My Old Wife

My Old Wife
Kecemasan


__ADS_3

~Perasaan manusia itu laksana udara, yang dapat menempati ruang kesedihan, kesenangan, dan kemarahan ~


Semua orang yang berada di depan ruang operasi sedang dilanda kecemasan, terutama wanita paruh baya itu yang terus menangis, semenjak putranya di kabarkan oleh Dokter bahwa mereka harus melakukan operasi untuk mengangkat pembekuan darah di bagian otak belakang.


"Tenanglah Bi, tidak akan terjadi apa-apa dengan Rafi. Percayalah padaku," kata Helen pelan untuk menenangkan Bibinya yang terus menangis tiada henti sejak supupunya di bawa masuk ke ruang bernuansa hijau tersebut.


"Bagaimana Bibi bisa tenang Helen? Rafi adalah putra satu-satunya Bibi. Setelah aku dan suamiku berpisah, hanya dia yang Bibi miliki di dunia ini, tidak ada yang lain." Sanggah Bibi Aini dengan nada terputus-putus karena terus menahan isak tangis.


Rafi memang adalah sumber kebahagiaannya, setelah dia berpisah dengan suaminya lima tahun yang lalu, hanya Rafi lah penguat dirinya. Perceraian antara dia dan suaminya dilakukan secara baik-baik, mereka mengakhiri pernikahan mereka karena memang sudah tidak ada lagi kecocokan dalam rumah tangga mereka.


Hak asuh atas putranya tidak menjadi rebutan antara dia dan suaminya, mereka tetap membesarkan Rafi dengan penuh kasih sayang. Ayahnya juga selalu memberikan nafkah untuk Rafi, dengan memberikan saham yang cukup besar untuk di kelola olehnya.


"Dokter bagaimana keadaan keponakan saya?" tanya Hanum dengan buru-buru setelah mengetahui pria berjas putih itu keluar dari ruang operasi.


"Keponakan Ibu baik-baik saja, kami berhasil mengangkat darah beku yang berada di otak belakangnya. Untuk saat ini biarkan pasien istirahat, dan saran saya jangan biarkan pasien mengalami luka cedera lagi seperti tadi. Kami akan segera memindahkan pasien ke ruang rawat," jelas Dokter itu dengan senyum di bibirnya.


Pembekuan darah yang dialami oleh Rafi memang disebabkan oleh benturan keras di bagian belakang kepalanya akibat perkelahiannya dengan Doni tadi malam. Doni yang terus memukuli Rafi di dasar lantai dengan keras, menyebabkan luka robek yang parah dibagian tulang belakang kepalanya. Dan hal ini mengakibatkan sel pembuluh darah yang membawa aliran darah ke otak belakang mengalami penggumpalan.


"Jadi apakah putra saya akan segera sadar Dok?" tanya Bibi Aini dengan cemas.


"Untuk itu kami belum bisa memastikan, tapi dapat dipastikan kondisi pasien dalam keadaan baik. Anda tidak perlu khawatir," ucap Dokter itu seraya menepuk pundak perempuan paruh baya itu.


Setelah Rafi dipindahkan ke ruang rawat, mereka sekeluarga menghembuskan napas lega. Namun, kedamaian itu tidak terasa lama setelah Kevin mendapatkan telepon dari kantornya.

__ADS_1


"Tuan, apa Anda sudah mendengar berita di televisi saat ini?" tanya seseorang dari seberang telepon.


"Memangnya ada apa? Apa ada hal penting?" tanya Kevin pada sekertarisnya.


"Keluarga Tuan telah masuk ke dalam daftar berita terpanas hari ini. Kakak Ipar Tuan, Bu Keisha Prawijaya, pebisnis muda dalam industri perhiasan telah menjadi topik hangat yang diperbincangkan di media," jelas sekertarisnya kembali.


"Berita seperti apa?" Tanya Kevin dengan sedikit cemas.


"Untuk lebih jelasnya, lebih baik Tuan melihat di internet."


Kevin buru-buru mematikan teleponnya dan beralih membuka browser dan mengetik nama "Keisha Prawijaya" di layar ponselnya. Dalam hitungan detik berbagai macam artikel mulai bermunculan di sana. Dari yang berjudul "Pebisnis Muda yang dalam Masa Pencarian Jodoh", "Kegagalan Perjodohan Keisha Prawijaya dengan Keluarga Haris Anggara", "Skandal Direktur Jewellery Group dengan Pemilik Anston H.A", dan masih banyak tulisan artikel yang membahas tentang Keisha di sana.


