
Dowager Duchess of Claymore makan dalam keheningan bersama menantunya malam itu. Dalam hati memarahi putra sulungnya karena terlambat datang menjemput istrinya, yang kini semakin sedih dan dan tersesat.
Ketika Hanna tiba dua Minggu lalu dan bertanya apakah ia bisa tinggal di sini sampai Alex punya waktu untuk merenungkan semuanya dan datang menjemput.
Margaretha Claymore berpikir ingin mendesak, bahkan memaksa Hanna untuk kembali ke samping suaminya, tempat seharusnya Hanna berada.
Tetapi ada sesuatu dalam ekspresi Hanna yang terluka dan penuh tekad yang mengingatkan sang dowager akan dirinya sendiri bertahun-tahun lalu, kenangan akan ayah Alex yang berjalan melintasi ruang duduk orang tua Margaretha, tempat ia menemukan sang istri setelah wanita itu menghilang selama empat hari. "Cepat masuk ke dalam kereta," ucap ayah Alex kala itu dengan tegas dan dagu terangkat. Namun, melihat Margaretha bergeming, Ayah Alex melanjutkan, "Aku mohon, Margaretha."
Margaretha tersenyum mengingat hal itu. Ternyata benar, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Tetapi Hanna sudah berada di sini selama dua Minggu, dan Alex belum berusaha sedikit pun untuk datang menjemput. Lady Claymore menginginkan cucu dan harapan itu tidak akan terkabul jika kedua anak muda yang angkuh dan keras kepala itu hidup terpisah berkilo-kilo meter jauhnya.
Sungguh, semua ini sangat konyol. Tidak ada dua orang yang sangat saling mencintai seperti mereka.
Saat menikmati hidangan penutup, sebuah ide terbersit di benak sang dowager duchess yang membuat wanita itu hampir bangkit dari kursi. Kemudian, sang dowager mengirim surat kepada Stephen di London malam itu juga untuk datang mengunjunginya besok pagi-pagi sekali.
***
"Masalahnya," ucap sang dowager kepada Stephen yang memberengut tapi agak geli pada keesokan hari ketika ia bertemu dengan putra bungsunya secara pribadi. "Aku tidak yakin Alex tahu Hanna ada di sini. Jadi bagaimana mungkin Alex akan datang menjemput Hanna."
Stephen tidak tahu-menahu soal pertengkaran itu, menyunggingkan senyum jail ke arah ibunya. "Sayang, itu mengingatkan ku pada kisah yang pernah ku dengar tentang Ibu dan Ayah."
Dowager Duchess melayangkan tatapan mengecam ke arah putranya yang tidak peka itu dan melanjutkan, "Aku ingin kau mencari Alex. Kurasa dia tinggal di rumah di London. Tapi cari dia malam ini kalau bisa. Lalu berikan 'petunjuk' bahwa Hanna ada di sini bersamaku, seolah kau menganggap dia pasti sudah tahu. Oh, jangan biarkan dia mengira dia dipaksa datang menjemput Hanna. Kalau situasi seperti itu, aku yakin Hanna akan menolak upaya Alex yang dilakukan setengah hati untuk berbaikan."
"Kenapa aku tidak membawa Hanna kembali London bersamaku sekarang dan menciptakan rumor bahwa aku tergila-gila padanya? itu pasti membuat Alex marah besar," ucap Stephen tersenyum lebar.
"Stephen, jangan main-main. Ini serius. Aku ingin kau mengatakan ini.."
***
Pada pukul tujuh malam itu, Alex duduk di kursi di klub miliknya. Dia sedikit kaget ketika mendongak dari kartu dan mendapati adiknya duduk di hadapannya, sedang menumpuk kepingan dan bersiap ikut bermain.
Alex menatap Stephen dengan keramahan was-was. Ia tidak ingin Stephen bertanya tentang Hanna karena dia sendiri tidak bisa menjelaskan bahwa ia telah 'Kehilangan' istrinya, sama seperti ia tidak bisa memberitahu Stephen tentang hubungan mereka yang merenggang. Jadi, Alex merasa lega ketika Stephen membuka obrolan dengan, "Apakah kau kalah atau menang malam ini, Your Grace?"
__ADS_1
"Dia buat kami jatuh miskin," sahut Marcus Rutherford ramah. "Belum kalah sekali pun selama satu jam terakhir."
"Kau terlihat mengerikan, Kak," komentar Stephen sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih," sahut Alex datar seraya melemparkan kepingan ke tumpukan tinggi di tengah meja. Alex ikut dalam permainan itu dan dua permainan selanjutnya.
"Senang bertemu denganmu, Claymore," ucap Lord Dustwin seraya melirik duke yang mendadak pergi begitu saja ketika mereka terakhir kali kali bermain kartu di sini waktu itu.
Lord Dustwin dengan sopan hendak menanyakan kabar sang duchess muda, tetapi terakhir kali Lord Dustwin mengatakan melihat wanita itu di pesta Wilson, Lord Dustwin memicu terjadinya pertengkaran, jadi ia berpikir sebaiknya tidak menyinggung sang duchess sama sekali. "Keberatan kalau aku bergabung?" tanya Lord Dustwin kepada sang duke.
"Dia sama sekali tidak keberatan," ujar Stephen ketika Alex ternyata tidak mendengar Lord Dustwin. "Dia sangat bersedia mengambil uangmu bersama uang orang lain."
Alex melayangkan tatapan sinis pada adiknya. Ia tidak bisa tetap di rumah jika tidak ingin kecemasan membuatnya gila. Tetapi obrolan riang Stephen bersama orang lain membuat saraf Alex tegang, padahal ia baru bermain selama satu jam.
