My Crazy Lady

My Crazy Lady
Perkenalkan 3


__ADS_3

Bab 4


“Bangun, Lin. Kau tertidur pulas” Juna menepuk pipi Elin pelan. Bola mata gadis itu terbuka. Juna menatap dalam, setiap melihat bola mata itu, Juna akan terpesona. Elin memiliki bola mata yang sangat indah, siapa saja memandang akan selalu mendapat ketenangan, sangat teduh dan membuat keberanian muncul bagi yang menatap.


“Apa aku sudah lama tertidur?” Dilayangkannya pandangannya ke sekeliling, sudah gelap. Mungkin karena sangat lelah berlari tadi hingga membuatnya terlelap walau perutnya keroncongan. Roti yang dia curi tadi juga sudah jatuh di jalan karena fokus berlari.


“Cukup lama. Nih..” Juna mengangsurkan sebungkus nasi yang hanya berteman tempe.


“Ayo, makan,” ucap Juna kala melihat Elin hanya menatap nasi kucing itu.


“Kau sendiri? Ayo, kita bagi”


“Aku sudah tadi,” sahutnya berbohong. Nasi seharga lima ribu itu dia beli dengan sisa uang yang ada di kantongnya. Itu pun hasil mengamen di jalan tadi.


Elin menatap wajah Juna, mencari kebenaran dari perkataan pria 17 tahun itu. “Serius, aku sudah makan. Cepatlah makan”


Bunyi kembali terdengar dari perutnya. Elin pun menghabiskan nasi yang ada dalam bungkus daun pisang itu.


Hidup di kota ternyata sangat berat. Setiap hari mereka mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan, Elin memilih menjadi pelayan di warung dan rumah makan, dan Juna bekerja bangunan. Namun, seolah dunia memang tidak berpihak pada mereka. Baru dua hari bekerja sebagai pelayan di warung makan, suami pemilik warung berusaha memperkosa Elin, hingga membuat gadis itu di tendang keluar oleh si pemilik warung.


Begitu pun dengan Juna, bekerja sebagai tukang juga membuatnya banyak mendapat masalah. Sikap kasar dan temperamennya membuat dengan cepat di pecat.


“Sudah berbulan kita di sini. Kalau hanya mengandalkan mengamen, selamanya kita akan seperti ini saja. Besok kita akan pergi ke Jakarta “


Ucapan Juna membuat Elin mendongak. Hidup di kota ini saja sudah sangat susah, apalagi di ibukota yang terkenal kejam itu.


“Tapi, Jun”

__ADS_1


“Jangan bantah. Kau ikut saja apa kataku”


***


Mereka tiba di Jakarta pukul enam pagi, dengan menumpang di truk barang dari Surabaya menuju Jakarta.


Perut Juna sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi, sakit melilit karena merasakan lapar. Demi Elin dia harus tidur dengan perut kosong, padahal seharian dia tidak makan kemarin. Sebenarnya sebelum mendapatkan uang lima ribu itu, Juna mencoba mencuri di warnet, namun ternyata ketahuan


Duduk di trotoar jalan, menatap banyaknya manusia di terminal itu membuat Juna mendapatkan ide.


“Kau tunggu di sini dulu,” ucap Juna bangkit dari duduknya.


Elin hanya bisa menatap punggung prianya yang sudah menjauh. Beberapa pria mabuk yang melewatinya menatap aneh kearahnya. Mungkin karena dandanannya, Elin memang menggunakan pakaian Juna, dengan rambut digelung ke atas, di tutup dengan topi serta wajahnya yang dekil semakin terlihat kotor kala Juna menempel arang ke wajah Elin.


“Kenapa harus begini, Jun?” tanya Elin tidak mengerti sesaat sebelum berangkat Juna menempelkan arang yang sudah dicairkan itu ke wajahnya.


“Sudah, diam saja,” hardik Juna. Itu semua hanya untuk melindungi Elin. Juna tahu bagaimana kota besar itu. Buas, dan juga tidak punya belas kasih. Dia tidak ingin Elin menjadi mangsa pria-pria bejat di sana yang tubuhnya pasti lebih besar dan kuat dari dirinya, hingga sulit untuk melindungi Elin.


