
Mery dan Corazon yang berdiri di balkon dengan harapan melihat ekspresi majikan mereka berseri-seri ketika mendengar kabar itu, mengernyit kaget ketika Alex berjalan melewati mereka ke tangga, bergetar dengan amarah terpendam yang mengancam akan menghajar siapa pun yang menghalanginya.
Pintu depan terbanting di belakang Alex dan Mery perlahan berbalik dan berjalan ke kamar tidur Hanna, lalu terkesiap melihat pemandangan yang menyambutnya.
Hanna berlutut di lantai, di dekat meja tulis, bahu wanita itu berguncang karena menangis diam-diam. Kepala Hanna terdongak dan air mata mengalir dari matanya yang terpejam erat. Yang dicengkeram di dada Hanna adalah pakaian putih kecil dengan huruf 'C' mungil yang disulam Hanna dengan penuh kasih sayang menggunakan benang biru.
"Ayolah, jangan menangis seperti itu, My dear," ujar Mery dalam bisikan tercekat sementara ia membungkuk membantu berdiri. "Kau akan membahayakan bagimu."
Hanna mengira tidak akan sanggup berhenti. Ia menangis sampai kepala dan tenggorokannya sakit. Ia menangis sampai tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk dicurahkan dan ia merasa kering serta hampa. "Aku tidak menginginkannya!"
Tiga kata itu mencengkeram hati Hanna, meremas dan melilit hingga Hanna tidak mampu bernafas.
***
Ketika fajar menyingsing, Hanna berguling ke samping, menatap cahaya kelabu pagi hari. Ia sendirian di tempat tidur, sendirian sepanjang malam untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka.
Alex tidak menginginkan bayi Hanna. Bayi mereka. Apakah Alex tidak akan mengakui anak itu? Oh, Tuhan, tidak! Alex tidak bisa.. tidak mungkin.. kenapa? Hanna memejamkan mata, memalingkan kepala ke bantal. Alex akan memaksa Hanna melepaskan bayi ini. Itulah yang akan dilakukan Alex.
Pria itu akan mencari ibu asuh begitu bayi ini lahir dan mengirim sang bayi ke tempat yang jauh untuk dibesarkan di salah satu estat Alex, jauh dari mereka.
"Apakah kebutuhan Alex atas diri dan tubuhku lebih penting dari anak ini?" bisik Hanna meneteskan air mata dari sudut matanya. Hanna berpikir kalau alasan penolakan Alex karena tidak mau tubuh Hanna menjadi jelek dan tidak bisa memuaskan pria itu di atas ranjang!
Sebegitu besarkah keegoisan pada diri Alex hingga tidak ada tempat untuk anak mereka?
Beberapa jam lalu, Hanna mungkin tidak tahu bagaimana perasaannya tentang kehamilan ini, tetapi sekarang ia tahu. Penolakan Alex pada bayi itu membangkitkan gelombang protektif dalam dirinya, sangat hebat hingga mengguncangnya. Hanna tidak akan pernah membiarkan Alex mengirim bayi mereka ke tempat lain. Tidak akan pernah!
Hanna bangun sangat terlambat. Kepalanya masih sakit dan ia merasa mual serta pusing, tetapi ia memaksa diri untuk turun dan sarapan. Kursi Alex di hadapan Hanna masih rapi. "His Grace mengatakan sedang tidak berselera untuk sarapan, My Lady," ucap seorang pelayan memberitahu Hanna.
Hanna makan banyak demi sang bayi, lalu keluar untuk berjalan-jalan.
__ADS_1
Ia tidak tahu di mana Alex berada, dia tidak masuk ke kamar tidur Hanna sampai sesaat sebelum fajar.
Hanna berjalan melintasi kebun mawar yang tertata rapi yang dipenuhi bedeng berbeda untuk mawar merah, putih, merah muda, dan kuning, lalu melewati danau buatan tempat angsa berenang tanpa arah di atas permukaan danau yang tenang.
Langkah Hanna membawanya ke paviliun bercat putih di tepi terjauh yang menghadap danau, lalu ia masuk dan duduk di bantal berwarna-warni yang disebarkan di bangku.
Hanna duduk di sana selama dua jam, sementara otaknya berkecamuk, mencoba menerima kenyataan bahwa dirinya orang yang sama seperti kemarin, bahwa ini adalah kehidupan yang sama yang pernah dijalaninya.
Ia kembali ke rumah dan perlahan menaiki tangga, hanya mendapati pelayan pribadi Alex dan tiga pelayan sedang sibuk memindahkan pakaian Alex dari kamar pria itu. Hanna nyaris merasa gila. "Sedang apa mereka?" tanya Hanna pada Corazon. "Corazon, katakan padaku, kenapa mereka memindahkan barang-barang suamiku?"
"His Grace akan pindah ke sayap timur," Corazon menjelaskan, memaksa diri terdengar ringkas dan tidak cemas. "Kami akan memindahkan barang-barang Anda ke kamar tidur His Grace, dan kamar tidur Anda akan menjadi kamar bayi yang indah pada waktunya nanti."
