My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 112 (MCL)


__ADS_3

"Pejamkan mata." Dada Hanna bergemuruh, masih menerka, hukuman apa yang akan diberikan oleh Davlin padanya. Masih menghitung dalam hati, benda kenyal menyentuh bibirnya. Dari teksturnya saja Hanna sudah menebak itu bibir Davlin.


Tidak menunggu lama, bibir itu sudah menguasainya. Menciumnya dengan kelembutan yang tidak pantas disebut hukum. Hanna membuka mata, kala aksi pagutan itu berhenti. Kesal. Iyalah, Hanna masih ingin.


Malu-malu dia membuka matanya. Menatap pria yang ada dihadapannya, dengan rona pipinya. "Apa? siapa suruh buka mata? masih dihukum, kan?!"


Hanna tersenyum. Sengaja memasang senyum yang paling manis, lalu mendekat untuk memeluk Davlin.


Entah mengapa, belakangan, Hanna menyadari kalau Davlin mulai berubah. Dia mulai dewasa, dan justru sebaliknya, Hanna lebih sering buat masalah. Tapi bukankah seperti itu yang namanya pasangan?


Penuh gemas, Hanna menggosok-gosokkan ujung hidungnya pada hidung Davlin. Dia ingin bermanja kali ini. Penuh obsesi dia mengeratkan kalungan tangan di leher Davlin dan kini tanpa malu, mendekatkan bibirnya ke bibir pria itu.


Davlin tidak mungkin tahan dengan godaan seperti ini, dia menyambut dengan senang hati. Ciuman berubah ******* yang membuat darahnya berdesir. Hanna suka, dia candu pada cara Davlin menciumnya.


"Jangan lagi dekat dengan pria mana pun, aku gak suka," ucap Davlin menangkup dagu gadis itu. Meminta keseriusan dan juga janji dari Hanna.


"Dengar, aku dan Kai hanya teman, dan saat ini di sedang ada masalah. Hanya itu." Hanna bermain dengan jemarinya, menelusuri rahang Davlin yang tegas sempurna.


"Tidak ada persahabatan antara wanita dan pria. Ujung-ujungnya, mereka bisa dekat dan saling suka. Aku gak mau ambil resiko kehilanganmu."


"Percayalah, hatiku hanya untuk mu," ucap Hanna mencium sekilas bibir Davlin. Lebih mendesak dan ingin lebih dekat, Hanna bahkan sudah duduk di pangkuan pria itu.


"Kalau begitu kita nikah aja," tantang Davlin serius. Sebenarnya apa lagi yang mereka tunggu. Ini mungkin jalannya, agar Davlin tidak perlu ketakutan lagi kehilangan Hanna."


"Dih, apaan sih. Aku masih kuliah. Belum juga selesai." Hanna ingin melepaskan rangkulannya, tapi tidak semudah itu. Davlin langsung memegang bokongnya dan menarik kembali mendekat.


"Kau tidak akan ku biarkan lari. Kau bisa tetap kuliah setelah kita menikah. Sebenarnya apa yang kita tunggu, kita saling mencinta, bukan?" Hanna mengangguk.


"Terus, kenapa pernikahan ini di tunda? Kita bahkan sudah sering tidur bersama di malam hari."

__ADS_1


"Astaga.. apa mama gak salah dengar? kalian sudah tidur bareng?" pekik Reta yang baru pulang kerja dan sempat mencuri dengar obrolan mereka.


Terkejut karena sudah tertangkap basah sangat dekat, Hanna buru-buru turun dari pangkuan Davlin. Membenarkan pakaian dan juga rambutnya. "Tante.." desis Hanna merasakan malu yang sangat besar. Dia bagai ja* lang yang tertangkap basah.


"Tante gak percaya dengan apa yang Tante dengar. Kalau Davlin brengsek, Tante sudah tahu itu sejak lama, tapi kamu, Han.. Kenapa kamu bisa terperangkap dengar jeratan anak bejad ini?" Pekik Reta meletakkan tasnya di sofa. Berkacak pinggang di hadapan Hanna.


Benci, tidak. Tentu saja Reta tidak benci pada Hanna. Dia justru kasihan pada gadis itu, yang pasti sudah diperdaya putranya hingga jatuh dalam pelukannya.


"Tante...," ucap Hanna hampir ingin menangis. Wajahnya sampai terasa panas karena menahan malu.


"Jawab tante, apa benar kalian sudah tidur bareng?"


