
...~Bagi seorang anak, tak ada momen yang paling indah selain berkumpul dengan keluarganya~...
As-Sana
***
Mobil yang dikemudikan Angga telah menepi, udara segar dari lautan membelai kulit pria tersebut. Selagi akhir pekan, ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Keisha dan Hasa. Pertemuannya dengan Julian di pagelaran seni Mario Art De Lavi memberikan Angga dorongan untuk lebih banyak menghabiskan momen bersama keluarga kecilnya.
Hasa yang begitu antusias bersama Peter segera turun dari mobil, anak itu tertawa senang melihat tepi pantai dan arakan manusia yang berselancar. Jemy juga ikut menemani, pria paruh baya itu akan selalu mengikuti ke mana pun cucu almarhum tuannya pergi.
"Tunggu sebentar Hasa, jangan main dulu."
Kaki Panda kecil ini telah bergerak-gerak ingin segera turun dari gendongan Peter saat Keisha masih memasangkan pelampung mini di tubuhnya. "Hasa mau main kapal-kapalan," tuturnya tertawa geli saat tangan Angga menggelitik perutnya karena dia terlalu nakal.
"Sekarang Hasa bisa main, ingat. Jangan merepotkan Kak Peter." Keisha mengecup pipi putranya sekilas sebelum Hasa berlari membawa ember dan sekop pasir. Peter mengejarnya dari belakang sambil memanggil-manggil nama Hasa agar berhenti berlari. Walau mereka berbeda orang tua, tetapi ikatan Peter dan Hasa sudah seperti adik dan kakak sendiri.
Jemy mulai memasang tenda, menggelar tikar di dekat area pohon kelapa. Ia memastikan tempat yang aman bagi Angga dan Keisha bersantai melihat anak mereka. Angga juga membantu membawa payung dan beberapa makanan yang telah dimasak sang istri.
"Tuan Angga, saya akan mengawasi Tuan Kecil. Anda bisa menghabiskan waktu bersama Nona Keisha di sini."
Semenjak Jemy mengetahui ada pria lain yang menyukai istri tuannya, tentu ia ingin membantu sebisa mungkin agar keharmonisan keluarga Angga tetap terjaga. Ia tak akan membiarkan ada kerenggangan dalam hubungan cucu Tuan Wilson.
"Terima kasih Jemy."
Angga mengangguk mengerti. Kemudian bejalan menghampiri Keisha yang tampaknya masih sibuk mengambil pakaian ganti Hasa di bagasi mobil. "Biar aku yang membawanya," tawar Angga langsung menyambar tas kecil keperluan putranya. Keisha cuma tersenyum berjalan di samping suaminya yang hari ini terlihat lebih menawan dengan pakaian kasual.
__ADS_1
Sesampainya di tenda, baik Angga maupun Keisha merapikan tempat itu, menyiapkan panggangan untuk membakar jagung yang mereka bawa dari rumah. Langit cerah sore hari, menambahkan kesan damai dalam kebersamaan mereka.
Setelah bara api dinyalakan, jagung sedikit mulai matang. Cahaya senja dari matahari terbenam terlihat di utara, tepat mengarah pada tempat Hasa beserta Peter dan Jemy yang berkejar-kejaran seusai membuat istana pasir.
"Terima kasih."
Keisha berujar saat suaminya meletakkan jaket mantel berbulu di punggungnya. Mereka telah selesai memanggang semuanya dan menata makanan di piring. Kini keduanya duduk menghadap laut, saling menggengam tangan satu sama lain.
Tawa Hasa yang terdengar riuh dari kejauhan menghangatkan hati keduanya. Putranya yang nakal telah mengerjai Jemy habis-habisan. "Hasa sangat mirip denganmu." Keisha yang membuka pembicaraan pertama kali. Angga menoleh mengembangkan senyum sekilas, "Karena dia putraku."
Keisha tertawa lepas, Angga yang melihatnya sampai tak bisa berpaling. Ini adalah momen langka yang tidak sering ia jumpai.
"Aku tahu Angga, dia bukan hanya putramu tapi juga putraku."
Sore ini, di tepian pantai Ottawa Keisha yang mencium Angga lebih dulu. Mengusap rambut laki-laki itu pelan sembari merasakan kemanisan dari bibir suaminya. Biasanya Angga yang selalu memulai duluan. Namun sekarang? Dia yang melakukannya.
"Kau sangat manis." Ibu jari Keisha menyentuh bibir Angga, lalu membelai pipinya lembut. "Dan tampan," pujinya jujur tak ada yang ditutup-tutupi. Angga yang menerima perlakuan penuh kasih sayang dari wanita yang dicintainya cuma menarik bibirnya ke samping tak bisa berkata apa-apa.
"Selama ini kau yang selalu menghiburku. Membuatku tenang dan melupakan beban pikiranku." Kata Keisha menatap intens manik hitam sepekat arang milik anak Nyonya Susi. "Kali ini biar aku yang menghiburmu dan menghilangkan dukamu." Lagi, untuk kedua kali Keisha membuka mulutnya memberikan jalan bagi Angga menciumnya lebih dalam.
'Aku tidak bisa membuat Angga bersedih.'
Perempuan itu membiarkan tangan Angga menarik tengkuk lehernya dan menyelusup masuk ke pakaiannya. Ia memudahkan Angga menyentuh dirinya sepuas yang pria itu inginkan.
'Aku tidak ingin kehilanganmu Nyonya.'
__ADS_1
Bayangan tentang Julian dan lukisan yang dibawa lelaki itu terlintas kembali di ingatan Angga. Semua hal yang laki-laki asing tersebut ucapkan terekam seperti layar lebar. Terutama pandangan Julian yang menatap penuh cinta pada istrinya.
Tangan Keisha menarik penutup pintu tenda, ia tak ingin ada orang lain melihat apa yang telah suaminya perbuat saat ini. Keisha tahu Angga masih menyimpan beban yang besar. Jadi mungkin dengan sedikit memadu kasih, pria itu bisa melupakan kesedihan yang ia pendam secara diam-diam.
'Aku mencintaimu Nyonya sangat mencintaimu.'
Angga memejamkan mata, menikmati setiap hal yang istrinya miliki. Rasa takut kehilangan yang begitu besar, membuat Angga menyentuh tubuh Keisha tanpa terkecuali. Pria itu menitikkan air mata setiap kali selesai membuat tanda kemerahan di kulit putih bersih sang istri.
"Aku juga mencintaimu Angga."
Ucapan Keisha yang begitu lirih, mendebarkan hati Angga. Menimbulkan rasa bersalah yang besar karena bertindak terlalu jauh. PadahalDokter Margareth telah berpesan bahwa luka bekas operasi Keisha akan membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk sembuh total. Tapi lihat? Karena kehadiran seorang Julian. Angga melanggar batas yang telah ia tetapkan.
"Maafkan aku Nyonya," ujarnya mendekap tubuh Keisha yang terlihat lemah tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1