My Old Wife

My Old Wife
Season 2- Partai 51 Aku yang Mencintaimu dengan Tulus


__ADS_3

...~Langit selalu memayungi bumi, ia tidak pernah membuat manusia lupa akan keindahannya. Seperti Keisha yang selalu menjadi pelindung Julian di masa sulit, begitupun dengan Julian yang tak pernah bisa melupakannya~...


...(As-Sana) ...


...***...


Wajah dari perempuan yang paling dia rindukan dan sayang perlahan terlihat. Sorot mata wanita itu begitu teduh memandangnya. Keisha Prawijaya-- Satu-satunya perempuan yang hanya dicintai oleh Julian. Baik dalam ilusinya maupun dunia nyata. Semua lukisan Julian hanya berputar pada Keisha, salah satu hal yang tak akan pernah berubah.


"Kau sudah menunggu lama?" pertanyaan Angga yang turun lebih dulu disusul Keisha dari belakang membuyarkan fokus Julian yang sedari tadi menatap mata cantik cinta pertamanya.


Keisha dan Angga duduk berdampingan di hadapan Julian. Terlihat begitu akur, membuat hati Julian menghangat.


"Maaf telah menganggu kalian," tutur Julian tulus menyiratkan rasa tidak enak.


Angga terkekeh, kemudian memanggil Bibi Ellin untuk menyuguhkan minuman dan cemilan ringan untuk laki-laki itu.


"Minum dan makanlah dulu. Aku tahu Tuan Julian belum makan."


Bibir Julian menipiskan senyum. Mengambil segelas sirup sugar maple yang manis menyesapnya. Menikmati cairan kental segar itu dengan hikmat, supaya bisa membasahi tenggorokannya yang sedikit panas akibat terlalu lama kehausan.


Setelah mencicipi beberapa kue kering yang dihidangkan. Julian menyudahi makannya, kembali melihat pasangan suami istri itu.


"Ini sangat enak."


Angga tertawa kecil. "Tentu saja karena istriku yang membuatnya." Bibir Angga kembali datar tidak lagi mengembang. Dia memandang Julian dalam kemudian beranjak berdiri. "Sayang, aku akan menghubungi wali kelasnya Hasa lebih dulu. Kamu bisa mengobrol dengan Julian sebentar."


Seolah mengerti kalau Angga sengaja menghindar dan memberikan ruang agar ia dan Julian bisa berbicara secara empat mata. Keisha memegang tangan Angga lembut, kemudian menarik pria itu agar duduk di sebelahnya.


"Ayah tidak perlu pergi ke mana-mana. Di sini saja temani Ibu."


Netra Keisha yang indah bercahaya memohon membuat Angga tidak tega untuk menolak. Selain menurut, dan mengikuti apa yang dikatakan perempuan itu. Kini Julian pun membuka percakapan.


"Sudah sejak lama. Aku ingin mengatakan ini padamu."


Tatapan Julian merendah, melihat Keisha dalam. "Keisha," panggil Julian akrab. Dia seperti memanggil Keisha beberapa tahun lalu. Perempuan yang sama saat bertemu dengannya waktu itu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu."


Hening...


Tidak ada suara setelah itu. Hanya jarum jam yang berdetak pelan memenuhi ruang tamu.


Pegangan Angga yang mengerat secara tiba-tiba menggambarkan bagaimana perasaan pria itu saat mendengar bahwa ada pria lain yang mencintai istrinya juga sama sepertinya. Bahkan mungkin lebih besar.


"Terima kasih."


Kepala Angga mendongak saat mendengar jawaban dari istrinya. Apakah itu artinya Keisha menerima pernyataan cinta Julian? Apa itu benar?


"Julian, aku berterima kasih karena kamu sudah mencintaiku."


Kedua wajah pria itu terfokus pada Keisha mengamati setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Seolah-olah perkataan Keisha adalah sesuatu yang sangat penting tidak boleh mereka lewatkan.


"Dan aku mencintai suamiku. Sama sepertimu yang mencintaiku dengan tulus. Aku juga mencintai Angga lebih dari apa pun. Mungkin lebih dari nyawaku sendiri."


Keisha menoleh melihat pada Angga, tersenyum manis. Meraba pipi Angga yang agak tirus berisi. Kemudian melihat Julian lagi.


