My Crazy Lady

My Crazy Lady
Bab 113 ( MCL)


__ADS_3

Hanna duduk di kursi pesakitan. Walau di sampingnya ada Davlin, tapi tampaknya tidak ada pengaruh sedikitpun. Pria itu justru tersenyum dan bergerak santai, tidak ada ketakutan, apalagi beban. Hanya Hanna yang menjadi sorotan mata Stuart, seolah hanya dirinya yang melakukan kesalahan di sini.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Stuart dingin. Hanna tahu ada kecewa yang dirasakan pria itu.


"Papa, aku gak melakukan apa-apa. Maksud nya tidak ada yang salah yang kami lakukan.. eh, maksud ku..."


"Benar kau sudah beberapa kali tid.. tid..." Stuart tidak sanggup mengatakan hal memalukan itu. Hanna kasihan pada ayahnya, karena dirinya, Stuart jadi menanggung malu.


"Aku..."


"Jawab, Hanna!" hardik Ema yang ikut naik pitam.


"Benar, tapi mama, kami tidak melakukan apa pun. Aku masih peraw.."


Maafkan kami, Om, Tante, kami salah. Kami memang sudah tidur bersama, beberapa kali... dan kami akan mempertanggungjawabkan perbuatan kami, segera kami akan menikah," ucap Davlin santai dan tenang.


Dasar gak tahu malu! Bukannya orang normal harusnya malu mengakui perbuatan mesumnya? ini kenapa pria ini tampak bangga dan gembira?


"Davlin, kenapa semakin memperkeruh suasana? bantu aku jelaskan yang sebenarnya! kau tahu betul kita belum..."


"Iya, aku tahu, kita belum merencanakan pernikahan, tapi ya, mau gimana lagi. Kita sudah ketahuan, dan ada baiknya kita patuh pada perintah orang tua."


Sumpah demi apa pun, Hanna ingin sekali melempar vas bunga yang ada dihadapannya itu pada pria yang ada di sampingnya ini.


"Maksud aku bukan itu. Jelaskan yang sebenarnya, kalau kita.."


"Cukup! Mama tidak ingin mendengarkan perbuatan memalukan yang kalian lakukan itu!"


"Selama ini kau selalu pulang ke rumah, walau pun sering terlambat, kau selalu pulang. Papa jadi bingung, kapan kalian tidur bersama?"


Semua diam. Titik terang mengenai masalah ini sudah muncul. Hanna bisa bernafas lega, kali ini dia akan terbebas dari rencana pernikahan ini. Bukan tidak cinta pada Davlin, tapi dia masih kuliah, masih ingin bekerja dan meraih cita-citanya.


"Justru itu, Pa. Mana mungkin aku melakukan hal yang kalian pikir. Kami hanya..."


"Maaf, Om. Kami mengaku salah. Hanna ke kamarku lewat balkon kamarnya," ucap Davlin mematahkan harapan Hanna. Dia tidak bisa kehilangan kesempatan ini. Walau nama baiknya jadi taruhan, tidak mengapa, asal dia jadi menikah dengan gadis yang dia cintai.

__ADS_1


"Apa? Bal- kon? Kau memanjat hanya untuk mendatangi Davlin? Oh, Tuhan... Hanna!" Stuart semakin tergelak tidak berdaya, tidak tahu harus bicara apa lagi. Betapa malunya dia dihadapan keluarga More. Dia merasa sudah gagal mendidik Hanna.


"Papa..."


"Apa benar itu? Apa benar kau tidur ke kamar Davlin dengan memanjat balkon? jawab mama!" Suara Ema meninggi, menyentak kesadaran Hanna. Perlahan gadis itu mengangguk. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.


Hanna segera bersimpuh di dekat kaki papanya. Memeluk dan bersimbah air mata. Bagaimanapun dia memang sudah salah, karena sudah berani masuk ke kamar pria. Bahkan sampai menginap!


"Maafkan aku, Pa. Aku memang tidur dengan Davlin, tapi kami tidak melakukan yang lebih dari batas. Aku masih gadis, Pa. Percayalah.." isak Hanna. Davlin yang melihat menjadi terenyuh.


Demi keinginannya untuk segera menikah Hanna membuat Davlin menyakiti hati Hanna dan membuat hubungan ayah dan anak itu menjadi renggang dan rumit.


Stuart menatap lekat anaknya. Bingung harus berkata apa. Dia ingin percaya pada putrinya yang selama ini memang tidak pernah bohong, tapi ini masalah kehormatan. Lagi pula siapa yang menjamin kalau Davlin tidak melakukan hal yang merugikan Hanna saat gadis itu terlelap di samping pria itu.