Pria yang berhenti mengamati Elin pun mengikuti perintah temannya. Barulah saat itu Elin menyadari tujuan penampilannya ini.


Hatinya semakin memuja Juna, perasaan tulus yang timbul sejak dulu itu kini semakin besar. Juna selalu ada untuknya, melindungi dan juga menjaganya.


20 menit kemudian, sosok Juna datang mendekat. “Ayo, pergi” Juna sudah menarik paksa tangan Elin, berlari bersama pria itu menjauh dari terminal.


Juna mengajak Elin memasuki satu warung nasi. Memesan dua buah nasi uduk dan teh manis hangat. Setelah si pemilik warung itu berlalu, Elin mendekat memuaskan rasa ingin tahunya. “Kita bayar dengan apa?” bisiknya khawatir.


“Kau tenanglah,” ucap Juna tersenyum, sembari mencubit pipi Elin.

__ADS_1


Sembari menikmati makan makanannya, Elin yang melihat keramahan si pemilik warung bertanya, apa dia butuh pelayan di sini.


“Sebenarnya ibu butuh, tapi ga bisa bayar tinggi gaji pekerja” sahut ibu pemilik warung yang memperkenalkan namanya Tuti.


“Ga papa, Bu. Berapa saja aku terima,” ucap Elin berharap diterima bekerja.


“Ibu Cuma bisa kasih 300 ribu sebulan, tapi makan sudah ditanggung,” terang Bu Tuti kembali.


Elin mengangguk setuju dan berulang kali mengucap terima kasih. Setelah menjelaskan pada Bu Tuti bahwa mereka adalah abang- adik maka wanita itu memperbolehkan mereka tinggal bersama di warung itu.


Sementara hari-hari Elin di lalui sebagai pelayan di warung makan itu, Juna berkeliaran di terminal, menjadi pesuruh, bahkan anak buah preman di terminal sekaligus dekat pasar itu pun di lakoninya.


Ketika senja sudah berakhir, berganti malam yang pekat, Juna akan pulang. Bu Tuti memang tidak tinggal di warung itu. Setiap sore akan pulang, dan datang di pagi hari.


Seiring waktu berlalu, dua tahu sudah mereka tinggal di kota itu. Banyak yang berubah, terlebih pada Juna.


Pria itu kini mengusai sebagian lahan di terminal dengan perlindungan preman senior terminal. Menjadikan Juna tangan kanannya membuat perangai pria itu semakin buruk. Semakin kasar dan pulang selalu berbau alkohol.


Berulang kali Elin memperingatkan agar Juna berubah, namun pria itu akan memukul, menampar Elin. Sebenarnya hati Elin sakit, namun cintanya jauh lebih besar pada pria itu.


Toh, Elin tidak akan hidup sampai sekarang ini kalau bukan karena Juna


Memiliki uang dan jabatan, Juna memutuskan mengontrak rumah petak di dekat warung, agar Elin masih bisa bekerja di warung Bu Tuti yang kini pembelinya semakin banyak. Bahkan warung itu sudah di renovasi, diperluas agar bisa lebih banyak menampung pelanggan.


Bu Tuti tidak menampik itu karena adanya Elin. Gadis cantik jelita, dengan mata yang indah. Namun tidak ada satu pria pun di sekitar situ yang berani mendekatinya, karena takut pada Juna.


“Kau sudah pulang?” Elin antusias menyambut Juna setelah mendengar suara motor pria itu.

__ADS_1


Namun, sorot mata Juna yang menyala menandakan pria itu sudah mabuk. Elin juga tahu, sudah sejak lama Juna tidak hanya candu pada minuman keras, tapi juga serbuk putih yang katanya bisa membuat ketagihan.


“Tutup pintunya!” seru Juna masuk. Elin menurut, masuk dan mengunci pintu. Kalau sudah begitu ritme jantung Elin akan berdetak semakin cepat. Ini bukan pertama, Elin sudah terbiasa, namun tetap saja jantung gadis itu berdegup kencang.


__ADS_2