
Hanna masih bengong menatap Alex yang tertidur pulas di ranjang. Dia ingin sekali mencekik pria itu. Hanna tidak habis pikir, kenapa pria arogan yang sudah menghilang selama enam bulan itu muncul di sini?
Deg!
Debar jantungnya kembali berkhianat. Hanna terkesima bisa kembali bertemu dengan Alex. Getaran di dadanya hingga kakinya yang bergetar lemas menjadi penanda kalau masih ada ruang untuk pria itu.
Hanna melangkah mundur. Menghentakkan kakinya dan berniat keluar dari kamar itu. Tapi langkahnya berhenti mendengar suara pria itu yang tampak masih setengah sadar. "Pelayan bodoh, mau apa kau masuk ke kamar ku?"
Mendengar dirinya dikatai bodoh dan juga seorang pelayan, amarah Hanna mencuat. Sudah tidurnya diganggu, bahkan tubuhnya dihimpit, kini pria tengil itu mencari masalah dengannya, dengan mengatakan dirinya pelayan bodoh!
Menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar, Hanna berbalik dan berjalan kembali ke sisi ranjang.
Sejuta makian sudah dia siapkan, namun, melihat wajah pria itu terlelap dia tidak sampai hati untuk membangunkan Alex, ingin meminta penjelasan pada pria itu. Nyatanya, pria itu hanya mengigau.
Tampannya wajah Alex membuat Hanna mati gerak. Niat ingin segera keluar, kini terlupakan sesaat. Hanna justru berdiri di depan pria itu, menunduk memandangi wajah tampan bak pahatan dewa Yunani.
"Tampannya..," gumam Hanna. Namun, setelah tersadar, gadis itu segera menegakkan tubuhnya, menggeleng-gelengkan kepala agar bayangan wajah Alex yang tampan hilang dari ingatnya.
***
Pagi Julia diawali dengan keterkejutan mendapati Hanna tidur di ranjangnya. Seingatnya mereka memiliki kamar masing-masing, tapi kenapa Hanna berada di sisinya?
"Hanna, bangun. Kenapa kau bisa ada di sini? Jangan katakan kalau kau punya penyakit berjalan ketika sedang tidur," ucap Julia menarik selimut sahabatnya yang menutupi wajah dan seluruh tubuhnya.
Untuk kedua kalinya, Hanna menarik selimut itu, dan kembali menutupi wajahnya. Sudah sejak tadi dia bangun. Malah bisa dibilang, dia belum tertidur sama sekali.
Dan ini semua karena pria yang saat ini tidur di sebelah kamar mereka. Otak Hanna dipenuhi oleh wajah Alex dan juga tubuh atletik pria itu.
"Kau tidak mau menjawab ku?" ujar Julia kesal. Menarik selimut dengan sekuat tenaga hingga wajah Hanna terlihat.
__ADS_1
"Astaga, Hanna. Apa yang terjadi padamu? ada garis hitam di bawah matamu," kata Julia mendekatkan wajahnya pada wajah Hanna.
"Julia, pelan kan suaramu, dan biarkan aku tidur sebentar lagi. Lagi pula Lady Abigail baru sore nanti kembali," Hanna membalikkan tubuhnya, menjauh dari tatapan menyelidik sahabatnya itu.
Mengenai peristiwa di kamarnya tadi malam, Hanna tidak akan menceritakan pada siapapun, walaupun itu Julia sekali pun. Ya, mungkin untuk saat ini, tidak tahu kalau nanti.
***
Pukul 10 pagi, barulah Hanna bangun. Mandi pun kini sendiri, tanpa ada Mery yang membantu. Kini tubuh sudah terasa segar, bergegas mencari Julia keluar, tepat saat itu pun Julia hendak ke kamar menjemputnya.
"Akhirnya kau keluar juga, aku sudah lapar," ujarnya kembali menuju ruang makan.
"Kau belum sarapan? mengapa harus menunggu ku?" Hanna menjadi tidak enak hati pada Julia.
Hidangan di kediaman Cambridge sangat istimewa. Banyak makanan enak yang bahkan kedua gadis itu belum pernah menyantapnya.
"Apa aku salah rumah hingga begitu bangun melihat gadis cantik di sini?" suara pria dari arah belakang menyita waktu makan mereka.
"Hanna, berdiri. Beri salam pada His Grace," bisik Julia menyikut lengan Hanna, tapi tanggapan dan reaksi Hanna dingin tidak peduli.
