
Davlin seketika berdiri saat melihat Hanna yang tengah menuruni anak tangga. Menunjukkan sikap gentleman nya. Stuart yang sejak tadi menemani Davlin, hanya tersenyum melihat reaksi pria itu.
Hanna tampak tidak sudi menemui tamu agung nya dengan wajah ramah. Wajah mengkerut yang di tunjukkan Hanna bahkan lebih berkerut dan masam dari pada jeruk purut.
Malas-malasan Hanna menjatuhkan bokongnya di sofa, jauh dari jangkauan Davlin. Stuart melirik memperhatikan gerak-gerik keduanya dan mengerti sedang ada konflik diantara keduanya yang ingin diselesaikan.
"Silakan ngobrol, om masuk dulu," ucap Stuart hendak masuk ke dalam.
"Maaf, Om aku boleh izin ajak Hanna bicara di luar?"
Ayah dan anak tampak saling pandang, dia ingin minta persetujuan Hanna, karena jika gadis itu tidak setuju ikut, maka Stuart akan menolak dengan tegas. Sudah sejak lama Stuart tahu ada sesuatu diantara mereka, hanya saja seperti biasa, pria itu ingin memberikan kesempatan pada Hanna menjalani hidupnya tanpa ada campur tangan dari siapapun, walau dari ayahnya sekali pun.
Walau tipis, Stuart melihat reaksi penolakannya dari gelengan kepala. "Sudah malam, sebaiknya bicara di sini saja," ucap Stuart berwibawa. Rasa tida puas muncul di riak wajah Davlin.
Hanna berpikir, kalau pun memang harus diakhiri, mereka harus sama-sama lega. Jadi dia memutuskan untuk ikut perkataan Davlin.
"Papa, izinkan aku keluar sebentar ya. Aku janji hanya sebentar," ucapnya.
***
Niat awal, Davlin ingin mengajak Hanna bicara di salah satu cafe, tapi gadis itu menolak tegas. "Tidak perlu memilih tempat untuk bicara. Kita ke taman itu aja." Hanna menunjuk taman yang tidak jauh dari sana. Malam begini, terlebih karena baru diguyur hujan sejak tadi, menambah kesan seramnya.
Biasanya taman itu jadi tempat bermain anak-anak yang tinggal di komplek itu, ada lampu tamannya juga, tapi entah mengapa malam ini tidak hidup.
Tentu saja Davlin ingin memaksa kehendaknya namun, karena Hanna sudah lebih dulu melangkah, akhirnya mengikuti dari belakang.
Bangku taman yang ikut basah karena hujan yang sudah berhenti, dia keringkan dengan selendang yang dia bawa dari rumah, untuk menghangatkan tubuhnya. "Duduk, udah kering," ucap Hanna menunjuk tempat di sebelahnya dengan tatapan matanya.
Davlin menurut, apa pun akan dia lakukan asal bisa berdamai. Dua menit berlalu, namun tidak ada juga yang memulai percakapan.
__ADS_1
"Kau bilang mau bicara." Hanna yang merasa tidak sabar mulai buka suara. Tidak mungkin mereka berdua berdiam diri begitu hingga pagi.
"Apa... apa kau sudah makan?" Davlin menyesap udara malam yang dingin, mencoba menenangkan debar jantungnya. Baru kali ini dia begitu frustrasi, goda tahu harus bersikap seperti apa.
"Sudah. Aku rasa bukan itu hal yang ingin kau sampaikan," ucap Hanna pedas. Matanya menangkap gelang couple milik mereka tidak dipakai pria itu. Justru berganti gelang yang sama dengan yang ada pada foto di hape Iris.
"Sayang..."
"Gak usah pakai sayang, sayangan segala. Mau ngomong apa, aku mau pulang!" hardik Hanna tegas. Davlin bahkan kehilangan keberaniannya. Kata-kata yang sudah dirangkainya sejak tadi nyatanya hilang seketika.
"Kau kok ngomong gitu, sih? oke kalau aku ada salah, aku minta maaf. Oke?" ucap Davlin dengan penekanan. Baginya kalau sudah meminta maaf, maka tidak ada lagi masalah dan sikap Hanna wajib kembali baik padanya.
