My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 75 ( MCL)


__ADS_3

Hanna benar-benar mati gaya! Ini baru pukul Tujuh malam, tapi dia sudah sangat bosan. Ingin tidur, belum mengantuk, ingin menonton, acara televisi tidak ada yang menarik hatinya.


"Mama papa tega banget sih ninggalin aku sendiri," gumamnya memasukkan kentang goreng sebanyak yang bisa dia raup dari jarinya.


Satu jam lalu Ema menghubunginya. Bukan menanyakan kabarnya, apakah sudah makan atau belum, justru hanya mengingatkannya untuk tidak lupa mengunci pintu rumah.


Walau sedikit berat, Hanna memutuskan untuk menonton drama korea saja sebagai penghibur hatinya.


Laptop sudah dinyalakan, film sudah di mulai. Baru setengah jam menonton drama romansa, ditambah suara hujan yang turun deras di luar sana, harusnya bisa membangkitkan suasana semakin romantis. Dia bisa larut, ikut masuk dalam film itu, tapi Hanna tidak sengaja melihat cuplikan film horor. Keinginan untuk beralih pada film itu pun mengusik hatinya.


Secepat kilat mengubah haluan, menonton drama yang memacu adrenalin itu. Awalnya mulai tenang, Hanna larut dalam film itu. Walau pun sebenarnya penakut, namun Hanna tetap memaksakan dirinya untuk tetap menonton. Hingga tepat pada bagian seramnya, Hanna yang sudah keringat dingin ingin mengakhiri namun tidak berani beranjak dari tempat nya yang sudah ditutup selimut tebal.


Tiba-tiba... tup! Lampu mati, semua dalam keadaan gelap.


"Mati lampu? hei, maksudnya apa ini?" rintih nya ketakutan. Adegan pembunuhan dalam film itu mulai membayangi pikirannya. Membuat bulu roma nya berdiri dan jantung berdegup kencang.


Apa yang harus dia lakukan? pikirannya beku, tidak bisa berpikir dengan benar sama sekali. Hujan semakin deras di luar sana, petir dan kilat saling menyambar. Hanna semakin takut, mencari ponselnya untuk menghidupkan senter. Sial, alam sedang tidak berpihak padanya. ponselnya lowbat dan mati total dengan sukses! Sungguh keadaan yang sempurna!


Hanna menutup wajah dan seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya. Menangis terisak sembari berdoa dalam hati agar semua baik-baik saja, listrik sialan itu kembali menyala.


"Tuhan, tolong dong, nyalakan lampunya. Aku takut. Kenapa juga lampu ini harus mati saat aku sendirian di rumah sih?" gumamnya dengan lelehan air mata di pipinya.

__ADS_1


Hanna merapatkan tubuhnya, bersandar di headbed, menekuk kakinya rapat ke dada. Tangisnya semakin lama semakin kencang, lama-lama berubah jadi jeritan bercampur air mata. Namun, derasnya hujan membuat suara tangis Hanna tenggelam.


Samar telinganya menangkap suara langkah, namun itu pun dia tidak yakin. Tiba-tiba dia ingat berita yang beredar di komplek perumahan mereka Minggu lalu, ada pencuri yang masuk membobol rumah salah satu tetangganya. "Jangan-jangan itu maling lagi?" desisnya semakin takut. "Atau hantu?" Huaaaa... tangisnya semakin pecah bersama suara langkah yang semakin mendekat.


Tangan kekar itu menarik paksa membuka selimut yang digunakan Hanna. Tangannya menarik mempertahankan selimutnya, begitu juga orang asing yang ada di luar, menarik lebih kuat lagi.


"Mama, papa.. Aku takut..." Jeritnya memukuli tangan orang yang sukses membuatnya mati ketakutan.


"Hei, berhenti memukuli ku. Ini aku, Davlin," ucap pria itu menahan tangan Hanna di udara. Mata gadis itu tidak bisa melihat wajah Davlin dengan jelas, namun suara pria itu yang sudah menjadi nada indah di telinganya membuatnya percaya akan perkataan Davlin.


"Davlin..." Hanna tidak bisa menahan tangisnya lagi. Kedatangan Davlin seolah menjadi penyelamat baginya. Tanpa sadar memeluk pinggang pria itu. Memeluk erat agar tidak ditinggalkan.