Raut wajah Kevin berubah merah padam, pria itu mengumpat dalam hatinya. "Sial! Masalah apalagi ini?" Segera setelah membaca puluhan artikel itu, Kevin bergegas keluar dari bangsal dan hendak menelepon seseorang. Namun tindakannya dihentikan oleh istrinya.


"Kak Kevin mau kemana?" tanya Helen seraya memegang lengan suaminya.


"Tapi,____"


Belum selesai ucapan perempuan itu, Kevin bergegas mencium kening istrinya, dan berkata. "Semuanya baik-baik saja. Jangan cemas, aku akan segera kembali." ucap Kevin seraya melangkah pergi dari sana. Baru sekitar sepuluh menit dia meninggalkan gedung putih itu, suara ponsel kembali berdering.


"Hallo!" Sapa Kevin pada orang yang merupakan teman lamanya.


"Vin, apa Keisha ada bersamamu? Dari tadi aku menelponnya tapi tidak ada jawaban, aku juga sudah menelpon Rafi tadi. Tapi ponsel pria itu selalu di luar jangkauan."

__ADS_1


"Rafi sedang di rumah sakit, sementara Kakak Ipar dia tidak ada bersamaku. Apa terjadi hal buruk padanya?" timpal Kevin balik bertanya.


"Dia tidak datang ke kantor hari ini, kami semua mengkhawatirkannya." balas Ferdian singkat.


"Apa maksudmu?" Ucap Kevin sedikit agak kesal seraya membuka pintu mobilnya.


Namun sebelum ada jawaban, panggilan itu sudah ditutup secara sepihak oleh Ferdian. Dengan geram Kevin mengemudikan mobilnya keluar dari rumah sakit dan langsung menuju ke kantor milik Tuan Heru mertuanya.


Di lain sisi, perusahaan Jewellery Group milik Keisha telah dilanda keributan, para karyawan sibuk ke sana kemari menangani berbagai macam persoalan pekerjaan, karena Bosnya yang belum datang sampai hari sudah menjelang siang. Ferdian yang merupakan asisten dari Direktur juga tengah disibukkan dengan berbagai macam pertemuan dengan para klien. Sementara Fina sekertarisnya tengah didesak oleh beberapa panggilan yang datang dari para media masa.


Pagi tadi berita tentang kegagalan perjodohan Keisha Prawijaya telah menjadi topik terhangat yang diperbincangkan baik di kantor maupun di media massa. Topik ini tidak akan menjadi panas jika tidak di bumbui dengan gosip-gosip seputar Bosnya. Terlebih para wartawan telah menangkap gambar perkelahian Tuan Rafi dengan anak pemilik Anston H.A di salah satu restoran bintang lima di pusat kota.


Keadaan yang begitu tegang dengan karyawan kantor yang berlalu lalang ke sana ke mari menarik perhatian pemuda yang sedari tadi mengintip dari balik kaca mobil. "Apa sedang terjadi masalah dengan perusahaan ini? Kenapa semua orang terlihat cemas?" monolog Angga pada dirinya sendiri. Sudah sejak pagi-pagi buta pemuda itu menunggu perempuan yang dia anggap akan menjadi calon istrinya.


Namun, perempuan itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Jadi dia hanya dapat menunggu di sana seraya berharap bahwa orang yang ingin ditemuinya akan segera muncul. Bahkan setelah dia mengirim beberapa pesan pada Keisha, perempuan itu juga tidak membalas pesannya dan hanya meninggalkan kerisauan di hatinya.


"Nyonya Anda dimana? Kenapa sampai sekarang Anda juga belum datang ke kantor? Apa Anda baik-baik saja? " pikir Angga dalam benaknya.


○•~•~•~•~•~•~•~●○●~•~•~•~•~•~•~•○


MOHON MAAF para Reader karena saya baru bisa UP.. InsyaAllah saya juga akan up nanti malam. Doakan semoga saya cepat menyelesaikan Tugas Paper saya. Agar bisa menulis lagi nanti malam..


Jangan lupa berikan Like + Komen +Vote + Fav.. untuk mendukung saya..

__ADS_1


Salam Sayang


~As-Sana~


__ADS_2