"Selamat pagi Lady Clifford, tidak menyangka bertemu dengan anda disini," Alex sudah mendekat dan berdiri tidak jauh dari Hanna. Gadis itu tidak peduli, masih terus mengaduk sup jagungnya tanpa berselera memakannya.
Hanna tahu, Alex sengaja tidak menyapanya bahkan menganggapnya tidak ada di sana. Ingin memancing reaksi Hanna atas penghinaan pria itu.
"Selamat pagi My Lord. Lady Cambridge mengundang kami, maksud ku, mengundang Hanna untuk pesta teh, dan saya diminta Hanna menemaninya," ucap Julia masih gugup.
"Oh, begitu. Boleh kah aku bergabung di sini? perutku terasa lapar," ucap Alex menarik kursi dan duduk di kursi utama, masih mempertahankan tatapannya sedikitpun tidak melirik ke arah Hanna.
"Kau tahu, Miss Clifford, tadi malam aku bermimpi seorang pelayan bodoh masuk ke dalam kamarku dan mencoba menjatuhkan ku dari atas tempat tidur," gumam Alex mulai menyantap makanan yang dihidangkan pelayan.
__ADS_1
"Pelayan? masuk ke kamar anda, My Lord?" sambar Corazon, kepala pelayan di rumah itu kaget. Bagaimana seolah pelayannya lancang mengganggu tidur Duke of Claymore.
"Ya, aku tebak gadis itu pasti punya perangai yang buruk, karena sudah lancang masuk ke kamar ku," ucapnya mengulum senyum yang tidak dilihat oleh siapa pun. Alex sadar, tingkahnya memprovokasi Hanna semakin membuat gadis itu kesal.
"Maaf, Anda berada di kamar yang mana? saya tidak melihat Anda datang, my Lord." Corazon semakin bingung. Dia ingat tamu nya yang datang kemarin malam hanya kedua nona muda ini dan juga seorang pria yang sebelum malam sudah pulang.
"Tentu saja di kamar ku. Kamar yang biasa aku tempati," gumamnya.
"Astaga.. maaf my Lord, tapi kamar itu tadi malam ditempati oleh Miss Jhonson," gumam Corazon terpekik kaget. Julia bahkan terjungkal ke belakang, sembari menutup mulutnya. Hanya reaksi dari Hanna yang berbeda. Meletakkan sendok nya dengan pelan, lalu membersihkan sudut bibirnya dengan serbet.
"Terima kasih untuk sarapannya, Corazon, ini sungguh nikmat. Aku permisi dulu," ucap Hanna menekan amarahnya, tidak terprovokasi oleh pancingan Alex.
"Hanna, jadi tadi malam kau tidur dengan His Grace?" spontan kepolosan Julia muncul seperti biasanya. Membuat pekikan dari dua orang pelayan yang berdiri untuk melayani mereka selama makan terdengar.
Kalau mengikuti keinginan hatinya, Hanna ingin sekali membalikkan meja ini dan mulai mencekik leher pria yang masih saja bisa bersikap tenang menikmati wine nya.
"Tentu saja aku tidak tidur dengan.. His Grace, kalau itu yang kalian ingin tahu. Dia masuk ke kamar dan saat aku merasa sesuatu benda berat, kau tahu, seperti satu karung ubi busuk menimpa tubuhku yang saat itu tertutup selimut membuatku sesak, aku memilih untuk mendorong beban itu, agar aku bisa bernafas," tuturnya. Memberi jeda pada kalimatnya, lalu dengan ekor matanya melirik sekilas ke arah Alex yang lagi-lagi masih bersikap tenang.
"Saat aku menyadari kalau penyusup yang tidak tahu malu itu adalah..His Grace, aku memilih untuk keluar dari kamar dan seperti yang kau tahu, aku tidur di kamar mu," ucap Hanna dengan tegas.
Kali ini, Alex tidak bersusah payang menyembunyikan senyumnya, bahkan tidak lama kemudian dia tertawa lebar.
Hanna menyipitkan sebelah matanya, meremas sisi gaunnya, dan berakhir dengan menekuk kakinya memberi hormat dan segera pergi dari sana.
"Hanna, tunggu aku," Julia mengekori gadis itu yang berjalan menuju taman rumah.
"Apakah kau benar-benar sempat tidur dengan Alex?" bisik Julia yang masih belum mengerti arti amarah di wajah sahabatnya itu.
***
__ADS_1
Hai gais, mampir yuk