Mata Julian terkonsentrasi, mengembun. Akan berlinang. Tapi lelaki itu mencoba menahannya. Tidak lebih tepatnya karena dia tidak ingin meneteskan air mata di hadapan perempuan yang dia cintai.


"Kau benar, aku harus mencari wanita lain."


Dalam hati Julian menolak, tentu saja hal itu tidak mungkin. Cintanya hanya untuk Keisha, hatinya bahagia hanya untuk Keisha, jantungnya berdebar pun cuma untuk Keisha. Bahkan lukisan dan cat-cat yang ia gunakan dalam kuas di kanvas juga warna favorit Keisha. Lalu bagaimana Julian membuang perempuan itu dari pikiran dan hatinya. Tidak akan bisa. Tidak akan pernah bisa. Biarlah dia mencintai Keisha dalam diam. Mencintainya sampai napas terakhir.


Julian tersenyum, dari senyumnya ia menunjukkan kebahagiaan. Tapi di hatinya yang terdalam ia menorehkan luka.


"Bisa kau terima hadiah ini dan menyimpannya."


Julian menyerahkan sebuah kotak beludru. Sebuah kalung emas yang ia dapatkan sebagai hadiah saat pertama kali mengikuti pameran lukisan di Vancouver. Kota yang membesarkan namanya dalam lukisan dengan fantasinya tentang Keisha.


"Ini adalah bentuk terima kasihku padamu. Karena kau sudah menolongku malam itu. Membawaku ke rumah sakit dan menjadi temanku."


Karena Keisha terlihat ragu menerimanya. Angga yang melihat perhiasan itu, membuat Julian tersenyum lega. "Sekarang aku sudah selesai." Julian beranjak berdiri. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

__ADS_1


"Ini adalah galeriku yang ada di Ottawa. Aku ingin memberikannya pada Hasa."


"Untuk Hasa?" tanya Angga memastikan.


Kali ini Julian tertawa kecil. Langsung menyerahkan kunci galeri itu pada Angga.


"Dia adalah murid kesayanganku. Aku mungkin tidak akan bisa lagi menemuinya. Jadi aku ingin memberikan dia kenang-kenangan."


"Tuan Julian bisa memberikan ini pada Hasa nanti."


"Tidak. Aku tidak akan bisa memberikannya."


Julian memasukkan kedua tangannya yang kosong ke dalam saku jas. Semua hal yang selama ini ingin dia katakan pada Keisha telah ia ucapkan. Rasa terima kasih, rasa cinta, dan juga patah hati. Julian sudah mendapatkan semuanya.


"Aku pergi."


Angga dan Keisha mengikuti Julian yang berjalan keluar. Mereka mengantarnya sampai ke depan gerbang. Sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan rumah Angga, menjemput lelaki itu. Julian melambaikan tangan santai. Lalu dia meninggalkan pesan pada Angga lewat pesan singkat e-mail.


[Aku telah menerima cintaku selama ini. Keisha adalah milikmu. Hatinya dan raganya adalah milikmu. Tapi bagiku, Keisha tetaplah wanita yang tidak akan pernah lepas dari ingatanku sampai aku menutup mata terakhir kali. Jadi Angga, aku titipkan cintaku padamu. Jaga Keisha seperti cinta perempuan itu yang besar untukmu. Jaga Hasa kecilku dan rawat dia sampai menjadi pria yang bertanggung jawab di masa depan. Aku akan memperhatikan kalian dari jauh. Dan mendoakan kalian selalu bahagia. Terima kasih untuk semuanya.]


-Julian Fernandez-


Angga tidak bisa lagi melihat mobil taksi Julian setelah membaca pesan itu. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun satu hal yang pasti. Julian akan pergi jauh dari kehidupan mereka. Dan ini adalah pertemuan mereka yang terakhir kali.


"Julian," gumam Angga pelan. Dia tahu hari ini pria yang mencintai istrinya memilih pergi. Mungkin saja, lelaki itu tidak akan pernah lagi menampakkan diri. Atau mungkin tidak akan lama lagi meninggalkan dunia ini.


***


-Bersambung.


.


.


Malam. Beberapa part lagi MOW tamat ya. Makasih yang masih sabar menunggu up. Yang mau baca karya As-Sana GRATIS dan rutin tiap hari Sana up mampir ke novel Sana MY BOSS WIFE yang ada di Fi_zzo.

__ADS_1


Ditunggu di sana (: See you next chapture.


__ADS_2