"Sudah, jangan nangis lagi. Aku ada di sini," ucapnya membelai lembut rambut Hanna. Gadis itu tidak mau ambil resiko, menarik tubuh Davlin hingga terduduk di sampingnya. Hanna memeluk erat, sambat erat. Dia sadar siapa yang dia peluk, tapi apa dia punya pilihan lain?


Saat ini saja jantung begitu berdegup kencang. Biasanya kalau kondisi mendukung begini, dia pasti sudah menyosor bibir menggoda milik gadis itu, tapi nyatanya kini untuk bicara saja dia kehilangan lidahnya.


Debar jantung Davlin tentu saja terdengar jelas oleh Hanna yang meringkuk dalam pelukannya. Detak jantung Davlin yang berdebar kencang membuat Hanna jadi salah tingkah. Tidak mungkin pria itu berdebar karena mereka saling berpelukan.


"Apakah... apakah.. sejak tadi kau menangis?" tanya Davlin memecah keheningan. Ini juga berhasil untuk membunuh rasa gugupnya.


Hanna diam. Dia sadar saat ini mereka adalah musuh, jadi tidak perlu menanggapi ucapan pria itu. Dia hanya butuh tubuh pria itu sebagai temannya hingga lampu kembali menyala, selebihnya tidak!

__ADS_1


"Kau tidak mau bicara? kalau begitu sebaiknya aku pergi saja!"


"Jangan. Jangan tinggalkan aku!" pekiknya menarik kaos pria itu agar lebih menempel ke tubuhnya.


"Kalau begitu kau dengarkan aku. Iris adalah kekasih ku, itu benar. Kami bertemu saat aku dan ayahnya menjalin kerja sama. Aku sudah lama merancang kerja sama ini, dan ayahnya meminta agar aku bersikap baik. Itu bukan perintah. Iris gadis baik, tapi sayang, nasibnya tidak terlalu beruntung dibalik semua predikat yang melekat padanya. Iris terkena penyakit serius. Ayah nya memintaku untuk bisa menyenangkan hatinya di sisa usianya. Tapi itu memang bukan jadi alasan untuk mempertahankan statusku bersamanya." Davlin menarik nafas panjang, menunggu reaksi dari Hanna, tapi tidak ada. Dia pun memutuskan untuk melanjutkan penjelasannya.


"Setelah bertemu dengan mu, aku jatuh cinta padamu, walau aku akui pada awalnya aku menganggap mu aneh, dan sangat menggangu, tapi aku seiring waktu berlalu, aku justru mencari keberadaan mu. Aku merasa kesepian kalau kau tidak berisik di dekatku. Saat kau memutuskan menjauh, tidak datang ke rumah, aku seperti orang bego. Kehilangan arah, kehilangan semangat dan juga merasa kosong di sini." Davlin menunjuk dada nya sebelah kanan.


"Aku mencintaimu Hanna Jhonson, dan aku tidak bisa kehilangan mu. Kalau karena untuk bersamamu, aku harus kehilangan Mega proyek itu, aku rela. Kau lebih berarti dibandingkan apa pun," ucapnya menangkup wajah Hanna. Saling memandang dalam diam, dan tepat saat itu lampu menyala. Tapi keduanya masih enggan melepas kontak mata. Tidak ada kata yang keluar, Davlin dengan segenap perasaannya, mencium bibir Hanna penuh cinta dan kelembutan.


"Sayang, aku mohon, tetap lah di sisiku. Jangan tinggalkan aku," bisik Davlin setelah melepas ciuman mereka. Hanna menatap mata elang itu, mencari kebenaran. Dia paham posisi sulit yang kini dihadapi Davlin.


"Besok, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Iris, tidak ada lagi yang perlu kau takutkan," ucapnya membelai pipi Hanna dengan jemarinya.


"Jangan. Aku tidak akan sanggup melihat kesedihan Iris. Biar lah begini. Tetaplah bersamanya."


"Tapi aku tidak mau kehilanganmu, membuatmu sedih hingga menjauh dariku." Entah mengapa Davlin merasakan sesak di dadanya ingin menangis. Dia sudah jujur, kalau Hanna tetap memilih menjauh darinya, dia pasti mati!


"Aku akan menunggumu."


***

__ADS_1


Mampir ya kak



__ADS_2