Menjaga seorang anak perempuan sama halnya seperti menjaga telur. Kalau sudah sempat pecah, pasti akan berbekas dan tidak bisa utuh kembali.


"Papa.. aku putrimu. Papa mengenalku lebih dari siapa pun. Apakah mungkin aku berbohong?" ucap Hanna masih terus bertahan dengan tangisnya.


"Papa percaya," imbuh Stuart. Tapi kau seorang gadis, nama baik mu menjadi taruhannya. Kalian harus segera dinikahkan!"


"Sayang, sudah jangan menangis. Mungkin sudah takdir nya kalian berdua harus menikah," ucap Reta membelai rambut Hanna. Dia juga iba pada Hanna, dipaksa menikah saat ini karena perbuatan putranya yang sudah berhasil mengelabuhi nya.


***


Sudah di tetapkan, mereka akan menikah bulan depan pada Minggu kedua. Setelah malam itu, Hanna tidak ingin berbicara dengan Davlin, apa lagi kalau untuk bertemu.


Dalam benaknya, ini semua kesalahan pria itu, menjebaknya dengan memperburuk keadaan. Penjelasannya yang semakin menggiring opini, membuat mereka berujung di pernikahan dadakan.


"Sial, diblokir lagi!" umpat Davlin menatap layar ponselnya. Dia baru saja melakukan panggilan, yang untuk kesekian kalinya tidak diangkat, namun pada panggilan terakhir, nomornya sudah diblokir.


Dihadapannya, ada Haris yang tertawa ngakak. Dia kasihan melihat nelangsa bosnya yang sangat Bucin pada calon istri yang justru tidak menganggapnya kini.


"Ketawa lagi, Lo. ****** memang teman kayak, lo!" ucapnya melempar pena ke arah Haris yang mengelak.


***

__ADS_1


"Hai, ketemu lagi."


Hanna menoleh, dan melihat siapa yang ada di belakangnya membuat satu senyum manisnya terbit.


"Hai, Jim. Lama tidak bertemu?" Sapa Hanna mengulurkan tangannya. Jimmy menyambut, memutar tubuhnya untuk duduk di samping gadis itu.


"Kok, calon pengantin murung?" godanya menopang dagu, menatap wajah Hanna yang tampak memiliki mata panda.


"Dih, apaan, sih. Kau gak kerja? jam segini udah di sini aja,"


"Gak. Dapat tugas lain,"


"Tugas lain?"


"Iya, Tante minta dia datang. Temani kita belanja keperluan kamu. Kalau nungguin Davlin, bisa gak jadi nikah kalian," ujar Reta yang baru turun dari kamar.


"Oh.." jawab Hanna mengangguk lemah. Dia akan menjadi anak dan calon mantu yang penurut saja setelah menjadi terpidana.


"Jadi, hanya kita bertiga saja, Tan?" tambah Jimmy mengambil permen di toples kaca yang ada di atas meja.


"Mmm.. Han, Cathy di rumah, kan? kita aja dia aja. Biar rame,"


"Iya, Tante," lagi-lagi Hanna hanya bisa berkata dengan lemah.


Jadilah keempatnya jalan bersama. Hanna berjalan di samping Reta, mendengarkan setiap ucapan wanita itu tentang segala detail rencana pesta mereka. Setiap Reta memberi saran, Hanna hanya akan mengangguk setuju dan berujar penuh antusias.


Sementara Jimmy yang terpesona pada pandangan pertama dengan Cathy, tidak bisa menjauhkan pandangannya dari gadis itu. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama.


Sekali melihat saja, Jimmy tahu kalau Cathy adalah gadis yang ditakdirkan untuknya. Gayung bersambut, Cathy pun menaruh perasaan yang sama pada Jimmy. Hanna sudah tidak heran lagi, bukankah di novel yang dia baca mereka memang ditakdirkan bersama?


Tinggal Hanna yang harus mencari tahu takdirnya, apakah pernikahannya dengan Davlin akan terwujud dan hidup bahagia? atau malah dia akan menghilang lagi seperti akhir pada novel pada malam pernikahannya dengan Alex?


Jadi, hingga pernikahan itu terlaksana, Hanna tidak perlu merasa risau, tapi yang harus dia pikirkan adalah setelahnya.


Dukung novel aku terus ya♥️♥️🙏

__ADS_1


__ADS_2