My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 81 (MCL)


__ADS_3

"Sayang, buka dong. Kita harus bicara," ucap Davlin tertahan. Berulang kali mengetuk pintu balkon kamar Hanna. Gerimis yang turun malam itu tidak membuat Davlin tidak patah semangat. Apa pun akan dia lakukan, asal mendapat maaf dari Hanna.


Usahanya sia-sia. Hanna memasang earphone di telinganya hingga tidak mendengar apa pun. Pertama kali Davlin mengetuk, Hanna samar mendengar, lalu sebelum menoleh, pikirannya tertuju pada Davlin. Dilepas earphone untuk mendengar suara yang memanggil, tepat saat dia mengenali suara Davlin, Hanna memasang kembali earphone nya dan menghabiskan volume hapenya.


Satu jam memanggil, bahkan teleponnya juga ditolak, Davlin memilih untuk kembali. Memutuskan untuk menunggu gadis itu besok di simpang rumah.


***


Sepertinya Hanna masih ingin menghukum Davlin. Seolah sudah bisa membaca langkah pria itu, Hanna tidak berangkat kerja tepat waktu. Terlebih dahulu dia mengirim pesan pada Yuyun, kepala OB di kantor. Alasan klasik yang dipakai Hanna seperti biasa, perutnya sakit.


Dari pukul enam pagi hingga pukul delapan Davlin sudah ada di simpang rumah menunggu Hanna, tapi sosok gadis itu tidak juga muncul. Davlin sempat mempertimbangkan untuk putar balik, kembali ke rumah, tapi dia pikir lebih baik dia ke kantor, menunggu di bawah wilayahnya.


"Sari, panggil Hanna kemari!" perintah Davlin tegas. Kalau dengan cara lembut dan mengemis dia tidak bisa membujuk Hanna untuk bicara, tidak ada cara lain, selain dengan menggunakan kekuasaannya.


Lama Davlin mondar-mandir, tidak sabar untuk bertemu Hanna. Begitu pintu sudah dibuka, Davlin langsung berbalik, namun kecewa karena yang muncul adalah Sari. "Maaf, Pak. Hanna belum datang. Kata kepala OB, dia izin datang terlambat karena perutnya sakit," terang Sari.


Murka Davlin jelas terlihat. Dia tahu ini hanya akal-akalan gadis itu. Tapi dia akan tetap menunggu.


"Selamat pagi, lo udah siap?" tanya Haris yang begitu sampai di ruangan Davlin.


"Kemana?"


"Lo gak amnesia, kan? hari ini kita tanda tangan berkas peralihan saham milik PT Purnama menjadi milik PT HolyWings. Kini Mega proyek itu jatuh dibawah pengawasan kita," terang Haris berapi-api.


Davlin mengepal tinju, dan memukul ujung sandaran kursinya. kenapa dia bisa lupa hal sepenting ini? semua ini karena pikirannya tersita oleh Hanna. Dia tidak akan tenang, hingga gadis itu memaafkannya.


Menimbang kalau pertemuan penting itu hanya sebentar, maka Davlin memilih untuk menyelesaikan terlebih dahulu apa yang ada di hadapannya, baru mencari Hanna.


***


Kini Hanna bisa melenggang dengan santai ke kantor. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Melalui Tari, Hanna mendapat info kalau Davlin saat ini sedang tidak ada dikantor, dan dari keahliannya mencari informasi, Davlin sedang menghadiri pertemuan penting.

__ADS_1


"Thanks, Tar."


"Anytime. Nih, tugas lo bersihkan lantai 15." Tari menyerahkan kain pel pada Hanna yang langsung disambut semangat oleh gadis itu.


Langkahnya terasa ringan. Walau lantai 15 adalah lantai ruangan kerja Davlin, tapi dia tidak gentar, karena tahu tidak akan bertemu dengan pria itu.


"Dari mana aja lo? enak benar, ya hidup lo datang ke kantor siang begini? lo tadi dicari pak Davlin, dia bakal pecat lo katanya!" ujar Siska menghadang langkah Hanna yang ingin masuk ruangan Davlin.


"Oh, begitu. Tenang aja, Mbak. Besok hari terakhir saya kerja di sini, gak perlu dipecat," terang Hanna berani. Cukup dia bersikap hormat pada Sari. Dia jenis manusia yang tidak pantas dihormati, karena suka menyalahgunakan kekuasaannya, memandang rendah orang lain yang posisinya ada dibawahnya.


