
^^^~Cinta akan berujung bahagia bila kau memberikan ketulusan bukan keserakahan~^^^
As-Sana
***
Angga menggeliat ketika tangan mungil seorang bocah mencolek pipinya beberapa kali. Suara kekehan cadel khas anak kecil juga terngiang di telinganya. Perutnya terasa ditimpa beban berat yang membuat ia kesulitan bernapas.
"Ayah okat, okat." Hasa merangkak menarik kepala Angga memukul pipi sang ayah bertubi-tubi. Anak itu sepertinya merajuk karena tidak mendapatkan cokelatnya semalam.
"Ayah! Okat!" teriaknya membuat Angga membuka matanya lebar-lebar. Hasa kecil tertawa menengadahkan tangan meminta makanan manis yang ia suka.
"Astaga Panda kecil Ayah sudah bangun."
Dengan gemas Angga mencium kedua pipi gembul putranya. Lalu menggigit hidung sekenyal jelly milik Hasa. Dia mengangkat tubuh buah hatinya ke atas memindahkannya ke sebelah ranjang yang lain.
Pandangan Angga menyisir setiap sudut ruangan mencari istri yang dicintainya. "Ke mana Ibu?" tanyanya pada Hasa yang mulai memasukkan semua jarinya ke dalam mulut seperti permen. "Ibu pelgi mengantal Kakek pulang," sahutnya mengoceh dengan mulut terbuka menutup seperti ikan koi.
Kedua bola mata Angga membola, ia melihat jam dinding di dekat almari. Ternyata dia bangun kesiangan karena terlalu lelah lembur kerja kemarin. Lelaki itu melupakan kalau ayah mertuanya akan kembali ke Indonesia. Entah bagaimana nanti Heru akan memarahinya.
Angga buru-buru turun dari ranjang menggendong Panda kecilnya yang sibuk memakan ke lima jarinya. Memang anak kecil itu suka sekali melakukan hal ini.
"Tuan Muda sudah bangun?" Romi menyapa dari lantai satu. Suami Lianda tersebut telah rapi dengan kemeja dan setelan kantornya.
Angga mengangguk menuruni tangga mendudukkan dirinya di sofa. Rumahnya menjadi sunyi seketika saat semua anggota keluarga besarnya pulang ke rumah masing-masing.
"Kau tidak mengantar istriku?"
Romi menggeleng pelan sebagai jawaban. Dengkusan kecil terdengar dari mulut Angga. Apabila itu dulu, mungkin Angga akan langsung memotong gaji Romi atau memberinya hukuman. Tapi sekarang, pikirannya sedikit dewasa jadi ia cuma melalui Romi menuju meja makan bersama Hasa.
__ADS_1
"Nona Keisha sudah memasak sup tomat kesukaan Tuan Muda, dia juga membuatkan susu untuk Tuan Kecil."
Hasa didudukkan di kursi lalu dipakaikan serbet makan. Jika tidak begitu anak nakal itu pasti akan mengotori bajunya yang baru saja diganti dengan pakaian bersih dan wangi.
"Ayah," tawanya cekikikan.
"Hasa?" Angga memijat keningnya tak menyangka memakai serbet makan pun percuma. Panda kecilnya ini justru menuangkan semua susu di bajunya.
"Kemari biar Ayah ganti bajumu." Angga menggendong tubuh Hasa kembali naik ke lantai dua. Romi menggelengkan kepala merasa senang, sekarang tuan mudanya begitu tenang dan berpikiran lebih dewasa.
Tidak lama Keisha datang, Romi menyapanya sebentar dan memberitahukan bahwa Angga dan Hasa sedang berada di kamar. Dari kejauhan Keisha dapat mendengar suara tangis Hasa yang tidak mau dipakaikan baju akan tetapi suaminya membujuknya dengan telaten.
Perempuan itu tersenyum mengintip dari balik pintu, ia membiarkan ayah dan anak itu sibuk dengan urusannya tanpa mempedulikan kehadiran dia.
