My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 47 ( MCL)


__ADS_3

Eduardo James York, Duke of York yang terkenal begitu tenang, tampan dan sangat menggoda. Namun, bagi wanita kalangan atas yang suka berpetualang penuh tantangan, Eduard bukan pilihan, itu lah alasan kenapa para gadis lebih berminat jatuh di pelukan Alex.


Untuk memegang garpu saja, Catherine rasanya tidak sanggup. Tangannya gemetar, dan menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.


Oh demi janggut Merlin, dia tidak bisa menyelesaikan makan malam ini tanpa jantung berdebar.


Gerakannya dikunci oleh tatapan tajam Eduard. Walau Catherine tidak melihat, namun dia tahu saat ini pria itu fokus menatapnya.


Beruntung makan malam itu segera berakhir, hingga Catherine punya alasan pergi dari sana. "Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Hanna yang berjalan di sisinya menuju ruangan tempat beberapa wanita lainnya sudah berkumpul.


"Apa? tidak. Aku tidak menyembunyikan apa pun," sahut Catherine menelan salivanya dengan susah payah.


"Jangan pura-pura bodoh. Apa kau pikir aku tidak melihat cara Duke of York menatap mu?"


"Oh, Hanna. Jantungku berdebar kencang. Aku bahkan hampir pingsan. Dia sangat tampan, bukan?" bisik Catherine menarik tangan Hanna menepi ke pintu taman yang diikuti oleh Julia.


"Kau tahu, Cat, dia pria yang sangat susah didapatkan. Well, kalau Alex tipe pria yang sudah di taklukkan karena memang jiwa pertualangnya yang tidak percaya pada cinta, Eduard justru kebalikannya. Sulit ditembus karena dia terlalu perfeksionis," timpal Julia.


Ketiga terlibat pembahasan mengenai pria bernama Eduard. Pria dingin yang sulit di dekati, karena tidak punya waktu memberikan perhatian pada wanita.


***


Alex harus bisa menahan diri untuk tidak bertemu dengan Hanna. Lady Abigail bersikeras membawa Hanna ke rumahnya hingga lusa mereka melangsungkan pernikahan.


"Aku rindu pada calon istriku, bibi. Izin kan aku bertemu dengannya sebentar saja" ucap Alex memohon.


"Tidak bisa. Kau tahu, gadis itu sedang perawatan, agar lusa dia tampak semakin sempurna. Oh, aku sudah bertanya padanya mengenai niatmu yang ingin bertemu, tapi sorry, dia tidak ingin bertemu denganmu. Dia terlalu sibuk untuk memperhatikan dokter Clum meracik ramuan herbal pengurus badan," terang Abigail.


"Untuk apa? bagiku tubuh Hanna sudah sangat sempurna," timpal Alex mengerutkan dahi. Lady Abigail hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya.

__ADS_1


Semua orang sibuk dengan acara paling megah musim ini. Hampir semua masyarakat Inggris bersemangat ingin mengetahui rentetan acara pernikahan itu.


Keesokkan harinya, Catherine diurus lady Abigail untuk memberikan kotak perhiasan yang akan dipakai Ema untuk acara besok. Kuda sudah menepi, dan saat menginjakkan kaki ke tanah, keseimbangan Catherine hilang, karena sepatunya menginjak batu dan terguling.


Tubuhnya pasti akan mendarat mulus di tanah, jika Eduard yang baru keluar dari rumah tidak menangkapnya. "Te- terima kasih, My Lord," ucap Catherine terbata. Jantungnya kembali bertalu-talu. Mata pria itu tajam seolah menelanjangi dirinya.


"Kau harus lebih berhati-hati. Apa kakimu sakit?" tanya Eduard mencoba berjongkok di hadapan Catherine. Pria itu ingin memeriksa kaki Catherine, tapi sebelum jemari putih dan panjang itu menyentuhnya, Catherine sigap mundur.


"Jangan, My Lord. Aku tidak pantas..."


"Kau bicara apa? aku hanya ingin memeriksa kakimu," ucap Eduard kembali bangkit.


"Aku baik-baik saja, Your Highness. Permisi," ucap Catherine menekuk kakinya. Jika masih berada di tempatnya, tidak lama lagi dia akan pingsan.


Pikiran Catherine saat itu hanya segera menyingkir dari sana, namun, justru kecepatan yang tidak seimbang itu membuatnya kembali tersandung hingga kali ini terjatuh ke tanah.


"Auh...," rintih nya memegang pergelangan kakinya yang terasa terkilir. Eduard yang masih berada di sana segera menghampiri dan berjongkok di hadapan Catherine.