"Belagu Lo! OB aja bangga. Cuih!" umpat Sari tapi tidak dipedulikan oleh Hanna. Ia masuk ke dalam ruangan mengerjakan tugasnya.


"Han, boleh buatkan aku teh hangat, kepala ku pusing, dan terasa mual," ucap Iris mendatangi Hanna ke pantry. Iris sudah duduk di kursi dengan memijat keningnya yang terasa sakit sekali.


"Ini, Mbak. Kenapa, Mbak? apa sakit sekali?"


"Iya nih, Han. Mual banget dari pagi." Iris meniup teh yang baru saja disajikan Hanna, lalu meminum sedikit demi sedikit. Iris meletakkan ponselnya di atas meja, kala gadis itu ingin mengangkat gelasnya dengan kedua tangannya.


Darahnya mendidih, penuh amarah dan sedih. Katanya sibuk, tidak mempunyai waktu untuk menghubunginya karena harus bekerja, tapi nyatanya untuk berjalan-jalan dengan Iris dia punya waktu!


"Pemandangan di foto ini begitu indah, apa ini di Inggris?" Hanna ingin memastikan sebelum benar-benar memboikot Davlin dari hatinya.


"Oh, iya. Ini saat kami di Inggris. Aku sungguh lelah selama di sana, beruntung Davlin begitu sabar merawat ku. Dia memperlakukan dengan sangat baik. Aku tahu semua ini karena dia mencintaiku," ucap Iris mengambil ponselnya dan menatap layarnya, tersenyum melihat foto mereka.


Beruntung, hingga pulang jam kerja, Davlin tidak kembali ke kantor. Hanna bisa dengan leluasa menangis tanpa takut matanya bengkak dan dipertanyakan nanti.


"Mbak Yuyun, besok hari terakhir saya masuk kerja, terima kasih untuk semuanya, selalu memperlakukan saya dengan baik," ucap Hanna saat memakai jaketnya.


"Sama-sama. Kamu di sini sangat membantu, dan rajin juga. Anak-anak yang lain udah pulang, besok saja pamitan sama yang lain," balas Yuyun yang diangguk Hanna.


***

__ADS_1


Tubuh dan pikiran Hanna terlalu lelah satu hari ini, hingga setelah selesai mandi, tanpa makan malam, Hanna sudah siap untuk tidur. Tidak butuh waktu lama, matanya pun mengajaknya ke dunia mimpi.


"Han, bangun, Sayang," ucap Ema membangunkan Hanna dengan menggoyangkan pinggul gadis itu. Hanna yang tidur miring, memutar menghadap sebelah kanan, membelakangi Ema.


"Han, bangun, dong, Nak!"


"Apa sih, Ma. Ngantuk, nih. Memangnya ini sudah pagi, ya?" ucapnya kesal dengan mata masih tertutup, karena tidurnya merasa terganggu.


"Belum pagi. Masih pukul sembilan malam, tapi di bawah ada yang cariin kau, tuh," terang Ema berusaha membangunkan Hanna, terus menggoyangkan tubuh gadis itu hingga mau membuka matanya.


"Siapa sih, Ma? ganggu aja, deh. Aku ngantuk. Suruh aja pulang."


"Gak bisa. Katanya ini penting menyangkut hidup mati karyawan di kantor."


Kalimat Ema samar terkirim ke otak Hanna, menyerap sampai ke alam sadarnya hingga berhasil membuka mata gadis itu.


Dasar brengsek! Ini pasti Davlin!


"Siapa, Ma?" tanya Hanna sesaat setelah telentang menghadap ibunya.


"Davlin. Dia di bawah, nungguin kau. Katanya ada masalah penting. Ini berhubungan dengan Tari dan Aril. Mama juga gak ngerti apa maksudnya."


Hanna sudah bisa menebak apa maksud kedatangan Davlin kali ini. Demi memaksanya bicara, pria busuk itu sudah menggunakan Tari dan Aril yang dia tahu adalah sahabat Hanna menjadi ancaman bagi Hanna untuk mau bertemu dengannya, kalau tidak keduanya pasti akan dia pecat.


Hanna menyibak selimutnya, dan dengan penuh emosi, memakai sendalnya dan bersiap turun.


"Aku akan menemui tamu agung itu!"


***


Hai, mampir yuk kak

__ADS_1



__ADS_2