin. Bahkan dia juga merasa kehilangan Iris yang biasa mengganggunya.

__ADS_1


Pikiran Hanna terperangkap dalam rasa cemburunya, tapi dia bisa apa?


Dua hari berlalu, sialnya sejak itu pula Davlin sulit untuk di hubungi, dia pun tidak mengirimkan pesan atau pun menelpon Hanna sekedar memberi kabar padanya. Hanna hanya bisa menunggu, dan terus berdoa agar pikiran buruk yang merusak hatinya segera hilang.


"Aku percaya kau di sana bekerja," cicitnya sebelum memejamkan mata untuk tidur.


***


Genap seminggu, Hanna juga sudah tidak peduli. Dalam kurun waktu itu, Davlin hanya dia kali mengiriminya pesan, dan itu saat tengah malam. Perbedaan waktu menjadi alasan bagi Davlin untuk takut menghubunginya. Takut mengganggu tidur Hanna katanya.


'Maafkan aku, Sayang. Pekerjaan ini sangat menyita waktu ku. Aku akan segera pulang. Salam sayang, Davlin mu.'


Sudah kali ke sekian Hanna membaca ulang pesan yang paling terakhir di kirim Davlin untuk nya.


Hari ini, menghitung mundur bagi Hanna menyelesaikan kontrak kerjanya. Tiga hari lagi dia akan resign dari HolyWings.


"Bang Aril, pagi..," sapa nya sembari tersenyum. Hanna merasa bersyukur karena Aril bukan pria picik yang gampang sakit hati dan menjauhi dirinya karena cintanya ditolak. Kenyataan, Aril tetap menjadi pria baik, yang selalu perhatian pada Hanna.


"Jangan melamun, masih pagi. Kata orang nanti jodohnya jadi jauh," ucapnya tersenyum. Hannya malah tertawa mendengar hal itu. Jujur , dia merasa nyaman berada di dekat Aril.


Bagi Hanna pria itu sudah seperti abangnya sendiri, terlebih karena Aril adalah abang nya Ara. "Makasih ya, Bang."


"Untuk apa?" susul Aril. Keduanya kini memasuki lift untuk naik ke lantai dua. Pagi ini Hanna tampaknya berangkat lebih pagi, jadi kantor masih sepi.


"Karena selalu baik padaku," ucapnya tersenyum. Aril hanya mengusap puncak kepalanya tanda sayang tepat saat keduanya keluar dari lift dan sial bagi Hanna Davlin melihat semua itu. Langkah Hanna terhenti tepat saat tatapannya terkunci bersama sorot mata Davlin yang tajam di seberang sana.


"Pagi, Pak," sapa Aril, perlahan menurunkan tangannya yang masih berada di puncak kepala Hanna.

__ADS_1


Harusnya Aril tahu, tidak ada gunanya menyapa pria arogan itu karena tidak akan disahuti, terlebih setelah apa yang dia lihat pagi ini.


Davlin memang tidak pulang ke rumah. Pagi ini dia sampai di Jakarta, langsung ke kantor, berharap orang yang pertama kali dia lihat pagi ini adalah Hanna. Mengapa benar, harapannya terkabul, orang yang dia lihat di awal lagi ini adalah Hanna, ditambah Aril yang membuat nya kesal.


"Kemari!" hardik Davlin melalui sorot matanya pada Hanna sudah jelas siapa yang dia maksud.


"Bang, aku bersihkan ruangan pak Davlin dulu. Sampai jumpa makan siang," ucapnya melambai pada Aril dan berjalan ke arah Davlin. "Saya ambil alat pembersih dulu, Pak," ucapnya berlalu.


Kenapa tampaknya Davlin yang marah pada Hanna? seharusnya gadis itu lah yang marah. Hanna bahkan sudah merangkai dalam pikirannya apa yang akan dia sampaikan pada pria itu kalau mereka sudah bertemu.


Siapa saja tolong jelaskan pada Davlin, kalau dirinya lah yang pantas marah, bukan sebaliknya!


Mengetuk sekali sebagai formalitas, Hanna masuk tanpa lebih dulu dipersilakan. Memulai pekerjaan tanpa menghiraukan si empunya ruangan.


"Kau tidak menyapaku? setelah satu Minggu?" tanya Davlin, seperti biasa dengan suara tegas dan tak bersahabat nya. Sayangnya, Hanna terlanjur kesal atas sikapnya yang menghardik dirinya di depan Aril, seolah dia ini memang pelayan yang pantas dibentak.


Memilih membersihkan area kaca balkon menjadi jalan keluar untuk putus kontak dari pria itu. "Hei, aku bicara padamu. Begini sikapmu pada orang yang kau cintai yang sudah seminggu tidak bertemu?" hardiknya lagi. Kali ini mengikuti langkah Hanna ke arah balkon dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.


Masih bergeming, walau bibirnya sudah ingin sekali terbuka. Ingin melontarkan kalimat pedasnya hingga pria sombong itu tahu kalau dirinya lah yang seharusnya marah. Bagian jendela selesai, lalu Hanna masuk kembali, bergegas ke toilet yang ada di ruangan itu, untuk membersihkannya.


Hanna tahu kalau pria itu akan mendatanginya lagi, maka dengan sigap dia sudah mengunci pintunya. Benar, persekian detik kemudian, Davlin sudah mengetuk pintu dengan rasa kesal di hatinya.


"Buka Hanna! Aku bilang keluar. Aku ingin. bicara!"


"Maaf, Pak. Saya masih belum menyelesaikan pekerjaan saya." Sahut Hanna dari dalam dengan nada dingin, kembali melanjutkan tugasnya.


"Aku bilang keluar atau aku dobrak pintu ini!" Hanna hanya bisa mendengus kesal. Dia bukan tidak percaya kalau pria itu akan melakukan apa pun yang dia katakan. Setelah menyiram air sabun yang dia gunakan untuk menyikat lantai toilet, Hanna keluar dari sana, tepat saat pria itu sudah melepas jasnya.

__ADS_1


__ADS_2