"Gak perlu minta maaf kalau terpaksa."
"Siapa yang terpaksa? please dong, Han. Jangan kayak anak kecil gini."
"Apa? kayak anak kecil? kau tuduh aku kayak anak kecil? bagus. Aku memang anak kecil, karena itu aku belum pantas pacaran, aku mau kita putus! Itu pun kalau kita punya status!"
"Apa yang kau bicarakan? Apa hubungan kita ini lelucon bagimu? apa cintaku padamu hanya mainan?"
Amarah sudah merajai Hanna. Dalam pikirannya dia hanya ingin membela harga dirinya yang sudah tidak dianggap Davlin. Tidak dihargai sama sekali. Tidak ingin kalah Hanna pun membalas dengan lebih sakit.
"Lalu apa aku mainan mu? kau bilang sibuk? hah? sibuk dengan pekerjaan mu, hingga tidak sempat menghubungi aku, tapi kau punya waktu berduaan dengan Iris? aku melihat foto mesra kalian di tempat wisata di sana! Oh, aku lupa, memang dia lah kekasihmu, sementara aku? aku hanya gadis tidak tahu malu yang mau menjadi simpanan mu!" teriak Hanna melepaskan himpitan di dadanya. Bukannya tidak makan hati berada di posisinya saat ini.
Dia harus melihat Iris yang selalu menempel pada Davlin, seolah itu belum cukup, dia harus merelakan Davlin makan siang bersama. Bahkan siapa yang tahu kalau malam mereka pergi berkencan? sakit, sangat sakit!
"Foto?" Davlin berpikir keras dan ketika ingat dia mengepal tinju. Dia sudah mengerti sekarang.
"Itu foto saat hari terakhir kami bekerja di sana, setelah selesai, para karyawan dan pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita mengajak kami bergabung. Kami gak pergi berdua," terang Davlin.
__ADS_1
"Sudah lah, aku lelah. Aku menyerah. Aku memang tidak pantas untukmu, sebaiknya kau memupuk cinta kalian." Hanna bangkit, bersiap untuk pulang namun Davlin menarik kasar tangannya.
"Apa kau bilang? aku tidak akan membiarkan mu pergi. Kau gak boleh meninggalkan ku!"
"Tapi aku udah gak tahan. Aku muak dengan hubungan tanpa status ini!"
"Bukan kah kau yang menyuruhku untuk tetap di sisi Iris? kalau memang itu masalahnya, saat ini juga, aku akan mengatakan hubungan kita padanya!"
"Jangan gila! Kasihan Iris, bagiamana kalau penyakitnya kambuh?"
"Lalu kau tidak kasihan padaku?"
"Cukup, Dav. Lepaskan aku!"
"Aku gak mau, aku gak bisa!" Davlin menarik tubuh Hanna untuk dibawa dalam pelukannya, namun, gadis itu menolak, segera mengurai pelukan mereka. Baru akan angkat bicara lagi, ponsel Davlin berdering, dua kali diabaikan, namun Hanna yang tidak tahan memintanya menjawab.
"Ada apa? gue lagi sibuk, Ris!" Sayup-sayup Hanna masih bisa mendengar suara pria dari speaker ponsel Davlin. "Itu pasti Haris," ucapnya dalam hati.
"Apa?" Davlin mengalihkan pandangannya padaku, menimbang, apa dia harus pergi atau tidak ke sana. Sambungan diputus, wajah Davlin tampak bingung.
"Ikut lah dengan ku, Han."
"Kemana?" Hanna mengerutkan keningnya.
"Ke rumah sakit, Iris masuk rumah sakit. Papa nya memintaku ke sana!"
"Aku... sebaiknya kau pergi lah. Lebih baik kau bersama Iris. Temani dia. Dia lebih membutuhkan mu."
"Kau bicara apa? justru ini kesempatan ku untuk mengatakan hubungan kita di hadapan mereka."
__ADS_1
"Aku gak mau. Aku ingin kita sudahi hubungan ini. Anggap tidak terjadi apa-apa diantara kita!"
Plak! Davlin yang kalut, tanpa sadar sudah melayangkan satu tamparan di pipi Hanna, menggores luka baru yang tidak terperi kan!