"Ibu, Ibu, Ibu," panggil Hasa antusias berlari ke arah Keisha meninggalkan sang ayah yang hendak memakaikan ia celana. Angga menepuk jidatnya membiarkan Hasa merengek di kaki wanita yang ia cintai. "Dia bertambah nakal sekarang. Lihat sayang! Hasa menumpahkan susu di bajunya." Keisha tersenyum tipis menciumi kedua pipi Hasa bergantian.
Angga mendekati istrinya mencium pipi Hasa dan Keisha bergantian, "Jangan merepotkan Ibu, hmm. Ayah akan menggigit hidung Panda kecil ini sampai habis kalau membuat Ibu susah." Hasa terkekeh ketika ayahnya menggelitik perutnya dan mencium hidung mungilnya.
Setelah menitipkan Hasa sebentar pada bibi Elin asisten rumah tangga yang baru-baru ini mereka pekerjakan. Keisha menyiapkan setelan kemeja suaminya. Dia mengeringkan rambut Angga yang basah sehabis mandi.
"Sayang," panggil Angga saat tangan lentik perempuan itu mulai mengancingkan kemejanya satu per satu. "Jangan mulai Angga, cepat bersiap. Tidak ada alasan untuk tidak bekerja hari ini," tutur Keisha tersenyum tipis mencium pipi sang suami, dia menyingkirkan tangan pria itu yang mulai menarik pinggangnya mendekat.
Angga tertawa senang, melihat Keisha mulai terbiasa dengan kode darinya. Lelaki itu akan selalu menggoda istrinya saat ia menginginkan sesuatu. Entah kenapa bertambah usia, di mata Angga wanita yang telah menjadi ibu dari putranya itu semakin cantik dan menawan. Membuat jantungnya selalu berdebar setiap hari.
"Baiklah-baiklah, aku mengalah Nyonya. Satu ciuman saja," pintanya memajukan bibir.
Tangan Keisha langsung menarik daun telinga suami nakalnya itu yang masih saja memanggilnya "Nyonya" meskipun sudah dia larang. Bukan merasa sakit, Angga justru menarik tengkuk leher Keisha lalu membenamkan ciuman dalam yang sudah seperti candu untuknya.
"Huwaa.. Ibu, Ayah! Paman Lomi nakal!" suara tangis Hasa yang mulai terdengar dari lantai bawah mengganggu kemesraan suami-istri tersebut.
__ADS_1
"Angga, hentikan. Hasa sudah memanggil kita di bawah," kata Keisha menarik rambut Angga yang masih saja menciumi lehernya.
Pria itu menatap sendu merasa kurang puas, ini semua karena Romi. Seandainya ia tidak mengganggu Hasa, maka dia masih bisa menciumi wanita pujaannya ini sebentar lagi.
Keisha tertawa kecil, menaikkan kembali kerah bajunya yang sedikit melonggar karena ulah Angga. Perempuan itu mengambil syal di gantungan baju, menutupi bekas tanda cinta lelaki yang telah hidup lebih dari sembilan tahun bersamanya.
"Segera bersiap, kamu harus berangkat ke kantor." Keisha beranjak pergi hendak menutup pintu akan tetapi Angga memeluknya dari belakang. Lelaki itu menyandarkan kepalanya sebentar di bahu hangat Keisha.
"Aku akan menunggumu nanti malam, jadi jangan pulang terlambat," bujuk Keisha mengusap kepala Angga sayang memberikan harapan sedikit pada pria itu agar merasa sedikit bahagia.
"Hmmm, aku menyayangimu Nyonya," ungkap Angga tulus yang langsung mendapatkan ciuman singkat di kening.
Pria itu tertawa senang, melambungkan tangannya ke udara seperti baru saja memenangkan sesuatu setelah menerima kecupan pagi dari sang istri. Semangatnya kembali membara, mengancingkan kembali kemeja yang sebelumnya masih terbuka.
'Ternyata Panda kecil membuat Nyonya semakin bersikap manis, aku menyukainya,' batin Angga girang bukan kepalang.
.
.
.
.
~Bersambung
Baca juga novel Suamiku Tunanetra ya.
Nantikan Sana kasih part ekstra lagi untuk MOW (♥ω♥*)
__ADS_1