Alex hendak mengundang Stephen ke rumah untuk mabuk-mabukan yang lebih tepat dengan suasana hatinya saat ini. Namun, niat itu terhenti tak kala Stephen dengan santai berkata, "Aku tidak menduga kau ada di sini. Kukira kau akan menghadiri pesta kecil yang diadakan ibu untuk kerabat kita malam ini."
Setelah berhasil menunjukkan sikap seorang pria yang baru saja mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan, Stephen menggeleng dan menambahkan dengan nada meminta maaf. "Maaf, Lex. Aku lupa karena Hanna tinggal bersama Ibu dan sudah sewajarnya kalau dia berencana menghadiri pesta, kau tidak akan di sana juga menikmati pesta bersama..."
Tetapi sang Duke sudah berdiri. Ia berdiri di sana, menunduk menatap adiknya dengan berbagai perasaan antara tidak percaya, takjub dan sesuatu yang lain.
Kemudian, tanpa memungut tumpukan keping tanda kemenangan, atau dengan sopan mengucapkan selamat tinggal kepada siapa pun, sang duke berbalik dan berjalan ke pintu dengan langkah lebar dan penuh tekad.
"Oh, astaga!" ucap Lord Dustwin kepada Stephen ketika mereka berdua mengamati sosok Alex yang menjauh. "Kau mencari masalah! Seharusnya aku memberitahumu, kakakmu tidak suka duchess-nya menghadiri pesta tanpa dirinya."
"Memang," Stephen membenarkan sambil tersenyum lebar. "Ku kira dia tidak suka."
***
Perjalanan ke Grand Oak, yang biasanya memakan waktu empat jam, berhasil ditempuh dalam tiga jam setengah jam dari pintu depan klab milik Alex.
"Hanna tinggal bersama ibuku! Bersama ibuku, demi Tuhan!" batin Alex. Satu-satunya orang yang seharusnya cukup bijaksana untuk menyuruh istrinya kembali pada pria itu. Ibu Alex sendiri telah bersekongkol menempatkan Alex dalam siksaan ini!
__ADS_1
Kereta berhenti di depan rumah sang dowager duchess yang terang benderang, dan Alex ingat Stephen berkata akan ada pesta malam ini. Alex tidak ingin menemui para kerabat, ia ingin menemui istrinya. Dan Alex juga tidak membawa pakaian resmi, bahkan tidak berpikir untuk mampir ke rumah untuk berganti pakaian, dan Alex tidak akan melakukannya walaupun hal itu sempat terpikirkan olehnya.
Ia sangat ingin menghadapi ibunya beserta pengkhianatan wanita itu sebelum pergi mencari Hanna. Alex tergoda, tetapi tidak melakukannya.
"Selamat malam, Your Grace," sapa kepala pelayan keluarga.
"Persetan!" sahut Alex seraya berjalan melewati pelayan yang terkejut itu menuju ruang duduk yang ramai. Sepertinya semua kerabat Alex ada di ruangan itu, tetapi Hanna tidak ada.
Alex melihat ibunya, dan ketika sang dowager duchess berjalan menghampiri dengan senyum ceria, Alex berhenti sejenak untuk melayangkan tatapan tidak senang ke arah wanita itu hingga sang dowager duchess berhenti melangkah.
Lalu Alex berbalik dan berjalan ke tangga utama. "Di mana istriku?" tuntut Alex kepada pelayan di koridor atas.
Alex ragu sejenak di luar pintu yang dituju, tangannya memegang pegangan pintu dari Kuningan, jantung mengentak karena lega sekaligus takut. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Hanna saat melihatnya, tidak tahu apa yang akan dikatakan kepada wanita itu.
Tetapi saat itu, yang paling penting adalah bisa melihat Hanna dan memuaskan matanya dengan memandangi wanita itu.
Alex membuka pintu dan melangkah masuk tanpa suara, kemudian menutup pintunya. Hanna sedang berendam di bak Kuningan besar dan memunggungi ruangan.
Pelayan pribadi Hanna berdiri di belakang wanita itu, memegang sabun dan kain. Karena terpukau, Alex hanya bergeming di sana.
Alex ingin menghampiri dan menarik Hanna, yang tela*njang dan basah ke dalam pelukannya, menempelkan tubuh Hanna ke tubuhnya, menggendong Hanna ke ranjang dan membenamkan diri ke dalam tubuh wanita itu.
Dan pada saat yang sama, Alex merasa tidak berhak berbicara dengan Hanna, apalagi menyentuh wanita itu.
Dirinya tidak berharga. Sudah dua kali, Alex memperlakukan Hanna dengan sangat kasar, yang tidak disangka Alex sendiri dirinya sanggup melakukannya.
Ya Tuhan! Hanna sedang mengandung anaknya dalam rahim wanita itu, tapi tidak sekali pun Alex bertanya bagaimana perasaan Hanna.
Mery mendongak, menyadari kehadiran Alex. Melihat Alex menggulung lengan kemejanya sambil berjalan ke bak mandi. Mery membuka mulut dengan maksud untuk menyapa majikannya, tetapi Alex memintanya untuk diam, dan meminta agar pelayan itu menyerahkan sabun dan kain kepada Alex dan meninggalkan kamar diam-diam.
Dengan sangat lembut, Alex menyabuni punggung Hanna, berhati-hati agar sentuhannya tetap ringan dan tangannya tidak terlihat.
__ADS_1
"Rasanya enak, Mery," gumam Hanna sambil membungkuk ke depan dan menyabuni kaki. Biasanya Mery meninggalkan Hanna untuk mandi sendirian, tetapi akhir-akhir ini Hanna begitu cemas dan khawatir hingga tidak mencurigai perhatian yang tidak biasa ini dari 'Mery-nya'.