"Oh," bisik Hanna, bertanya-tanya bagaimana dirinya bisa tahan berada di kamar itu tanpa Alex. "Apakah kau bisa menunjukkan kepadaku letak kamar baru His Grace? Aku... aku harus bertanya kepalanya tentang ini. Kami akan pergi keluar." Corazon membawa Hanna ke kamar elegan di sayap timur terjauh dan meninggalkan Hanna sendirian di sana.
Alex tidak berada di sana. Dia sudah pergi. Kemeja Alex tersampir di kursi dan sarung tangannya tergeletak di tempat tidur, tempat ia melemparkannya.
Hanna berjalan ke ruang pakaian dan membelai punggung sisir Alex yang terbuat dari batu oniks dan harus menahan tangis.
"Bahu yang lebar," cicit Hanna. Dia selalu menyukai bahu lebar Alex, dan mata pria itu.
Hanna sedang berjalan ke arah pintu ketika Alex masuk. Tanpa berkata apa pun, Alex berjalan melewati Hanna, masuk ke ruang pakaian, dan mulai melepaskan jaket.
Hanna mengikuti Alex, tidak sanggup menyingkirkan isak tangis dari suaranya ketika bertanya, "Kenapa kau melakukan ini, Alex?"
Alex melepas kemeja, tapi tidak menjawab. "Ka- karena bayi kita?" desak Hanna berbisik.
Alex memandang Hanna. "Karena seorang bayi," koreksinya.
"Kau.. Kau tidak suka anak kecil?"
__ADS_1
"Kalau bukan anak orang lain," ujar Alex dingin. Setelah melemparkan kemeja ke kursi, Alex berbalik, menangkap siku Hanna dengan cengkeraman menyakitkan, lalu dengan paksa menuntun wanita itu keluar dari ruangan.
"Tapi kau pasti menginginkan anak mu sendiri," kata Hanna serak ketika dengan kasar didorong ke koridor di bawah tatapan pelayan yang lewat.
"Anakku sendiri," Alex menekankan nada mengancam. Ia berdiri menjulang di atas Hanna dengan satu tangan di pintu seolah akan membanting pintu tepat di depan wajah wanita itu.
"Apakah kita akan pergi ke rumah suami-istri Wilson malam ini? Aku... aku sudah menerima undangan mereka bermingu-mimggu lalu."
"Aku akan pergi keluar, kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan."
"Tapi," Hanna memohon. "Apakah kau akan pergi ke rumah suami-istri Wilson? Kalau kau mau pergi.."
"Tidak!" bentak Alex. Lalu dengan suara mengerikan, Alex menambahkan, "Dan kalau aku menemukanmu di kamar ini lagi atau bahkan di bangunan sayap rumah ini lagi, aku sendiri yang akan mengusirmu. Dan aku jamin, Hanna, kau tidak akan suka caraku melakukannya." Pintu terbanting di depan wajah Hanna.
Alex berdiri diam di dalam kamar tidur, di sisi pintu yang tertutup, tangannya mengepal dan membuka saat mencoba mengendalikan sebuah amarah. Sampai fajar pagi tadi, Alex minum-minum sampai mabuk di ruang kerja. Tetapi tidak sebelum ia mempertimbangkan dengan saksama dan dingin segala cara yang bisa dilakukan untuk membalaskan dendam atas cinta dan kepercayaannya yang disalahgunakan.
Alex akan mencari wanita simpanan, sengaja memamerkan wanita itu sampai Hanna mengetahui keberadaan sang wanita simpanan. Masyarakat akan mengabaikan pria beristri yang memiliki wanita simpanan, selalu begitu.
Tetapi Hanna akan terjebak dalam dilema. Hanna tidak akan bisa pergi sendirian terlalu sering tanpa menimbulkan rumor. Dan jika Hanna sering muncul bersama pria lain, wanita itu akan dicela dan dikucilkan oleh masyarakat.
Tetapi bahkan itu saja tidak cukup. Jika Hanna akan melahirkan seorang anak, dan Alex harus memberikan namanya kepada anak itu, maka demi Tuhan, ia tidak akan melihat anak itu dan bertanya-tanya anak siapa itu!
Alex akan membuang anak haram itu jauh-jauh darinya. Tetapi tidak serta-merta. Pertama, ia akan membiarkan Hanna merawat anak itu selama satu tahun atau dua tahun sampai wanita itu terikat pada anak tersebut, lalu ia akan merampas bayi itu dari Hanna. Anak itu akan menjadi senjata utama Alex.
Ia bahkan tidak peduli apakah anak itu buah dari hubungan terlarang Hanna dengan kekasih gelap wanita sialan itu atau apakah itu bukti nyata dari gairah Alex sendiri.
**Dukung novel aku terus ya, ♥️
Terima kasih sudah setia sama cerita ini. Mohon bersabar, MCL tinggal satu Minggu lagi. Jadi, terus ikuti dan jangan lupa dukungannya buat aku, biar tambah semangat up nya.
__ADS_1
Yang penasaran gimana kelanjutannya nasib Hanna dan Davlin, Sabar ya. Pasti ada dong kisah mereka..