
...~Ada dua jenis kerinduan. Kerinduan pertama tersebab ketika menanti seorang yang paling dekat di hati. Kerinduan kedua terjadi saat tak lagi melihat orang yang terbiasa mengisi hari bersama, dalam waktu yang lama~...
As-Sana
***
Kebahagiaan dalam hati Julian membuncah ketika ia bertemu kembali dengan orang yang sulit ia lupakan. Perempuan yang senantiasa selalu hadir dalam ingatan, tak pernah terlewatkan.
Kabut embun bening di pelupuk mata Julian mengering. Untuk pertama kalinya ia menitikkan air mata demi orang yang paling ia sayang selain ibu dan ayahnya.
Bibir Julian membentuk senyum tipis mulai berjalan mendekat, ia tahu sekarang Keisha bukan lagi miliknya. Karena dia telah menemukan kebahagiaan bersama lelaki lain. Tanda cinta yang menghias leher Keisha telah menunjukkan semuanya. Segala hal yang dulu setiap saat Julian angan-angankan agar ada seseorang yang menyayangi Keishanya sama seperti dia.
"Aku senang melihatmu, kau tampak lebih baik sekarang," komentar Julian ramah.
Sebenarnya Keisha masih dalam mode mengingat, ia tak yakin siapa sosok lelaki yang berdiri di depannya ini. "Kau melupakanku?" Julian melontarkan pertanyaan sembari memperhatikan anak kecil dalam gendongan perempuan itu. "Siapa namanya? Dia begitu lucu dan tampan?" sedari tadi pandangan Keisha terus mengamati wajah Julian mencari hal yang membuatnya ingat. Namun tetap saja, ia tak bisa menemukan apa pun tentang lelaki itu.
"Hasa, dia sangat mirip dengan Ayahnya." Kini sejenak Keisha mengalihkan perhatiannya pada si kecil. Ia melihat Hasa yang asik bermain dengan syal yang ia pegang. "Dia tidak mirip dengan Kevin. Aku bersyukur kau tidak menikah dengan lelaki itu."
Keisha tercengang, bagaimana pria asing ini tahu mengenai Kevin. Bahkan hal sensitif seperti itu. "Kau siapa?" rasa penasaran Keisha akhirnya berada di puncak. Ia ingin tahu tentang lelaki bermata batu rubi tersebut.
__ADS_1
Bukan menjawab Julian justru memegangi pipi Hasa, mengulurkan tangan pada si kecil untuk berkenalan. "Aku Paman Julian, orang yang selalu mengkhawatirkan Ibumu." Hasa yang memperoleh uluran tangan itu menjabatnya memainkan jari kelingking laki-laki ini di mulutnya.
'Suaranya terdengar familiar, tapi aku tidak mengingatnya.'
Keisha mencoba menggali memorinya selama ia tinggal di Kanada dulu. Mungkin Julian salah satu orang yang dekat dengannya. Namun, dari semua daftar ia tak menemukan nama lelaki itu.
"Aku ingin bertemu suamimu. Ku harap kau tidak marah."
Belum selesai ucapan Julian, Angga yang terlihat dari depan buru-buru memasuki ruangan. Dia langsung berdiri di samping Keisha untuk memeluknya. "Maaf sayang, aku terlambat. Tadi, jalanan macet. Petugas polisi menutup jalur selatan."
Manik hitam Angga berkilat, menatap mata sang istri yang saat ini tampak memandang intens ke arah suatu objek di depannya. "Ayah." Hasa yang pertama kali memanggil Angga sampai Keisha tersadar dari lamunannya. "Ayah sudah datang." Keisha memberikan senyum lembut kepada Angga.
Biasanya Angga akan langsung memberikan kecupan kecil di pipi Keisha saat menerima senyuman itu. Namun, kali ini berbeda ia justru merasa hambar tak ingin melakukan apa pun. Mungkin karena mengetahui ada pria yang terus menatap wajah Keisha lebih dalam daripada yang ia lakukan.
'Dia pria pembeli gula kapas, kenapa dia juga ada di sini?'
Senyum Angga yang selalu mengembang mulai menyurut. Ia tahu kekhawatirannya tentang lelaki itu sedikit terbukti.
"Ayah, kau tidak apa-apa?" Keisha mengguncang bahu Angga sekilas. Lelaki itu mengangguk samar sebagai jawaban.
__ADS_1
Julian yang baru menyadari kehadiran pria lain, menatap pada Angga. Ternyata dia adalah lelaki Asia yang menyarankan untuk dirinya memberikan kenangan manis pada Keishanya di malam Festival.
"Kita bertemu lagi." Untuk detik ini, Julian yang mengulurkan tangan pada Angga memperkenalkan diri. "Julian Fernandez," ucapnya.
Ragu-ragu Angga menjabat tangannya, memasang senyum tipis walau dia tidak ingin. "Angga Wilson, suami Keisha." Secara gamblang Angga menekankan dua kata terakhirnya. Ia ingin memberitahu pada lelaki itu bahwa Keisha adalah istrinya. Wanita yang sudah ia miliki.
Julian mengangguk mengerti, ia menjabat tangan Angga kuat enggan melepaskan. "Istrimu cantik dan putramu juga tampan sama sepertimu," puji Julian ramah.
"Terima kasih."
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1