Tanpa memikirkan pandangan dan ucapan usil orang lain, Eduard segera menggendong Catherine ala bridal. Sebenarnya dia bisa saja menyuruh pelayan wanita membantu Catherine, namun Eduard ingin dirinya lah yang membantu gadis itu.


Semua pasang mata di rumah itu memandang ke arah mereka. Eduardo dengan gagahnya menggendong Catherine membelah ruangan menuju sofa yang ada di ruang tamu.


"Catherine, aku baik-baik saja? ada apa dengan mu, Nak?" tanya Ema menghampiri.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya tergelincir dan sepertinya pergelangan kakiku keseleo," sahutnya.


"Bukan sepertinya, tapi kau memang keseleo," timpal Eduard.


"Terima kasih, My Lord. Maafkan putriku sudah merepotkan Anda," ujar Ema.

__ADS_1


"Aku permisi dulu. Aku harap kita bisa bicara lagi nanti," bisik Eduard ke arah telinga Catherine yang sudah memerah. Namun, itu bukan bisikan, karena baik Ema atau pun beberapa wanita yang ada didekat sana, bisa mendengar ucapan sang duke dengan jelas.


***


Hari yang dinanti tiba. Hanna tampak gugup menatap pantulannya di cermin. Ini luar biasa. Kalau di sini dia sudah terlalu tua untuk menikah, di dunianya diusianya saat ini masih terlalu dini. Bayangkan saja, dia masih mahasiswa tingkat kedua!


"Kau sempurna, sayang," ucap Ema menitikkan air mata.


"Jangan menangis mama. Aku mohon. Berbahagialah untuk ku," ucap Hanna memeluk ibunya. Catherine pun tidak tinggal diam, ikut memeluk kedua wanita yang sangat dia sayangi itu.


"Apa semua sudah siap? Pengantin pria sudah tidak sabaran lagi ingin melihat pengantinnya," ucap Abigail memasuki ruangan yang dijadikan tempat untuk Hanna dirias.


"Aku deg-degan, Mama," bisik Hanna menggenggam tangan Ema erat. Wanita itu hanya membalas dengan senyuman.


"Kau adalah pengantin tercantik yang pernah mama lihat di negri ini," ucap Ema mencium kening putrinya. Kalimat sederhana yang mampu memberikan rasa percaya diri Hanna kembali.


Stuart Jhonson juga mengalami kegelisahan. Menunggu putrinya keluar untuk menuju altar adalah momen paling berharga bagi seorang ayah. "Papa.." cicit Hanna keluar dari ruangan itu.


"Kau cantik sekali. Kau bidadari yang papa banggakan," ucap Stuart mencium kening Hanna.


Lantunan musik mengiringi langkah ayah dan anak itu menuju altar. Di ujung sana, Alex yang tampak berkilau, tampan dan sangat menawan tengah menunggunya dengan tidak sabar. Hanna tertunduk sembari tersenyum malu. Dia tidak bisa melihat semua tamu undangan ataupun dekorasi tempat itu, tapi yang pasti bunga-bunga yang bertebaran di sepanjang jalan yang dia lalui begitu indah.


Alex menyambut kehadiran Hanna dengan senyum. Menerima tangan gadis itu yang diserahkan Stuart. "Terima kasih," ucapnya pada calon mertuanya.


"Aku pikir kau akan kabur lagi dari ku," bisik Alex menggoda gadisnya.


Acara itu berlangsung hikmat dan sangat romantis. Bahkan banyak tamu undangan, khusunya tamu wanita yang menitikkan air mata, kala mendengar Alex mengucapkan sumpah setianya.


"Aku, Alexander Davlin Claymore, bersumpah, akan menjadi suami yang baik untuk mu, menyayangi, melindungi dan mencintaimu dengan sepenuh hati. Menjaga mu dalam siang dan malam, dan menjadikanmu satu-satunya ratu dalam hati dan istanaku. Tidak akan membiarkan air mata terjatuh di pipimu karena duka. Hanya kebahagiaanlah yang akan aku persembahkan untukmu. Hanna White Jhonson, terima kasih karena kau sudah mau menerimaku menjadi suamimu. Aku akan mencintai, sekarang, nanti dan hingga aku mati."

__ADS_1


Setelah mereka dinyatakan sah sebagai suami istri, tanpa malu bahkan penuh kebanggaan, Alex mencium bibir Hanna dengan lembut, lama dan dalam, sebagai bukti cintanya pada wanita yang menjadi ratu dalam hatinya.


__ADS_2