Demi Neptunus, Hanna harus jawab apa? kalau dia bilang sudah, nanti Reta semakin salah paham, dan berpikir kalau benar dia dan Davlin sudah tidur bersama, tapi kalau belum, nyatanya mereka memang tidur bersama, kan? Eh.. jadi bingung Hanna harus jawab apa. Sekilas Hanna melirik ke arah Davlin yang masih duduk di tempatnya.


Sedikit pun tidak ada kegusaran akan amarah ibundanya, justru sebaliknya, pria itu malah senyum-senyum menggoda Hanna. Menatap gadis itu dengan senyum mengejeknya.


"Iya, Tante." Hanna tidak punya pilihan lain. Malu hingga membuat kepalanya tertunduk.


Dia sudah pernah mencium kedekatan keduanya, dia juga tahu kalau putranya suka pada Hanna, tapi tidak menyangka hubungan mereka sudah sejauh ini, karena dia juga menebak baru beberapa hari lalu. Kala gadis itu datang mengantarkan kue, Hanna tersenyum kepada Davlin, dan saling melempar kecupan di udara.


"Aku siap," jawab Davlin Santi, dan lagi-lagi dengan senyum menggoda.


Apa-apaan sih, ibu dan anak ini, suka-suka hati mereka aja buat keputusan!


"Maafkan aku, Tante. Aku mohon jangan bilang sama mama dan papa," ucap Hanna menyatukan telapak tangan di dada.


"Gak bisa. Kamu sudah dicemari pria busuk ini, maka dia harus bertanggung jawab." Reta kemudian beralih pada Davlin. "Hey, anak muda, mama mohon kamu bertanggungjawab, segera nikahi Hanna!"


"Dengan senang hati, Mama. Jadi kapan kita melamar gadis yang sudah tercemar ini?" Davlin menaikkan sebelah alisnya. Menikmati momen penyiksaan Hanna.

__ADS_1


Sebenarnya, dia tidak tega melihat kegusaran di wajah gadis itu, tapi kalau bukan begini caranya, mereka tidak akan jadi menikah karena Hanna selalu menolaknya.


"Davlin, kau apa-apaan sih?" cicit Hanna menyikut lengan pria itu yang sudah berdiri di sampingnya.


"Bertanggungjawab, dong!"


"Tapi kau tahu benar aku tidak tercemar!" Hanna jadi ikut arus kamus yang digunakan keluarga More.


"Kau tercemar. Bahkan sudah tidak bisa disterilkan. Satu-satunya cara adalah menikah dengan mu."


"Tapi kau..."


"Sudah, Hanna," sambar Reta memotong niat Hanna yang ingin adu debat dengan Davlin. "Pulang lah, katakan pada orang tuamu, malam ini, kami akan ke rumah."


"Apa? malam ini, Tante?" wajah Hanna semakin panik. Kenapa jadi begini? mereka kan tidak ngapa-ngapain, kenapa jadi dibawa ke penghulu, sih?


"Iya. Atau mau sekarang saja? sekalian kami mengantarmu?"


Melihat keseriusan di wajah Reta, bagaimana mungkin Hanna masih bisa membantah? dia juga tidak ingin dibenci oleh calon mertua. Eh, benarkah calon mertua?


Duh, dunia Hanna tiba-tiba jungkir balik hanya karena kedapatan pangkuan dan ya, berpelukan dan ya, berciuman juga, sih. Tapi masa iya, harus dinikahkan? Hanna teringat film yang pernah dia tonton, film zaman dulu, komedi trio. Warkop DKI yang salah satu personilnya, Dono, ketahuan pacaran dengan malam dengan anak pak RT!


Langkah Hanna lunglai. Menapaki selangkah demi selangkah halaman rumahnya hingga masuk ke dalam. Loh, kau dari mana? kok lesu?"


"A-ku mau mandi dulu ya, Ma."


"Ya, sudah. Habis itu kita makan. Papa mu sudah kelaparan itu," ucap Ema mengangguk.


"Papa udah pulang?" Hanna menelan salivanya susah payah. Lengkap sudah penderitaannya malam ini. Dia pikir papa nya akan pulang besok, jadi kalau pun keluarga Davlin datang, mereka tidak bisa berkata apa-apa, tapi nyatanya, Stuart sudah kembali.

__ADS_1


Habis lah aku, jadi aku bakalan dinikahkan ini?


Dukung novel aku terus ya♥️🙏🙏😘


__ADS_2